Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Suara hujan masih saja terdengar deras memukul dedaunan, menambah kesan sunyi dan mendayu di dalam rumah pohon tua itu. Angin malam bertiup kencang, membuat tubuh mereka menggigil, tapi tidak sekuat getaran di hati masing-masing.
Aletta masih menangis, tangannya menggenggam tangan dingin Dilan erat-erat, seolah takut cowok itu akan menghilang lagi jika dia melepaskannya. Air matanya jatuh tak terbendung, bercampur dengan sisa air hujan yang masih menetes dari atap kayu yang bocor.
Dilan menatap wajah Aletta lekat-lekat. Matanya yang biasanya tajam dan dingin, kini terlihat begitu lembut dan menyiratkan luka yang dalam. Dia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan semua apa yang terpendam di hatinya selama ini. Selama ini dia pendam, selama ini dia tutupi dengan sikap cuek dan marah-marah, tapi malam ini dia tidak sanggup lagi berpura-pura.
"Al..." panggil Dilan pelan, suaranya terdengar serak dan berat, terdengar sangat lelah.
"Gue capek pura-pura kuat. Gue capek harus ngelawan perasaan gue sendiri. Sejak kecil sampe sekarang, siapa yang selalu ada di samping loh? Siapa yang selalu jagain loh dari kecil? Siapa yang marah kalau loh sakit, siapa yang cemburu buta kalau loh deket sama orang lain? Siapa yang rela banting tulang atau bahkan marah sama dunia cuma buat mastiin loh aman?"
Aletta terdiam mematung, air matanya makin deras mengalir. Dia tahu jawabannya, tapi mulutnya terkunci rapat. Tenggorokannya terasa tercekat.
"Itu semua gue Al... Dilan Wijaya Kusuma." lanjut Dilan dengan nada yang mulai bergetar, matanya menatap tajam namun penuh cinta.
"Gue sayang sama loh Al. Bukan sayang sebagai adik, bukan sayang sebagai teman main, dan bukan sayang sebagai 'abang' kayak yang loh bilang kemaren. Tapi sayang sebagai cowok yang pengen banget jadi masa depan loh. Gue gak bisa kalau harus liat loh bahagia sama orang lain. Dada gue rasanya mau meledak Al. Sakit... sakit banget rasanya ngeliat loh senyum lepas sama orang lain sementara gue di sini cuma bisa liatin dari jauh."
Pengakuan itu terlontar begitu saja. Semua rasa cemburu, semua rasa marah, dan semua rasa rindu akhirnya terucap juga malam itu. Dilan sudah tidak peduli lagi dengan gengsinya. Dia hanya ingin Aletta tahu betapa besarnya cinta yang dia simpan, cinta yang tumbuh sejak mereka kecil hingga sekarang.
Aletta menutup mulutnya dengan tangan, terharu mendengar semua itu. Dia tidak menyangka Dilan akan sebegitu dalamnya menyimpan perasaan. Selama ini dia pikir Dilan hanya posesif karena kebiasaannya, ternyata itu semua murni karena cinta.
"Dilan..." isak Aletta, suaranya pecah. "Tapi gue... gue takut. Gue takut hubungan kita jadi aneh kalau kita punya status. Gue takut nyakitin loh, dan gue juga takut nyakitin Tamara. Dia sahabat gue Dilan, loh tahu kan kalau dia juga sayang sama loh? Gue gak mau jadi perebut atau orang yang menghancurkan persahabatan kita."
Mendengar nama Tamara, Dilan menghela napas panjang lalu menggeleng pelan. Dia mengangkat tangannya yang dingin, menyeka air mata di pipi Aletta dengan ibu jarinya dengan sangat lembut, seolah Aletta adalah barang berharga yang tak boleh tergores sedikitpun.
"Gue gak mau bahas Tamara dulu malam ini. Yang penting sekarang loh dan gue." ucap Dilan lembut.
"Gue ngerti Al... kalau loh belum siap, atau kalau loh emang belum bisa bales perasaan gue sekarang... gue terima. Gue rela kok..."
Dilan menunduk sesaat, menahan sesak di dadanya, lalu menatap Aletta lagi dengan tatapan memohon yang memilukan.
"Gue rela nunggu bertahun-tahun pun gue sanggup. Gue rela bahkan jadi 'abang' buat loh kayak yang loh bilang sama Tamara. Gue rela melepaskan keinginan gue buat miliki loh sepenuhnya, gue rela jadi teman biasa aja... ASAL..." suaranya meninggi sedikit, penuh penekanan yang menyakitkan.
"Asal loh janji satu sama gue. Jangan pernah pergi dari hidup gue. Tetap ada di samping gue. Jangan ninggalin gue sendirian. Gue gak sanggup Al kalau harus kehilangan loh sepenuhnya dari hidup gue. Loh udah bagian dari napas gue. Kalau loh pergi, gue kayak orang mati rasa."
Hati Aletta hancur lebur mendengar itu. Cowok sekeren dan sekeras Dilan bisa merendah begitu hanya demi memohon agar dia tidak pergi. Pengorbanan itu terlalu besar.
"Iya Dilan... Iya..." jawab Aletta terisak, dia memeluk lengan Dilan erat.
"Gue janji. Gue gak akan pergi ke mana-mana. Gue bakal selalu ada di samping loh. Apa pun status kita, teman, saudara, atau apa pun... gue janji gak akan ninggalin loh sendirian. Janji deh."
Mendengar janji itu, senyum tipis namun lega terukir di bibir Dilan. Meski lelah dan kecewa, setidaknya dia tahu Aletta tidak akan meninggalkannya.
Setelah perbincangan hati yang panjang dan melepaskan semua beban yang dipendam bertahun-tahun, akhirnya mereka memutuskan untuk turun dan pulang. Hujan sudah mulai reda menjadi gerimis kecil, tapi udara terasa sangat dingin menusuk tulang, apalagi badan mereka sudah basah kuyup sejak tadi.
Sesampainya di rumah Dilan yang besar dan mewah, Citra langsung menyambut mereka dengan wajah lega bercampur khawatir. Namun, baru saja melangkah masuk ke ruang tengah dan melepas helm, tubuh Dilan tiba-tiba terasa sangat lemas.
"Ugh..." Dilan memegang kepalanya dengan tangan gemetar, pandangannya berputar dan sedikit kabur.
"Dilan? Loh kenapa?! Wajah loh merah banget!" tanya Aletta panik, dia langsung menopang tubuh Dilan yang mulai oleng.
Citra segera meraba dahi Dilan dengan punggung tangannya, dan langsung kaget setengah mati.
"Ya ampun panasnya luar biasa! Katanya demam tinggi, letta! Ya sudah pasti kena hipotermia habis hujan-hujanan tadi! Badannya dingin tapi dalemnya panas!" seru Citra cemas.
Dilan langsung dibaringkan di kamarnya yang luas dan nyaman. Wajahnya memerah padam, napasnya sedikit cepat dan berat, dan tubuhnya menggigil kedinginan diselingi demam yang tinggi. Aletta merasa sangat bersalah. Kalau saja tadi dia tidak keras kepala mau ketemu Meldi, mungkin Dilan tidak akan nekat pergi dan menghujani diri sendiri begini.
"Bunda maafin Aletta... Aletta yang salah..." isak Aletta di depan Citra.
"Udah sayang, jangan disalahin. Dilan itu emang keras kepala, tapi dia sayang banget sama kamu. Sekarang kamu tolong jagain dia ya, Bunda siapkan obat."
Malam itu Aletta tidak mau pergi. Dia duduk di tepi ranjang, mengompres dahi Dilan dengan handuk basah berkala. Tangannya terus memegang tangan cowok itu, memberikan rasa hangat.
"Jangan tinggalin gue Al..." gumam Dilan dalam keadaan setengah sadar dan mengigau, tangannya mencengkeram tangan Aletta erat sekali, seolah menggenggam nyawanya sendiri.
"Tetap di sini... jangan pergi... jangan ninggalin gue..."
"Iya Dilan, gue di sini. Gue gak kemana-mana. Gue temenin loh," bisik Aletta lembut, matanya kembali berkaca-kaca melihat Dilan yang sakit seperti ini karena dirinya.
Waktu terus berjalan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah sangat larut. Aletta tahu dia harus pulang ke rumahnya karena malam ini orang tuanya ada di rumah dan pasti sudah menanyakan keberadaannya lewat telepon yang beberapa kali tidak dia jawab. Tapi setiap kali dia mencoba menarik tangannya perlahan untuk pergi, Dilan langsung merasakannya dan mencengkeram lebih kuat.
"Plis Al... jangan pergi..." rintih Dilan lagi.
Aletta akhirnya menunggu sampai Dilan tertidur pulas karena pengaruh obat penurun panas. Setelah memastikan napas Dilan teratur dan suhu badannya sedikit turun, Aletta mencium punggung tangan Dilan pelan, penuh rasa sayang.
"Gue pulang dulu ya Dilan. Besok pagi-pagi banget gue kesini lagi. Gue bawain makanan kesukaan loh. Istirahat yang cukup ya sayang..." bisiknya pelan, tanpa sadar panggilan sayang itu keluar dari mulutnya.
Dengan berat hati, Aletta melepaskan tangan cowok itu, lalu keluar dari kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Dilan dan Bundanya.
Di luar rumah, suasana sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala redup, memantulkan cahaya di atas genangan air sisa hujan tadi. Jalanan masih basah dan becek.
Aletta berjalan perlahan menuju jalan utama, menyelimuti tubuhnya dengan jaket tebal untuk menahan dinginnya angin malam. Hatinya masih campur aduk antara bahagia karena pengakuan Dilan, sedih karena harus meninggalkan Dilan yang sakit, dan rasa bersalah yang mendalam.
Dia berdiri menunggu di pinggir jalan, melamun memikirkan kejadian hari ini yang begitu roller coaster. Tiba-tiba, sebuah motor Scoopy berhenti tidak jauh dari tempat Aletta berdiri. Kaca helmnya diturunkan perlahan, dan terdengar suara panggilan yang sangat familiar.
"ALETTA?!!" teriak suara itu dengan nada kaget dan senang.
Aletta tersentak kaget dan menoleh cepat.
"JONATHAN?!"
Di atas motor yang iya tumpangi Jonathan dengan wajah terkejut bercampur senang lebar. Dia tidak sendirian, tapi sepertinya baru pulang dari suatu acara.
"Sumpah itu kamu kan Al?! Ya ampun aku kira halusinasi! Gila dunia sempit banget sumpah!" seru Jonathan antusias dan turun menghampiri Aletta.
"Ngapain kamu berdiri sendirian di sini malem-malem begini? Hujan baru berhenti loh, dingin banget kan? Kamu nunggu apa? Ojol?"
Jonathan langsung memeluk Aletta erat, berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang sempat canggung karena masalah pembatalan kemarin. Kali ini Jonathan terlihat sangat senang.
"Gak kok cuma lagi cari udah malam aja," jawab Aletta masih sedikit kaget dan bingung dengan pertemuan tak terduga ini.
"Al kenalin dia Fahri teman sekamar aku di asrama" Ucap Jonathan, yap jadi Jonathan bersekolah di asrama cinta mulya.
Sekolah ini memang dikenal sebagai tempat yang cocok untuk anak-anak yang ingin fokus belajar, atau bagi mereka yang membutuhkan tempat tinggal yang aman dan terawat karena kondisi keluarga tertentu.
Meskipun Jonathan terlihat ceria, ganteng, dan selalu tertawa, ternyata cowok ini menyimpan cerita hidup yang cukup berat dan membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa iba dan menghargainya lebih lagi.
Yuda adalah sosok yang sangat baik dan penyayang, namun sejak beberapa tahun terakhir beliau terkena penyakit ginjal yang cukup parah. Kondisinya mengharuskan papahnya Jonathan melakukan Cuci Darah (Hemodialisa) secara rutin setiap satu minggu sekali.
Karena kondisi kesehatan yang menurun, Yuda tidak bisa bekerja seperti biasa dan harus banyak istirahat. Rumah mereka dirawat oleh Rosa kakak perempuannya, tapi tentu saja tidak bisa menggantikan peran orang tua untuk mendampingi Jonathan sepenuhnya. Melihat Yuda yang harus sakit-sakitan terus membuat Jonathan ingin menjadi anak yang mandiri dan tidak merepotkan.
Sementara itu, ibunya Jonathan Rinjani adalah seorang wanita yang sangat cantik dan memiliki karier yang cemerlang sebagai Model Iklan dan Artis. Karena profesinya itu, ibunya harus sering bepergian ke luar kota bahkan luar negeri. Jadwal syuting, pemotretan, dan meeting membuat ibunya sangat jarang bisa pulang ke rumah.
Bisa dibilang, rumah mereka seringkali kosong. Jonathan sering pulang ke rumah hanya untuk melihat rumah yang sepi, tanpa ada pelukan hangat mamah atau canda tawa papah yang sehat. Meskipun secara materi Jonathan sangat berkecukupan, hatinya sering merasa kesepian dan hampa.
Karena kondisi itulah, akhirnya orang tua Jonathan memutuskan untuk memasukkan Jonathan ke Sekolah Asrama Cinta Mulia.
Mereka ingin Jonathan tinggal di tempat yang aman, terawat, dan diawasi langsung oleh guru-guru yang baik.
Mereka ingin Jonathan punya teman, punya kegiatan, dan tidak merasa sendirian di rumah besar yang kosong.
Di asrama, Jonathan bisa belajar mandiri, disiplin, dan punya keluarga baru dari teman-teman dan pengasuhnya.
Meskipun awalnya Meldi merasa berat dan sedih harus tinggal terpisah dari orang tua, tapi dia mengerti. Dia mengerti bahwa Rinjani bekerja keras demi biaya pengobatan Yuda dan kebutuhan mereka, dan dia mengerti bahwa Yuda juga sedang berjuang melawan penyakitnya.
Itulah sebabnya Jonathan sangat menghargai persahabatan, dan itu juga alasan kenapa dia sangat ingin bertemu Aletta. Karena bagi Jonathan, Aletta sudah seperti rumah yang dia pilih sendiri, dan kehadirannya sangat berarti untuk mengisi kekosongan hatinya.
"Fahri" Ucap Fahri mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Aletta.
"Udah jangan lama lama inget dia cuma punya gue" Ucap Jonathan melepaskan tangan Fahri dari Aletta.
Aletta hanya bisa tersenyum menyaksikan pertengkaran kecil mereka.
"Mau mampir dulu kerumah gak, kebetulan ayah sama Ibu ada di rumah" Ucap Aletta mempersilahkan mereka berdua masuk karena tidak enak dilihat mengobrol di sisi jalan malam malam.
"Ah enggak usah lagian udah malem juga takutnya udah pada tidur kan, gimana kalau kita cari makan daerah sini aja" Ucapan jujur saja Aletta sangat cape hari ini namun dia tidak enak untuk menolaknya.
Aletta terpaku di tempatnya. Dunia terasa begitu sempit. Baru saja dia menyelesaikan masalah hati yang besar dengan Dilan karena kehadiran Jonathan, bahkan Dilan sekarang sedang sakit demam karena cemburu padanya, sekarang takdir malah mempertemukannya lagi dengan gadis itu tepat di depan mata.
"Tapi Jo... gue..." Aletta bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia juga senang bertemu Jonathan, tapi di sisi lain dia takut kalau sampai ada yang melihat, atau lebih parahnya kalau Dilan tahu dan malah makin sakit hati atau makin cemburu.
"Lain kali aja yah kan tadi siang udah" Akhirnya Aletta memutuskan untuk menolaknya karena jujur dia sangat lelah
"Udah lah Jo kesian udah malem banget ini, emang loh gak kesian sama orang tuanya malem malem ngajak anak gadis mana gak minta izin dulu lagi" Ucap Fahri kali ini dia telah menyelamatkan Aletta dari pikiran buruknya Jonathan.
"Ya deh kamu istirahat yah, pasti cape lagi nyiapin buat PKL kan" Ucapnya mengelus rambut Aletta dengan sayang itu menjadi kebiasaannya sekarang dan Aletta merasa tidak terganggu dengan perlakuannya.
"Kalau gitu aku masuk duluan yah" Ucap Aletta masuk kerumahnya meninggalkan Jonathan dan Fahri yang masih terduduk di atas motor.
~back to continuous~