NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Teh Hangat dan Ancaman Dingin

Teh Hangat dan Ancaman Dingin

​Aku mengunci pintu kamar dengan tangan yang masih gemetar hebat. Jantungku berdentum begitu keras di rongga dada, seolah-olah ingin melompat keluar. Aku bersandar pada daun pintu, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin. Kejadian di bawah meja makan tadi benar-benar di luar nalar. Bagaimana bisa Gavin bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padahal kakinya baru saja menjajah area terlarangku?

​Aku segera berganti pakaian, mengenakan kaus oversized dan celana pendek selapis. Aku pikir dengan pakaian biasa saja, aku bisa merasa lebih aman. Namun, setiap kali aku menutup mata, aku justru teringat seringai Gavin saat dia menawarkan diri membawakan teh ke kamarku.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan itu pelan, tapi bagiku terdengar seperti dentuman lonceng kematian.

​"Arum? Ini Mas Gavin. Aku bawakan teh hangatnya."

​Suara bariton itu. Begitu rendah, begitu tenang, tapi menyimpan otoritas yang tak terbantahkan.

​Aku terdiam, membeku di tempatku berdiri. "T-taruh di depan pintu saja, Mas! Aku sudah mau tidur!"

​Hening sejenak. Aku berharap dia benar-benar pergi.

​"Mama yang menyuruhku memastikannya kamu meminumnya, Arum. Jangan sampai Mbak Siska curiga kalau aku tidak menjalankan amanahnya dengan baik," sahutnya lagi.

​Dia selalu menggunakan nama Mama atau Mbak Siska sebagai tameng. Dengan berat hati, aku memutar kunci dan membuka pintu hanya sedikit—hanya cukup untuk menyembul wajahku.

​Gavin berdiri di sana, masih dengan kaos polo biru gelapnya. Di tangannya ada sebuah cangkir keramik yang masih mengepulkan uap. Tapi matanya... mata itu tidak sedang menatap wajahku. Matanya turun, menatap kaki jenjangku yang terekspos karena celana pendek yang kukenakan.

​"Buka pintunya, Arum. Aku tidak akan memakanmu... belum untuk saat ini," bisiknya dengan nada menggoda yang membuat bulu kudukku meremang.

​Aku terpaksa membuka pintu lebih lebar. Gavin melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya dengan tumit kakinya. Klik. Suara kunci pintu yang diputar kembali olehnya membuatku tersentak.

​"Kenapa dikunci, Mas?" tanyaku panik.

​"Supaya Papa atau Mbakmu tidak tiba-tiba masuk dan melihat wajahmu yang sangat merah ini," Gavin berjalan mendekat, meletakkan teh itu di atas nakas samping tempat tidurku. Dia berbalik, mengurungku di antara tubuhnya dan dinding kamar. "Kenapa? Kamu takut?"

​Aku membuang muka, tidak berani menatap dadanya yang bidang. "Mas Gavin gila. Kalau Mbak Siska tahu..."

​"Dia tidak akan tahu, kecuali kamu sendiri yang memberitahunya dengan jeritanmu," Gavin mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang dan kasar mengusap pipiku, lalu turun ke leherku. "Tadi di meja makan... kamu menikmatinya, kan? Betismu terasa begitu halus, Arum. Lebih halus dari yang kubayangkan semalam."

​"Mas, lepas..." rintihku pelan. Tapi bukannya menjauh, Gavin justru semakin merapatkan tubuhnya. Aku bisa merasakan panas tubuhnya menembus kaus tipisku.

​"Siapa pria tadi di kampus? Raka?" Gavin membisikkan nama itu seolah itu adalah racun. "Dia menyentuh bahumu dengan tangan kotornya. Apa dia juga sering melihatmu dengan tatapan memuja seperti itu?"

​"Gue... gue sama Raka cuma temen, Rak! Dia orang baik!" sahutku dengan bahasa kampusku, mencoba mencari keberanian.

​Gavin tertawa rendah, suara tawanya terdengar sangat seksi sekaligus berbahaya. "Gue? Elo? Jadi begini cara kamu bicara dengan pria sebayamu? Sangat santai, sangat... intim."

​Gavin menarik pinggangku secara mendadak, membuat perutku menempel sempurna pada sabuk kulitnya yang keras. "Dengarkan aku, Arum. Aku tidak suka berbagi. Apa pun yang sudah kulihat, apa pun yang sudah kutandai, itu milikku. Dan semalam, di balik celah pintu itu... aku sudah menandaimu sebagai milikku."

​"Aku bukan barang, Mas!"

​"Memang bukan. Kamu adalah dosa terindahku," Gavin menundukkan wajahnya, hidungnya menyapu ujung hidungku. Napasnya yang beraroma kopi dan mint memburu di bibirku. "Kamu tahu kenapa aku menerima tawaran mengajar di kampusmu? Karena aku ingin memastikan tidak ada satu pun pria—termasuk si Raka itu—yang berani menyentuh apa yang seharusnya menjadi bagianku."

​Tangan Gavin mulai menjalar masuk ke bawah kaus oversized-ku, mengusap kulit pinggangku yang sensitif. Sentuhannya terasa seperti sengatan listrik. Aku seharusnya berteriak, aku seharusnya mendorongnya, tapi tubuhku justru berkhianat. Aku justru mendongak, mencari oksigen di antara dominasinya.

​"Mas... Mbak Siska ada di bawah..." bisikku lemah, namun jemariku tanpa sadar mencengkeram lengan kaosnya.

​"Siska sedang asyik maskeran dengan Mama. Kita punya waktu sepuluh menit," Gavin menjilat bibir bawahnya sendiri sambil menatap bibirku yang gemetar. "Hanya sepuluh menit untuk mengingatkanmu siapa pemilikmu yang sebenarnya."

​Gavin tidak menciumku. Tidak secara langsung. Dia justru mencium ceruk leherku dengan perlahan, menghisap kulit tipis di sana hingga aku yakin akan meninggalkan bekas kemerahan.

​"Ahh... Mas..." desahanku lolos begitu saja.

​Gavin berhenti sejenak, menatapku dengan mata yang penuh kemenangan. "Suara itu. Itu suara yang ingin kudengar di seminar nanti saat aku berdiri di podium dan kamu duduk di bangku penonton, memikirkan apa yang aku lakukan padamu di kamar ini."

​Gavin melepaskan pelukannya secara tiba-tiba, membuatku nyaris terjatuh kalau tidak berpegangan pada pinggiran ranjang. Dia mengambil langkah mundur, merapikan kembali kaos polonya yang sedikit berantakan.

​"Minum tehnya, Adik Ipar. Tidurlah yang nyenyak. Dan ingat... jangan pernah biarkan pria itu menyentuhmu lagi, atau aku akan melakukannya lebih dari sekadar mengintipmu di balik pintu," ucapnya dengan nada dingin yang kembali normal, seolah kejadian panas barusan hanyalah imajinasiku saja.

​Gavin berjalan menuju pintu, membukanya, dan menoleh sekali lagi. "Selamat malam, Arum. Sampai jumpa di mimpi basahmu."

​Dia keluar dan menutup pintu dengan tenang. Aku jatuh terduduk di lantai, lemas seketika. Leherku terasa berdenyut, dan hatiku terasa hancur sekaligus mendamba secara bersamaan.

​Aku meraih cangkir teh yang dibawanya. Di bawah cangkir itu, ada selembar kertas kecil yang dilipat rapi.

​“Simpan jepit rambutmu baik-baik. Lain kali, aku ingin kamu sendiri yang melepaskannya di depanku.”

​Aku meremas kertas itu, menangis tanpa suara. Aku tahu, aku sudah terjatuh terlalu dalam ke dalam lubang hitam yang diciptakan Gavin. Dan yang paling menyakitkan adalah... aku tidak ingin keluar dari sana.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!