NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Sore harinya, riuh rendah di kediaman Abi Musthofa perlahan berpindah. Rombongan keluarga besar, termasuk Syifa, Fadhlan, kedua orang tua Syifa, Kakek Ali, serta keluarga Fadhlan bergerak menuju hotel bintang lima di pusat kota, tempat resepsi pernikahan megah malam nanti akan digelar. Jihan dan Adiba tentu saja tidak absen, kedua sahabat setia itu ikut mengawal Syifa hingga ke suite room hotel yang dikhususkan untuk tempat makeup pengantin dan keluarga pengantin.

​Beberapa jam sebelum acara dimulai, suasana salah satu kamar hotel Suite room begitu sibuk. Harum kosmetik premium dan semprotan hairspray memenuhi ruangan. Syifa duduk di depan cermin besar, sementara tim MUA dengan telaten memoles wajahnya. Jihan dan Adiba duduk di sofa tepat di sampingnya, menemani sembari mengobrol santai.

​"Syif... ternyata Pak Fadhlan bisa nangis juga ya?" ujar Jihan, menumpu dagunya dengan tangan, matanya menerawang mengingat momen pelukan setelah akad tadi pagi. "Kelihatan banget loh, Pak Fadhlan diam-diam beneran sayang sama kamu."

​Tasya, adik Syifa yang duduk di atas tempat tidur sambil mengemil kue, mendongak polos. "Ya namanya manusia, Kak Jihan... pasti bisalah nangis."

​Jihan mencibir gemas ke arah Tasya. "Ih, bocil ngikut aja! Kamu engga tahu sih, Sya, gimana galak dan dinginnya kakak iparmu itu kalau lagi ngajar di kelas. Kayak freezer, dinginnya awet!"

​"Tapi buktinya Kak Fadhlan baik banget ke aku sama Kak Reyhan," sahut Tasya membela kakak iparnya, menyombongkan diri dengan senyum lebar.

​"Ya pastilah, orang kamu adik ipar kesayangan. Oh ya, Syif," Jihan kembali melancarkan serangan godaannya pada Syifa, "Gimana rasanya waktu ketemu pertama kali setelah akad tadi? Apalagi pas dipeluk erat begitu... ciyee, jantung aman, Syif?"

​Syifa hanya memejamkan mata, menyembunyikan senyum malu-malu yang terbit di bibirnya sembari membiarkan MUA merias bagian matanya.

​"Yee... ditanyain malah senyum-senyum simpul doang," protes Jihan tidak puas.

​"Nanti... suatu saat kamu juga bakal ngerasain sendiri, Jihan," jawab Syifa pelan, suaranya sedikit bergetar menahan gugup.

​"Tapi serius, nih. Apa kamu udah siap buat malam pertama nanti?" bisik Jihan tanpa sensor, menaikkan alisnya naik-turun.

​"Eh, Jihan!" Adiba langsung mencubit pelan lengan Jihan, melirik ke arah Tasya. "Pikirannya udah kejauhan deh. Jaga omongan, ada anak di bawah umur di sini."

​"Ya kan emang bener, Diba. Setelah nikah kan ada malam pertama, terus nanti mereka pergi bulan madu... eh, apa itu bahasa kerennya? Honeymoon!" Jihan tetap bersikeras dengan tawa cekikikannya.

​"Kalian ini... jangan meledek terus, dong. Aku jadi makin gugup dari tadi," tegur Syifa, meremas jemarinya sendiri di balik jubah riasnya.

​Melihat Syifa yang benar-benar cemas, Adiba mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih netral, meski topiknya tidak kalah mengejutkan.

"Oh ya, Syif. Aku dengar dari salah satu kru WO tadi, banyak pengusaha besar, dokter, dan rekan bisnis penting Pak Fadhlan bakal datang malam ini, bahkan Pak Rektor sama dosen senior di kampus kita juga datang. Berarti... betul apa yang dibilang sama temannya Pak Fadhlan kapan hari, waktu mengantar kita pulang, Han."

​Syifa seketika membuka matanya lebar-lebar, menoleh cepat ke arah Adiba hingga sang MUA terpaksa menahan dahi Syifa dengan lembut. "Si orang aneh itu Diba? Memang dia bilang apa? Perasaan waktu aku tanya di mobil, dia lebih banyak diam?" tanya Jihan ikut mengingat-ingat perjalanan pulang tempo hari.

​Adiba terkekeh pelan. "Aish, kamu kan ketiduran sepanjang jalan, Jihan. Mana mungkin dengar."

​"Kalau tidak salah, namanya Aidan, kan? Memangnya dia bilang apa saja ke kamu, Diba?" tanya Syifa, rasa penasarannya kini membubung tinggi.

​Adiba membetulkan posisi duduknya, menatap Syifa serius. "Dia bilang... Pak Fadhlan itu bukan sekadar dosen. Beliau adalah pewaris tunggal dari rumah sakit terbesar di kota ini. Bisa dibilang, Pak Fadhlan itu CEO dari Rumah Sakit Swasta Ganendra."

​"CEO?!" seru Syifa dan Jihan bersamaan, membuat tim MUA sempat tersentak kaget.

​Tasya yang mendengar itu langsung menimpali dengan antusias, "Chief Executive Officer! Atau direktur utama. Ya Allah, masa Kak Syifa sama Kak Jihan engga tahu? Di novel sama komik yang sering aku baca, banyak banget ditulis kisah cinta sama CEO. Ada istri kontrak CEO, pengagum rahasia CEO, terus—"

​"Tuh, kan! Bener dugaan gue!" potong Jihan heboh, menepuk tangannya sekali. "Waktu itu aku sempat foto mobil mewah yang buat nganter kita, terus gue tunjukin ke kakak di rumah. Eh, dia malah enggak percaya. Katanya, 'Lo lagi mimpi ya? Itu mobil miliaran, cuma orang-orang kaya kelas atas yang punya!' Gue merinding pas ngecek harganya di internet, Syif. Ternyata emang harganya gila-gilaan!"

​"Astaghfirullah... mil-miliaran?" Syifa terperanjat, tenggorokannya mendadak kering. Fakta bahwa suaminya adalah seorang miliarder dan pemimpin rumah sakit besar membuatnya merasa dunia ini mendadak berputar terbalik.

​"Iya, miliaran! Makanya Kak Jihan lebay banget dari kemarin," sahut Tasya meledek Jihan.

​"Dia mah emang ratunya lebay, Sya," timpal Adiba menyetujui. "Terus... Pak Aidan juga bilang—"

​Sebelum Adiba sempat menyelesaikan kalimatnya, sang MUA tersenyum ramah. "Alhamdulillah, riasannya sudah selesai, Nona Syifa. Mari saya bantu ganti pakaian dengan gaun resepsinya."

​Obrolan itu terputus, menyisakan dada Syifa yang berdegup kencang dengan sejuta pertanyaan tentang sosok suaminya.

...----------------...

Pukul 19.00 malam, pintu aula besar hotel terbuka lebar. Fadhlan dan Syifa melangkah masuk berdampingan, menyusuri karpet merah panjang di bawah siraman cahaya lampu spotlight. Mereka berdua tampak seperti sepasang putri dan pangeran yang keluar dari halaman buku dongeng.

Syifa tampil begitu anggun dan megah dalam balutan ball gown mewah berwarna baby blue bertabur manik-manik berkilau, serasi dengan jilbab syar'i-nya. Sementara Fadhlan berdiri tegak di sampingnya, memikat setiap pasang mata dengan setelan jas berwarna navy formal dan tatanan rambut yang rapi.

Pujian demi pujian mengalir dari ratusan tamu undangan yang hadir. Saat melangkah menuju pelaminan outdoor tiruan di panggung besar, netra Syifa tidak sengaja menangkap sosok Pak Rektor kampus B beserta jajaran dosen senior yang duduk di barisan kursi VIP. Syifa menelan ludah gugup.

Acara berlangsung sangat meriah dan penuh haru. Puncaknya adalah ketika Jihan dan Adiba maju ke depan panggung, mempersembahkan sebuah lagu berjudul "Sahabat Tak Akan Pergi". Menyaksikan kedua sahabatnya bernyanyi dengan mata berkaca-kaca di atas panggung, Syifa tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis haru, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki sahabat sejati seperti mereka.

Ketegangan batin Syifa kembali diuji saat keempat sahabat Fadhlan naik ke panggung, membawakan lagu romantis bertempo lambat, lalu dengan sengaja meminta kedua pengantin untuk berdansa di tengah lantai panggung.

​"Saya... tidak bisa berdansa," lirih Syifa, menahan tubuhnya agar tidak beranjak dari kursi pelaminan, wajahnya panik.

​"Jangan khawatir. Cukup taruh tanganmu di sini, dan ikuti langkah kaki saya," timpal Fadhlan lembut namun pasti. Ia meraih jemari Syifa, membimbingnya berdiri dan menuntunnya ke tengah panggung.

​Awalnya, langkah kaki Syifa terasa sangat kaku dan canggung. Ia beberapa kali hampir menginjak sepatu Fadhlan. Namun, dengan sabar, Fadhlan menahan pinggang Syifa dengan jarak yang sopan, mengarahkan ritme gerakan mereka dengan sangat tenang. Lama-kelamaan, Syifa mulai bisa menyelaraskan gerakannya.

​"Bisa, kan?" tanya Fadhlan pelan, menundukkan kepalanya sedikit agar suaranya terdengar di antara alunan musik.

​"I-iya, Mas," jawab Syifa gugup setengah mati. Jarak mereka saat ini terlalu dekat, hingga ia bisa menghirup aroma parfum maskulin Fadhlan yang menenangkan.

​Di tengah kepungan tatapan romantis Fadhlan, pikiran Syifa mendadak melayang pada candaan Jihan di ruang transit tadi sore tentang 'malam pertama'. Seketika, semburat merah merona hebat di kedua pipi Syifa. Membayangkan apa yang akan terjadi di kamar hotel malam nanti membuat fokusnya buyar.

​Fadhlan yang sejak tadi pandangannya terkunci pada wajah istrinya menyipitkan mata. "Sedang memikirkan apa?"

​Syifa tersentak, cepat-cepat membuang pandangannya ke arah lain demi menyembunyikan wajahnya yang memanas. "Hah? Tidak ada... tidak memikirkan apa-apa." Syifa berdeham kecil. "Ehm, bisa tidak, jangan menatap saya seperti itu?" lirih Syifa protes.

​Seulas senyum tipis terbit di bibir Fadhlan. "Kenapa? Kamu lebih suka dilihat dan dikagumi oleh orang lain daripada oleh suamimu sendiri?"

​"Bukan begitu..." Syifa mengerucutkan bibirnya kesal karena selalu kalah telak dalam beradu argumen. "Hmm, kenapa tidak bilang kalau mengundang Pak Rektor dan dosen-dosen senior ke sini?"

​"Memangnya kenapa? Mereka semua adalah teman dekat dari almarhum Kakek saya, juga teman dekat Kakek Ali." Fadhlan menjawab santai.

​"Tapi tetap saja... nanti di lingkungan kampus pasti akan ada yang tahu soal pernikahan kita," gumam Syifa cemas memikirkan nasib kuliahnya besok-besok.

​Fadhlan mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik dengan nada mengintimidasi yang jahil. "Sebelum memikirkan lingkungan kampus, kamu masih berutang satu penjelasan dengan suamimu ini, Syifa."

​Syifa mengernyit heran. "Penjelasan? Maksudnya apa?"

​"Sewaktu di kantin kemarin... kamu membicarakan saya dengan teman-temanmu dan menyebut mahasiswi fanatik itu 'suka ngehalu' kan?" tagih Fadhlan dengan tatapan menuntut yang jenaka.

​Syifa seketika membeku. Ia hanya bisa memberikan senyuman canggung yang kaku, merutuki nasibnya yang apes karena ketahuan bergosip langsung oleh korbannya.

​Tepat saat itu, alunan lagu dari keempat sahabat Fadhlan berakhir. Riuh tepuk tangan tamu undangan bergemuruh. Fadhlan mengakhiri dansa mereka dengan gerakan cepat, ia menarik Syifa sedikit lebih dekat, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi sang istri.

​Kecupan tiba-tiba itu sukses membuat riuh aula semakin heboh oleh sorakan menggoda.

​Di bawah panggung, Jihan memegang dadanya dengan ekspresi dramatis. "Huhu... Syifa yang dicium Pak Dosen, tapi kenapa gue yang meleyot ya, Diba?" ujarnya iri menatap keromantisan pengantin baru.

​Adiba terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya. "Haha...kasihan deh nasib jomblo!" ledek Adiba tanpa ampun.

...****************...

1
Ulfa 168
lanjut thor
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!