Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*20
Malam harinya, seperti permintaan Naya tadi siang, Mika kembali ke tempat tersebut. Restoran ternama kelas atas. Yah, bagaimanapun, yang sedang berhubungan dengannya adalah orang kaya. Uang bukan masalah bagi mereka.
Mika yang tidak punya pilihan hanya bisa pasrah. Bergerak dengan hati yang sangat berat. Jika saya ia bisa memilih, atau, jika saja dia punya pilihan lain, sudah pasti dia tidak akan menggambil pilihan yang sangat berat ini.
Menjadi orang ketiga adalah kesalahan yang paling fatal. Walau bukan salah dirinya, walau bukan keinginan hatinya. Tapi tetap saja, orang ketiga adalah orang yang jahat di mata orang luar. Walau, bukan salah orang ketiga hancurnya sebuah hubungan. Tapi tetap saja, orang ketiga lah yang akan dilimpahkan semua kesalahan.
"Aku benci jalan takdir ini, Tuhan." Keluh Mika sambil terus melangkah.
Sibuk dengan keluhan, Mika tidak menyadari kalau kakinya kini telah membawa dirinya ke tempat yang ingin dia tuju. Mika tertegun di depan pintu ruangan VIP. Sungguh, entah kenapa, jalan menuju ruangan itu sungguh terasa sangat singkat. Semua itu adalah karena hati yang tidak menginginkan hal tersebut. Jadinya, perjalanan yang jauh terasa sangat dekat gara-gara hati yang tidak menginginkan.
Mika pun langsung membuka pintu dari ruangan tersebut setelah diam beberapa saat. "Huh .... " Sekali lagi, hembusan napas berat nan panjang dia lepaskan. Sungguh, wajah terpaksa terlihat dengan sangat jelas walau dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya.
Pintu itu terbuka. Sosok pria tinggi, tegap, dengan postur tubuh yang sangat sempurna langsung terlihat. Namun, wajah si pria masih tidak bisa Mika lihat. Karena saat ini, pria tersebut sedang berdiri membelakangi Mika.
"Halo, maaf. Saya Mika. Saya adalah orang yang akan bertemu dengan anda."
Baru Mika selesai berucap, si pria langsung memutar tubuhnya. Sontak, wajah Paris yang tidak ingin Mika lihat terpajang di depan mata Mika kini.
"Pak-- pak Paris?"
"Mika."
"Mikaila Adinda Utami. Ternyata benar itu kamu," ucap Paris lagi sambil menatap tajam Mika.
Sadar akan keadaan yang tidak baik. Mika pun segera mundur beberapa langkah kecil untuk menjaga jarak dari Paris. Seringai tidak enak pun langsung Mika perlihatkan.
"Ah, anu ... itu ... ma-- maaf, Pak. Se-- sepertinya, saya salah masuk ruangan. Saya permisi." Gegas Mika memutar tubuh untuk menghilang dari pandangan Paris.
Sayangnya, langkah kaki Mika kalah cepat dengan gerakan tangan Paris. Baru juga Mika berhasil memutar tubuh, pergelangan tangan Mika malah sudah ada dalam cengkraman tangan Paris.
"Tidak. Kamu tidak salah ruangan."
Tentu saja Mika di buat terkejut dengan ucapan Paris. Namun, ada hal yang lebih terkejut lagi. Paris malah langsung menarik tubuh Mika agar bisa semakin mendekat dengan tubuhnya. Gugup Mika bukan kepalang. Sungguh, jika saat ini Mika punya ilmu yang bisa menghilang dari pandangan manusia. Maka dia akan memakai ilmu itu dengan apapun konsekuensinya sebagai ganti. Yang penting, dia bisa lenyap dari pandangan Paris saat ini.
"P-- pak. Sa-- saya sungguh salah masuk ruangan."
"Sudah ku bilang, kamu tidak salah. Kamu memasuki ruangan yang benar, Mika."
"Pak."
Melihat wajah Mika yang sangat memerah, Paris pun tidak ingin terus mengunci Mika dari pandangan mata terlalu dekat. Dia lepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Mika.
"Duduk. Aku ingin bicara."
"Ta-- tapi, Pak."
"Apakah kata-kataku tidak akan berlaku jika aku tidak ada di perusahaan ku, Mika?"
"Bu-- bukan gitu, Pak. Saya .... "
"Duduklah. Ayo bicara!"
Enggan sungguh hati Mika. Tapi, mana mungkin dia bisa melarikan diri. Pilihan satu-satunya yang dia punya hanyalah mendengarkan apa yang Paris katakan.
Duduk dengan berat hati di salah satu kursi, Mika pun enggan untuk melihat wajah Paris. Dia lebih memilih menghindari matanya dengan cara melihat ke bawah, atau ke sembarang tempat. Yang jelas, dia tidak ingin melihat wajah Paris.
Wajah itu tidak menakutkan. Hanya saja, Mika yang tidak ingin melihat karena hatinya yang sangat tidak stabil sekarang. Sebaliknya, wajah seorang Ramos Paris Dieno ini sungguh menawan. Garis wajah sempurna dengan rambut lurus yang tertata sangat rapi. Tatapan mata indah seolah ada cahaya manik hitam berkilau yang diletakkan di dalamnya. Tak lupa, kaca mata putih yang selalu Paris pakai sebagai pelengkap indahnya wajah sempurna yang dia miliki.
Tapi, dia adalah Paris. Bos yang selalu ingin Mika hindari. Pria yang selalu membuat hati Mika kesal dengan segala ulah yang telah ia perbuat. Sungguh, ini bukanlah pilihan yang baik bagi Mika.
"Pak. Sa-- saya bisa jelaskan." Mika berucap pelan dengan hati-hati sesaat setelah duduk.
"Jelaskan apa?"
"Saya beneran salah ruangan, Pak. Saya datang untuk bertemu te-- "
"Bertemu siapa?"
"Bertemu .... "
"Bertemu calon suami?"
Mata Mika sontak membulat. "Ap-- apa?"
"Aku tahu apa yang telah membawamu datang ke tempat ini, Mika. Aku tahu tujuan mu datang ke mari. Dan bukankah aku sudah bilang kalau, kamu tidak salah ruangan tadinya, Mika?"
"Tidak, Pak. Saya ... beneran salah ruangan."
"Masih menyangkalnya, Mika? Apakah kata-kata yang baru saja aku ucapkan tidak cukup jelas? Kamu tidak salah ruangan. Karena calon suami yang ingin kamu temui itu adalah aku."
"Apa!" Mika sontak langsung bangun dari duduknya. "Ba-- bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Karena kenyataannya sudah ada di depan mata kamu sekarang."
Mika tidak lagi bisa berkata apa-apa. Seketika, tubuhnya jatuh kembali duduk di atas kursi yang ada di belakangnya.
"Naya adalah istriku. Kami menikah tiga tahun yang lalu. Aku yakin kamu sudah tahu sedikit banyak cerita tentang aku, bukan?"
"Ti-- tidak. Aku tidak tahu. Aku hanya-- "
"Baiklah kalau begitu. Karena kamu belum tahu, maka aku akan menceritakan tentang kehidupan rumah tangga ku padamu."
"Ti-- tidak, pak. Ti-- tidak perlu," ucap Mika cepat sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk mencegah Paris buat bercerita.
Sebaliknya, Paris langsung menatap tajam Mika. Tak lupa, satu alis indah miliknya ia naikkan. "Kenapa?"
"Ka-- karena saya ... akan membatalkan kesepakatan saya dengan mbak Naya." Gugup Mika masih belum juga mereka.
"Membatalkan, Mika?"
"Iy-- iya, Pak. Karena saya .... "
"Apakah saya tidak pantas untuk menikah dengan mu?"