Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berubah
Raka akhirnya menurunkan semua barang dari mobil seorang diri.
Biasanya, begitu mobil berhenti di halaman, ia hanya perlu masuk ke rumah, menyerahkan kunci kepada Nadia, lalu mandi dan makan malam. Semua barang di bagasi akan dibereskan oleh istrinya.
Namun malam ini tidak.
Tak ada sosok Nadia yang berlari kecil menyambutnya.
Tak ada tangan lembut yang mengambil koper.
Tak ada suara lembut yang bertanya, “Mas sudah makan?”
Raka terpaksa mengangkat koper-koper itu sendiri.
Keningnya berkerut.
“Ada apa dengan Nadia?” gumamnya dalam hati.
Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat.
“Jangan-jangan… dia sudah tahu kalau aku menikah lagi.”
Pikiran itu membuat tengkuknya menegang.
Setelah menutup pintu gerbang, Raka tidak langsung masuk ke kamar. Ia justru berbelok menuju kamar ibunya.
Yuni yang sudah bersiap tidur menoleh ketika putranya masuk.
“Mah,” suara Raka dipelankan, “apa Nadia tahu kalau aku sudah menikah lagi?”
Yuni segera mengangkat telunjuk ke bibir.
“Ssst! Jangan keras-keras. Nanti dia dengar.”
Raka menutup pintu kamar, lalu mendekat.
“Menurut Mamah?”
Yuni menggeleng.
“Mamah tidak pernah mengatakan apa-apa.”
“Lalu kenapa sikapnya berubah?”
Yuni mengembuskan napas.
“Kemarin dia sudah menyiapkan semua keperluan untuk liburan. Pakaiannya juga sudah masuk koper. Lalu kamu pergi begitu saja tanpa mengajaknya.”
Ia menatap putranya tajam.
“Kalau Mamah diperlakukan seperti itu, Mamah juga pasti marah.”
Raka menjatuhkan tubuh ke kursi.
“Repot sekali urusan dengan perempuan.”
Yuni mendengus.
“Mamah juga perempuan, Raka.”
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Kemarin Ratna terus mendesak agar pernikahan dipercepat. Aku benar-benar tidak punya pilihan.”
Ia terdiam sejenak.
“Seharusnya aku menyuruh Nadia pergi ke mana dulu, baru menikah dengan Ratna.”
Yuni menggeleng pelan.
“Sudahlah. Nadia itu sangat mencintaimu. Marahnya tidak akan lama.”
Ia menatap Raka penuh arti.
“Asal kamu jangan memperlihatkan perubahan sikap.”
Raka mengernyit.
“Maksud Mamah?”
“Kalau Nadia menelepon, angkat. Kalau dia mengirim pesan, balas. Jangan membuatnya semakin curiga.”
Raka menggaruk kepalanya.
“Aku benar-benar pusing, Mah. Ratna terlalu mendadak.”
Yuni menepuk tangan putranya.
“Yang penting sekarang, jangan sampai Nadia tahu.”
Lalu ia berbaring dan menarik selimut.
“Sudah malam. Tidurlah.”
Raka mengangguk pelan dan keluar dari kamar ibunya.
Ia masuk ke kamar utama.
Kosong.
Nadia tidak ada di sana.
Untuk sesaat, Raka ingin memanggil nama istrinya. Namun ia teringat pesan ibunya.
Jangan sampai Nadia curiga.
Raka pun mencari ke kamar Nanda.
Pintu terbuka sedikit.
Dari celah pintu, ia melihat Nadia tidur di atas kasur lipat di lantai.
Di sampingnya, Nanda terlelap dengan selimut yang dirapikan hingga ke dada.
Raka berdiri lama di ambang pintu.
Tatapannya berhenti pada wajah Nadia yang tampak pucat meski tetap cantik.
Dalam hati, ia berbisik:
“Nadia… kamu perempuan yang baik. Kamu cantik, penyayang, dan selalu ada untukku.”
Raka menelan ludah.
“Tapi aku seorang laki-laki. Aku ingin memiliki keturunan. Dan aku pikir hanya Ratna yang bisa memberikannya.”
Tatapannya beralih pada Nanda yang tidur dengan tenang.
Melihat Nadia masih menyelimuti anak itu dengan penuh kasih, hati Raka sedikit menghangat.
Setidaknya, Nadia masih menyayangi Nanda.
Setidaknya, ia belum melampiaskan kemarahannya pada anak itu.
Raka menutup pintu pelan dan kembali ke kamar utama.
Ia ingin mandi.
Namun saat membuka lemari, tidak ada handuk yang sudah disiapkan.
Tak ada baju tidur yang telah diletakkan rapi di atas ranjang.
Tak ada segelas air hangat di meja samping tempat tidur.
Rahang Raka mengeras.
Ketidaknyamanan kecil itu mendadak terasa mengganggu.
“Aku harus membiasakan semuanya sendiri.”
Namun rasa malas menguasainya.
Ia terlalu lelah untuk mencari handuk, memanaskan air, dan menyiapkan pakaian ganti.
Akhirnya, Raka menjatuhkan tubuh ke atas ranjang tanpa mandi.
Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang semakin kusut.
Masalah datang bertubi-tubi.
Ratna menuntut perhatian.
Nadia berubah dingin.
Waktu terus berlalu.
Pagi pun datang.
Seperti biasa, Nadia bangun paling awal. Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak lagi menyiapkan sarapan untuk Raka dan Yuni.
Tidak ada suara wajan yang ia gunakan untuk memasak menu kesukaan suaminya. Tidak ada teh hangat yang biasa ia sajikan di meja makan.
Pagi itu, Nadia hanya menghubungi Mbak Tari dan memintanya datang lebih awal.
“Mbak, tolong datang pagi ini. Siapkan sarapan untuk Mas Raka dan Ibu, ya.”
Setelah itu, Nadia menyiapkan sarapan khusus untuk Nanda.
Usai semuanya selesai, ia melangkah menuju kamar anak itu.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air.
Tak lama kemudian, Nanda keluar dengan rambut basah dan wajah segar.
Seperti biasa, Nadia membantu mengeringkan tubuhnya.
“Bunda, aku kangen sama Bunda.”
Kalimat sederhana itu langsung menghangatkan hati Nadia.
Ia tersenyum tipis.
“Baru semalam tidak bertemu, sudah kangen?”
Nanda mengangguk sambil tersenyum lebar.
Dengan patuh, gadis kecil itu mengikuti setiap instruksi Nadia saat mengenakan seragam sekolah.
Melihat wajah polos itu, hati Nadia kembali bergetar.
Dalam hati, tekadnya semakin kuat.
Aku harus membawa anak ini.
Tanpa sadar, Nadia memeluk Nanda erat.
“Bunda kenapa?” tanya Nanda heran.
Nadia melepaskan pelukannya perlahan.
“Kemarin liburannya menyenangkan?”
Nanda menggeleng kecil.
“Kurang asyik. Soalnya Bunda enggak ikut.”
Jawaban itu membuat dada Nadia menghangat.
Setidaknya, di hati Nanda, dirinya masih memiliki tempat.
“Nanda kemarin liburan ke mana?”
“Ke Puncak, Bunda. Aku kira mau berenang di vila, ternyata malah ke gedung pernikahan.”
Jantung Nadia seolah berhenti berdetak.
“Pernikahan siapa, Sayang?”
Belum sempat Nanda menjawab, suara Yuni terdengar dari ambang pintu.
“Nanda, Oma mau bicara.”
Nanda segera turun dari tempat tidur.
Yuni menggandeng cucunya dan membawanya pergi.
Nadia menatap punggung mereka hingga menghilang dari pandangan.
Ia tahu.
Yuni pasti sedang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan oleh Nanda.
“Melibatkan anak kecil dalam kebohongan seperti ini benar-benar keterlaluan,” batinnya.
Nadia menarik napas panjang dan berjalan menuju dapur.
Di sana, Mbak Tari tampak kewalahan.
Selain memasak, perempuan itu juga sedang mencuci pakaian.
“Nanti urusan mencuci biar saya saja, Mbak,” kata Nadia lembut.
Mbak Tari menoleh bingung.
“Kenapa, Bu? Saya dari tadi heran. Biasanya Ibu tidak mau keluarga Ibu dimasakkan orang lain.”
Nadia hanya tersenyum tipis.
“Mulai sekarang, Mbak yang siapkan sarapan Pak Raka dan Bu Yuni. Saya bantu urusan rumah.”
Mbak Tari terdiam.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi cukup tahu bahwa ada sesuatu yang berubah.
Nadia memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci satu per satu.
Tangannya mendadak berhenti saat melihat kebaya milik Yuni.
Kebaya yang kemarin ia temukan di koper.
Kebaya yang kini menjadi bukti bahwa semua kecurigaannya benar.
Air mata hampir jatuh.
Namun Nadia memejamkan mata dan menegakkan bahu.
Tidak.
Ia tidak akan menangis lagi.
Dengan wajah tenang, ia menyalakan mesin cuci.
Setelah itu, Nadia keluar ke halaman depan dan mulai menyapu.
Tak lama kemudian, suara Raka terdengar dari ambang pintu.
“Nadia, mana baju kerjaku?”
Nadia menoleh sebentar.
Di tangannya masih tergenggam sapu.
“Di lemari, rak paling atas.”
Raka mengernyit.
“Kenapa kamu tidak menyiapkannya?”
Nadia tidak menjawab.
Ia kembali menyapu halaman seolah tidak mendengar apa-apa.
Raka menatap istrinya beberapa detik.
Ada sesuatu yang berbeda.
Nadia masih berada di rumah.
Masih menjalankan rutinitas seperti biasa.
Namun entah kenapa, perempuan itu terasa begitu jauh.
Dengan wajah kesal, Raka berbalik dan kembali ke kamar.
Sementara Nadia tetap menyapu halaman.
Tenang.
Diam.
Tetapi di dalam hatinya, sebuah keputusan telah bulat.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭