Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: GUA NAGA DAN PEDANG SUCI
Raymond melangkah memasuki mulut gua yang gelap dan lembap. Udara di dalam terasa sangat dingin, namun bercampur dengan aroma logam kuno yang kuat. Berkat transformasi Darah Naga, penglihatannya kini tajam layaknya kucing, bisa melihat jelas dalam kegelapan.
"Kakek, kau merasakannya juga kan? Ada sesuatu yang sangat tua di sini..." bisik Raymond.
"Ya... energi ini sangat murni dan kuno. Sepertinya tempat ini dulunya adalah sarang binatang roh tingkat tinggi ratusan tahun lalu. Ayo masuk, harta karun sesungguhnya ada di bagian paling dalam!"
Raymond berjalan semakin dalam. Terowongan batu itu semakin sempit, hingga akhirnya ia sampai di sebuah ruangan besar yang terbentuk secara alami.
Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah panggung batu hitam yang mengkilap. Dan di atas panggung itu... tertancap sebuah pedang!
Pedang itu tidak terlihat mewah, bilahnya berwarna hitam legam seolah menelan cahaya di sekitarnya. Namun, hanya dengan melihatnya saja, jantung Raymond berdegup kencang dan kulitnya merinding.
"Itu... itu adalah..." Mata Raymond terbelalak.
"Itu adalah Pedang Bayangan Naga! Salah satu dari Sembilan Senjata Legendaris yang hilang! Dulu Kakek pernah mencarinya ke seluruh penjuru dunia tapi tidak ketemu. Ternyata tersembunyi di sini!" seru Zhuo Yi tak percaya.
Raymond berjalan mendekat perlahan. Semakin dekat, tekanan yang dikeluarkan pedang itu semakin berat, seolah ada ribuan ton batu yang menimpa bahunya.
"Kenapa terasa begitu berat? Aku sudah di Tahap 9 kok masih sulit bergerak?"
"Itu wajar. Senjata tingkat ini memiliki roh senjata sendiri. Ia hanya mau memilih tuannya sendiri. Jika orang biasa menyentuhnya, mereka akan langsung hancur menjadi darah daging karena tidak kuat menahan energinya. Tapi kau... kau memiliki Darah Naga. Cobalah!"
Raymond mengulurkan tangan kanannya yang masih berkilat merah. Jari-jarinya perlahan menggenggam gagang pedang yang dingin itu.
ZZZTTT!
Saat kulitnya bersentuhan, pedang itu bergetar hebat! Cahaya hitam menyambar-nyambar seperti petir. Suara auman naga terdengar samar-samar di udara.
"TERIMA AKU SEBAGAI TUANMU!!" teriak Raymond sambil mengerahkan seluruh energi Darah Naganya. Darah dari telapak tangannya menetes membasahi gagang pedang.
TRANG!!!
Seolah merespons darah tuannya, getaran itu berhenti seketika. Pedang hitam itu menjadi tenang dan hangat, seolah menjadi bagian dari tubuh Raymond sendiri.
Dengan mudah, Raymond mencabut pedang itu dari panggung batunya.
WUSH!
Ia mengayunkannya sekali ke udara. Tidak ada suara angin, tapi pilar batu di sampingnya terbelah dua bersih tanpa suara!
"Tajam... sungguh luar biasa tajam..." Raymond terkagum-kagum. Dengan pedang ini, ia yakin bisa melawan bahkan orang di Tahap Alam Asal sekalipun!
"Bagus! Sekarang kau sudah memiliki senjata yang pantas. Tapi lihat di bawah panggung itu, ada peti mati batu!"
Raymond menunduk. Benar saja, di bawah tempat pedang itu tertancap, ada sebuah lempengan batu bertulis huruf-huruf kuno yang sudah mulai luntur.
Raymond membersihkan debu di atasnya.
"Di sini terbaring sisa-sisa Naga Darah Hijau. Penakluk langit utara. Dibunuh oleh tangan manusia berbaju hitam dengan simbol bulan sabit..."
Mata Raymond membelalak lebar. Tangan nya gemetar.
"Simbol bulan sabit... itu..." suara Zhuo Yi di dalam cincin menjadi berat dan dingin. "Itu adalah tanda dari Pasukan Bayangan Bulan, pasukan elit pembunuh yang bekerja untuk organisasi gelap Istana Kematian!"
"Istana Kematian..." gigi Raymond bergemeretak. "Jadi... mereka yang membunuh Naga ini ratusan tahun lalu? Dan apakah mereka juga yang..."
"Ya! Mereka juga salah satu pihak utama yang menyerang Klan kita dulu! Mereka mengincar rahasia keabadian dari ramuan Kakek. Jadi, musuhmu bukan hanya klan-klan kecil di kota ini, tapi organisasi raksasa yang menguasai separuh benua!"
Api dendam membara di dada Raymond. Ternyata musuhnya begitu besar dan kuat. Tapi bukannya takut, ia justru merasa tertantang.
"Bagus... semakin kuat musuhnya, semakin puas rasanya saat kuhancurkan nanti," ucap Raymond dingin. "Istana Kematian... tunggu aku. Suatu hari nanti, aku akan datang dan meratakan istana kalian dengan tanah!"
Ia menyimpan Pedang Bayangan Naga itu ke dalam cincin penyimpanan (sekarang ia sudah bisa mengakses ruang kecilnya). Waktunya satu bulan hukuman hampir habis. Kekuatannya sudah meledak dari Tahap 3 menjadi Tahap 9 Puncak, hampir menembus batas menuju Alam Asal!
"Sekarang... saatnya pulang dan menyelesaikan urusan dengan Ye Changfeng dan cucunya!"