NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam harinya di rumah Kara, suasana makan malam berjalan seperti biasa. Sampai tiba-tiba Kara teringat sesuatu.

"Pa, di surat keterangan itu ditulis apa?" tanyanya santai.

Irwan yang sedang menyendok tumis kangkung langsung menoleh.

"Papa bikin kakek kamu meninggal."

"Lokasinya?"

"Jauh naik pesawat. Masih dua belas jam lagi naik mobil dari bandara."

Kara mendecak pelan. "Pantes."

"Itu alasannya?" tanya Eka, alisnya terangkat.

"Iya. Itu bukan bohong juga," jawab Irwan santai. "Kan memang udah meningal."

Eka mendengus. "Pinter, tapi gak tau diri."

Irwan langsung cemberut. "Dek, gitu amat ngomongnya. Ini demi izin loh,"

"Iya, iya. Terserah. Yang penting bonusnya cepet turun."

Kara melirik kesal. "Mama cuma mikirin bonus ya. Kalau aku gak boleh kerja, mama kan bisa kerja."

Eka langsung mendelik. "Enak aja ngomong. Dikira gampang kerja di umur segini?"

"Belum tua juga," gumam Kara pelan.

"Kerja apa? Kantor maunya yang muda. Jadi preman? Bokap lo bisa jantungan."

"Eh, udah, udah," Irwan buru-buru menengahi. "Papa yang gak ngizinin mama kamu kerja lagi, Ra. Gak usah dibahas,"

Kara sebenarnya ingin menyarankan usaha kuliner. Tapi dia ingat. Masakan mamanya... ya, enak buat keluarga sendiri. Itu pun karena terbiasa. Kalau untuk orang lain? Belum tentu.

Belum lagi percobaan bikin bolu terakhir. Kerasnya bisa dipakai buat nahan pintu. Rasanya? Manisnya seperti dendam lama.

Kara bergidik dan akhirnya memilih diam. Kadang diam memang cara paling aman untuk bertahan hidup.

**

Keesokan harinya di sekolah, Narisa masuk ke gerbang tanpa drama terlambat. Tumben. Padahal terlambat pun biasanya tidak terlalu berpengaruh buat dia.

Saat berjalan menuju kelas, dia melihat Kara berjalan sendirian sambil melamun. Setelah celingukan sebentar, Narisa mendekat lalu menepuk punggung Kara agak keras.

"Woy, Santen. Hati-hati kesambet lo."

Kara refleks menoleh sambil mengusap dadanya.

"Santai aja lo, Bonar."

"Gw santai kok," balas Narisa, lalu melirik celana training yang dipakai kara. "Seinget gw, lo dari kelas sepuluh pake beginian terus."

"Emang," sahut Kara santai. "Makanya gw daftar basket."

"Oh, jadi bukan gara-gara suka?"

"Itu juga."

"Kenapa gak pake rok sekali-kali?"

Kara menoleh dengan wajah sedikit berkerut, tapi tidak menjawab. Narisa langsung paham. Bahkan Bu Rahayu saja sepertinya sudah menyerah soal itu. Lagipula Kara bukan satu-satunya. Banyak anggota klub cewek lebih memilih celana daripada rok. Katanya lebih praktis buat bergerak. Sekalian mengurangi cucian di rumah. Aneh, tapi ya beginilah SMA HASEM.

"Lo udah beres izin?" tanya Narisa lagi. "Besok berangkat loh."

Kara mengangguk. "Bohong dikit. Tapi ampuh."

"Dikit? Gw malah bohong total ke kepsek."

"Lo alesan apa?"

"Tante gw di Singapura mau operasi."

"Emang lo punya saudara di sana?"

Narisa cengengesan, "Kagak,"

"Lah, bego-maksud gw, agak pinter dikit."

"Yang penting niat mulus, coy."

Mereka naik tangga ke lantai tiga. Tapi entah kenapa, langkah Kara makin melambat. Di depan kelasnya, dia berhenti.

"Eh, Bonar."

Narisa yang sudah hampir sampai ke kelasnya berhenti dan menoleh. Kara mendekat lagi.

"Lo gak kepikiran soal besok?" tanya Kara pelan. "Maksud gw... kita beneran pasrah aja hidup diatur kayak gini?"

Narisa mengangkat bahu santai.

"Jangan mikir berat. Anggep aja kita lagi dibiayain hidup."

Lalu dia mendekat sedikit dan berbisik,

" Soal nikahnya, anggep gak ada. Ya kali dua cewek nikah di sini."

"Gak di sini, peak. Di Thailand. Statusnya jelas di sana,"

"Tapi kita tinggal di sini," Narisa melipat tangan, "Lo kenapa jadi aneh gini sih?"

Kara tidak mungkin bilang kalau kepalanya masih kepikiran omongan Harum kemarin. Akhirnya dia hanya menghela napas.

"Kita harus cepet lulus, terus kerja," katanya lebih serius. "Kalau salah satu dari kita udah mapan, semua ini bisa selesai."

Tanpa menunggu jawaban, Kara langsung berbalik dan masuk ke kelas. Narisa menatap punggungnya dengan alis berkerut.

"Aneh banget tuh orang," gumamnya. "Kesambet kali ya, gegara kebanyakan nongkrong di taman belakang."

"Pagi, Risa.," salah satu teman sekelas Kara menyapa.

"Pagi-"

Ting.

Tung.

Bel masuk berbunyi.

"Gw masuk dulu Bye," pamit Narisa sambil berbalik.

Dia memang bilang begitu, karena jam pertama biasanya masih aman. Otaknya masih bisa diajak kerja sama. Makin siang, biasanya godaan es buah jauh lebih kuat daripada ancaman kelulusan.

Tapi jujur saja.. yang resah saat ini bukan cuma Kara. Jauh di dalam, Narisa sebenarnya ingin menangis histeris.

Bukan karena Thailand.

Bukan juga karena pernikahan aneh itu.

Tapi karena satu hal yang selama ini tidak pernah dia pikirkan: berpisah dari orang tuanya.

Selama ini semuanya selalu ada. Selalu diurus. Kalau harus mengurus diri sendiri, dia bahkan tidak yakin bisa bertahan.

~

Keesikan sorenya.

Rombongan akhirnya tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok. Perjalanan pertama ke luar negeri langsung disambut hawa asing dan lampu-lampu yang terasa lebih terang dari biasanya. Para ibu sudah sibuk dengan satu pikiran yang sama: jalan-jalan.

Tapi tentu saja, itu bukan alasan utama mereka ada di sini.

Mereka langsung menuju hotel yang sudah disiapkan oleh staf Bramantyo. Hotel mewah dengan lobi tinggi dan aroma wangi yang bahkan membuat langkah terasa lebih hati-hati. Dunia baru, setidaknya bagi sebagian dari mereka.

Kecuali dua remaja yang justru semakin tidak paham sedang berada di cerita macam apa.

Sejak tiba, Kara dan Narisa tidak diizinkan ke mana-mana. Bahkan saat orang tua mereka keluar menikmati malam di sekitar hotel, keduanya ditinggal begitu saja di kamar, seperti barang yang belum waktunya dipakai.

Hingga keesokan paginya, mereka dipanggil ke ruang pertemuan. Ruangan itu luas, dengan meja membentuk huruf U dan layar proyektor besar di depan. Terlalu formal untuk sesuatu yang katanya 'cuma tanda tangan'.

"Jadi ini hotel bos papa?" Narisa berbisik, matanya menyapu sekeliling.

"Iya. Hotel Pak Bram ada di beberapa negara Asia," jawab Taslim dengan nada bangga yang sulit disembunyikan.

Narisa mendecak pelan, "Hebat. Tapi bisa -bisanya papa cuma staf biasa. Harusnya minimal kepala cabang."

Taslim menoleh. "Yang kinerjanya lebih bagus dari papa banyak, Risa. Segini aja kamu harusnya bersyukur."

Narisa memutar mata. Kata 'syukur' selalu jadi tanda diskusi selesai sepihak.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Bramantyo masuk dengan langkah tenang, dikuti Wenny di belakangnya. Aura ruangan langsung berubah, seperti semua orang tanpa sadar merapikan posisi berdiri.

Setelah semua duduk, Wenny membagikan dua berkas ke Kara dan Narisa yang duduk berjauhan di sisi meja. Keduanya menatap dokumen itu. Lalu diam.

"Ini gak ada terjemahannya, om?" Kara mengernyit.

"Aku gak ngerti satu kata pun," Narisa ikut menatap kertasnya. "Ini surat apaan sih?"

"Itu sertifikat pernikahan resmi yang dikeluarkan pemerintah," jawab Bramantyo santai. "Kalian tidak perlu memahami isinya. Cukup tanda tangan."

Sunyi sejenak.

Kara dan Narisa saling pandang sebentar. Tatapan yang isinya sama: ini beneran?

Narisa sudah mengangkat pena.

"Bentar." Kara menahan.

Dia memotret dokumen itu, lalu membuka aplikasi penerjemah. Beberapa detik berlalu. Matanya bergerak cepat membaca hasil terjemahan yang setengah kacau.

Dia menghela napas. Lalu menandatangani. Narisa ikut menyusul tanpa bertanya lagi. Begitu selesai, Bramantyo langsung bertepuk tangan. Tepukannya disambut para orang tua, meriah, seolah sesuatu yang sangat sakral baru saja terjadi.

"Selamat. Mulai sekarang status kalian sudah resmi," katanya dengan senyum puas.

Kara dan Narisa hanya melongo. Otak mereka belum mengejar satu hal sederhana itu: tanda tangan barusan mengubah hidup mereka.

"Silakan istirahat. Persiapkan diri untuk acara nanti malam."

Bramantyo berdiri. Semua ikut berdiri.

"Saya masih ada urusan. Silakan menikmati waktu kalian," tambahnya sebelum keluar.

Pintu tertutup.

Hening.

Narisa menoleh ke orang tuanya. "Begitu doang?"

Taslim mengangguk santai. "Gak ribet, kan?"

"Daripada gak ribet, ini lebih ke... aneh sih, om," kata Kara datar.

"Eh," Nuri pura-pura kaget. "Harusnya panggil papa dong sekarang."

"Dih, ma. Jangan mulai," protes Narisa cepat. "Geli banget. Kayak nikah beneran aja."

Nuri tertawa. "Mama cuma becanda."

"Terus sekarang ngapain?" Eka menguap lebar. "Mau belanja, tapi gak ada duit."

Dia langsung melirik Irwan, "Bonus kapan turun? Jangan- jangan udah ditransfer tapi lo simpen sendiri ya, bang?"

"Belum, dek," Irwan menghela napas.

"Lama banget," Nuri ikut mengeluh. "Aku udah pengen belanja dari tadi."

"Gw udah cari tempat bagus," sambung Eka. "Begitu duit turun, kita langsung gas."

"Ide bagus."

Para orang tua mulai sibuk merancang agenda liburan mereka sendiri, seolah tujuan utama perjalanan ini sudah selesai. Sementara itu, Kara dan Narisa tetap diam.

Dua orang, dua kursi, satu nasib yang sama-sama absurd. Dalam kepala mereka muncul pertanyaan yang sama, sederhana tapi mengganggu: buat apa jauh-jauh ke sini kalau ternyata cuma untuk tanda tangan?

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!