NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 — Nada yang Tidak Mereka Ucapkan

Tiga hari sebelum Halloween.

Studio kampus belum sepenuhnya hidup, tapi suara langkah kaki, bunyi tas diletakkan sembarangan, dan gesekan kabel yang ditarik pelan sudah mulai mengisi ruang. Bau kayu lama, besi alat musik, dan debu tipis bercampur jadi aroma yang anehnya menenangkan. Bagi Silent Echo, tempat ini selalu menjadi titik temu antara kelelahan dan alasan untuk bertahan.

Yukito duduk di belakang drum set, memutar stiknya pelan di antara jari. Ia tidak langsung memukul. Ia menunggu. Selalu menunggu.

Menunggu napas Airi yang tadi sempat naik turun menjadi lebih teratur.

Menunggu bahunya yang sedikit tegang turun sepersekian sentimeter.

Menunggu tanda-tanda kecil yang hampir tidak pernah disadari orang lain.

Sejak Airi jujur beberapa hari lalu, ada sesuatu yang berubah. Bukan perubahan besar yang bisa ditunjuk dengan jelas, tapi perubahan halus yang terasa di sela-sela nada. Suaranya tetap indah, bahkan terdengar lebih jujur. Tapi tubuhnya sering bergerak lebih cepat dari pikirannya. Napas tertahan di tengah bait. Jari-jarinya mencengkeram mikrofon terlalu kuat. Tatapannya sesekali kosong, seperti sedang terseret ke tempat yang tidak ingin ia kunjungi.

Yukito melihat semuanya.

Ia selalu melihat hal-hal kecil.

Di sisi lain ruangan, Hinami berdiri dengan papan jadwal di tangannya. Kertas itu sudah penuh coretan. Jam latihan yang digeser, lagu yang diulang, catatan kecil soal tempo dan transisi. Ia membolak-balik kertas itu dengan dahi berkerut, lalu melirik Airi sekilas, cepat, seolah tidak ingin ketahuan.

Di sudut ruangan, Takahashi Shun berdiri dengan tangan terlipat. Posturnya santai, terlalu santai. Wajahnya tenang, rapi, seperti tidak ada satu pun yang mengganggu pikirannya. Matanya menyapu semua anggota band, tapi entah kenapa selalu kembali ke Airi. Tidak lama. Tidak terang-terangan. Tapi cukup sering untuk terasa.

Yukito merasakan ketegangan itu seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.

Ia menahan diri untuk tidak memukul lebih keras.

“Siap?” tanya Haruto dari depan. Bass tergantung di dadanya, tangannya sudah siap di senar.

Airi mengangguk. “Siap.”

Yukito baru mulai menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Ritme mengalir, stabil, seperti jantung yang dipaksa berdetak teratur. Yukito menjaga ketukannya sederhana. Tidak banyak variasi. Tidak ada kejutan. Ia tahu Airi tidak butuh sesuatu yang rumit. Ia butuh pegangan.

Latihan hari pertama berjalan tanpa banyak komentar. Takahashi memberi arahan teknis seperlunya. Tentang dinamika. Tentang artikulasi. Tentang keseimbangan suara. Semuanya terdengar profesional, dingin, dan tidak bisa disalahkan secara kasat mata.

Tapi saat Airi berhenti bernyanyi sebentar untuk minum, Yukito melihat tangannya gemetar kecil.

Ia menurunkan stiknya.

“Break lima menit,” katanya ringan, seolah itu keputusan spontan.

Haruto menoleh. Mei langsung mengangguk, seolah sudah paham tanpa perlu bertanya. Hinami menutup papan jadwalnya dan mendekat ke Airi, pura-pura membahas urusan teknis.

“Mau aku tambahin jeda sebelum chorus kedua?” tanya Hinami pelan.

Airi tersenyum kecil. “Makasih.”

Yukito hanya membalas anggukan. Ia tidak pandai berkata-kata. Tapi ia tahu, kadang keputusan kecil bisa menjadi pelindung yang paling efektif.

 

Hari kedua sebelum Halloween.

Latihan dipindahkan ke sore yang lebih panjang. Lampu studio dinyalakan lebih awal, menahan senja di luar agar tidak ikut masuk. Cahaya kuning lembut membuat ruangan terasa lebih tertutup, lebih aman.

Airi datang lebih awal hari itu. Ia duduk sendirian di bangku dekat dinding, membuka buku lirik, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Beberapa baris dilewati begitu saja.

Haruto datang beberapa menit kemudian.

“Lho, Airi udah sampai,” katanya, agak heran. “Sendirian pula.”

Airi mengangkat bahu. “Mei sama Hinami kelasnya belum selesai.”

Haruto mengangguk. Ia meletakkan bassnya, lalu duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding. Jarak mereka tidak dekat, tapi cukup untuk saling terasa. Tidak mengganggu, tidak juga menghindar.

“Kamu nggak harus maksa diri,” katanya akhirnya. “Kalau hari ini berat—”

“Aku mau,” potong Airi pelan. “Aku nggak mau takut ngatur hidupku.”

Kalimat itu membuat Haruto terdiam. Ada sesuatu di nada suara Airi yang berbeda. Bukan keberanian yang meledak-ledak, tapi keteguhan yang dibangun pelan-pelan, seperti dinding yang disusun satu per satu.

“Kamu berubah,” kata Haruto jujur.

Airi tersenyum tipis. “Aku cuma capek pura-pura baik-baik saja.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Tidak canggung. Tidak perlu diisi.

Haruto menatap Airi, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ada getaran aneh yang muncul di dadanya. Ia mengenal perasaan itu. Ia hanya memilih untuk tidak menamainya.

“Airi,” katanya pelan. “Kalau nanti di panggung kamu ngerasa goyah… cari aku. Jangan lihat ke arah lain.”

Airi menoleh. “Kenapa?”

“Karena aku bakal ada di situ,” jawab Haruto. “Dan aku nggak akan ke mana-mana.”

Jantung Airi berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tidak tahu kenapa.

Ia hanya tahu dadanya terasa hangat, lalu ia menunduk cepat, menyalahkan perasaan itu pada kelelahan.

Ren melihat mereka dari pintu studio.

Ia berhenti melangkah.

Bukan cemburu yang muncul pertama kali, melainkan kewaspadaan. Cara Haruto berdiri. Cara Airi menatap lalu menghindar. Ren mengenal bahasa tubuh Airi lebih dari siapa pun.

Ia mendekat.

“Latihan bentar lagi,” katanya, suaranya netral.

Airi mengangguk cepat. “Iya.”

Haruto berdiri. Tatapan mereka sempat bertemu.

Ren menangkap sesuatu di sana. Bukan niat buruk. Bukan perebutan. Lebih seperti kemungkinan.

Dan kemungkinan selalu berbahaya.

Malam itu, setelah latihan, Ren dan Haruto duduk di tangga luar studio, menunggu Airi yang masih beres-beres di dalam bersama Hinami dan Mei.

“Airi aman?” tanya Haruto.

Ren mengangguk. “Selama kita jaga bareng.”

Haruto tersenyum kecil. “Gue nggak mau jadi masalah.”

Ren menatap ke depan. “Gue tahu.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi gue juga tahu… perasaan nggak bisa selalu diatur.”

Haruto menunduk. “Gue nggak akan narik dia ke mana-mana.”

Ren menarik napas. “Gue bukan takut saingan. Gue takut Airi bingung sama perasaannya sendiri.”

Haruto mengangguk pelan. “Makanya kita jaga mentalnya dulu.”

Airi datang menghampiri mereka. “Ayo pulang, Ren. Aku udah izin ke ibu tadi sore, jadi aman hari ini.”

Ren berdiri. “Oke.”

Kesepakatan itu tidak pernah diucapkan sebagai sumpah. Tapi terasa mengikat.

 

Sehari sebelum Halloween.

Latihan terakhir. Gladi bersih di panggung.

Energi tegang bercampur antusias. Kostum belum dipakai, tapi bayangan penonton sudah terasa. Lampu panggung diuji satu per satu, menyorot wajah mereka dengan terang yang berbeda dari lampu studio.

Yukito duduk lebih dekat ke Airi hari itu. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat.

Setiap kali Airi menarik napas terlalu cepat, Yukito memperlambat tempo sepersekian detik. Hampir tidak terlihat. Tapi Airi merasakannya.

Ia menoleh sebentar. Yukito tidak menatapnya. Tapi ritmenya bicara.

Tenang. Aku di sini.

Hinami berdiri di pinggir panggung, menggenggam clipboard. Matanya berpindah dari satu anggota ke anggota lain, lalu berhenti di Airi. Ia menarik napas pelan, menahan rasa khawatir yang tidak ingin ia sebarkan.

Takahashi memberi arahan akhir. Matanya kembali menahan Airi sedikit lebih lama.

“Kamu berkembang,” katanya. “Jangan ragu dengan emosimu.”

Kalimat itu membuat dada Airi menegang.

Ia mengangguk. Diam.

Setelah latihan selesai, mereka duduk melingkar di lantai panggung. Lelah. Berkeringat. Tapi ada kepuasan kecil yang sulit dijelaskan.

“Aku mau bilang sesuatu,” kata Airi.

Mereka menunggu.

“Aku masih takut,” katanya jujur. “Kadang masih kebawa ingatan lama. Tapi… makasih karena kalian nggak ninggalin aku sendirian.”

Mei tersenyum hangat. Hinami mendekat dan merangkul bahu Airi sebentar. Yukito mengangguk. Haruto menatapnya lama, lalu tersenyum tipis.

Di dadanya, ada getaran lain yang belum ia pahami. Bukan hanya pada Ren. Tapi pada ruang aman yang dibangun bersama.

Ia menyangkalnya.

Belum sekarang.

Malam itu, sebelum pulang, Yukito berkata pelan, hampir pada dirinya sendiri, “Besok kita tampil bukan buat buktiin apa-apa.”

Haruto menimpali, “Tapi buat ngingetin kenapa kita mulai band ini bersama.”

Ren menatap Airi. “Dan buat pulang dengan selamat.”

Airi tersenyum.

Halloween tinggal satu hari lagi.

Dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak berdiri sendirian.

 

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!