NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Tua

Angin malam bertiup dingin menembus celah-celah pakaian mereka saat Dewa dan Naura akhirnya menapakkan kaki di wilayah Kota Tua. Tempat ini seolah terhenti waktunya; bangunan-bangunan kuno dengan dinding bata merah yang mulai lapuk, jalanan berbatu yang tidak rata, dan lampu-lampu jalan yang hanya menyala remang-remang menciptakan suasana suram namun penuh misteri. Di sini, di sudut kota yang jarang dikunjungi orang karena dianggap angker dan tertinggal zaman, tersimpan petunjuk terakhir yang akan menjawab seluruh teka-teki hidup mereka.

Dewa memegang selembar kertas kecil berisi alamat yang berhasil ia baca dari mikrofilm tadi. Tinta tulisan tangan Ardi Buwana masih terlihat jelas, meski sudah berumur puluhan tahun. Alamat itu menunjuk ke sebuah bangunan besar yang dulu dikenal sebagai gedung penyimpanan arsip keluarga, namun sudah lama ditinggalkan dan ditutup rapat.

"Mereka pasti sudah mendahului kita," bisik Dewa sambil menatap ke arah ujung jalan yang gelap, matanya waspada mengamati setiap bayangan yang bergerak. "Raga, Ibu Maya, dan Pak Wahyu... mereka membawa banyak orang. Kita tidak bisa masuk dengan cara biasa."

Naura mengangguk, menggenggam lengan Dewa erat. Wajahnya tampak tegar, meski hatinya berdebar kencang. "Kita tidak perlu bertemu mereka dulu. Ingat pesan orang yang mengawasi kita tadi? Bahwa apa yang kita anggap musuh belum tentu benar-benar musuh, dan apa yang kita anggap keluarga mungkin justru pembunuh. Mungkin ada jalan lain, jalan rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang benar-benar setia pada Ayah Ardi."

Ucapan Naura mengingatkan Dewa pada banyak hal. Selama ini mereka diajarkan untuk membenci, diajarkan untuk melihat hitam dan putih dengan jelas, namun kenyataan yang mereka temui selalu berwarna abu-abu. Dendam yang menjadi pondasi hidupnya selama ini ternyata dibangun di atas kebohongan. Dan perjodohan ini yang awalnya ia anggap sebagai hukuman dan alat balas dendam ternyata mungkin adalah takdir yang dirancang Tuhan dan orang tua mereka untuk menyatukan dua jiwa yang ditakdirkan saling melengkapi dan melindungi.

Mereka berjalan memutar melalui gang-gang sempit dan gelap di belakang gedung-gedung tua itu. Di sepanjang jalan, Dewa terus memerhatikan detail bangunan dan lingkungan sekitar. Ia ingat pernah mendengar cerita masa kecil, saat Ayah Ardi masih ada, bahwa di gedung arsip itu ada lorong bawah tanah yang menghubungkannya dengan rumah utama keluarga Buwana, meski lokasi persisnya tidak pernah ia ketahui.

Tiba-tiba, di salah satu dinding batu yang tertutup tanaman merambat lebat, matanya menangkap ukiran kecil yang sama persis dengan lambang di gantungan kunci kayu miliknya: Matahari Terbit.

"Di sini," ucap Dewa pelan, jari-jarinya menyentuh ukiran itu dengan gemetar. "Ini tanda ayah. Dia pernah bilang padaku, Di mana ada matahari terbit, di situlah jalan menuju kebenaran."

Dewa menekan bagian tengah ukiran itu. Suara bunyi 'klik' terdengar pelan, dan perlahan-lahan dinding batu itu bergeser ke samping, membuka celah gelap yang cukup lebar untuk satu orang lewat. Bau lembab dan debu tua langsung menyergap hidung mereka, namun tidak ada jalan lain. Mereka masuk ke dalam kegelapan itu, dan dinding kembali menutup rapat di belakang mereka, menyisakan mereka dalam kegelapan total.

Untungnya, Naura membawa korek api kecil yang ia temukan di saku baju bekasnya. Nyala api kecil itu menari-nari, menerangi lorong sempit yang dindingnya terbuat dari batu bata tua. Di sepanjang lorong itu, tertanam banyak sekali ingatan tertulis coretan di dinding, tanggal-tanggal penting, dan nama-nama yang membuat jantung mereka berdegup kencang: Ardi, Maya, Ratih, Hadi, Wahyu, dan... Sera.

"Sera ada di sini sejak awal?" gumam Naura kaget, membaca nama itu tertulis di samping nama Ayah Ardi dengan tinta merah yang kini sudah memudar. "Apa hubungan dia dengan semua ini? Dia bukan bagian dari keluarga besar Buwana maupun Zafira, kan?"

"Dulu ada cerita," Dewa mulai mengingat potongan-potongan informasi yang dulu dianggap remeh, "bahwa Sera adalah anak angkat kakekku. Dia dibesarkan bersama Ayah Ardi dan Ibu Maya. Dia dianggap sebagai saudara sendiri. Tapi tiba-tiba dia menghilang saat ayah dan ibu menikah, dan baru muncul kembali sepuluh tahun lalu sebagai pengusaha berpengaruh yang mendekati Raga. Kami semua mengira dia orang asing, tapi ternyata... dia bagian dari sejarah ini sejak awal."

Mereka terus berjalan mengikuti lorong yang berkelok-kelok itu, hingga akhirnya cahaya remang mulai terlihat di ujung sana. Suara bisik-bisik dan langkah kaki berat terdengar samar, tanda bahwa mereka sudah dekat dengan ruangan utama dan juga dekat dengan keberadaan musuh.

Dewa mengintip dari balik celah pintu kayu tua yang terbuka sedikit. Di sana, di ruangan luas yang penuh dengan tumpukan dokumen, peti besi, dan lemari kaca berisi barang peninggalan, Raga, Pak Wahyu, dan Ibu Maya sedang berdiri mengelilingi sebuah meja besar di tengah ruangan. Di atas meja itu, terhampar peta besar dan beberapa dokumen yang terlihat sangat penting.

"Kita tidak punya banyak waktu," suara Raga terdengar garang dan tidak sabar. "Sera Nyonya memberi tahu bahwa Dewa dan gadis itu pasti membawa petunjuk ke sini. Jika mereka sampai duluan dan menemukan anak itu sebelum kita, semuanya akan berakhir. Kita harus memaksa dia bicara sekarang juga."

Ibu Maya terlihat gelisah, langkah kakinya mondar-mandir tidak tenang. "Kau tidak mengerti, Raga. Anak itu berbeda. Dia tidak bisa dipaksa. Dia punya darah Ardi dan Ratih mengalir di tubuhnya. Dia mewarisi kecerdasan dan kekuatan mereka berdua. Jika dia marah, dia lebih berbahaya dari seribu Dewa sekalipun."

Dewa menoleh ke arah Naura, matanya membelalak tak percaya. Darah Ardi dan Ratih? Itu berarti... anak itu adalah buah cinta terlarang antara Ayah Ardi dan Ibu Ratih, ibu kandung Naura. Itu berarti anak itu adalah saudara tiri Dewa, sekaligus saudara kandung Naura.

"Jadi... adikku ini... dia juga saudaramu, Naura," bisik Dewa pelan, suaranya penuh emosi yang bercampur kaget dan haru. "Kita terhubung lebih dekat dari yang pernah kita bayangkan. Dendam yang dulu kita punya, kebencian yang kita pelihara... ternyata kita adalah keluarga sedarah yang dipisahkan oleh kebohongan."

Naura menutup mulutnya, air mata bahagia dan sedih bercampur menjadi satu mengalir di pipinya. Selama ini ia merasa sendirian, merasa menjadi anak yang tidak diinginkan karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Ternyata ibunya hidup lebih lama, ternyata ibunya mencintai ayah Dewa, dan ternyata ia punya saudara kandung yang selama ini disembunyikan demi keselamatan mereka berdua.

Perhatian mereka kembali tertuju ke dalam ruangan saat Pak Wahyu angkat bicara. Pria tua itu kini berdiri di depan sebuah pintu besi besar di ujung ruangan, tangannya memegang kunci besar yang berkilau.

"Anak ini adalah kunci segalanya," ucap Pak Wahyu dengan nada rendah dan penuh makna. "Ardi menyembunyikan seluruh kekayaan asli keluarga Buwana, termasuk hak kepemilikan atas tanah dan perusahaan yang sekarang kita kuasai, di tempat yang hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki darah campuran Buwana dan Zafira. Hanya dia, anak hasil cinta mereka berdua, yang bisa membuka gerbang itu. Hanya dia yang memegang kode genetik dan pengetahuan yang ditanamkan Ardi sejak bayi."

"Dan Sera tahu ini semua?" tanya Ibu Maya tajam.

"Dia tahu. Dialah yang pertama kali menyadari hal ini. Dia yang menyusun rencana agar Dewa dibesarkan dalam kebencian, agar Naura dididik dengan dendam, agar keduanya saling membenci sehingga tidak menyadari ikatan darah mereka. Dia yang mengatur agar aku menjadi pengawal sekaligus mata-mata, dan dia yang membuat percaya bahwa kita bekerja untuk balas dendam keluarga Adhitama, padahal..." Pak Wahyu berhenti bicara, menatap tajam ke arah Ibu Maya. "...padahal kita hanyalah alat baginya juga. Dia punya tujuan lain yang jauh lebih besar dari sekadar harta atau kekuasaan."

Sebuah suara berat dan tenang tiba-tiba menggema dari balik pintu besi yang dijaga Pak Wahyu. Suara itu terdengar muda namun berwibawa, penuh rasa lelah namun juga penuh kebijaksanaan suara yang membuat jantung Dewa berdegup kencang karena ada sesuatu yang sangat akrab di sana.

"Kalian semua sama saja... buta oleh ambisi dan rasa takut."

Semua orang di ruangan itu tersentak mundur. Pintu besi itu perlahan terbuka dari dalam. Keluarlah sesosok pemuda berjaket kulit hitam, wajahnya tertutup bayangan topi yang ia pakai, namun saat ia mengangkat wajahnya menatap musuh-musuhnya itu, Dewa dan Naura di balik celah pintu hampir berteriak kaget.

Wajah itu... bentuk mata itu... garis rahang itu...

Itu adalah Rian. Pemuda yang dulu pernah menolong Naura saat ia tersesat di pasar, pemuda yang sering muncul membantu mereka diam-diam tanpa pernah menjelaskan alasannya, pemuda yang selalu ada di bayang-bayang mereka seolah menjadi pelindung tak kasat mata.

"Rian..." bisik Dewa tak percaya. "Dia... dia adikku?"

Rian menatap dingin ke arah Pak Wahyu, Raga, dan Ibu Maya. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tebal bersampul kulit buku harian pribadi Ayah Ardi yang dikira hilang selamanya.

"Ayah menuliskan semuanya di sini," ucap Rian tegas, suaranya bergema di ruangan itu. "Dia tahu kalian akan melakukan ini. Dia tahu kalian akan memanfaatkan kakakku, Dewa, dan Naura. Dia tahu kalian akan menjadikan mereka pion dalam permainan kotor ini. Itulah sebabnya dia memisahkan kita. Itulah sebabnya dia membiarkan dunia berpikir dia mati, membiarkan Ibu Ratih dikabarkan meninggal, dan membiarkan kalian berpikir kalian menang."

Rian melangkah maju satu langkah, aura kekuatan yang memancar dari tubuhnya membuat Raga dan anak buahnya mundur ketakutan.

"Ayah tidak mati dibunuh oleh kalian, seperti yang kalian kira. Dia mengorbankan kebebasannya dan namanya demi kita semua. Dia bersembunyi bersama Ibu Ratih di tempat yang bahkan kalian tidak akan pernah temukan sampai kapan pun. Dan dia menitipkan pesan ini untuk kalian..."

Rian membuka buku harian itu, membacakan dengan suara lantang:

"Kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan bertahan lama. Dendam yang dipupuk dengan kebencian hanya akan memakan pemiliknya sendiri. Keluarga Buwana dan Zafira tidak diciptakan untuk berperang, tapi untuk bersatu. Dan satu-satunya cara untuk menghentikan siklus darah ini adalah dengan cinta. Cinta antara Dewa dan Naura, yang kalian coba hancurkan sejak awal. Karena merekalah pewaris sejati, bukan harta atau tanah, tapi keberanian mereka untuk tetap saling mencintai meski dunia membenci mereka."

Di balik pintu, air mata mengalir deras di pipi Dewa dan Naura. Segala rasa sakit, segala kebingungan, segala rasa bersalah yang mereka rasakan selama ini akhirnya terjawab sudah. Perjodohan itu bukan kutukan, melainkan janji suci orang tua mereka. Dendam itu bukan kebencian, melainkan perisai pelindung. Dan mereka... mereka adalah pemenang sejati karena mereka berhasil mempertahankan cinta itu di tengah badai kebohongan yang dahsyat.

Namun, kemenangan itu belum selesai. Tiba-tiba, suara tepuk tangan halus terdengar dari arah pintu masuk utama gedung itu. Semua kepala menoleh serentak. Di sana, berdiri sosok wanita bergaun merah menyala, senyumnya lembut namun matanya tajam menatap semua orang satu per satu.

Sera.

Wanita yang menjadi dalang di balik segalanya, wanita yang dianggap musuh terbesar, kini berdiri tenang seolah sedang menonton pertunjukan yang indah.

"Indah sekali," ucap Sera pelan, suaranya merdu namun membuat bulu kuduk merinding. "Sangat menyentuh. Ayahmu memang selalu pandai merangkai kata-kata, Ardi. Dan kau, Rian... kau benar-benar mewarisi kecerdasannya. Aku sudah menunggu dua puluh lima tahun untuk mendengar semua itu."

Sera melangkah masuk, diikuti oleh puluhan orang bersenjata yang ternyata mengepung seluruh gedung itu. Raga dan Pak Wahyu yang tadinya merasa berkuasa kini pucat pasi, menyadari bahwa mereka juga hanyalah tawanan dalam rencana Sera.

"Kau... kau apa maunya sebenarnya, Sera?" tanya Ibu Maya, suaranya bergetar karena ketakutan yang baru ia rasakan sekarang. "Kau bawa kami semua ke sini, kau biarkan mereka tahu kebenaran, kau biarkan rencana kami hancur... apa tujuanmu?"

Sera tersenyum lebih lebar, berjalan mendekati meja di tengah ruangan, lalu menatap lurus ke arah celah pintu tempat Dewa dan Naura bersembunyi. Ia tahu mereka ada di sana. Ia tahu mereka mendengar semuanya.

"Tujuanku sederhana sekali," jawab Sera dingin. "Aku ingin melihat apakah cinta itu benar-benar lebih kuat dari ambisi, seperti yang selalu dikatakan Ardi. Aku ingin melihat apakah darah Buwana dan Zafira memang memiliki keistimewaan itu. Dan sekarang... aku sudah melihat jawabannya."

Sera mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Rian, lalu ke arah persembunyian Dewa dan Naura.

"Kalian bertiga... kalian adalah bukti bahwa aku kalah. Tapi sayangnya... dalam permainan ini, kekalahan harus dibayar mahal. Dan sekarang, saat kalian sudah tahu semua kebenaran, saat ikatan kalian sudah semakin kuat... itulah saat yang paling tepat untuk mengambil apa yang paling berharga dari kalian."

Sera mengangkat sebuah benda kecil yang membuat jantung Dewa hampir berhenti berdetak: sebuah foto lama yang menunjukkan wajah Ayah Ardi dan Ibu Ratih, hidup dan sehat, namun terikat dan dikurung di sebuah tempat yang asing.

"Ayah dan ibumu ada di tanganku, Dewa, Naura, Rian," ucap Sera dengan nada kemenangan mutlak. "Dan satu-satunya cara untuk melihat mereka hidup kembali, dan untuk menyelamatkan seluruh keluarga ini dari kehancuran total... adalah dengan menyerahkan satu hal yang tidak pernah kalian miliki sampai sekarang: kepercayaan mutlak padaku. Dan bersedia menjalani ujian terakhir yang akan kuberikan. Ujian yang akan menentukan apakah kalian layak memegang takdir besar ini... atau hancur bersamaan dengan masa lalu yang kelam ini."

Keheningan mencekam menyelimuti seluruh ruangan. Dewa menggenggam tangan Naura sekuat tenaga, menatap Rian yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca namun penuh tekad. Di luar dugaan siapa pun, musuh terbesar mereka ternyata bukan ingin menghancurkan mereka, melainkan menguji mereka dengan cara yang paling kejam sekaligus paling menentukan.

Dan di ujung lorong gelap itu, di balik bayang-bayang masa lalu yang kini terungkap sebagian besar, satu pertanyaan besar menggantung di udara: Siapakah sebenarnya Sera? Apakah dia malaikat pencobaan, atau iblis penyelamat? Dan ujian macam apa yang akan memisahkan antara hidup dan mati, antara kebahagiaan dan kehancuran bagi ketiga saudara ini?

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!