NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

"Natalie, bisa kamu jelaskan apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini?" tanya dokter Rani.

Saat ini keduanya sedang duduk di ruangan yang Natalie tempati. Keduanya duduk di sofa yang semula Nathan dan Fabian gunakan. Di mana Nathan dan Fabian? Jawabannya keduanya duduk di lantai dengan wajah menahan kantuk. Bahkan keduanya tak menyadari bahwa sedari tadi Dewi menahan tawa di sampingnya.

"Saya nggak kenapa-napa kok. dok," ucap Natalie yang enggan mengaku.

"Natalie, saya tahu pasti ada yang sedang kamu sembunyikan dari saya. Jangan lupa, saya ini dokter kamu—jadi saya tahu apa aja yang kamu rasakan hanya dengan melihat keadaan kamu saat ini."

"Dokter … Saya nggak apa-apa serius," ucap Natalie meyakinkan.

Dokter Rani menghela napas lelah. Mengurut keningnya yang terasa pusing menghadapi pasien seperti Natalie. Sudah beribu kali ia bertanya, jawabannya tetap sama.

"Sayang, kamu nggak bisa bersikap kayak gitu. Tante tau pasti ada yang nggak beres dengan tubuh kamu, kan. Tante mohon jujur sekarang juga," mohon Dewi.

"Tante … aku beneran nggak apa-apa kok." Natalie berdiri dari duduknya, lalu berputar—seolah memberitahukan bahwa semuanya baik-baik saja. "Lihat, aku nggak apa-apa kan."

"Nata …," panggil Fabian dengan nada rendah, cukup membuat Natalie langsung terdiam.

Natalie mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengakui semuanya. Karena jujur saja, mendengar suara Fabian saat ini membuatnya takut akibat aura mengintimidasinya yang keluar. Di tambah lagi dengan Nathan yang diam-diam menatapnya tajam, itu cukup membuatnya sedikit takut.

"Emm, sebenarnya beberapa hari ini aku merasa kayak aneh …?" ujar Natalie tak yakin.

"Aneh gimana?"

"Kayak tiba-tiba mual, muntah, bahkan kadang-kadang kaki aku bengkak. Terus lebih gampang capek sama kehilangan fokus. Dan lagi, setiap habis ngerokok tuh rasanya kayak sesak gitu lho dok," jelas Natalie yang masih tak sadar dengan apa yang di ucapkannya di akhir.

"Ngerokok …?" tanya Fabian, dengan amarah yang tertahan. Begitu juga dengan Nathan yang sudah mengeraskan rahangnya.

"Lo ngerokok?" tanya Nathan sekali lagi, yang masih tak di sadari Natalie.

"Iya, gue kan emang ngerokok." Natalie membelalakkan matanya lebar saat sadar apa yang ia ucapkan sembari menutup mulutnya dengan kedua tanggan erat-erat.

" Mati gue. Bisa-bisanya gue keceplosan di depan mereka. Duh, gimana sih Lo Natalie," rutuknya dalam hati.

"Nata, kamu ngapain pukul-pukul kepala kayak gitu. Kamu pusing?"tanya Dewi yang tak menyadari situasi yang terjadi.

"A—iya a—aku pusing Tan," alibinya sambil memegang kepala.

Dokter Rani dengan cekatan menuntun Natalie ke atas ranjang—yang di mana tanpa ia sadari Natalie menghela napas lega. Dan sekarang ia harus mempertahan sandiwara ini demi nyawanya.

"Dok, kok di infus sih. Sakit tau tangan saya di tusuk-tusuk sama jarum," protes Natalie.

"Kamu harus di rawat Natalie. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit kamu. Kamu nggak lupa kan kalau ginjal kamu cuma satu. Dan sekarang kamu merokok? Untung saja mereka segera membawa kamu ke rumah sakit, kalau sampai parah gimana? Emang kamu mau mati muda gegara ini," omel dokter Rani yang sudah nyerah agaknya menghadapi sikap Natalie

"Dokter, meskipun aku nggak ngerokok sekalipun aku juga bakalan tetep mati. Jadi untuk apa semua ini kalau akhirnya tetap sama?" ujar Natalie enteng, meskipun jauh di lubuk hatinya berkata sebaliknya.

"Natalie, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Saya tahu apa yang kamu maksud, saya paham kok. Tapi apa salahnya bertahan lebih lama? Kamu lihat, masih banyak orang di sekeliling kamu yang menunggu kamu. Berharap akan kesembuhan kamu, kebahagiaan kamu. Di luaran sana justru banyak orang yang masih bertahan hidup di saat banyak orang yang memilih menyerah. Kenapa? Karena mereka tahu, nyawa mereka lebih berharga di bandingkan dengan kebencian orang-orang yang menganggap mereka rendahan. Mereka tahu, bahwa masih ada setidaknya satu atau dua orang yang mengharapkan kehidupan mereka bahagia tanpa mendengarkan yang nggak perlu di dengar."

Natalie terdiam mendengar penuturan dokter Rani. Ia menundukkan kepalanya yang di mana air matanya jatuh diam-diam mendengar itu semua. Ia sadar bahwa apa yang di katakan dokter adalah benar. Nyawanya lebih berharga dari pada omong kosong orang-orang di luaran sana yang hanya tahu keburukannya saja.

Dokter Rani menghela napas panjang melihat keterdiaman Natalie. Tangannya menggenggam tangan Natalie, mencoba memberi pengertian.

"Kamu masih bisa kok berubah menjadi lebih baik. Cukup dengan berhenti merokok ataupun bekerja terlalu keras. Kamu masih punya kesempatan lebih luang untuk bertahan lebih lama."

Dokter Rani berdiri dari duduknya.

"Nanti kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kamu bisa istirahat kalau memang masih belum siap," ujar dokter Rani sebelum akhirnya pergi meninggalkan Natalie yang merenung.

"Hahh …, harus kah?"

......................

Di depan mereka ruangan Natalie—Fabian, Nathan, dan Dewi menunggu dengan harap-harap cemas. Mereka bertiga memutuskan untuk memilih menunggu di luar ketika dokter Rani membawa Natalie berbaring di ranjangnya.

Ceklek.

"Gimana keadaan ponakan saya, dok?"

"Dia nggak apa-apa, cuman pusing."

"Terus penyakitnya gimana, dok? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Meskipun saya sudah tau gejala yanh dialami oleh Natalie, kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar mengetahui seberapa parah tingkatan yang di alami. Supaya kita juga bisa memberikan penanganan yang tepat agar tidak terlambat. Dan juga, menurut apa yang Natalie ceritakan itu masih di tahap awal. Tapi tetap saja kita harus memeriksa lebih lanjut," jelas dokter Rani.

"Kalau bisa lakukan secepatnya, dok," ujar Dewi.

"Baik buk, saya usahakan. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter Rani.

"Ayo kita ke dalam," ajak Dewi pada dua remaja di depannya.

Sebelum kaki Fabian melangkah masuk, Nathan terlebih dahulu menahan bahunya. "Lo oke?"

Fabian hanya berdehem singkat, seolah mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Nathan menghela napas berat mendengarnya. Ia tahu sahabatnya itu lagi nggak baik-baik saja. Tapi mau gimana lagi kalau kayak gini.

Di dalam, Natalie menatap takut-takut ke arah kedua sahabatnya. Ia takut mereka marah besar kepadanya perkara rokok. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak punya pilihan lain selain benda nikotin satu itu. Dirinya sudah kepalang capek menghadapi keluarganya yang semakin hari terasa semakin mencekiknya.

"Ian, Athan, kalian marah?" cicitnya.

Tangannya sibuk memilin selimut—meredakan rasa gugup dan takutnya.

Fabian membuang napas kasar, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Sejak kapan?"

Natalie mendongak melihat wajah Fabian dengan ekspresi bingung mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Fabian.

"Sejak kapan Lo ngerokok?" tanyanya sekali lagi.

"Dua bulan lalu …," lirihnya dengn mata berkaca-kaca. "Jangan marah … gue takut kalau kalian marah."

"Lo tuh—"

.

.

.

1
Adiknya Hyunjin
Huwaaa, aku baru sadar nama bundanya Nathan sama kayak tantenya Natalie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!