Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha yang Tulus
Raka terbangun lebih awal dari biasanya. Jam weker di ponselnya berbunyi pukul lima pagi, dua jam lebih awal dari waktu bangunnya biasanya. Ia langsung mematikan alarm dengan cepat agar tidak membangunkan Nadira yang tidur di ranjang.
Ya, kemarin malam Raka tidur di sofa, memberikan kamar untuk Nadira sendirian. Meski punggungnya pegal dan lehernya kaku, ia tidak keberatan. Ini lebih aman. Lebih baik untuk mereka berdua.
Raka bangkit dari sofa, meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah pelan agar tidak berisik. Ia mandi dengan cepat, air dingin untuk membangunkan tubuhnya yang masih mengantuk, lalu berganti pakaian dengan kaos sederhana dan celana training.
Setelah itu, ia berjalan ke dapur dengan tekad yang sudah bulat sejak semalam.
Hari ini, ia akan memasak sarapan untuk Nadira.
Nasi goreng.
Makanan favorit Nadira atau setidaknya, favorit Nadira yang sekarang.
Raka membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan yang ia beli kemarin sore saat Nadira tidur, nasi putih sisa kemarin malam, telur, sosis, bawang merah, bawang putih, kecap manis, garam, dan beberapa sayuran.
Ia menatap semua bahan itu dengan tatapan sedikit gugup.
Jujur, Raka tidak terlalu bisa memasak. Selama ini, Nadira yang selalu memasak untuk mereka berdua. Raka hanya bisa hal-hal sederhana, merebus mie instan, membuat telur orak-arik, atau paling banter memasak nasi.
Tapi nasi goreng? Raka tidak pernah mencobanya.
Tapi hari ini, ia harus mencoba. Untuk Nadira.
"Oke, Raka. Kamu bisa. Ini hanya nasi goreng. Berapa susah sih?" gumamnya pada dirinya sendiri sambil menyalakan kompor.
Ia menuangkan minyak ke wajan, terlalu banyak lalu menunggu sampai panas. Lalu ia mengupas bawang merah dan bawang putih dengan susah payah, pisaunya tidak tajam, jarinya hampir terluka beberapa kali.
Setelah bawangnya siap, meski tidak dipotong rapi... ia memasukkannya ke wajan.
TSSSSS!
Minyak langsung memercik kemana-mana. Raka mundur dengan cepat, hampir menabrak meja di belakangnya.
"Aduh!" gumamnya sambil mengipas-ngipas wajan dengan tangan, mencoba mengurangi asap yang mulai mengepul.
Ia mengaduk bawang dengan spatula kayu, mengaduk terlalu keras sehingga beberapa potong bawang terlontar keluar dari wajan dan jatuh ke kompor.
"Sial..." bisik Raka sambil mengambil bawang yang jatuh dengan tangan, lalu langsung melepasnya lagi karena panas. "Panas!"
Ia mengaduk lagi, kali ini lebih pelan. Bawangnya mulai berubah warna... tapi terlalu cepat berubah menjadi kecoklatan, hampir gosong.
"Oke, telur sekarang!" ucap Raka cepat sambil memecahkan telur, memecahkannya terlalu keras sehingga sebagian cangkang ikut masuk ke wajan.
"Eh, tunggu..." Ia mencoba mengambil cangkang dengan spatula, tapi malah tercampur dengan bawang dan telur yang mulai matang.
Raka frustasi. Ia mengaduk semuanya dengan cepat, berharap cangkangnya entah bagaimana bisa keluar sendiri.
Lalu ia memasukkan nasi, memasukkannya sekaligus, tidak sedikit-sedikit seperti yang biasa Nadira lakukan.
Nasi langsung menggumpal. Raka mengaduknya dengan terlalu keras, sehingga nasi malah hancur dan lengket di wajan.
"Kecap! Iya, kecap!" Raka menuangkan kecap manis, menuangkan terlalu banyak sehingga nasi langsung berubah warna sangat gelap, hampir hitam.
"Eh, kebanyakan..." Ia mencoba mengaduk lebih cepat, berharap kecapnya merata dan tidak terlihat terlalu banyak.
Lalu garam. Ia menaburkan garam, tidak mengukur, hanya menuang langsung dari wadahnya, sedikit... sedikit lagi... lagi...
"Oke, cukup." Raka mematikan kompor dan menatap hasil karyanya.
Nasi goreng yang... aneh.
Warnanya terlalu gelap. Teksturnya tidak rata, ada yang lembek, ada yang kering. Dan entah kenapa, ada beberapa bagian yang terlihat gosong.
Tapi ini sudah yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Raka menuangkan nasi goreng itu ke dua piring, lalu menata di meja makan dengan hati-hati. Ia menambahkan sedikit tomat dan mentimun di sampingnya supaya terlihat lebih menarik.
Ia menatap hasil karyanya dengan tatapan ragu.
"Semoga... semoga Nadira suka," bisiknya pelan.
---
Raka berjalan ke kamar dengan langkah pelan. Ia membuka pintu perlahan dan melihat Nadira masih tidur dengan posisi meringkuk, rambutnya yang dikepang sedikit berantakan, wajahnya tenang.
Raka tersenyum tipis, senyuman yang penuh kasih sayang.
"Dira," panggil Raka pelan sambil mendekat ke ranjang. "Bangun, sayang. Sarapan sudah siap."
Nadira bergerak sedikit, lalu perlahan membuka matanya. Ia mengucek matanya dengan tangannya, gerakan yang sangat seperti anak kecil.
"Om...?" ucapnya dengan suara serak karena baru bangun.
"Iya. Ayo bangun. Om sudah masak sarapan," ucap Raka sambil tersenyum.
Nadira langsung duduk, matanya yang tadinya mengantuk langsung berbinar.
"Om masak? Masak apa?" tanyanya dengan semangat.
"Nasi goreng," jawab Raka sambil tersenyum. "Nadira kan suka nasi goreng."
"NASI GORENG!" Nadira langsung melompat dari ranjang dengan girang. "Wah! Nadira mau makan sekarang!"
Ia berlari keluar dari kamar, berlari cepat dengan langkah yang riang menuju meja makan.
Raka mengikuti di belakang dengan senyuman di wajahnya, senyuman yang sedikit gugup.
Nadira sampai di meja makan dan melihat dua piring nasi goreng yang sudah terhidang di sana.
Senyumannya masih lebar... tapi perlahan, senyuman itu sedikit surut saat ia melihat tampilan nasi gorengnya.
Warnanya... terlalu gelap. Hampir hitam. Dan ada beberapa bagian yang terlihat... gosong?
Tapi Nadira tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap nasi goreng itu dengan tatapan ragu, lalu duduk di kursi dengan pelan.
Raka duduk di seberangnya, menatap Nadira dengan tatapan penuh harap.
"Ayo dicoba," ucap Raka sambil tersenyum yang dipaksakan karena ia sendiri ragu dengan hasil masakannya.
Nadira mengambil sendok dengan pelan, lalu menyendok sedikit nasi goreng dan memasukkannya ke mulut.
Raka menatapnya dengan tatapan cemas, menunggu reaksi Nadira.
Nadira mengunyah pelan, sangat pelan dan ekspresinya berubah.
Matanya sedikit menyipit. Alisnya berkerut. Ia mengunyah lebih lama dari biasanya.
Lalu ia menelan dengan susah payah.
Raka langsung tahu, nasi gorengnya tidak enak.
"Dira... gimana? Enak?" tanya Raka dengan suara pelan, suara yang penuh harap tapi juga takut akan jawaban.
Nadira menatap Raka, menatap dengan tatapan yang sulit dibaca.
Lalu ia tersenyum kecil yang dipaksakan.
"Enak, Om," ucapnya pelan.
Tapi Raka tahu itu bohong. Ia bisa melihat dari ekspresi Nadira, wajah yang sedikit meringis, gerakan mengunyah yang susah payah.
"Dira, kamu nggak harus bohong. Om tahu nasi gorengnya nggak enak," ucap Raka dengan nada menyesal. "Om nggak bisa masak. Maafin Om ya."
Nadira menggeleng cepat. "Nggak kok, Om! Ini enak!" Ia menyendok lagi, kali ini lebih banyak dan memasukkannya ke mulut dengan senyuman yang dipaksakan.
Tapi begitu ia mengunyah, ekspresinya langsung berubah lagi.
Asin.
Sangat asin.
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya Allah... Om kebanyakan kasih garam ya..."
Nadira menelan dengan susah payah, lalu langsung minum air putih dengan cepat, minum sampai habis satu gelas.
"Haahhh..." Ia mengambil napas dengan lega setelah minum.
Raka menatap Nadira dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maafin Om, Dira. Om benar-benar nggak bisa masak. Om harusnya beli nasi goreng dari luar aja."
Nadira menatap Raka, menatap dengan tatapan yang lembut, tatapan yang tulus.
Lalu ia tersenyum, kali ini senyuman yang lebih tulus.
"Nggak apa-apa, Om," ucapnya dengan suara lembut, suara yang membuat hati Raka menghangat. "Nadira tahu Om udah usaha. Om bangun pagi buat masak buat Nadira. Itu udah bagus banget."
Raka merasakan matanya memanas. Kata-kata sederhana itu, kata-kata dari Nadira yang bahkan tidak ingat siapa dia... terasa begitu hangat, begitu menyentuh.
"Om jangan sedih," lanjut Nadira sambil tersenyum. "Nanti Om belajar masak lagi ya. Nadira akan bantuin. Nanti Om pasti bisa masak nasi goreng yang enak!"
Raka tersenyum penuh haru. "Terima kasih, Dira."
Nadira mengangguk dengan girang, lalu melanjutkan makan nasi gorengnya, meski dengan ekspresi yang meringis setiap kali mengunyah.
Dan Raka duduk di sana, menatap Nadira dengan tatapan penuh cinta.
Meski Nadira tidak ingat siapa dia, meski Nadira memperlakukannya seperti orang asing, tapi kebaikan hati Nadira tetap sama. Kelembutan Nadira tetap ada.
Dan itu cukup untuk membuat Raka terus bertahan.
---
Setelah Nadira berusaha keras menghabiskan setengah piring nasi goreng yang asin itu... Raka membereskan meja makan sambil menatap jam dinding.
Pukul tujuh pagi. Ia harus berangkat kerja jam delapan.
Tapi... ia tidak bisa meninggalkan Nadira sendirian di apartemen. Nadira masih seperti anak kecil, tidak tahu cara menyalakan kompor, tidak tahu cara mengunci pintu, tidak tahu apa-apa tentang hidup mandiri.
Raka sudah memikirkan solusinya sejak semalam.
"Dira," panggil Raka sambil mendekat ke Nadira yang sedang menonton televisi. "Om harus kerja hari ini. Jadi Om akan antar kamu ke rumah Nenek dulu, oke?"
Nadira menoleh dengan mata berbinar. "Nenek? Siapa Nenek?"
"Nenek itu... Nenek baik. Nenek akan jaga Nadira sampai Om pulang kerja nanti," jelasnya dengan senyuman.
Nadira mengangguk dengan girang. "Oke! Nadira mau ketemu Nenek!"
Raka tersenyum dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Setidaknya, Nadira akan aman bersama Mamanya.
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk