Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Darurat
Dave bisa menghitung kalo ada tiga orang yang bersama Om Toni. Dia tanpa sadar terus saja memakan sisa salad milik Rhea sambil memperhatikan sekeliling. Dia sedang mencari momen yang tepat untuk segera pergi.
Kalo saja dalam situasi biasa, Rhea pasti akan mencibirkan bibirnya ketika melihat saladnya yang sedang dihabiskan Dave.
Doyan juga, ya. Rhea hanya bisa membatin. Jarang jarang dia lihat laki laki suka makan salad.
"Kita pergi sekarang," ujar Dave setelah dia yakin kalo keadaan mulai aman.
Kemudian tanpa ragu meneguk minuman milik Rhea tanpa merasa bersalah.
Dave segera berdiri sambil merangkul Rhea, mengajaknya ikut bangkit juga dari duduknya.
Toni dan teman temannya berada cukup jauh di belakangnya.
"Bersandarlah di lenganku agar wajahmu tidak terlalu terlihat," perintah Dave.
Dia sudah tau posisi Toni dan teman temannya. Tapi tidak tau posisi teman Rhea berada.
Rhea ngga bisa protea karena Dave sudah menekan kepalanya. Dave membiarkan rambut Rhea yang terurai menutupi wajahnya.
"Kita keluar sekarang," ucapnya sambil melangkah dan Rhea mengikutinya.
Sepanjang jalan jantung Rhea semakin cepat berdetak. Detakannya juga sangat keras. Rhea menunduk dengan dan makin menempel pada Dave sambil terus mengikuti langkah panjang laki laki itu.
Rhea takut sekali ketahuan pengawal papanya.
Rhea melirik ke depan, dia lega karena pintu lift sudah tidak terlalu jauh lagi.
DEG
Dia cepat mengalihkan tatapnya ketika tanpa sengaja melihat ke arah Baskara yang berdiri beberapa meter darinya. Rhea tambah makin dalam.menenggelamkan wajahnya di dada Dave.
"Kenapa?" Dave sadar, ada yang Rhea lihat. Mungkin temannya, duganya dalam hati.
"Ngga apa apa," sahut Rhea pelan.
Dave menyadari arah tatapan Rhea tadi. Senyum miring terukir di bibirnya.
"Pacarmu?" bisik Dave ketika beberapa langkah lagi akan mendekati laki laki itu yang sedang menelpon seseorang.
"Bukan," balas Rhea kesal. Juga berbisik.
Degup jantungnya makin menjadi ketika bersisian dengan Baskara. Dan yamg menyebalkan, lagi lagi Dave memanfaatkan kesempatan.
Dia mengec-up dalam kening Rhea, hingga wajah Rhea makin terarah kepadanya. Pipinya makin memanas. Bahkan tangan Dave yang di bahu sengaja diarahkan ke dagu Rhea hingga dia tidak bisa menghindar.
Baskara sempat melirik, tapi kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain ketika laki laki itu juga balas menatapnya tajam. Tadi sebelum laki laki itu menc-ium kekasihnya, Baskara sempat merasa mengenali perempuan muda itu. Karena jaraknya yang makin dekat membuat Baskara makin imgin melihatnya lebih seksama. Tapi sayangnya kekasihnya telanjur menc-ium perempuan muda itu membuat dia jadi merasa ngga enak sudah melihat kekasih orang secara terang terangan.
"Kak Baskara."
Baskara yang masih memandang pasangan kekasih yang sudah menjauh itu menjadi kaget ketika melihat Talisha sudah berdiri di depannya.
"Kamu ke Jakarta juga?" Netra Baskara menatap Talisha tajam.
"Kamu ngga mengikuti aku, kan?" tuduh Baskara lagi sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya.
Talisha terdiam. Sejak Baskara memgatakan akan ke Jakarta, hatinya meledak marah. Dia sudah putuskan akan memperlihatkan foto Rhea yang sedang berci-uman di club.
Talisha ingin Baskara menolak perjodohannya dengan Rhea karena tau kepribadian Rhea yang ngga benar. Rhea bukan perempuan baik baik. Talisha ingin Baskara menganggapnya lebih baik dari Rhea.
Harapannya tinggal Baskara. Dave sudah terang terangan menolaknya. Karena itu dia pergi menyusul Baskara ke Jakarta. Untungnya dia bisa menemui Baskara di mall ini. Pertemuan yang ngga disengaja ini akan dia manfaatkan semaksimal mungkin. Ngga akan dia sia siakan.
"Ada yang mau aku tunjukkan ke kamu. Tapi ngga di sini." Dengan nekat Talisha menggandeng lengan Baskara, mengajaknya masuk ke dalam restoran di depan mereka.
Dave menoleh ke belakang dan melihat kepergian temannya Rhea bersama perempuan lain ke arah restoran tempatnya tadi menemui Rhea.
Tadi dia sengaja menc-ium Rhea karena khawatir kalo laki laki itu bisa mengenali Rhea dari tatapannya yang penuh selidik.
Setelah dia menc-ium Rhea, laki laki itu tidak melihat Rhea lagi. Mungkin malu, batin Dave sinis.
Rhea memukul lengan Dave begitu pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua saja di dalamnya. Dia pun dengan cepat menjauh.
"Jangan sentuh sentuh aku lagi!" Rhea menyemprot marah. Dia trauma, takut ada foto fotonya lagi yang bisa tersebar karena perbuatan Dave. Naasnya pelakunya orang yang sama lagi.
Dave tetap tenang melihat kemarahan Rhea.
"Kamu ngga sadar, ya, pacarmu tadi terus melihatmu. Kamu mau ketahuan?" tantang Dave datar.
Oh, ya, Rhea tersadar. Dia ingat tadi dia juga agak menyorokkan wajahnya ke dada Dave karena menyadari tatapan Baskara padanya.
"Dia bukan pacarku," bantah Rhea kesal.
Dave tersenyum miring.
"Jadi itu yang katanya teman dari Surabaya?"
Rhea ngga menyahut. Tanpa dia sadari bantahannya malah sudah memberikan informasi yang dari tadi enggan dia berikan pada Dave.
"Bukan teman juga," klarifikasi Rhea. Dia bahkan menghembuskan nafas panjang.
"Kita masih belum aman. Aku yakin kalo ada pegawal papa kamu di basemen juga," ucap Dave sambil memperhatikan angka penunjuk lanta lift. Berharap kalo pun ada yang masuk bukan pengawal Om Nazar.
Jantung Rhea berdebar kencang lagi. Kata kata Dave ada benarnya juga. Dia pun menatap angka penunjuk lantai yang sudah mereka lewati dengan harap harap cemas.
Akhirbya dia menghembuskan nafas lega ketika pintu lift terbuka di lantai yang dipilih Dave.
Tapi baru saja mereka dua langkah keluar dari lift, seorang laki laki berseragam pengawal sedang berjalan ke arah mereka sambil menelpon.
Rhea tau laki laki itu pengawal papanya. Jantungnya berdebar keras demgan tangan semakin mengeratkan cekalannya pada kemeja Dave. Mereka sudah tidak bisa menghindar.
Dave memahami isyarat Rhea dengan sangat jelas. Dia juga sudah memperhatikan laki laki yang berseragam sama dengan bawahan Om Toni.
Terpaksa Dave melakukan tindakan darurat.
Tangannya menarik cepat tengkuk Rhea dan menci-um bibir merahnya sampai mengeluarkan suara yang cukup keras.
*
*
*
"Kamu harus lihat ini." Talisha agak memaksakan Baskara agar mau duduk di kursi yang ada di dekat mereka. Setelah Baskara duduk di sana, baru Talisha mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak galerynya.
Baskara yang semula enggan melihatnya jadi membesarkan pupil matanya. Dia bahkan meraih ponsel di tangan Talisha agar bisa lebih dekat lagi untuk memastikan sosok perempuan itu yang sebenarnya sudah tidak perlu dia ragukan lagi.
Selama ini saja dari jarak belasan meter waktu SMA dulu, netranya sudah hapal dengan sosok Rhea. Hanya tadi saja netranya salah mengenali orang.
"Apa maksudnya ini?" Baskara bertanya setelah beberapa detik terdiam.
"Itu pacar, Rhea." Talisha mulai menyebarkan racunnya.
"Maksud kamu?" Setaunya Rhea belum punya pacar,. Tapi adegan ini sudah selayaknya yang dilakukan sepasang kekasih yang sudah berpacaran selama bertahun tahun.
"Sudah sangat jelas, kan." Hati Talisha tertawa puas.
■Kalo yang udah baca novel not secondlead, sudah pasti bisa memastikan kalo Dave adalah kloning Aiden😄