NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penerimaan Yang Tidak Mudah

Suasana ruang tamu itu berubah menjadi terlalu sunyi setelah pengakuan Arsen. Bahkan suara denting sendok dari dapur yang samar terdengar jauh lebih jelas dibanding biasanya.

Nayra duduk dengan punggung tegang di ujung sofa, kedua tangannya saling menggenggam kuat di atas paha, mencoba menenangkan gemetar kecil yang sejak tadi tidak hilang.

Sementara di sampingnya, Arsen duduk lebih santai daripada dirinya, meski rahangnya terlihat mengeras beberapa kali. Tidak ada ekspresi panik di wajah pria itu, tapi Nayra cukup mengenalnya sekarang untuk tahu kalau Arsen sedang menahan banyak hal di dalam kepalanya.

Ayah Arsen berdiri dekat jendela beberapa saat sebelum akhirnya duduk di kursi tunggal di depan mereka. Tatapannya bergantian antara Arsen dan Nayra.

Sedangkan ibu Arsen masih terlihat belum sepenuhnya memproses semuanya.

“Hamil…” ulang wanita itu pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Nayra langsung menunduk.

“Maaf, Tante…”

“Kenapa minta maaf?” tanya ibu

Arsen spontan.

Nayra terdiam.

Karena ia sendiri tidak tahu.

Namun sejak datang ke rumah itu, ia merasa seperti membawa masalah besar ke tengah keluarga yang sebelumnya tenang.

“Saya cuma…” Nayra menarik napas kecil, “…ngerasa semuanya jadi rumit.”

Ibu Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya melembut sedikit saat melihat wajah gugup gadis itu.

Di depannya sekarang bukan perempuan licik atau wanita matang yang sengaja mengejar anaknya. Yang ia lihat justru seorang gadis muda dengan wajah pucat karena tegang, duduk kaku sambil berusaha terlihat baik-baik saja.

Dan entah kenapa—

itu membuat hatinya melunak.

“Nama lengkap kamu siapa tadi?” tanyanya pelan.

“Nayra Anastasya, Tante.”

“Kamu masih kuliah?”

“Iya…”

“Semester?”

Nayra menjawab pelan sambil sesekali melirik Arsen, seolah mencari pegangan.

Namun Arsen tidak menyela. Ia membiarkan Nayra menjawab sendiri, meski tangannya pelan menyentuh punggung tangan gadis itu di sela meja.

Gerakan kecil dan sederhana.

Namun cukup membuat Nayra sedikit tenang.

“Kalian…” ayah Arsen akhirnya bicara, “…sudah sejauh mana membicarakan ini?”

Sunyi sejenak.

Arsen menjawab lebih dulu.

“Aku mau tanggung jawab.”

“Bentuk tanggung jawab seperti apa?”

Pertanyaan itu langsung membuat Nayra menegang lagi.

Ia tahu arah pembicaraan ini.

Dan ia belum siap.

Arsen menghela napas kecil.

“Aku belum maksa apa-apa.”

“Belum maksa?” ayahnya mengulang.

“Iya.”

Ayah Arsen menatap tajam.

“Karena yang papa lihat, kamu sudah membawa anak orang ke rumah.”

Kalimat itu membuat Nayra makin tidak enak hati.

“Om, saya—”

“Nak,” potong ibu Arsen lembut, “tenang dulu.”

Nayra langsung diam lagi.

Arsen menyandarkan tubuhnya sebentar, lalu menatap ayahnya.

“Pa, aku tahu ini salah.”

“Kalau tahu salah, kenapa baru sekarang bilang?”

“Karena awalnya aku juga gak tahu.”

Sunyi.

“Dan setelah tahu?” tanya ayahnya lagi.

Arsen melirik Nayra sebentar sebelum menjawab.

“Setelah tahu… aku gak mau lari.”

Kalimat itu membuat Nayra menoleh pelan.

Ia tidak tahu kenapa kata-kata sederhana dari Arsen selalu terdengar berat saat diucapkan serius seperti itu.

Ayah Arsen menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

“Kamu sadar usia kalian jauh sekali?”

“Iya.”

“Nayra masih kuliah.”

“Iya.”

“Dan kamu hampir empat puluh.”

Kali ini Arsen tertawa kecil, pendek.

“Belum empat puluh, Pa.”

Di tengah suasana tegang, kalimat itu terdengar anehnya ringan.

Ibu Arsen langsung melirik tajam.

“Ini bukan waktunya bercanda.”

“Tapi bener kan?” jawab Arsen santai.

Nayra yang sejak tadi tegang sampai tidak berani bernapas normal, tanpa sadar hampir tersenyum kecil.

Dan ibu Arsen menyadarinya.

Wanita itu diam beberapa detik, lalu menggeleng pelan melihat putranya.

“Kamu tuh…” gumamnya lirih.

Berbeda dari bayangannya, Arsen ternyata tidak sekeras itu di rumah. Ada sisi santai dan hangat yang bahkan Nayra baru lihat malam ini.

Pria itu masih dominan, masih terbiasa mengambil keputusan, tapi caranya bicara dengan orang tuanya jauh lebih ringan dibanding saat di kantor.

Dan itu membuat Nayra perlahan merasa… tidak terlalu asing.

“Kamu tinggal di mana, Nayra?” tanya ibu Arsen lagi.

“Di kos, Tante.”

“Orang tua?”

“Di luar kota.”

“Kamu belum bilang ke mereka?”

Pertanyaan itu langsung membuat wajah Nayra menegang.

Ia menunduk.

“Belum…”

“Kenapa?”

Karena takut.

Karena bingung.

Karena semuanya terjadi terlalu cepat.

Namun Nayra tidak sanggup mengucapkan semuanya.

“Saya belum tahu harus mulai dari mana.”

Sunyi.

Ibu Arsen memandang gadis itu lebih lama. Dan semakin lama melihatnya, semakin terlihat jelas kalau Nayra sendiri belum benar-benar siap menjalani semua ini.

“Arsen,” panggil ibunya pelan.

“Iya?”.

“Kamu jangan keras sama dia.”

Nayra langsung menoleh cepat.

Arsen juga terlihat sedikit terkejut.

“Ma…”

“Mama tahu sifat kamu.”

“Aku gak keras.”

Ibu Arsen mengangkat alis.

“Kamu bahkan cara perhatian aja kadang kayak nyuruh orang.”

Nayra spontan menunduk menahan senyum kecil.

Karena…

itu benar.

Arsen langsung melirik Nayra.

“Kamu ketawa?”

Nayra cepat-cepat menggeleng.

“Enggak.”

“Barusan jelas ketawa.”

“Dikit.”

Untuk pertama kalinya sejak datang—

suasana itu mencair sedikit.

Ayah Arsen memperhatikan semuanya diam-diam. Tatapannya masih berat, tapi tidak lagi setajam awal tadi.

Ia mengenal anaknya sendiri.

Arsen bukan tipe pria yang membawa perempuan ke rumah hanya karena kasihan.

Kalau pria itu sudah membawa Nayra sampai ke sini, berarti ada sesuatu yang serius di pikirannya.

“Kamu sehat?” tanya ibu Arsen tiba-tiba pada Nayra.

Nayra sedikit bingung.

“…sejauh ini sehat.”

“Mual?”

“Kadang.”

“Ngidam?”

Nayra tersenyum malu.

“Belum terlalu.”

Ibu Arsen ikut tersenyum tipis.

“Berarti masih awal.”

Nayra mengangguk kecil.

“Udah periksa rutin?” tanyanya lagi.

Kali ini Arsen yang menjawab.

“Udah.”

“Kamu temenin?”

“Iya.”

“Bagus.”

Nayra melirik Arsen pelan.

Dan lagi-lagi ia melihat sisi lain pria itu—bukan CEO dingin yang sibuk mengatur perusahaan, tapi seseorang yang benar-benar mencoba hadir.

Meskipun caranya kadang membuat Nayra sesak.

“Mama masih kaget,” ujar ibu Arsen jujur sambil menatap mereka berdua. “Tapi… bayi itu tetap keluarga kami.”

Kalimat itu membuat Nayra membeku.

Perlahan ia mengangkat kepala.

“Tante…”

“Dan kamu juga ibu dari anak itu.”

Mata Nayra langsung memanas. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu malam ini. Tidak setelah sepanjang perjalanan tadi ia membayangkan dirinya akan ditolak.

“Ma,” suara Arsen lebih pelan dari sebelumnya.

Ibu Arsen menatap anaknya.

“Apa?”

“Makasih.”

Wanita itu mendengus kecil.

“Kamu jangan senang dulu. Mama belum selesai marah.”

Arsen malah tersenyum tipis.

Dan itu membuat Nayra sadar—

pria ini memang jauh lebih hidup di rumahnya sendiri.

Jam terus berjalan.

Pembicaraan mereka belum sepenuhnya nyaman, tapi sudah tidak setegang awal tadi.

Sesekali ibu Arsen bertanya tentang kuliah Nayra, makanan yang disukai, bahkan kehidupan di kos.

Sementara ayah Arsen lebih banyak diam, namun beberapa kali ikut bertanya singkat.

Dan setiap kali Nayra menjawab gugup, Arsen diam-diam menyelipkan komentar santai yang membuat suasana tidak terlalu berat.

“Nayra masak?” tanya ayah Arsen tiba-tiba.

Nayra langsung panik kecil.

“Bisa… sedikit.”

“Sedikit itu seberapa sedikit?” tanya Arsen santai.

Nayra langsung melotot.

“Arsen.”

“Apa? aku cuma nanya.”

"Kamu jangan ikut-ikut.”

“Berarti parah.”

“Arsen!”

Ibu Arsen tertawa kecil melihat mereka. Dan itu pertama kalinya malam itu terdengar tawa di ruang tamu besar tersebut.

Di tengah semua ketegangan, Nayra perlahan mulai sadar satu hal. Ia memang belum benar-benar diterima sepenuhnya.

Tapi—

ia juga tidak ditolak.

Dan untuk seseorang yang datang dengan keadaan seperti dirinya sekarang— itu sudah lebih dari cukup.

Malam semakin larut ketika hujan mulai turun di luar.

Awalnya hanya rintik kecil yang mengenai kaca jendela.

Namun perlahan semakin deras.

Angin malam ikut bertiup kencang, membuat udara terasa lebih dingin.

“Nayra pulangnya gimana?” tanya ibu Arsen sambil melihat keluar.

“Saya bisa pesan ojek online, Tante.”

Arsen langsung menggeleng.

“Enggak.”

Nayra menoleh.

“Kenapa?”

“Hujan deras.”

“Kan bisa pakai jas hujan.”

“Enggak.”

Nada itu bukan melarang keras.

Lebih seperti… tidak rela.

“Arsen,” Nayra menghela napas, “Aku gak mungkin nginep di sini.”

“Kenapa gak mungkin?”

Nayra langsung kehilangan jawaban.

Karena masalahnya terlalu banyak untuk dijelaskan.

Ibu Arsen menatap keduanya bergantian sebelum akhirnya bicara pelan,

“Nginep aja.”

Nayra langsung menoleh cepat.

“Tante…”

“Udah malam. Bahaya kalau pulang sekarang.”

“Tapi saya gak enak.”

“Kenapa gak enak?” tanya ibu Arsen lembut.

Karena ini rumah keluarga Arsen. Karena ia masih merasa orang asing. Karena semuanya terlalu cepat.

Namun sekali lagi, Nayra tidak mampu mengatakannya.

“Kamu bisa tidur di kamar tamu,” kata Arsen santai.

Nayra melirik tajam.

“Kamu gampang banget ngomongnya.”

Arsen malah tersenyum kecil.

“Ya terus Aku harus panik?”

Nayra menahan kesal sekaligus gugup. Dan anehnya—

reaksi santai Arsen justru sedikit menenangkan dirinya.

Akhirnya—

karena hujan tak kunjung reda—

Nayra benar-benar tidak punya pilihan selain menginap.

Dan malam itu, saat ia berdiri sendirian di kamar tamu sambil mendengar suara hujan di luar—

ia sadar.

Kehidupannya benar-benar sudah berubah jauh dari yang pernah ia bayangkan.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!