NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Baru Hari Pertama

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar penthouse, memantul di atas lantai marmer yang mengilap, menciptakan suasana yang seharusnya hangat dan damai. Namun, bagi Selena, pagi pertama sebagai "Nyonya Hermawan" terasa seperti bangun di set film yang salah.

Ia melangkah turun dari tangga melingkar dengan mata yang masih setengah terpejam. Rambut ikalnya yang biasanya tertata rapi kini mencuat ke sana kemari—"kriwil-kriwil" yang menggemaskan namun berantakan—diikat tinggi secara asal dengan jepit badai.

Piyama satin tipis berwarna champagne yang ia kenakan sedikit melorot di satu bahu, memperlihatkan tulang selangka dan kulit mulusnya yang kontras dengan cahaya pagi.

Selena menguap lebar, sama sekali lupa bahwa ia tidak lagi tinggal sendirian di apartemen kecilnya.

Di ujung meja makan panjang, Biru sudah duduk dengan sempurna. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika kaku, tanpa jas, dengan lengan yang digulung hingga siku—menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Ia sedang menyesap kopi hitam sambil menatap tablet di tangannya.

Suara langkah kaki Selena yang terseret membuat Biru mendongak.

Seketika, gerakan tangan Biru yang hendak meletakkan cangkir terhenti di udara.

Matanya yang tajam terpaku pada sosok di depannya. Biru tidak pernah melihat wanita dengan tampilan "sealami" ini di pagi hari. Ibunya, mantan kekasihnya, bahkan sekretarisnya, selalu muncul dengan riasan sempurna. Melihat Selena yang tampak berantakan namun secara tidak sopan terlihat sangat cantik, membuat detak jantung Biru memberikan sinyal protes yang familiar.

Selena membeku di anak tangga terakhir saat menyadari tatapan intens itu. Kesadarannya terkumpul dalam sekejap.

"Oh... pagi," gumam Selena kikuk. Ia refleks menarik bahu piyamanya yang melorot, namun gerakan itu justru membuat ia terlihat semakin salah tingkah.

Biru segera membuang muka, kembali menatap layar tabletnya dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi lebih dingin dari es di kutub utara. "Kau bangun terlambat. Ini sudah jam delapan."

Selena mendengus pelan, mencoba mengembalikan harga dirinya. Ia berjalan menuju dapur bersih, melewati Biru yang aroma parfum woody-nya sudah memenuhi ruangan. "Penulis adalah makhluk malam, Biru. Otakku baru bekerja saat orang lain tidur."

Melihat meja makan yang hanya berisi kopi dan tablet, Selena merasa ada dorongan aneh di dadanya. Well, setidaknya aku harus mencoba jadi istri kontrak yang fungsional, pikirnya.

Ia mengambil piring, lalu dengan gerakan canggung mencoba menyiapkan roti panggang dan beberapa potong buah dari lemari es. "Kau... mau sarapan apa? Aku bisa membuatkan telur atau semacamnya. Sebagai rasa terima kasih karena tidak membiarkanku tidur di taman labirin kakekmu semalam."

Selena mendekat ke meja makan, membawa piring kecil berisi roti yang ia panggang sendiri. Ia mencoba meletakkannya di dekat tangan Biru, sebuah gestur pelayanan sederhana yang terasa sangat asing baginya.

Biru bahkan tidak menoleh ke arah piring itu. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang tajam.

"Jangan repot-repot," suara Biru datar dan menusuk. "Aku tidak sarapan di rumah. Dan aku tidak butuh kau berperan sebagai istri rumah tangga di sini."

Tangan Selena tertahan di udara. Rasa canggung yang tadi lucu kini berubah menjadi rasa malu yang membakar pipinya. Ia menarik kembali tangannya, merasa seperti anak kecil yang baru saja dimarahi karena mencoba membantu.

"Aku hanya ingin sopan," sahut Selena, suaranya sedikit meninggi karena tersinggung.

Biru berdiri, merapikan letak jam tangannya, lalu menatap Selena dengan tatapan yang seolah-olah sedang memeriksa laporan keuangan yang gagal. "Sopan santun mu tidak masuk dalam kontrak. Simpan energimu untuk berakting di depan kakekku nanti malam. Di rumah ini, kau tidak perlu melayaniku."

Ia melangkah pergi, namun berhenti tepat di samping Selena. Aroma obat-obatan yang samar—yang selalu Biru tutupi dengan parfum mahal—tercium oleh indra penciuman Selena yang tajam.

"Satu lagi," tambah Biru tanpa menoleh. "Ikat rambutmu dengan benar. Kau terlihat... berantakan."

Selena langsung meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia jadi membayangkan wajahnya yang pasti sangat tak sedap di pandang oleh orang setampan Biru.

"Eh iya, penampilanku pasti kayak singa ya?" cicit Selena mencoba mencairkan suasana.

"Bagus kalau kamu sadar," balas Biru santai dan membuat Selena langsung menggeram dan meremas udara di depan wajah Biru.

"Ehem..." Cakra, sang asisten yang sejak tadi ada disana langsung berdehem melihat tingkah Selena yang tidak sopan.

Setelah Biru menghilang di balik pintu lift pribadi, Selena berdiri mematung di ruang makan yang luas itu. Ia menatap roti panggang nya yang mulai dingin.

"Dasar robot dingin!" rutuk Selena sambil menarik jepit rambutnya hingga rambut ikalnya jatuh terurai menutupi wajahnya yang memerah. "Berantakan katanya? Dia saja yang tidak punya selera seni!"

Namun, di dalam lift yang sedang meluncur turun, Biru menyandarkan kepalanya ke dinding besi yang dingin. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meremas dadanya yang terasa sesak.

Bukan hanya karena penyakitnya, tapi karena bayangan Selena dengan rambut berantakan dan piyama satin tadi terus berputar di kepalanya, mengacaukan ritme jantungnya yang sudah payah.

"Sial," bisik Biru lirih. "Ini baru hari pertama."

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!