"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Kecil
Rara tengah asyik bermain bola kasti ketika sebuah panggilan menghentikannya.
“Rara!!”
Suara itu berasal dari Bu Neti, wali kelasnya.
Jantung Rara seakan berhenti sejenak saat namanya dipanggil keras dari tepi lapangan. Ia tahu, Bu Neti jarang memanggil murid tanpa alasan.
“Temui Ibu di kelas, ya?” ucap Bu Neti kemudian.
Rara mengangguk. Ia pamit pada Arini, lalu berjalan tergesa menuju ruang kelas. Langkahnya terasa berat. Di kepalanya, berbagai kemungkinan kesalahan berkelebat.
Sesampainya di depan kelas, Bu Neti sudah menunggunya di meja guru. Wajah Rara memucat. Ia menunduk begitu berdiri di hadapan wanita itu.
“Kamu tahu kenapa Ibu memanggil?” tanya Bu Neti dengan senyum mengembang.
Rara menggeleng. Kehangatan dari senyum itu perlahan mengusir ketakutan di dadanya.
“Ra, sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan dimulai. Tolong tingkatkan lagi cara belajarmu, ya,” nasihat Bu Neti lembut.
Rara mengangguk. Pandangannya bertemu dengan mata Bu Neti. Ada rasa hangat yang asing namun ia rindukan, rasa yang sudah lama hilang sejak ibunya pergi.
Bu Neti mengusap rambutnya pelan.
“Kamu pintar, Ra. Kamu cuma perlu belajar lebih giat lagi.”
“Baik, Bu. Rara akan berusaha lagi,” jawabnya lirih.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Rara segera menuju bangkunya untuk melanjutkan pelajaran.
Rara tercenung.
Kamu pintar, Ra.
Ucapan Bu Neti terus mengiang di telinganya. Selama ini, tak pernah ada pujian untuknya. Hidupnya hanya berputar antara pekerjaan rumah dan menjaga Alisya. Tak ada yang benar-benar peduli pada pelajaran dan sekolahnya.
Namun Bu Neti seakan memberi harapan kecil, bahwa ia masih dianggap ada.
Hingga perjalanan pulang sekolah, Rara tetap bungkam. Terlalu banyak hal yang berisik di kepalanya.
“Kak Rara!”
Seruan Alisya terdengar riang. Bocah itu melonjak kecil ketika menemukan selembar uang sepuluh ribuan tergeletak di pinggir jalan. Matanya berbinar, seolah baru saja menemukan harta karun.
“Kita bisa jajan hari ini, Kak!”
Rara ikut tersenyum, meski dadanya sempat berdebar. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada siapa pun di sekitar mereka. Jalanan memang sepi, tapi rasa takut itu tetap ada. Uang itu bukan milik mereka.
Setelah yakin tak ada yang mencarinya, Rara menggenggam tangan adiknya erat-erat.
“Ayo cepat,” bisiknya pelan.
Mereka menuju warung kecil di pinggir jalan. Membelanjakan semua uang tersebut. Dan belanjaan itu segera dihabiskan di sebuah pondok sederhana tak jauh dari sana. Jika dibawa pulang, Rara tahu, itu hanya akan menjadi masalah besar dengan ibu tirinya. Mereka memakan jajan itu dengan lahap.
"Hei kamu!"
Suara Alea mengagetkan mereka. Rara dan Alisya buru-buru membersihkan sisa makanan di bibir. Darah Rara berdesir kencang. Ia menarik kantong makanan ke belakang tubuhnya, berusaha menyembunyikannya.
"Dasar orang numpang! Cepat pulang. Awas ya, aku aduin ke Ibu!" ucap Alea lantang. Teman-temannya tertawa.
***
"Kamu pemalas begini, yakin bisa naik?"
Ucapan Wanita itu terasa menampar Rara. Rara yang sedang duduk membaca koran bekas di depan pintu terkaget. Wanita itu selalu punya cara untuk merendahkannya.
"Ibumu bodoh. Wajar aja kamu dan adikmu juga begitu,"
Kata-kata itu menyengat. Rara terdiam. Meski ibunya tak pernah peduli, hatinya sakit saat wanita itu merendahkan sosok yang telah melahirkannya. Dari mana ia tahu ibunya bodoh, apakah ayah menjelekkan ibu pada istri barunya?
Matanya berkaca, namun diam-diam ada semangat kecil yang tumbuh. Ia yakin akan ada masanya ia menang.
"Itu piring kotor sudah menumpuk. Segera cuci sebelum petang." Wanita itu menoel kepala Rara dengan telunjuknya.
Rara tidak membantah. Ia berjalan melaksanakan tugasnya. Alisya terus membuntuti kemanapun kakaknya pergi.
"Kak, kalau ada Ayah, Ibu selalu baik ya sama kita!" bisik Alisya.
Rara tak bersuara. Ia terus membilas piring yang telah selesai ia sabuni.
"Kak besok kita ambil raport. Kira-kira kita naik nggak, ya? tanya Alisya, berusaha mencairkan suasana.
" Semoga kita naik kelas ya, Dek," jawab Rara pelan.
Mereka langsung mandi, karena baju mereka sudah basah oleh air cucian.
"Rara!!"
Suara perempuan itu kembali menggema. Ia sudah berkacak pinggang tak jauh dari sumur.
"Kalian ngapain aja? Dari tadi belum selesai juga!"
"Kami langsung mandi, Bu," jawab Rara datar.
"Air minum sudah habis. Kenapa kamu nggak masak sekalian tadi?"
Rara memilih diam. Ia tahu jawabannya hanya akan menambah amarah.
"Cepat mandi! habis itu langsung masak air!"
Wanita itu pergi begitu saja.
"Kak, Alea nggak dikasih tugas apa-apa?" bisik Alisya.
Rara menatap asiknya sekilas.
"Sudahlah, Dek." ucapnya singkat.
Sayup-sayup suara orang mengaji terdengar dari kejauhan. Senja perlahan berganti malam. Rara menimba air sumur untuk direbus. Sejak kehilangan ibunya, ia harus telaten mengerjakan semua pekerjaan orang dewasa.
Selesai menimba air, ia menyalakan api di tunggu dapur. Sesekali ia terbatuk oleh kepulan abu.
“Kak, apinya belum mau nyala, ya?” tanya Alisya, lalu menyerahkan sepotong bambu berlubang sebagai alat tiup.
Rara meniup ujung bambu itu, sementara ujung lainnya diarahkan ke perapian. Sekali tiup, api akhirnya menyala.
Hari semakin gelap, ketika semua pekerjaannya selesai. Rara duduk di pojok ruang utama dengan sebuah koran bekas di tangannya. Sejak ia lancar membaca, apa pun yang bisa dibaca akan ia lahap dengan senang hati.
"Kamu mau makan?"
Suara ibu tirinya menghentikan Rara. Rumah temaram itu hanya diterangi lampu minyak.
"Iya Bu, kami lapar," jawab Rara pelan.
"Itu ada ada nasi cukup untuk kalian berdua. Sambalnya sisa sedikit, kalian bagi aja!"
Wanita itu berlalu.
Rara melihat Alea makan dengan lahap, tanpa perlu berbagi. Ia membuka tudung saji. Nasi di bakul tinggal sangat sedikit. Di sampingnya, sambal hanya menyisakan beberapa potong terong kecil dan cabai.
Rara dan Alisya makan dengan lahap. Sebenarnya nasi itu belum cukup. Namun Rara sudah terbiasa merasa cukup dengan apa pun yang diberikan. Bisa makan dengan lauk seperti malam ini saja sudah menjadi nikmat yang tak terhingga bagi mereka berdua.