Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amblas 27
Setelah kejadian itu, Laras kembali melakukan tugasnya. Dia menyusui Elio dan juga bercanda dengan anaknya tersebut. Sedangkan Eva, dia semakin tak acuh kepada Elio. Laras bisa merasakan hal tersebut, terlebih Ani. Ani yang tinggal di rumah itu, jelas bisa merasakan bahwa Eva semakin tidak memerhatikan Elio.
Kejadian itu semakin jelas setelah sebulan berlalu. Eva juga tak mengajak Laras berbicara. Tapi bagi Laras, itu bukan masalah besar. Dia senang-senang saja tidak berurusan dengan Eva.
Hanya saja yang membuat Laras merasa aneh adalah Reza. Pria itu sering kali memerhatikan dirinya saat datang dan juga pergi. Reza selalu menyempatkan berbicara dengan Laras, meski hanya sekedar bertanya tentang Elio.
"Kenapa dia tiba-tiba begitu?" gumam Laras saat dalam perjalanan pulang. Meski hari-harinya tenang ketika bersama Elio, namum Laras tetap masih bertekad untuk mengambil Elio dari Reza dan Eva. Terlebih sekarang Eva semakin tak acuh dengan Elio. Hal ini semakin membuat Laras bersemangat.
Akan tetapi tekadnya itu harus diredam sementara, pasalnya Hajoon belum juga kembali dari Korea. Siapa sangka Hajoon akan pergi selama ini. Bahkan dia pun tak sempat kembali meski hanya sebentar.
"Maaf ya Ras, aku beneran nggak bisa gerak. Ternyata pekerjaan di sini lebih banyak dan juga lebih urgent dari yang aku bayangin. Aku bener-bener nyesel udah janjiin kamu bakalan pulang lebih cepat. Aku minta maaf ya."
Malam itu, Hajoon menyempatkan dirinya untuk menelpon Laras. Dia sungguh merasa bersalah. Namun pekerjaannya di korea sungguh sama sekali tak bisa ditinggalkan. Hal itu juga karena sebelumnya Hajoon selalu menunda kepergiaannya ke sana. Alhasil masalah yang ada semakin melebar dan juga banyak.
"Nggak apa Bang, aku ngerti kok. Aku paham banget situasi Abang. Dan tenang aja, sekarang aku udah baik-baik aja. Aku juga seneng banget, karena Elio kayak ngenalin aku. Semua itu karena Abang. Karena bantuan Abang, hal yang tadinya nggak mungkin jadi mungkin. Makasih ya Bang, jadi Bang Hajoon nggak perlu khawatir soal itu. Aku masih bisa nunggu dengan sangat sabar," jawab Laras.
Ya dia memang harus sabar. Laras tak ingin jadi orang yang serakah. Dirinya sudah dibantu sejauh ini, jadi dia tak ingin menuntut lebih banyak dari pada ini.
Laras juga tahu bahwa Hajoon memiliki kesibukan dan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Maka dari itu, Laras sudah sewajarnya mengerti dan menunggu waktunya nanti tiba.
"Sekali lagi maaf ya, Ras. Aku beneran minta maaf. Tapi aku tetep akan berusaha buat nyelesein ini lebih cepat,"ucap Hajoon. Dia merasa sangat bersalah terhadap Laras karena belum bisa menepati janjinya.
"Jangan minta maaf, Bang. Abang nggak salah. Aku beneran nggak apa-apa. Ya udah, silakan lanjut lagi pekerjaan Abang. Aku tahu Abang sibuk banget dan nyempetin telpon aku. Jadi jangan khawatir, dan lakukan pekerjaan Abang dengan baik. Aku tutup dulu ya."
Laras tak ingin membebani Hajoon. Dia juga tak ingin Hajoon minta maaf lagi kepadanya, sehingga ia memilih untuk menutup panggilan tersebut.
Laras menghembuskan nafasnya panjang. Perjalanan untuk mendapatkan Elio ternyata masih panjang. Tapi Laras tak ingin putus harapan. Dia akan terus berharap hari dimana dia memeluk Elio tanpa kekhawatiran akan tiba.
"Tunggu Ibu ya sayang. Ibu akan berusaha keras untuk bisa bersama dengan kamu setiap waktu. Ibu mohon tunggu Ibu, dan jangan menyerah karena Ibu di sini juga nggak akan menyerah untuk bisa bersama mu,"ucap Laras. Dia berdoa sangat khusyu untuk sang buah hati.
Drtzzz
Ponsel Laras kembali berdering. Ia pikir dari Hajoon lagi tapi ternyata bukan. Panggilan yang baru masuk bukan dari Hajoon melainkan dari temannya yang ada di kampung halamannya.
"Ada Apa Rin?" tanya Laras. Nama sang teman adalah Rindu. Dia teman sekaligus tetangga Laras yang cukup dekat dengannya.
"Anu Ras, kamu kayaknya harus pulang. Anu, makam bapak kamu amblas."
Degh!
Laras terkejut mendengar kabar tersebut. Sudah lama pula dia tidak berziarah ke makam sang ayah. Yakni sejak dirinya pergi ke kota ini mengikuti Reza.
"O-oke, besok aku akan pulang,"jawab Laras. "Makasih ya Rin, udah ngabari aku," sambungnya.
"Iya Ras, sama-sama. Aku diminta bapak buat ngabarin kamu. Kasihan makam Pakde kalau nggak segera dibenerin,"ucap Rindu.
"Iya, sekali lagi makasih ya."
Laras memejamkan matanya sejenak. Ternyata perjalanan untuk bisa sepenuhnya di sisi Elio benar-benar masih panjang. Kali ini, dia harus meninggalkan Elio untuk beberapa waktu.
"Untung aku tetap punya banyak stok ASIP di kulkas. Aku rasa cukup kalau untuk dua sampai tiga hari,"ucapnya sambil tersenyum kecut.
TBC