NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Sentuhan yang Membuat Hati Berdebar

Bab 20 — Sentuhan yang Membuat Hati Berdebar

Malam di mansion keluarga Moretti terasa lebih sunyi dari biasanya.

Hujan turun perlahan di luar jendela besar, menciptakan suara rintik yang memenuhi lorong-lorong mansion yang luas dan dingin. Para pelayan berjalan pelan sambil menjaga suasana tetap tenang.

Namun di dalam kamar besar bernuansa krem di lantai dua…

Amelia sama sekali tidak bisa tidur.

Gadis itu duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya. Pikirannya terus dipenuhi kejadian di desa tadi siang.

Suara tembakan.

Darah.

Rumah yang hampir terbakar.

Dan Lorenzo…

berdiri di tengah kekacauan seperti seseorang yang sudah terbiasa hidup bersama kematian.

Amelia menutup matanya pelan.

Jantungnya kembali terasa sesak.

Ia memang sudah tahu Lorenzo seorang mafia.

Namun mengetahui dan melihat langsung ternyata sangat berbeda.

Tok tok.

Suara ketukan pintu membuat Amelia tersadar dari lamunannya.

“Masuk…”

Clara masuk sambil membawa secangkir susu hangat.

“Saya pikir Nona belum tidur.”

Amelia tersenyum kecil lemah.

“Aku tidak mengantuk.”

Clara meletakkan cangkir di meja kecil dekat tempat tidur lalu duduk di samping Amelia.

“Nona ketakutan?”

Pertanyaan itu membuat Amelia perlahan menunduk.

“Apa terlihat jelas?”

Clara tersenyum tipis.

“Sedikit.”

Amelia menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berkata,

“Aku melihat Lorenzo menembak orang tanpa ragu…”

Suara Amelia mulai mengecil.

“Aku tahu dia berbahaya… tapi saat melihatnya langsung…”

Clara terdiam beberapa detik.

Ia sudah bekerja untuk keluarga Moretti sejak lama.

Dan ia tahu sisi gelap Lorenzo lebih dari siapa pun di mansion ini.

“Tuan Lorenzo memang hidup di dunia yang keras,” ucap Clara pelan. “Kalau beliau lemah sedikit saja, beliau sudah mati sejak lama.”

Amelia terdiam mendengarnya.

“Apa dia selalu seperti itu?”

Clara tampak berpikir sejenak.

“Dulu Tuan Lorenzo tidak sedingin sekarang.”

Mata Amelia langsung terangkat.

“Dulu?”

“Ibunya meninggal saat beliau masih muda. Setelah itu beliau berubah.”

Suasana kamar mendadak hening.

Entah kenapa…

mendengar itu membuat hati Amelia terasa sedikit sakit.

Ia tidak pernah membayangkan Lorenzo kehilangan seseorang yang begitu penting.

“Sejak kecil beliau hidup di tengah kekerasan,” lanjut Clara lirih. “Tidak ada orang yang benar-benar mengajarinya cara hidup normal.”

Amelia perlahan menatap jendela hujan.

Dan tanpa sadar…

rasa takutnya mulai bercampur dengan rasa iba.

Sementara itu, di ruang kerja mansion…

Lorenzo duduk sambil mendengarkan laporan Marco.

“Orang Romano mulai kehilangan banyak wilayah,” jelas Marco. “Namun mereka belum berhenti mencari Amelia.”

Tatapan Lorenzo langsung berubah dingin.

“Perketat keamanan mansion.”

“Sudah.”

Marco menatap Lorenzo beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Amelia ketakutan hari ini.”

Suasana langsung sunyi.

Lorenzo menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi.

“Aku tahu.”

“Dan?”

Tatapan Lorenzo tertuju pada gelas whiskey di tangannya.

“Aku tidak peduli kalau orang takut padaku.”

Marco mengangkat alis.

“Tapi?”

Lorenzo diam cukup lama.

“…aku tidak suka kalau Amelia takut padaku.”

Jawaban itu membuat Marco menghela napas kecil.

Bosnya benar-benar sudah jatuh terlalu dalam.

Dan itu berbahaya.

Karena pria seperti Lorenzo tidak pernah punya kelemahan sebelumnya.

Sementara Amelia…

perlahan menjadi sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya.

“Apa kau ingin menjauhkan Amelia dari semua ini?” tanya Marco.

Lorenzo tersenyum tipis tanpa kehangatan.

“Sudah terlambat.”

Malam semakin larut.

Setelah Clara keluar dari kamar, Amelia akhirnya mencoba tidur.

Namun pikirannya tetap kacau.

Ia terus mengingat wajah Lorenzo saat menembak musuh-musuhnya.

Dingin.

Tenang.

Dan mengerikan.

Tetapi yang paling mengganggunya justru…

cara Lorenzo berdiri melindunginya tanpa ragu.

Brak!

Suara keras dari luar kamar membuat Amelia langsung terbangun kaget.

Jantungnya berdetak panik.

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki cepat di lorong.

Amelia langsung turun dari tempat tidur dengan gugup.

“Ada apa…?”

Ia perlahan membuka pintu kamar.

Beberapa pelayan terlihat panik berlari di lorong bawah.

Sementara suara pria-pria berbicara terdengar samar.

Amelia mulai ketakutan.

Tanpa sadar ia berjalan cepat menuju lantai bawah.

Dan begitu sampai di ruang utama mansion—

ia langsung membeku.

Lorenzo berdiri di tengah ruangan sambil memegang pistol.

Beberapa pria berpakaian hitam terlihat menyeret seseorang yang wajahnya penuh darah.

“Ampun… aku tidak bermaksud mengkhianati keluarga Moretti…”

Pria itu menangis ketakutan.

Amelia langsung pucat.

Marco melihat Amelia lebih dulu dan langsung mengumpat kecil.

“Kenapa dia turun…”

Namun sudah terlambat.

Tatapan Lorenzo langsung berpindah pada Amelia.

Dan untuk sepersekian detik…

wajah dingin pria itu berubah.

“Kenapa kau keluar?”

Suara Lorenzo lebih lembut dibanding tadi.

Namun Amelia justru makin gemetar melihat pria berdarah di lantai.

“A-aku mendengar suara…”

Pria yang berlutut itu tiba-tiba menatap Amelia penuh panik.

“Aku hanya memberi informasi sedikit! Aku tidak ingin mati!”

Dor!

Suara tembakan menggema di seluruh ruangan.

Tubuh pria itu langsung jatuh tak bergerak.

Amelia refleks menutup mulut menahan jeritan.

Tubuhnya gemetar hebat.

Sementara Lorenzo perlahan menurunkan pistolnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Tatapan Amelia langsung bertemu dengan Lorenzo.

Dan kali ini…

Lorenzo benar-benar melihat ketakutan di mata gadis itu lagi.

Namun sebelum Amelia sempat mundur—

tubuh gadis itu tiba-tiba limbung.

“Amelia!”

Lorenzo bergerak cepat menangkap tubuh Amelia sebelum jatuh ke lantai.

Seluruh ruangan langsung membeku.

Karena tidak ada yang pernah melihat Lorenzo Moretti panik sebelumnya.

“Amelia.”

Pria itu memegang wajah Amelia pelan.

Tatapannya yang biasanya dingin kini dipenuhi kekhawatiran.

“Aku…”

Amelia mencoba bicara, namun kepalanya terasa pusing.

Ia terlalu syok.

Lorenzo langsung mengangkat tubuh Amelia tanpa peduli siapa pun yang melihat.

“Panggil dokter sekarang.”

Marco langsung mengangguk cepat.

Para pelayan buru-buru bergerak.

Sementara Lorenzo membawa Amelia kembali ke kamar dengan wajah sangat gelap.

Begitu sampai di kamar, Lorenzo meletakkan Amelia perlahan di atas tempat tidur.

Amelia masih terlihat pucat.

Napasnya sedikit tidak teratur.

“Lihat aku.”

Suara Lorenzo rendah namun jauh lebih lembut dibanding biasanya.

Amelia perlahan membuka mata.

Dan lagi-lagi…

ia melihat darah di tangan pria itu.

Tubuhnya langsung sedikit gemetar.

Tatapan Lorenzo meredup melihat reaksi itu.

“Aku membuatmu takut.”

Kalimat itu terdengar pelan.

Dan anehnya…

ada rasa penyesalan di dalam suara Lorenzo.

Amelia menunduk pelan.

“Aku hanya belum terbiasa…”

Lorenzo duduk di samping tempat tidur sambil menatap Amelia cukup lama.

Hingga akhirnya ia berkata,

“Aku tidak bisa menjadi pria baik.”

Amelia perlahan menatapnya.

“Aku lahir di dunia seperti ini.”

Tatapan abu-abu Lorenzo terlihat sangat gelap malam itu.

“Kalau aku lemah, aku mati.”

Jantung Amelia terasa sesak mendengar nada suaranya.

Untuk pertama kalinya…

ia benar-benar melihat kesepian dalam diri Lorenzo Moretti.

Pria itu terlihat kuat.

Menakutkan.

Dan tidak terkalahkan.

Namun sebenarnya…

ia hanyalah seseorang yang tidak pernah punya pilihan hidup lain.

Dokter akhirnya datang memeriksa Amelia dan memastikan ia hanya syok serta kelelahan.

Setelah semua orang keluar dari kamar…

Lorenzo masih tetap duduk di sana.

Tidak pergi.

Tidak bicara.

Hanya diam menemani Amelia.

Suasana kamar terasa tenang ditemani suara hujan di luar.

Dan tanpa sadar…

Amelia mulai memperhatikan tangan Lorenzo yang penuh luka kecil dan bekas sayatan lama.

“Lorenzo.”

Pria itu menoleh pelan.

“Tanganmu terluka…”

Tatapan Lorenzo turun pada tangannya sendiri.

“Itu biasa.”

Namun Amelia perlahan mengambil sapu tangan kecil di meja lalu menarik tangan pria itu hati-hati.

Lorenzo sedikit membeku.

Karena belum pernah ada orang yang menyentuhnya selembut ini sebelumnya.

Amelia membersihkan darah di tangan Lorenzo pelan-pelan.

Gerakannya hati-hati.

Lembut.

Dan hangat.

Sementara Lorenzo hanya diam memandang gadis itu tanpa berkedip.

Jantung pria itu mulai berdetak aneh.

Dan untuk pertama kalinya…

Lorenzo Moretti merasa dirinya tidak ingin melepaskan seseorang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!