Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang mulai berubah
Sore itu langit tampak lebih cerah.Tidak ada hujan. Tidak ada mendung.
Namun di dalam hati Nayra— Semuanya masih belum benar-benar terang. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi kotak kecil dan botol vitamin yang tadi ia bawa pulang.
Kamar terasa sunyi. Dan untuk pertama kalinya— Nayra benar-benar memperhatikan benda itu lebih lama. Tangannya meraih kertas kecil yang diselipkan di dalamnya.
“Jangan telat makan.”
Nayra menghela napas pelan. “Kenapa sih kamu kayak gini…” gumamnya. Nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya. Tidak sepenuhnya marah. Tapi juga… belum menerima.
Pintu kamar terbuka, Sinta melihat Nayra memegang botol vitamin.
“Masih dilihatin?” tanyanya.
Nayra tidak menjawab.
Sinta mendekat. Duduk di sampingnya. “kamu kepikiran, kan?”
Nayra tersenyum tipis. “Dikit.”
Sinta mengambil botol vitamin itu. “Ini mahal, Na.”
Nayra melirik. “Serius?”
Sinta mengangguk. “Iya. Bukan yang sembarangan.”
Nayra kembali menatap kertas itu. “Dia serius…”
Sinta tersenyum kecil. “Ya jelas. Dari awal juga kelihatan.”
Nayra terdiam. Beberapa detik. Lalu berkata pelan— “Aku harusnya marah.”
Sinta mengangguk. “Iya.”
“Tapi…”
Nayra tidak melanjutkan.
Sinta menatapnya. “Tapi kamu nggak bisa?”
Nayra mengangguk pelan. “Iya…”
Sinta tersenyum tipis. “Itu normal, Na.”
Nayra menghela napas. “Normal gimana…”
“Dia bapaknya,” jawab Sinta sederhana.
Kalimat itu membuat Nayra terdiam. Ia menunduk. Tangannya kembali menyentuh perutnya. “Aku nggak pernah bayangin bakal kayak gini…” bisiknya.
Sinta tidak langsung menjawab. Hanya menepuk bahunya pelan.
Nayra tidak langsung tidur. Ia membuka buku kecilnya lagi.
Menulis.
Hari ini dia nggak datang… tapi tetap ada.
Tangannya berhenti sejenak. Lalu melanjutkan. Dan aku mulai bingung… harus marah atau… apa. Ia menutup buku itu perlahan.
Menatap ke depan. Pikirannya kembali ke wajah Arsen. Tatapan tenangnya. Nada suaranya yang tidak memaksa… tapi juga tidak mundur. “Kenapa dia nggak nyerah aja…” gumamnya.
Di tempat lain— Arsen berdiri di ruangannya.
Jasnya sudah dilepas. Kemeja lengannya tergulung. Ia menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Kosong.
“Pak…” Raka masuk. “Bagaimana?” tanyanya.
Arsen menghela napas pelan. “Dia nggak hubungi.”
Raka tersenyum kecil. “Ya wajar, Pak.”
Arsen mengangguk. “Iya…” Raka mendekat.
“Tapi dia pasti sudah terima.”bArsen menatap ke depan. “Aku lihat sendiri.”
Raka sedikit terkejut. “Bapak lihat?”
Arsen mengangguk pelan. “Dari jauh.”
Raka menghela napas. “Pak… hati-hati.”
Arsen menoleh. “Maksud mu?”
“Perasaan Bapak mulai terlibat.”
Kalimat itu membuat Arsen diam. Beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis. “Dari awal juga udah.”
Keesokan harinya— Nayra kembali ke kampus. Langkahnya masih pelan. Namun kali ini— Tidak setegang sebelumnya.
Sinta berjalan di sampingnya. “Aku penasaran,” kata Sinta.
“Apa?”
“Dia bakal ngapain lagi.”
Nayra langsung menggeleng. “Aku nggak mau tahu.”
“Boong.”
Nayra menatapnya.
Sinta tersenyum. “kamu pasti nunggu.”
Nayra terdiam. Tidak membantah.
Hari itu berjalan normal. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada Arsen. Tidak ada kiriman. Tidak ada kejutan. Tapi, Entah kenapa— Nayra beberapa kali menoleh ke arah gerbang. Seolah menunggu sesuatu. Yang bahkan ia sendiri tidak mau akui.
Sore hari—Mereka kembali duduk di taman. Tempat yang sama. Angin berhembus pelan.
“Sepi ya,” kata Sinta.
Nayra mengangguk. “Iya…”
“Kamu kecewa?” tanya Sinta tiba-tiba.
Nayra langsung menoleh. “Apaan sih…”
Sinta tertawa kecil. “Cuma nanya.”
Nayra menghela napas. “Aku nggak kecewa.” Namun jawabannya tidak sepenuhnya meyakinkan.
Di kejauhan— Sebuah mobil terparkir. Seperti biasa. Namun kali ini—Arsen tidak melihat langsung ke arah Nayra. Ia hanya duduk diam.
Tangannya memegang ponsel. Lalu— Ia mengetik sesuatu. Beberapa detik kemudia
Ponsel Nayra bergetar. Ia mengernyit.
“Siapa?” tanya Sinta.
Nayra melihat layar. Nomor tidak dikenal. Ia ragu. Lalu membuka pesan itu.
“Udah makan?” Hanya dua kata. Sederhana. Tapi cukup.
Nayra langsung tahu. “Dia…” bisiknya.
Sinta mendekat. “Apa?”
Nayra menunjukkan layar.
Sinta tersenyum lebar. “Wah… upgrade.”
Nayra menatap pesan itu. Lama. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Aku harus bales?” tanyanya pelan.
Sinta mengangkat bahu. “Terserah kamu.”
Nayra menggigit bibir bawahnya. Bimbang. Beberapa detik. Lalu— Ia mengetik.
“Udah.” Ia menatap layar.bJari-jarinya masih di atas ponsel.
“Kamu bales…” bisik Sinta.
Nayra mengangguk pelan. “Iya…”
Di dalam mobil— Ponsel Arsen berbunyi. Ia melihat layar. Dan untuk pertama kalinya Senyum tipis muncul di wajahnya. “Dia bales,” ucapnya.
Raka melirik dari depan. “Serius?”
Arsen mengangguk.bMatanya masih pada layar. “Pelan… tapi mulai.”
Di taman— Nayra menatap ponselnya. Perasaannya aneh. Hangat. Tapi juga menegangkan. Ia tidak tahu Apa yang sedang dimulai.
To be continued 🙂🙂🙂