Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Alya menjauh dari Zidan
Malam itu berakhir tanpa kata, tanpa penjelasan panjang, tanpa tangisan yang keras. Malam yang seharusnya menjadi malam pertama pernikahan bagi Zidan dan Alya ,menjadi hancur begitu saja.
Namun justru… itulah yang membuatnya terasa lebih menyakitkan.
Setelah percakapan itu, Alya langsung masuk ke kamarnya. Pintu tertutup perlahan. Dan sejak saat itu…...tidak ada lagi suara dari dalam.
Di luar, Zidan masih berdiri di tempatnya.
Berdiam diri. Seolah kakinya tidak mampu melangkah.
Ia tahu… sesuatu telah berubah. Bukan hal kecil,
tapi besar.
Perlahan, ia menghela napas panjang sambil mengepal tangannya sendiri.
“ Gue… ngapain sih…”
Untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa bersalah. Salah yang bukan sekadar kata, tapi dari dalam dirinya sendiri.
Malam semakin larut. Rumah itu semakin sunyi.
Namun tidak ada yang benar-benar bisa tidur dengan tenang.
Pagi harinya…
Alya keluar dari kamar seperti biasa.
Hijabnya rapi dengan Wajah yang tenang seperti biasanya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
" Assalamu’alaikum, Umi,” ucapnya lembut.
“ Wa’alaikumussalam, Nak, ” jawab Umi sambil tersenyum.
Tidak ada yang tahu…..apa yang terjadi semalam. Selain dia, Zidan dan adiknya, Faris.
Alya membantu di dapur.
Menyiapkan sarapan.
Semua terlihat normal, namun hanya satu hal yang berbeda. Alya tidak menatap Zidan sedikitpun.
Zidan yang duduk di ruang tengah memperhatikan dari jauh. Ia ingin rasanya bicara pada Alya. Namun… tidak tahu harus mulai dari mana.
Beberapa kali ia mencoba mendekat.
Namun setiap kali itu juga…..langkahnya terhenti.
Alya terlalu tenang. Dan ketenangan itu… justru terasa seperti jarak.
Sarapan berlangsung hening. Tidak seperti biasanya.
Abi berbicara sesekali. Umi tersenyum seperti biasa. Namun di antara Alya dan Zidan…
tidak ada satu kata pun.
Setelah selesai, Alya berdiri.
“ Umi, Alya ke kamar dulu ya. ”
“ Iya, Nak. ”
Ia pergi tanpa melihat ke arah Zidan. Zidan menunduk. Itu lebih sakit…daripada dimarahi.
Siang harinya, Faris menghampiri Zidan di luar rumah. Wajahnya tidak lagi bisa menahan emosi seperti kemarin.
“ Kita perlu ngobrol ”, Ucap Faris.
Zidan menatapnya. Ia seakan tahu… ini akan terjadi.
Mereka berdiri berhadapan. Suasana menjadi tegang.
“ Kamu sadar nggak sih apa yang udah kamu lakuin ke Kak Alya ? ”
Suara Faris tertahan, tapi tajam.
Zidan hanya terdiam, tanpa kata kata.
“ Dia itu kakak saya.....”
Kalimat itu sederhana.
Tapi penuh makna.
“ Dan kamu bisa bisanya jadikan dia… sebagai taruhan ? ”
Zidan menghela napas pelan.
“ Awalnya… iya. Tapi....”
Zidan menatapnya.
Untuk pertama kalinya… tanpa sikap santai.
“ Tapi....sekarang gue benar sudah mulai suka sama Kakak kamu .”
Faris terdiam sejenak.
“ Kamu pikir dengan suka sudah cukup Mas ? ”
Zidan tidak menjawab, karena ia tahu…..tidak ada jawaban yang bisa membenarkan semuanya.
" Oke jadi gini ajalah Mas, saya akan kasih kamu kesempatan satu kali lagi. Kalau kamu serius suka sama Kakak saya.....saya minta kamu buktiin. ”
Zidan mengangkat pandangannya.
“ Tapi bukan ke saya. Ke Kak Alya langsung..”
Faris menatapnya dalam.
“ Karena yang lukai Kak Alya itu kamu. Tapi untuk maaf atau tidak dimaafkannya itu kita serahkan ke Kak Alya aja langsung. Tapi jika semisalnya Kak Alya udah maafin dan nerima kamu lagi, jangan sampai kamu mengulanginya lagi , atau kamu tahu akibat apa yang akan saya lakukan ”
Setelah itu, Faris pergi.
Tinggal Zidan berdiri sendiri.
Kata-kata itu…
terus terngiang di kepalanya.
Sore itu, Zidan duduk sendirian di kamar. Ponselnya ada di tangan.
Tak lama , pesan dari temannya masih masuk.
“ Duit siap kapan lo ambil?”
Zidan menatap lama.
Lalu…
perlahan…...ia menghapus pesan itu.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa…
50 juta itu… tidak ada artinya sama sekali.
Di sisi lain…
Alya duduk di sajadahnya. Setelah melaksanakan sholat. Air matanya jatuh perlahan.
Namun kali ini…
ia tidak bertanya “kenapa”.
Ia hanya berdoa.
" Ya Allah… jika ini memang ujian untuk hamba-mu… Hamba iklhas Ya Allah, tapi kuatkanlah hamba.”
Suaranya lirih. Namun penuh keteguhan.
Ia tidak membenci, tapi tidak juga marah berlebihan.
Namun satu hal yang pasti…
hatinya terluka. Dan luka itu…
tidak bisa sembuh hanya dengan kata “maaf”.
Di antara mereka berdua…
sekarang bukan lagi sekadar perbedaan.
Tapi….. jarak.
Jarak yang tidak terlihat. Tapi terasa sangat nyata.
Dan di sanalah…
Awal mula perjalanan dan perjuangan Zidan untuk mendapatkan hari Alya yang sebenarnya .