Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
"Maira,,,!". Suara teriakan sudah terdengar memekakkan telinga.
Maira yang sedang mengaduk nasi goreng di wajan segera mematikan kompor, dan berlari ke arah sumber suara.
"Ada apa Ma?" Tanya Maira ibu mertua nya yang sedang berkacak pinggang.
"Kamu lelet banget ya, sarapan belum siap. Ayu bisa terlambat ke sekolah kalau seperti ini!" Bentak Mama Wina, ibu mertua nya Maira.
"Maaf ma, sebentar lagi juga siap!" Jawab Maira dengan kepala tertunduk.
"Maka nya kalau bangun itu lebih pagi, biar tidak kesiangan!" Bentak Mama Wina lagi.
"Buruan sana, muak aku melihat wajah mu!" Bentak Mama Wina dengan kasar.
"Baik Ma!" Maira bergegas ke belakang menyelesaikan pekerjaan nya membuat sarapan.
Di rumah ini, Maira tinggal bersama suami nya Azam serta adik ipar nya, Lara. Tapi Nia dan anak nya Ayu, setiap pagi selalu datang ke sini sekedar untuk sarapan. Nia adalah istri nya Damar, kakak nya Azam, putra pertama Mama Wina. Damar sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan, sehingga Nia dan anak nya, menjadi tanggung jawab Azam.
Sebenar nya sebelum meninggal, Damar sudah punya rumah sendiri, rumah itu sekarang di tempati oleh Nia dan putri nya. Jarak nya hanya beberapa rumah dari rumah ini, tapi Nia dan anak nya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ini.
Maira menata makanan yang sudah di masak nya di atas meja, Mama Wina memandangi Maira dengan tatapan sinis.
"Ayu, cepat makan nak. Nanti kau bisa terlambat ke sekolah!" Mama Wina berkata dengan lembut pada cucu nya.
"Baik nek!" Jawab gadis kecil berusia 7 tahun itu.
"Kamu juga Nia, segera sarapan jangan sampai kamu sakit!" Mama Wina bisa bicara dengan lembut pada Nia, tapi tidak pada Maira.
Maira segera kembali ke kamar nya, dia harus mandi dan bersiap. Karena Maira juga harus pergi bekerja. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, Lara memanggil nya dengan suara lantang.
"Mbak Maira, mana baju kemeja biru ku? Kenapa tidak ada di kamar ku?" Tanya Lara dengan suara yang melengking.
"Mungkin masih di keranjang pakaian bersih, aku belum sempat menyetrika nya!" Jawab Maira.
"Apa? Mbak keterlaluan banget ya, baju itu mau aku pake hari ini!" Bentak Lara dengan nada tinggi.
"Ada apa sih, pagi - pagi udah ribut?" Tanya Azam yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Itu tu Mas, istri mu tidak becus banget kerjaan nya. Masa baju aku belum dia setrika!" Adu Lara pada kakak nya.
"Maira, benar yang di katakan oleh Lara?" Tanya Azam.
"Benar mas, tapi aku gak sempat buat setrika. Aku juga harus kerja!" Jawab Maira memberikan alasan.
"Alah, dasar kamu saja yang pemalas!" Dengan cepat Mama Wina berkata.
Maira hanya menarik nafas berat, percuma dia menjawab ucapan ibu mertua nya. Yang ada di semakin di salah kan.
Maira langsung pergi ke kamar nya, dia harus bersiap untuk pergi ke kantor. Dia tidak ingin terlambat jika harus berdebat dengan mereka semua.
Maira tinggal di rumah nya sendiri, tapi di sini dia di perlakukan seperti pembantu. Harus melayani mertua dan adik ipar nya, selain itu juga dia harus melayani Kania, istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Maira mandi dengan cepat, setelah itu langsung bersiap. Maira bergegas ke meja makan untuk sekedar mengisi perut nya, tapi saat berada di meja makan semua nya sudah bubar. Maira hanya menatap sedikit sisa nasi goreng untuk diri nya.
'Ya Allah tega sekali mereka, padahal aku yang memasak untuk mereka semua!' Batin Maira di dalam hati.
Maira langsung memakan nasi goreng yang tersisa, setelah itu dia membereskan meja makan secepat kilat. Dia tidak sempat mencuci semua piring kotor, karena hari ini dia ada meeting penting di kantor nya.
"Ayo mas kita berangkat!" Ajak Maira pada Azam.
Azam sedang bicara dengan Mama nya dan juga Nia, tapi Maira tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Maira, hari ini kita antar Ayu dulu ke sekolah. Mbak Nia harus mengantarkan ibu, jadi tidak bisa mengantar kan Ayu!" Azam berkata pada istri nya .
"Ya udah deh mas, buruan jangan sampai telat. Ayo Ayu!" Maira langsung menggandeng tangan keponakan nya itu dan menuntun nya masuk ke dalam mobil.
Azam bergegas masuk di kursi kemudi, sedang Maira duduk di sebelah nya. Ayu duduk di bangku tengah sendirian, Azam melajukan roda empat itu menuju ke sekolahan nya Ayu.
Mobil itu adalah mobil milik Maira, Maira membeli nya sebelum dia menikah dengan Azam. Tapi setelah dia menikah dengan Azam, Mama Wina malah mengklaim mobil itu sebagai milik putra nya. Maira tidak pernah mempermasalahkan hal itu, Azam yang mengantar dan menjemput nya sepulang kerja.
Mobil itu berhenti di depan sekolahan nya Ayu, gadis kecil itu langsung turun setelah berpamitan pada Azam dan Maira.
"Sekolah yang rajin ya nak, biar jadi orang sukses!" Nasihat Maira pada Ayu sebelum dia turun.
"Iya tante!" Jawab Gadis kecil itu.
Setelah memastikan Ayu memasuki gerbang sekolah nya, Baru lah Azam dan Maira pergi dari sana.
Azam langsung mengantar kan Maira ke kantor nya, dia yang membawa mobil ini tempat kerja nya. Azam memamerkan mobil ini pada semua orang sebagai mobil nya, begitu pula dengan Mama Wina. Di komplek perumahan nya, Mama Wina selalu mengatakan pada semua orang, bahwa putra nya seorang manajer.
Padahal sebenar nya, Azam hanya lah staf biasa. Maira merahasiakan semua itu agar Azam tidak kehilangan harga diri nya di depan semua orang, khusus nya di depan keluarga nya sendiri. Tanpa mereka ketahui bahwa Maira lah sebenar nya seorang manager, tapi tidak ada dari mereka yang tahu, termasuk Azam. Bu Wina selalu menghina dan merendah kan Maira sebagai staf biasa, tapi kenyataan nya semua itu justru terbalik.
"Mas, nanti sore jangan telat lagi jemput aku ya!" Maira berkata saat mobil berhenti di depan gerbang kantor nya.
"Iya, aku gak akan telat!" Jawab Azam singkat.
Maira segera keluar dari dalam mobil nya, dia melangkah kan kaki nya memasuki lobi kantor. Di lobi dia berpapasan dengan Arini, sahabat jya sekaligus rekan kerja nya.
"Masih di antar kan suami mu, Mai?" Tanya Arini.
"Iya, mobil di bawa sama mas Azam!" Jawab Maira singkat.
"Mai, itu kan mobil mu. Kok jadi suami kamu yang menguasai nya?" Tanya Arini lagi.
"Udah lah Rin, biarin aja. Kan mas Azam memang gak punya mobil, jadi apa salah nya dia pake mobil istri nya!" Jawab Maira lagi sambil tersenyum.
Arini hanya menggeleng kan kepala melihat sikap Maira, menurut nya Maira terlalu memanjakan suami nya. Padahal suami nya adalah tipe laki - laki yang di setir ibu nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH