Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pinjaman Hati
Lin Yue datang saat senja hampir habis.
Langit berwarna jingga pucat, dan bayangan bangunan sekte memanjang di tanah.
Feiyan baru saja keluar dari ruang latihan, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Langkah Lin Yue pelan.
Tidak tergesa.
Seolah ia tidak ingin mengganggu keseimbangan yang rapuh itu.
“Feiyan,” panggilnya lembut.
Feiyan menoleh.
Wajahnya sedikit pucat, namun ia tetap tersenyum sopan.
“Senior Lin Yue?”
Lin Yue berhenti satu langkah darinya.
Jarak yang aman, namun cukup dekat untuk terasa hangat.
“Kau terlihat lelah,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak menilai, hanya mengamati.
Feiyan mengangguk kecil.
“Ada sedikit… tapi tidak apa-apa.”
Lin Yue tersenyum tipis.
Senyum yang tidak mendesak, tidak memaksa.
“Aku sebenarnya ingin meminta bantuanmu,” katanya.
“Jika kau tidak keberatan.”
Feiyan terdiam sesaat.
Di dalam dadanya, ada dorongan kecil untuk menolak.
Namun tatapan Lin Yue terlalu tenang.
Terlalu penuh pengertian.
“Latihan ringan,” lanjut Lin Yue cepat, seolah membaca keraguannya.
“Tidak menguras Qi. Hanya… penyelarasan.”
Feiyan menghela napas pelan.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
“Baik,” katanya akhirnya.
“Apa yang perlu kulakukan?”
Ruangan latihan kecil itu sunyi.
Dinding kayu menyerap suara,
dan lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya lembut.
Mereka duduk berhadapan.
Jaraknya cukup dekat untuk saling merasakan napas.
“Pejamkan mata,” kata Lin Yue perlahan.
“Dan jangan tegang.”
Feiyan menurut.
Bahunya turun sedikit.
“Latihan ini membutuhkan kejujuran,” lanjut Lin Yue.
“Jika ada emosi yang muncul, biarkan.”
Feiyan mengangguk.
Ia mencoba menenangkan pikirannya.
Pada awalnya, tidak ada yang aneh.
Hanya keheningan dan napas yang teratur.
Lalu suara Lin Yue kembali terdengar.
Lebih dekat.
Lebih lembut.
“Apa yang paling membuatmu lelah akhir-akhir ini?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun langsung menembus pertahanannya.
Feiyan ragu.
Tangannya mengepal pelan di atas lutut.
“Latihan… dan kegagalan,” jawabnya akhirnya.
Suaranya lebih rendah dari yang ia kira.
Lin Yue tidak langsung merespons.
Ia membiarkan jeda itu terbentuk.
“Itu berat,” katanya kemudian.
“Terutama jika kau memikulnya sendirian.”
Feiyan merasakan dadanya menghangat.
Kata-kata itu terlalu tepat.
Ia menarik napas.
Tanpa sadar, ia mulai berbicara lebih banyak.
Tentang tekanan.
Tentang rasa tertinggal.
Tentang kebingungan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Setiap kalimat keluar lebih mudah dari sebelumnya.
Dan setiap kali ia berhenti,
Lin Yue selalu menanggapinya dengan senyum kecil.
Senyum yang membuatnya ingin melanjutkan.
Perlahan, Feiyan merasa lelah.
Bukan di tubuh.
Di dalam.
Seperti ada sesuatu yang mengalir keluar bersama kata-katanya.
Ia menyadarinya, tapi tidak menghentikan diri.
“Jika terlalu berat, kita bisa berhenti,” kata Lin Yue lembut.
Namun tangannya bergerak sedikit.
Qi halus bergetar di udara.
Feiyan menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa… aku bisa lanjut.”
Lin Yue tersenyum lebih dalam.
Senyum itu indah.
Hangat.
Dan terasa hidup.
Feiyan tidak melihatnya.
Matanya terpejam.
Namun ia merasakannya.
Ada perasaan aneh di dadanya.
Kosong, tapi ringan.
Seolah beban yang ia lepaskan tidak jatuh ke tanah—
melainkan berpindah.
Senyum Lin Yue perlahan berubah.
Tidak mencolok.
Namun di balik kelembutannya,
ada kilau puas yang samar.
Borrowed Heart Smile mulai bekerja.
Senyum Lin Yue tetap terjaga.
Ia tidak berubah posisi.
Tidak menyentuh Feiyan.
Namun kehadirannya terasa semakin dekat.
Qi halus berputar perlahan di antara mereka.
Tidak agresif.
Tidak memaksa.
Feiyan masih memejamkan mata.
Napasnya mulai tidak teratur.
“Apa kau merasa lelah?” tanya Lin Yue pelan.
Feiyan mengangguk kecil.
“Iya… tapi aneh.”
“Bagaimana anehnya?”
“Seperti… aku sudah bicara banyak,” katanya ragu.
“Tapi rasanya belum cukup.”
Lin Yue mencondongkan tubuh sedikit.
Masih menjaga jarak.
“Itu karena kau jarang didengarkan dengan sungguh-sungguh,” katanya lembut.
“Sekarang… biarkan saja.”
Kata-kata itu jatuh seperti selimut.
Membungkus kesadarannya.
Feiyan merasa dadanya berdenyut pelan.
Hangat.
Namun tidak sepenuhnya miliknya.
Ia mencoba menarik kembali fokusnya.
Namun pikirannya terasa lengket.
Setiap emosi yang muncul—
rasa lega, sedih, harap—
mengalir keluar sebelum sempat ia pegang.
Ia ingin berhenti.
Tapi tidak menemukan alasan.
“Senior Lin Yue…” gumamnya pelan.
“Hm?”
“Kalau aku terus seperti ini… apa tidak apa-apa?”
Ada jeda singkat.
Lalu suara Lin Yue kembali terdengar.
“Bukankah kau ingin merasa lebih baik?”
Nada suaranya tenang, hampir menenangkan.
Feiyan terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Ia memang ingin merasa lebih baik.
Maka ia tidak menolak saat aliran emosi itu kembali menguat.
Ia membiarkannya.
Di dalam dirinya,
Void Crack berdenyut samar.
Garis hitam tipis itu tidak meluas.
Namun bergetar,
seolah mengenali kekosongan baru.
Senyum Lin Yue kini benar-benar hidup.
Di matanya, emosi Feiyan terlihat jelas.
Hangat.
Murni.
Semuanya mengalir ke arahnya melalui jalur yang hampir tak terlihat.
Borrowed Heart Smile telah aktif sepenuhnya.
Feiyan membuka mata perlahan.
Pandangan sedikit buram.
“Senior…” katanya pelan.
“Aku merasa… kosong.”
Lin Yue berdiri.
Langkahnya pelan.
Ia berhenti di depan Feiyan,
lalu berlutut agar sejajar.
“Itu wajar,” katanya lembut.
“Emosi yang lama memang melelahkan.”
Ia mengulurkan tangan.
Bukan menyentuh—
hanya mendekat.
Namun Feiyan merasakan kehangatan itu.
Seolah disentuh dari dalam.
“Aku di sini,” lanjut Lin Yue.
“Jika kau membutuhkanku.”
Kalimat itu sederhana.
Namun jatuh tepat di pusat kekosongan itu.
Feiyan mengangguk tanpa sadar.
Dadanya terasa sesak, namun tenang.
Ia bersandar sedikit ke depan.
Tubuhnya goyah.
Lin Yue menyambutnya.
Pelukan singkat.
Hati-hati.
Tidak erat.
Namun cukup untuk memberi arah.
Feiyan menutup mata lagi.
Ia tidak tahu kenapa ia ingin tetap di sana.
Saat Lin Yue melepaskannya,
ia merasa ada yang hilang.
Dan itu membuatnya ingin kembali.
“Aku… terima kasih,” kata Feiyan lirih.
“Aku merasa… lebih baik.”
Lin Yue tersenyum.
Senyum yang sama.
Namun kini,
itu bukan lagi sekadar ekspresi.
Itu pusat kendali.
Latihan berakhir tanpa upacara.
Tanpa tanda.
Feiyan keluar dari ruangan dengan langkah pelan.
Kepalanya ringan.
Hatinya kosong.
Ia tidak menyadari bahwa sebagian dari perasaannya
tidak ikut pulang.
Lin Yue berdiri sendiri di dalam ruangan.
Lampu kristal memantulkan cahaya lembut di wajahnya.
Ia menutup mata sejenak.
Menikmati aliran hangat yang menetap di dadanya.
Borrowed Heart Smile berdenyut stabil.
Ia membuka mata.
Tatapannya tenang.
“Sekarang…” gumamnya pelan.
“Hatimu sudah tahu ke mana harus kembali.”
Di kejauhan,
Feiyan berhenti sejenak di koridor.
Ia menekan dadanya.
Merasa kosong.
Namun juga rindu.
Dan tanpa sadar,
ia berbalik arah—
menuju tempat Lin Yue berada.