NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DELAPAN BELAS

"Kamu sadar kan, ini bukan sekadar kecerobohan remaja. Ini... adalah celah. Celah yang bisa dipakai untuk menghancurkanmu kapan saja. Dan sekarang-dia sudah melakukannya. Dia sudah buka pintu kehancuran itu, dan kamu... kamu yang berdiri di tengah pusarannya."

Maharani menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. Suara tangisnya pecah, memenuhi ruang TV yang sebelumnya hening. Di balik tirai yang menutupi jendela, detik jam terdengar menekan, seolah memberi tahu bahwa waktu terus berjalan tanpa ampun.

Rakha tetap duduk di atas sofa, menatapnya lekat. Rahangnya masih mengeras, dadanya masih naik turun cepat. Di matanya tampak bara, bukan hanya amarah kepada Risyad, namun juga kemarahan yang diarahkan pada sesuatu yang lebih pribadi - pada dirinya sendiri.

Maharani masih terisak. Suaranya pecah ketika ia mencoba menjawab, namun kata-kata yang keluar berantakan, tersendat oleh rasa malu dan penyesalan. Rakha menghela napas panjang, menahan gelora yang ingin meledak. Ia tahu amarah yang meluap kini tak lagi berguna; yang diperlukan adalah tindakan - langkah cepat dan terukur agar puing-puing ini tidak akan bebar-benar menelan Maharani.

Ia mencoba menenangkan diri, menajamkan kembali wajahnya yang selama ini selalu tampak tenang. Seketika emosinya menyingkap topeng profesional: Rakha pengacara, pengendali, pengatur. Dalam nada yang dingin tetapi penuh kewibawaan, ia mulai merinci langkah-langkah yang harus diambil.

Rakha menatap Maharani yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat karena tangis. Untuk sesaat, ia hanya diam. Suara isakan itu menusuk ruang sunyi di antara mereka, membuat dinding-dinding rumah yang kokoh pun terasa rapuh.

Akhirnya Rakha menghela napas berat, lalu menggeser duduknya. Perlahan, ia mendekat ke sisi sofa. Tangannya terulur, tidak menyentuh, hanya menggantung sesaat di atas bahu Maharani - seperti sedang menimbang. Lalu dengan gerakan tegas tapi hati-hati, ia menepuk ringan bahu itu.

"Tenanglah," ucapnya pelan, tapi tegas. "Menangis tidak akan membawamu ke mana-mana, Maharani. Hapus air matamu."

Rakha menghela napas pelan, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih gading, lembut, dengan bordir halus bertuliskan R.W. di salah satu sudutnya. Ia mengulurkan tangan, menatap Maharani tanpa ekspresi berlebihan.

"Hapus air matamu," katanya datar, suaranya dalam tapi tidak keras. "Kamu tidak boleh terlihat seperti orang yang kalah."

Maharani menatap sapu tangan itu tanpa langsung mengambilnya. Pandangannya kabur oleh sisa air mata, tapi huruf kecil di sudut kain itu langsung tertangkap matanya - R.W.

Dadanya seketika terasa sesak. Ia mengenali inisial itu.

Hatinya bergetar. Ingatannya seolah menariknya kembali ke masa lalu-malam hujan di basement gedung parkir Apartment, saat mobilnya mogok dan ponselnya kehabisan baterai. Dan Rakha lah tiba-tiba datang dan membantunya.

Ia masih ingat jelas, kemeja putih yang di kenakan pria itu , dan di dadanya tertera bordir kecil yang sama: R.W.

Rakha menatapnya lurus, kali ini tanpa bara marah di matanya. Suaranya lebih rendah, nyaris seperti bisikan yang menenangkan.

"Dengarkan saya. Kamu memang jatuh ke dalam perangkapnya, iya. Tapi itu tidak berarti kamu sudah kalah. Tidak selama saya masih di sini."

Maharani menggigit bibirnya, suaranya pecah. "Tapi... Pak, semua orang sudah lihat... semua orang sudah percaya itu saya. Hidup saya sudah hancur-"

"Tidak." Rakha memotong cepat, nada suaranya mantap, penuh keyakinan. "Hidupmu tidak hancur. Risyad hanya ingin kamu percaya itu, supaya dia bisa mengendalikanmu. Dan kamu tidak boleh menyerah pada permainannya. Kamu dengar saya?"

Air mata Maharani kembali jatuh, tapi kali ini ia menatap Rakha lebih lama, seakan berusaha menggantungkan sisa kekuatannya pada sosok di depannya. Rakha mencondongkan tubuh, suaranya terdengar lebih hangat, meski tetap keras.

"Kalau kamu jatuh, maka semua yang pernah kamu perjuangkan sia-sia. Kamu harus kuat. Saya tidak akan biarkan dia menang, dan saya tidak akan biarkan kamu berjalan sendirian. Selama kamu ikuti arahan saya... kita masih bisa membalikkan keadaan."

Maharani menutup mulutnya dengan telapak tangan, isakannya semakin pelan. Ada secercah rasa aman yang menyusup di balik ketakutannya.

Rakha menepuk bahu Maharani sekali lagi, kali ini lebih lembut, seolah ingin memastikan gadis itu tidak runtuh sepenuhnya di hadapannya.

"Sudah. Tenanglah," katanya dengan nada yang tidak lagi menekan, melainkan meneguhkan. "Mulai malam ini, kamu di bawah pengawasan saya. Tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa seizin saya. Ingat itu, Maharani."

Maharani menunduk, air matanya masih menetes pelan. Namun isakannya berangsur melemah. Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan, lalu menoleh sedikit ke arah Rakha. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

"Terima kasih, Pak..."

Rakha menatapnya sebentar, matanya tetap tajam tapi kini ada sesuatu yang samar di sana-sebuah ketulusan yang jarang ia tunjukkan. Ia tidak menjawab ucapan itu secara langsung, hanya menarik napas panjang dan menyandarkan punggung ke sofa, memberi Maharani ruang untuk bernapas.

Maharani menatap kotak sushi yang kini tinggal separuh, lalu kembali ke wajah Rakha. Ada rasa campur aduk di hatinya: takut, lega, juga bingung. Namun setidaknya, untuk pertama kalinya sejak teror itu dimulai, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Louise, kucing abu-abu itu, muncul kembali dari arah dapur, melompat ringan ke pangkuan Maharani. Kucing itu mengeong kecil, seolah menegaskan bahwa malam itu, di rumah asing namun aman ini, Maharani bisa beristirahat sejenak.

Rakha hanya melirik singkat ke arah Louise, lalu kembali menatap ke depan, suaranya tenang.

"Istirahatlah. Besok kita mulai langkah pertama."

Rakha bangkit dari duduknya, meraih jas yang tadi ia letakkan di sandaran kursi. Gerakannya tenang, penuh wibawa, seolah tidak ada satu pun keadaan genting yang bisa menggoyahkan dirinya. Ia menoleh sebentar ke arah Maharani yang masih duduk lemah di sofa, dengan Louise yang meringkuk di pangkuannya.

Dengan suara datar namun mengandung otoritas yang sulit dibantah, Rakha berkata,

"Tidurlah, Maharani. Semua perlengkapanmu sudah saya siapkan di kamar. Besok pagi, kita akan menyiapkan langkah selanjutnya."

Maharani mendongak perlahan, matanya masih basah. Ada keraguan di wajahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia hanya mampu mengangguk kecil.

Rakha menatapnya beberapa detik lebih lama, sorot matanya sulit terbaca-antara dingin seorang pengacara yang selalu mengendalikan situasi, dan samar-samar ada kelembutan yang tidak sengaja ia biarkan muncul.

Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan Maharani yang kini terdiam dengan perasaan campur aduk. Ruang TV kembali hening, hanya ditemani suara dengkuran halus Louise yang setia menemaninya di pangkuan.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!