NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan, kau menyakitiku!

"Langit pun enggan untuk menampakkan keindahannya malam ini."

Netra coklat menatap lekat langit yang kehitaman. Hembusan napas lelah beberapa kali terdengar.

Malam ini Hana sedang keluar untuk menghirup udara segar. Dirinya sudah meminta izin pada Luca saat pria itu akan pergi bertemu relasi.

Dalam pikirannya, ia menimbang tawaran untuk menikah dengan Luca. Namun, ada hal yang masih mengganjal di hatinya.

Hana takut jika pria itu hanya sekadar membual sedangkan dirinya memakan "umpan".

Gadis mana yang tidak tergiur oleh ketampanan dan kekayaan Luca. Munafik jika dirinya mengaku tak menyukai pria itu.

Akan tetapi Hana lebih sadar diri. Level mereka berbeda jauh, untuk mengaku suka pun rasanya tak pantas.

"HALO, KAU DI MANA, NA?"

Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, suara Salsa yang berteriak dengan kebisingan. Entah sedang ada di mana sahabatnya itu.

"Aku di taman di sekitar apartemen."

"APA?!! KAU KIRIM PESAN SAJA, SUARAMU KECIL SEKALI, NA! OK, AKU TUTUP TELEPONNYA."

Hana menghela napasnya, ia mengetikkan pesan pada Salsa untuk memberitahu posisinya.

"Hai, boleh aku menemanimu?" Wanita dengan penampilan mencolok dan sexy mendekati Luca.

Pria itu seperti tak terganggu dengan kehadiran wanita tersebut.

Jemari lentiknya memegang gelas dengan anggun. Ruby yang baru dari toilet segera menyingkirkan kecoa yang sedang mengganggu majikannya.

"Hei! Apa-apaan kau?!"

Wanita berlipstik merah itu tak terima dirinya diseret secara kasar menjauh dari Luca.

"Jangan mendekatinya atau kau kehilangan nyawa."

Wanita itu bungkam dan berlalu dengan raut wajah kesal. Dirinya sudah senang melihat pria tampan nan muda ada di bar malam ini.

"Tuan, anda sudah minum terlalu banyak." Ruby menahan gelas milik Luca.

"Satu gelas lagi, Ruby. Aku janji."

"Tidak, tuan. Mari kita kembali ke hotel."

Malam ini Luca menurut. Pikirannya sudah terlalu kalut, dua hari yang lalu sebelum keberangkatannya ke negara Canada dirinya kembali mengajak Hana untuk menikah. Namun, gadis itu masih menolaknya. Luca seperti sudah tak memiliki harga diri.

Ruby melirik dari spion tengah, majikannya tampak memejamkan mata dengan penampilan yang berantakan.

Usai menghadiri pesta salah satu investor, Luca meminta untuk menenangkan diri ke sebuah bar. Asistennya itu dengan setia menemani kemana dirinya pergi.

"Apa kau ada cara supaya Hana mau menikah denganku?

"Rasanya ingin kuhamili dia agar mau menerimaku."

"Hana, gadis miskin yang sok menolakku."

"Aku melihatnya telanjang. Itu membuatku frustasi, Ruby."

Beberapa racauan Luca yang membuat Ruby segera menulikan pendengarannya. Ia hanya diam tanpa menjawab ucapan mabuk Luca.

Majikannya ia biarkan berbaring di atas ranjang hotel, Ruby segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat juga.

"Apa aku melupakan sesuatu?"

Hana membolak-balikkan catatan belanjanya. Ia sudah mengecek lima kali untuk memastikan tak ada yang tertinggal.

Dirinya mengedarkan pandangan untuk mengingat barang apa lagi yang tidak ada di list.

"Sedang berbelanja, Nona Hana?"

Suara maskulin tiba-tiba mengejutkan gadis itu. Ia segera berbalik.

Senyuman dari pria blonde menyapanya. Hana berusaha mengingat pria tampan ini.

"Hai, kita bertemu lagi, Cantik."

"Kau tak mengingatku?"

"Sergio."

Sontak tawa pria itu membuat pengunjung lain menoleh ke arah mereka.

"Kupikir kau melupakanku."

"Aku hanya sedikit lupa."

"Wah, kau melupakan pria tampan? Sangat rugi."

"Itu tidak akan membuat saldo rekeningku berkurang."

Hana kembali berjalan sambil mendorong troli, ia kembali ke kegiatannya sebelumnya.

"Kau sedang mencari sesuatu? Mau kubantu?"

Sergio mengambil alih troli milik Hana, gadis itu tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sergio.

"Aku bisa sendiri."

"Aku sedang menunggu Mommy ku berbelanja, tapi aku bosan. Aku akan menemanimu sampai kasir."

"Beliau mungkin akan mencarimu."

"Tidak akan. Dia sudah paham kebiasaanku."

"Mengganggu gadis-gadis yang ada di sini?"

Sergio tertawa terbahak. Bagaimana bisa Hana berpikir begitu?

"Astaga.. kebiasaanku adalah kabur ketika Mommy berbelanja. Aku akan pergi ke tempat lain dan kembali jika Mommy sudah selesai lalu meneleponku."

"Ah, begitu."

"Ya. Kau sendirian?"

"Tidak."

"Kau bersama siapa?"

"Sergio."

"Ah, benar. Hahaha."

"Kau lucu sekali, Hana. Mau jadi kekasihku?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku tak menyukaimu."

"Apa yang tidak kau sukai? Secara aku tampan dan kaya."

"Entahlah."

"Kau bingung dengan perasaanmu?"

"Permisi, aku akan membayar ini. Jangan mengangguku."

Hana mengambil alih trolinya, sudah cukup dirinya membuang waktu untuk pria asing.

Sergio diam menatap kepergian Hana. Baru kali ini dirinya mendapat penolakan dari perempuan.

Hana menonton tv di ruang tamu, lampu ruangan sudah ia matikan hanya ada cahaya dari tv.

Dengan setengah mengantuk dirinya menamatkan film action pada malam ini. Selimut di kaki sudah ia tarik sampai ke dada.

Dengan sisa kekuatan mata ia berusaha bertahan namun akhirnya gagal. Hana tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala.

Luca pulang tepat pukul 2 dinihari. Ia sengaja tak memberi kabar pada Hana atas kepulangannya kali ini.

Tanpa mengeluarkan suara berisik, Luca masuk ke apartemen. Ia begitu terkejut ketika melihat cahaya tv yang menyorot ke arah seorang gadis yang berselimut di atas sofa.

Pria itu berdiri lama menatap bagaimana Hana tidur meringkuk di sofa. Tampak begitu damai gadis muda itu terlelap.

Hati Luca menghangat setiap ia pulang ke apartemen. Walaupun Hana menolak pinangannya, gadis muda itu tak berubah untuk melayaninya sebagai pelayan. Walaupun dibalik itu semua karena hutang.

Luca berlalu ke lantai dua untuk segera membersihkan diri tanpa membuat Hana terbangun.

Satu jam Luca selesai dengan dirinya, ia kembali turun untuk melihat keadaan Hana.

Ia bersimpuh di depan gadis itu, menatap dengan penuh kerinduan wajah ayu yang terpejam. Perlahan tapi pasti Luca mencium bibir hangat milik Hana.

Luca membawa Hana ke kamarnya, ia ingin malam ini tidur memeluk gadis itu untuk melepaskan rindu setelah empat hari berpisah.

Suhu hangat membuat Hana tersadar, ia beberapa kali mengerjapkan matanya. Pipinya seperti tidur di atas sesuatu yang keras, ia membelalakkan matanya ketika tahu dirinya tengah memeluk dada telanjang Luca.

Hana berjingkat untuk melepaskan diri, namun tubuhnya kembali dipeluk erat oleh tangan kekar Luca.

"Hari ini tidak perlu bekerja, temani aku." Hana menengadah untuk menatap majikannya, kedua mata masih terpejam namun bibirnya tersenyum menawan. Tak munafik, Hana mengakui Luca sangat tampan.

"Kau menyukaiku, tapi menolakku."

Hana diam.

"Kau menikmati sentuhanku, tapi menolakku."

Hana melirik pakaiannya, ia menghela napas melihat dirinya masih berpakaian lengkap.

"Ayo menikah. Kau bisa menikmati semua ini setiap saat."

Mata tajam itu menatap lekat Hana.

Gadis itu susah payah menelan ludah nya. Luca tampan dengan rambut berantakannya. Tubuhnya begitu sempurna dengan pahatan otot.

Pria itu dengan perlahan memajukan wajahnya ke wajah Hana.

Gadis itu diam tak berkutik, seperti terhipnotis

Sentuhan bibir tebal Luca perlahan menyapu lembut bibirnya dan berubah menjadi lumatan. Hana memejamkan matanya, ia mengira ini hanya mimpi.

Cukup lama Luca menahan lumatannya dengan lembut, ia mengubah tempo dengan liar dan panas.

Kini tubuhnya menindih tubuh Hana, kedua mata gadis itu masih terpejam menikmati lumatan demi lumatan yang diberikan oleh Luca.

Pria itu melepaskan pagutan dan menghirup leher putih Hana dalam-dalam. Keduanya menghirup oksigen dengan terburu-buru.

Hana merasa terkejut ketika menyadari semua itu bukanlah mimpi.

"Kau menikmatinya, Hana."

Wajah gadis itu bersemu merah.

Pria itu menelusupkan wajahnya di leher Hana.

"Rasanya ingin kutiduri dirimu."

"Ayo menikah."

"Atau kau hanya ingin mencoba tidur denganku? Aku tak masalah jika denganmu."

Hana menggigit bibirnya. Begini kah dirinya di mata Luca?

"Kau sangat sexy jika begitu."

Tanpa mengatakan apapun lagi, Luca kembali melumat bibir Hana. Gadis itu memberontak di bawah kungkungan Luca.

Tangannya yang terbebas mencoba memberi perlawanan agar Luca berhenti. Namun, tenaganya kalah dengan pria itu.

Bulir air mata keluar dari sudut mata, Luca melihatnya. Ia melepaskan pagutan dan beranjak dari ranjang.

"Hutangmu kupastikan tak pernah lunas."

"A-apa?!"

"Kau membuatku frustasi. Itu akan lunas jika aku bisa menidurimu."

"Bajingan!"

Entah kekuatan dari mana, Hana bangun dan menghampiri Luca yang berdiri setengah telanjang.

PLAK!!

"Jangan kira kau bisa seenaknya padaku yang miskin ini, bedebah!"

Dengan air mata wajah Hana merah padam. Ia lelah dengan hutang, rasanya ia lebih baik mati daripada dikerangkeng oleh Luca.

Pria itu tampak tak terima mendapat tamparan dari seorang gadis. Ia mendorong kasar Hana ke atas ranjang dan mencengkram dagu kecil tersebut.

"Dengar, kau ada di sini karena belas kasihan dariku. Harusnya kau menerimaku agar hutangmu yang tak akan pernah lunas itu terbayar. Jangan sombong hanya karena aku menyukaimu hingga kau bebas menolakku!"

Geraman yang terdengar menakutkan bagi Hana. Ia memejamkan mata, dirinya sudah siap jika harus mati di tangan Luca atau ditiduri secara paksa oleh pria ini.

Hana mendesah kesakitan ketika Luca melepaskan cengkramannya.

Pria itu memeluk Hana, gadis itu meronta-ronta.

"Maaf, Sayang. Aku terbawa emosi."

Gadis itu terus meronta-ronta untuk melepaskan pelukan pria tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!