NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Ruangan yang Disegel

Hujan akhirnya berhenti saat mereka keluar dari gedung sekolah.

Langit malam terlihat gelap pekat tanpa bintang.

Udara dingin menusuk kulit.

Naresha masih berusaha mengatur napasnya sambil bersandar di tembok dekat taman depan sekolah.

Kakinya terasa lemas.

Bayangan sosok tanpa wajah itu terus muncul di kepalanya.

“Evelyn bukan awal semuanya.”

Ucapan Arven membuat semuanya terasa jauh lebih buruk.

Kalau Evelyn bukan awalnya…

Berarti sesuatu sudah ada di sekolah itu bahkan sebelum kematiannya.

Dan entah kenapa…

Pikiran itu terasa jauh lebih menyeramkan.

“Lo serius tadi?” tanya Naresha pelan.

Arven berdiri di depannya sambil melihat gedung sekolah yang gelap.

“Iya.”

“Apa itu sebenarnya?”

Arven menggeleng pelan.

“Gue ga tahu pasti.”

“Lo kan bisa lihat mereka dari kecil.”

“Dan itu ga berarti gue ngerti semuanya.”

Sunyi beberapa detik.

Angin malam berembus pelan melewati halaman sekolah.

Pohon-pohon bergerak pelan menciptakan bayangan aneh di tanah.

“Dulu,” lanjut Arven lirih, “sebelum Evelyn meninggal, beberapa siswa juga pernah hilang.”

Deg.

Naresha langsung menatapnya.

“Hilang?”

“Beberapa ga pernah ditemukan.”

Suasana mendadak terasa semakin dingin.

“Kenapa ga pernah masuk berita?”

“Karena sekolah nutupin semuanya.”

Jawaban itu membuat Naresha muak.

Sekolah ini benar-benar busuk.

“Terus sosok tanpa wajah tadi…”

Tatapan Arven berubah gelap.

“Gue pernah lihat dia sekali.”

“Hah?”

“Waktu kecil.”

Bulu kuduk Naresha langsung berdiri.

“Di mana?”

Arven perlahan mengangkat pandangannya ke arah lantai tiga.

“Lorong yang sekarang disegel itu.”

Sunyi.

Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.

Ia tahu seharusnya ia takut.

Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar sekarang.

“Ven.”

“Hm?”

“Kita harus masuk lagi ke lorong itu.”

Arven langsung menoleh cepat.

“Lo gila?”

“Kalau kita mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, jawabannya pasti ada di sana.”

Arven terlihat kesal.

“Dan kalau kita mati duluan?”

“Ya jangan mati.”

“Sha serius dikit bisa ga sih?”

Naresha menghela napas panjang.

“Aku serius.”

Tatapannya bertemu dengan Arven.

“Evelyn minta tolong sama kita.”

Untuk beberapa detik Arven diam.

Lalu perlahan cowok itu menunduk.

Rahangnya menegang.

Dan akhirnya…

“Oke.”

Deg.

Naresha langsung mengangkat alis.

“Hah? Lo setuju?”

“Cuma buat lihat sebentar.”

“Tuh kan akhirnya nurut gue juga.”

Arven mendecakkan lidah kecil sambil memalingkan wajah.

Namun samar-samar Naresha melihat sudut bibir cowok itu sedikit terangkat.

Dan anehnya…

Di tengah semua kekacauan ini, momen kecil itu membuat dada Naresha terasa hangat sesaat.

Malam berikutnya mereka kembali ke sekolah.

Jam menunjukkan pukul 8 malam.

Sekolah benar-benar kosong.

Gerbang belakang yang biasa dipakai Arven terbuka pelan saat mereka masuk.

Naresha memeluk hoodie hitamnya lebih rapat.

“Kenapa sekolah malam-malam selalu lebih serem sih…”

Arven berjalan di depannya sambil membawa senter kecil.

“Karena emang serem.”

“Ga membantu banget.”

Mereka berjalan melewati koridor lantai satu yang gelap.

Langkah kaki mereka menggema pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Dan setiap suara kecil terasa berkali-kali lebih menakutkan di malam hari.

Akhirnya mereka sampai di tangga menuju lantai tiga.

Naresha langsung merasakan hawa dingin yang familiar.

Seperti ada sesuatu yang menunggu di atas.

“Masih yakin?” tanya Arven.

Naresha mengangguk pelan.

Walau jujur saja…

Ia ingin kabur.

Mereka naik perlahan.

Lampu lorong lantai tiga mati total malam ini.

Hanya cahaya senter Arven yang menerangi jalan.

Dan saat sampai di ujung koridor…

Naresha langsung berhenti.

Rantai besi yang biasanya menutup lorong sudah putus sejak kejadian kemarin.

Kini lorong tersegel itu terbuka lebar.

Gelap.

Sunyi.

Seperti mulut monster yang siap menelan siapa saja yang masuk.

“Kenapa gue merasa ini ide buruk ya…” gumam Naresha.

“Karena memang buruk.”

“Tapi kita tetap masuk.”

“Iya.”

Mereka berjalan pelan memasuki lorong tersegel.

Debu tebal memenuhi lantai.

Dindingnya dipenuhi bercak hitam seperti bekas terbakar.

Dan semakin jauh mereka masuk…

Suasana semakin tidak normal.

Udara terasa berat.

Sakit di dada.

Naresha mulai sulit bernapas.

“Ven…”

Arven langsung menoleh.

“Lo gapapa?”

“Kepala gue pusing…”

Tiba-tiba—

Ctek.

Lampu di ujung lorong menyala sendiri.

Remang-remang.

Dan memperlihatkan sebuah pintu kayu tua di ujung sana.

Pintunya dipenuhi simbol aneh berwarna merah.

Seperti tulisan tangan.

Naresha langsung merinding.

“Itu apaan…”

Arven menyinari pintu itu dengan senter.

Wajah cowok itu perlahan berubah pucat.

“Gue pernah lihat pintu ini.”

“Hah?”

“Dulu ga ada di sini.”

Deg.

Angin dingin tiba-tiba berembus dari balik pintu kayu tersebut.

Dan samar-samar…

Terdengar suara seseorang berbisik dari dalam.

“Tolong buka…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!