NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Investasi, Imigrasi, Dan Indomie

Lantai empat gedung Dekanat biasanya sesunyi kuburan pas lagi jam kuliah, tapi siang ini jantung gua berdegup lebih kencang dari bass lagu EDM.

Gua nunggu di depan pintu ruangan Pak Dekan sambil bolak-balik kayak setrikaan rusak. Di dalem, Dedik lagi disidang soal tawaran dari Singapura itu.

Pintu kebuka. Dedik keluar dengan muka yang... ya gitu deh, datar kayak jalan tol.

"Gimana, Ded? Miliaran? Singapura? Kita bakal kaya mendadak?" tanya gua bertubi-tubi sambil ngguncang-ngguncang bahunya.

Dedik benerin kacamatanya yang miring gara-gara gua guncang. "Secara finansial, angka nol di rekening gua bakal nambah drastis, Rey."

"Tapi secara logistik, ada masalah besar. Mereka minta gua pindah ke sana minggu depan. Tanpa partner."

Gua langsung lemes. "Maksudnya... lo berangkat sendiri? LDR-an? Lo tau kan LDR itu singkatan dari Lelah Disiksa Rindu?"

"Bukan cuma itu," Dedik narik napas panjang. "Gua bilang ke Pak Dekan kalau gua nggak bisa berangkat kalau vokalis utamanya nggak ikut."

"Terus Pak Dekan nanya, 'Emang Reyna mau pindah kuliah ke Singapura?'. Dan gua jawab, 'Nanti saya tanyain dulu, Pak, soalnya dia kalau liat soal akuntansi bahasa Inggris aja sering tipes'."

Gua melotot. "Sialan lo, Ded! Gue nggak separah itu ya! Cuma dikit doang puyengnya!"

"Ya udah, ayo kita bahas ini sambil makan. Otak gua butuh glukosa buat mutusin masa depan," ajak Dedik.

***

Kita akhirnya mampir ke Warmindo langganan di belakang kampus.

Dedik pesen Indomie goreng double pake telor (karena katanya beban pikirannya lagi double juga), sedangkan gua cuma pesen es teh manis jumbo buat nahan emosi.

"Jadi, rencana lo apa?" tanya gua sambil merhatiin dia yang lagi nata mie-nya biar simetris di atas piring.

"Gua udah bikin simulasi di otak gua, Rey. Ada tiga opsi."

"Opsi A: Gua berangkat sendiri, kita LDR, dan probabilitas kita putus dalam tiga bulan itu 85% karena gua pasti lupa bales chat lo gara-gara koding," Dedik mulai ngejelasin pake jari tangannya.

"Gak! Opsi A coret! Terlalu horor!" seru gua.

"Opsi B: Gua tolak tawarannya, kita tetep di sini, riset kita jalan pelan-pelan tapi aman dari gangguan Clarissa yang mungkin udah nunggu di Singapura dengan rencana barunya."

Gua diem sebentar. "Terus Opsi C?"

Dedik natap gua tajam, sesendok mie berhenti di depan mulutnya.

"Opsi C: Kita berdua berangkat. Gua sebagai kepala riset, dan lo sebagai konsultan audit frekuensi yang merangkap jadi manajer logistik gua, alias yang masakin gua mie kalau gua begadang."

"Emang mereka mau bayarin gue juga?"

"Itu urusan gua. Gua bakal bilang ke mereka kalau suara lo itu punya enkripsi unik yang nggak bisa ditiru sama penyanyi Singapura manapun karena lo punya 'jitter' khas mahasiswi Akuntansi Indonesia yang hobi makan seblak."

"Itu adalah aset tak berwujud yang nilainya nggak terhingga."

Gua pengen terharu, tapi bahasanya itu loh... aset tak berwujud banget?

"Tapi Ded, kuliah gue gimana? Gue baru semester tengah, masa mau main kabur aja?"

"Itu dia masalahnya," Dedik garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.

"Gua kepikiran buat bikin sistem kuliah daring buat lo, atau lo transfer kredit ke sana. Tapi pas gua liat kurikulumnya... mereka nggak pake kalkulator Casio yang sering lo pake, mereka udah pake advanced spreadsheet."

"Dih, ngeremehin! Gue juga bisa kali!" gua manyun.

Tiba-tiba, HP Dedik bunyi. Nama yang muncul di layar bikin selera makan gua ilang seketika: CLARISSA.

Dedik angkat teleponnya, sengaja di-loudspeaker biar gua nggak curiga (tindakan preventif yang bagus, Robot!).

"Halo, Ded? Kamu udah denger tawaran dari perusahaanku di Singapura kan?"

"Mama udah seneng banget pas tau kamu kemungkinan bakal pindah ke sana. Dia udah nyiapin kamar tamu di rumah kita yang di Orchard loh," suara Clarissa kedengeran centil banget.

Gua langsung nyamber HP Dedik. "Halo, Clarissa! Ini Reyna. Bilang sama nyokap lo, kamar tamunya dipake buat naruh koper gue aja ya, soalnya gue mau ikut Dedik ke sana."

"Dan tolong, Orchard itu banyak debunya nggak? Gue agak alergi debu orang kaya nih."

Hening di seberang sana. Gua bisa denger suara napas Clarissa yang ketahan.

"Reyna? Kamu ikut? Emang kamu bisa apa di sana? Singapura itu kota yang sangat kompetitif, bukan tempat buat main-main," suara Clarissa langsung berubah jadi dingin.

"Gue bakal jadi pengawas aset Dedik, Cla. Biar nggak ada 'pencurian data' atau 'pencurian hati' yang ilegal. Logikanya, kalau pemilik sahnya ada di lokasi, maling nggak bakal berani masuk kan?" balas gua telak.

"Dedik, kamu beneran mau bawa dia?" tanya Clarissa ke Dedik.

Dedik ngambil alih HP-nya lagi. "Cla, secara sistem, gua dan Reyna itu sudah satu paket installan. Kalau lo hapus satu komponen, seluruh programnya bakal crash."

"Jadi, kalau perusahaan lo mau riset gua, mereka harus terima satu paket lengkap dengan segala 'jitter'-nya. Kalau nggak mau, ya udah, gua balik jualan novel di Fizzo aja."

KLIK. Dedik matiin teleponnya.

Gua bengong. "Ded... lo beneran mau ngelepas miliaran rupiah cuma demi gue?"

Dedik balik lagi makan mienya yang udah mulai dingin. "Miliaran rupiah itu cuma angka, Rey. Tapi lo itu variabel yang nggak bisa gua temuin lagi di algoritma manapun."

"Gua lebih milih makan Indomie bareng lo di sini daripada makan steak mahal di Singapura tapi nggak ada yang marahin gua pas gua lupa mandi dua hari."

Gua langsung meluk dia dari samping, nggak peduli sama abang Warmindo yang lagi ngeliatin kita sambil geleng-geleng. "Lo emang partner paling sialan yang paling gue sayang, Ded!"

"Aduh, Rey! Lepasin! Lo nindihin lambung gua, tekanan mienya jadi nggak stabil nih!" keluh Dedik, tapi tangannya pelan-pelan nepuk punggung gua.

***

Besoknya di kampus, berita soal Dedik nolak tawaran Singapura (atau lebih tepatnya, ngasih syarat yang nggak masuk akal) jadi omongan lagi. Pak Dekan sampe manggil kita berdua lagi ke ruangannya.

"Jadi, kamu beneran mau bawa Reyna, Dedik? Biayanya besar loh," tanya Pak Dekan sambil mijit pelipisnya.

"Pak," Dedik berdiri tegak, tangannya nggenggam tangan gua di bawah meja. "Investasi itu bukan cuma soal uang. Tapi soal menjaga kestabilan mental peneliti utama."

"Dan peneliti utama ini yaitu saya, bakal mengalami penurunan fungsi kognitif sebesar 60% kalau nggak denger suara Reyna teriak-teriak tiap pagi."

Pak Dekan ngeliatin gua. "Reyna, kamu siap kuliah di sana? Bahasa Inggris kamu gimana?"

Gua narik napas panjang. "I will try my best, Sir. I think... accounting is just about numbers, right? And numbers are universal. Just like my love for this robot."

Dedik langsung bisik ke kuping gua. "Inggris lo berantakan banget, Rey. 'I think' itu harusnya diikuti klausa yang lebih formal."

"Diem lo! Yang penting Pak Dekan paham!" bisik gua balik.

Akhirnya, Pak Dekan ketawa. "Ya sudah. Saya bakal lobi pihak Singapura. Kalau mereka bener-bener mau teknologi ini, mereka harus biayain kalian berdua. Anggap saja Reyna itu 'asisten riset emosional'."

Kita keluar dari ruangan Dekanat dengan perasaan menang. Tapi pas lagi jalan di selasar, kita papasan sama Clarissa yang mukanya udah kayak awan mendung mau ujan.

"Kalian pikir ini bakal gampang?" tanya Clarissa sinis. "Di Singapura nanti, aku yang bakal jadi pengawas kalian secara langsung. Jangan harap bisa pacaran terus."

Dedik berenti di depan Clarissa. Dia ngeluarin sebuah koin seribuan dari sakunya, terus ditaruh di tangan Clarissa.

"Apa ini?" tanya Clarissa bingung.

"Secara logika, lo terlalu sering mikirin hidup orang lain sampe lupa beli kebahagiaan sendiri. Itu buat beli permen karet, biar mulut lo sibuk ngunyah daripada sibuk bikin rumor," kata Dedik lempeng, terus narik gua jalan.

Gua ngakak kenceng banget sampe semua orang nengok. "Gila lo, Ded! Lo kasih dia koin?!"

"Iya. Koin itu punya nilai nominal yang tetap. Harusnya Clarissa belajar soal stabilitas dari koin itu," jawab Dedik tanpa dosa.

***

Malam harinya, kita duduk di depan kostan gua. Dedik lagi sibuk nge- pack barang-barang elektroniknya yang mau dibawa minggu depan.

"Ded," panggil gua sambil liatin dia yang lagi bungkus kabel-kabel pake bubble wrap dengan sangat rapi.

"Hm?"

"Lo beneran siap pindah ke luar negeri bareng gue? Kita bakal berantem terus di sana pasti."

Dedik berenti ngebungkus. Dia natap gua, kacamatanya mantulin cahaya lampu jalan. "Rey, hidup itu emang penuh sama noise dan error. Berantem sama lo itu cuma bagian dari proses debugging hubungan kita."

"Selama source code-nya tetep sayang, gua nggak masalah harus benerin sistemnya tiap hari."

Gua senyum, terus gua senderin kepala gua di bahunya. "Gombalan lo makin pinter ya sekarang."

"Ini bukan gombal. Ini fakta hasil observasi selama 30 bab kita bareng," jawabnya sambil lanjut ngebungkus kabel.

Gua ketawa. Ternyata, hidup bareng si Robot Sialan ini jauh lebih seru daripada novel scifi paling canggih sekalipun.

Karena di dunia Dedik, logika emang penting, tapi cinta adalah satu-satunya variabel yang nggak butuh rumus buat dipahami.

***

Hari keberangkatan ke Singapura tiba. Di bandara, Dedik mendadak pucat pas liat koper Reyna yang jumlahnya ada lima buah.

"Rey, logikanya kita cuma pergi setahun, kenapa lo bawa rice cooker sampe mukena cadangan sepuluh biji?". Belum juga berangkat, drama logistik sudah dimulai. Akankah mereka selamat sampai di Singapura tanpa berantem soal bagasi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!