Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan harinya.
Di depan kantor sipil, Alyssa berdiri tenang dengan pakaian sederhana berwarna putih.
Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan jas rapi—Pengacara Su, pengacara pribadi yang dikirim oleh Lucien.
Sementara di hadapan mereka, wajah Darius terlihat gelap dan penuh amarah.
“Alyssa,” ucap Darius sambil menatap tajam wanita itu. “Kau sengaja menjebakku sampai aku dipermalukan dan dihukum seperti ini.”
Alyssa hanya menatapnya datar.
“Jangan berharap kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan,” lanjut Darius dingin.
Pengacara Su segera membuka map di tangannya.
“Tuan Fan,” ucapnya profesional, “ini adalah surat perceraian yang sebelumnya sudah Anda tandatangani.”
Darius langsung mengerutkan kening.
“Di dalam perjanjian tersebut,” lanjut Pengacara Su, “Anda menyetujui pemberian kompensasi sebesar tujuh puluh persen dari aset pribadi Anda kepada klien kami, termasuk rumah pernikahan kalian.”
“Apa?!” Darius langsung merebut berkas itu dengan kasar.
Matanya membesar saat membaca isi dokumen.
“Tidak mungkin!” bentaknya. “Aku tidak pernah menandatangani ini!”
Ia langsung menunjuk Alyssa.
“Alyssa! Berkas ini palsu!”
Alyssa tersenyum tipis.
“Darius Fan,” ucapnya pelan, “kau terlalu sibuk dengan nafsumu sendiri sampai tidak sadar sudah menandatangani dokumen itu.”
Wajah Darius langsung berubah.
Pikirannya mendadak teringat pada beberapa waktu lalu…
Saat Alyssa pernah datang membawa beberapa dokumen dan memintanya menandatangani.
Dan saat itu…
Ia sedang fokus bermesraan dengan Vanessa sambil membaca dokumen sekilas tanpa peduli.
Deg.
Ekspresi Darius langsung membeku.
Alyssa menatapnya dingin.
“Kau sendiri yang menandatanganinya,” ucapnya tenang. “Jadi sekarang… jangan salahkan siapa pun.”
“Tidak! Aku tidak bisa menerimanya!” bentak Darius penuh emosi. “Waktu itu kau mengatakan sudah membeli apartemen yang aku inginkan. Kau memintaku menandatangani dokumen pemindahan nama!”
Alyssa tersenyum tipis sambil menatapnya dingin.
“Dan kau langsung percaya begitu saja pada kata-kataku,” jawabnya tenang. “Sampai tidak sadar dokumen apa yang sebenarnya kau tanda tangani.”
Tatapan Alyssa penuh sindiran.
“Dengan cara kerja seperti itu… tidak fokus dan bodoh,” lanjutnya pelan, “apakah kau benar-benar layak menjadi penerus keluarga Fan?”
Wajah Darius langsung berubah jelek.
“Alyssa Liu!” bentaknya marah. “Ini tidak sah!”
Pengacara Su segera melangkah maju.
“Dokumen ini sudah diperiksa secara hukum,” ucapnya profesional. “Anda menandatangani dokumen tersebut dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.”
Pengacara itu membuka beberapa lembar berkas tambahan.
“Artinya,” lanjutnya dingin, “Anda wajib menjalankan isi perjanjian tersebut. Jika tidak, klien kami berhak menuntut Anda.”
“Wanita sialan ini!” bentak Darius sambil menunjuk Alyssa. “Ingin merebut hartaku dan anakku! Mana mungkin aku setuju!”
“Baiklah,” jawab Alyssa santai. “Kalau begitu kita lanjut saja ke persidangan.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Aku punya banyak bukti perselingkuhanmu,” lanjut Alyssa. “Kalau sampai masuk persidangan… apa kau yakin bisa menang?”
Ekspresi Darius langsung berubah.
“Tuan Fan,” ucap Pengacara Su lagi dengan suara tegas, “Anda hanya punya dua pilihan.”
“Menyetujui perceraian ini… atau bertemu di pengadilan.”
Pengacara itu menatap Darius lurus.
“Bukti kesalahan Anda sudah tersebar luas. Posisi kemenangan jelas berada di pihak klien kami.”
Suasana mendadak terasa menekan.
“Dan jika kasus ini sampai masuk persidangan,” lanjut Pengacara Su dingin, “kerugian yang Anda alami tidak hanya tujuh puluh persen aset saja.”
“Darius,” ucap Alyssa sambil menatap mantan suaminya dingin, “ini adalah konsekuensi yang harus kau terima karena telah membodohiku selama ini.”
Darius mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Baik,” jawabnya akhirnya dengan nada tertekan. “Aku akan memberikan tujuh puluh persen asetku.”
Tatapannya berubah tajam.
“Tapi aku akan menuntut hak asuh anak.”
Alyssa langsung tertawa kecil penuh sindiran.
“Masalahmu dengan wanita itu saja belum selesai,” ucapnya tenang. “Masa depanmu juga belum pasti.”
Alyssa melangkah mendekat.
“Lalu bagaimana kau bisa merawat Kael?” tanyanya dingin. “Kau ingin anakku ikut menderita bersamamu?”
“Vanessa akan menjadi ibunya,” jawab Darius cepat.
Alyssa langsung tersenyum mengejek.
“Aku tidak yakin wanita itu masih mau menjadikanmu pasangannya,” sindirnya. “Kau sudah tidak punya kekuasaan di keluarga Fan, bahkan menjaga dirimu sendiri saja tidak mampu.”
Tatapannya penuh penghinaan.
“Wanita mana yang masih mau bersamamu?”
Wajah Darius langsung mengeras.
“Vanessa jauh lebih baik darimu!” bentaknya marah. “Aku akan membebaskannya dan menikahinya!”
Darius langsung melangkah masuk ke kantor sipil.
“Hari ini aku pasti akan bercerai darimu!”
Alyssa hanya memandang punggung pria itu tanpa ekspresi.
Beberapa saat kemudian…
Semua proses selesai.
Di tangan mereka masing-masing sudah ada buku merah perceraian.
Darius menatap Alyssa dengan dingin.
“Tiga bulan lagi jangan lupa datang kembali,” ucapnya. “Pada saat itu… kau pasti akan menyesal dan memohon padaku.”
Alyssa malah tertawa kecil.
“Aku justru tidak sabar memutus hubungan denganmu sepenuhnya,” jawabnya dingin. “Dasar bodoh.”
Setelah mengatakan itu, Alyssa langsung berjalan menuju mobil dan masuk bersama Pengacara Su.
Sementara Darius berdiri di depan kantor sipil dengan wajah gelap.
“Lihat saja…” gumamnya penuh amarah. “Aku akan membawa Vanessa ke sini dan membuatmu menyesal.”
Ia segera menghubungi seseorang.
“Hallo, Tuan Darius,” suara pria terdengar dari seberang telepon.
“Bebaskan Vanessa sekarang juga,” perintah Darius tanpa basa-basi. “Berapa pun uang jaminannya akan aku bayar.”
“Baik,” jawab pria itu yang ternyata adalah pengacaranya.
Tanpa disadari siapa pun…
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam mewah terparkir dengan tenang.
Di dalamnya, Lucien duduk santai sambil memperhatikan pintu kantor sipil tempat Alyssa dan Darius baru saja keluar.
Sementara Lucas duduk di kursi pengemudi.
“Bos,” ucap Lucas sambil melirik ke arah Lucien, “hari ini mereka resmi bercerai.”
Senyum tipis muncul di bibir Lucien.
“Selamat untuk Anda,” lanjut Lucas.
Lucien menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Blokir semua kartu milik Darius,” perintahnya tenang. “Mulai hari ini dia tidak diperbolehkan menggunakan uang keluarga Fan lagi.”
Lucas langsung terdiam sesaat.
“Bukankah itu sama saja memaksanya menjadi gelandangan?” tanyanya hati-hati.
Lucien tersenyum dingin.
“Itu pelajaran untuknya,” jawabnya. “Selama ini anak itu terlalu dimanjakan oleh ibunya.”
Tatapan Lucien berubah tajam.
“Karena itulah dia tidak pernah menyadari kesalahannya,” lanjutnya. “Hukuman keluarga saja tidak cukup baginya.”
Lucien memandang keluar jendela.
“Hanya kehilangan uang yang bisa membuatnya sadar dan merasakan penderitaan.”
Lucas diam mendengarkan.
“Biarkan dia mencari pekerjaan sendiri di luar sana,” ujar Lucien tenang.
Lucas langsung menelan ludah.
“Bagaimana kalau Tuan Muda mencoba melamar di perusahaan lain?” tanyanya.
Lucien tersenyum tipis.
“Sampaikan pada semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita,” ucapnya dingin, “siapa pun yang berani menerima Darius Fan…. akan diputus kerja samanya dengan perusahaan kita."
Lucas langsung terdiam.
“Atau,” lanjut Lucien perlahan, “mereka juga akan kehilangan semua proyek yang sedang mereka pegang.”
ayooooo