Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Mentari perlahan mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur. Udara pagi terasa sejuk dan segar, menyapa kota Surabaya yang mulai beraktivitas.
Pagi hari ini, Nurlia sudah persiapan kerja, lengkap dengan seragam kerjanya. Hari ini, kakinya terasa lebih ringan dan wajahnya terlihat lebih berseri-seri dari biasanya.
Di tangannya, dia memegang secarik kertas kecil yang sudah dilipat rapi. Itu adalah surat balasan untuk Sulthan. Semalaman dia memutar otak, menghapus dan menulis ulang, hingga akhirnya berhasil merangkai kata-kata yang menurutnya paling pas dan tulus untuk mengungkapkan perasaannya.
Nurlia membuka lipatan surat itu sedikit saja, membaca kembali tulisan tangannya sendiri untuk memastikan tidak ada salah kata.
"Untuk Tuan Sulthan yang baik hati... Terima kasih banyak atas surat dan perhatiannya. Jujur saja, saya juga memiliki perasaan yang sama. Saya sangat menyukai Tuan. Saya tunggu kabar baiknya. Hormat saya, Nurlia."
Membaca kalimat "saya juga memiliki perasaan yang sama", pipi Nurlia langsung memerah padam. Dia tersenyum malu-malu sendiri, lalu segera melipat kembali surat itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam saku bajunya dengan sangat hati-hati seolah takut hilang.
"Aamiin... semoga hari ini Tuan Sulthan datang ya," doanya sambil memegang dadanya yang berdebar.
Niatnya kuat sekali hari ini. Dia ingin memberikan surat balasan ini secara langsung. Dia berharap pria itu akan mampir lagi ke restoran, dan kalau bisa datangnya pagi-pagi sekali seperti sekarang, supaya tak ada orang lain yang melihat dan dia bisa menyerahkannya dengan aman.
"Yuk berangkat Nur! Semoga rezeki hari ini lancar dan bertemu dia lagi," semangatnya pada diri sendiri.
Nurlia pun keluar rumah, mengayuh sepeda onthel tuanya dengan semangat baru. Pedal diputar dengan riang, angin pagi menerpa wajahnya yang cantik.
Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang membayangkan wajah Sulthan. Membayangkan bagaimana nanti ekspresi pria itu saat menerima surat balasannya. Apakah dia akan tersenyum? Atau malah makin sayang padanya?
"Semoga hari ini kita bertemu lagi, Tuan..." bisiknya lirih di tengah hiruk pikuk lalu lintas pagi, sambil terus mengayuh sepeda menuju tempat kerjanya, membawa serta harapan dan cinta yang mulai bersemi di hati.
Sesampainya di restoran, suasana pagi ini sudah mulai sibuk dan ramai. Nurlia segera menaruh tasnya di ruang karyawan, kemudian langsung bergabung dengan rekan-rekannya untuk memulai pekerjaan.
Di sana sudah ada tiga temannya yang biasa bekerja bersamanya, Riski, Rina, dan Sari.
"Morninng Nur! Semangat hari ini ya!" sapa Rina ceria.
"Pagi Rin, pagi semuanya," jawab Nurlia sambil tersenyum lebar. "Ayo siap-siap, pembeli pasti mulai berdatangan."
Mereka pun sibuk mempersiapkan meja, menyeka debu, dan memastikan segala sesuatu tertata rapi. Nurlia bekerja dengan sangat gesit dan semangat. Namun, sesekali matanya tak sengaja melirik ke arah pintu masuk, hatinya terus berdoa agar sosok yang dinanti segera muncul.
Dan tak butuh waktu lama...
Ting... tong...
Bel pintu berbunyi nyaring.
Seorang pria tampan melangkah masuk dengan gaya yang sangat memancarkan aura kekayaan dan wibawa. Dia mengenakan kemeja rapi berwarna gelap, celana bahan, dan wajahnya terlihat sangat segar.
Sulthan Aditama.
Jam dinding tepat menunjukkan pukul 07:00 pagi. Pria itu datang persis seperti yang diharapkan Nurlia.
Jantung Nurlia seakan berhenti berdetak sesaat. Darah langsung mengalir deras memerah pipinya.
"Datang juga dia..." batinnya bersorak.
Tanpa menunggu perintah atau menunggu teman lain yang maju, Nurlia langsung mengambil inisiatif. Dia berjalan cepat namun tetap anggun menghampiri sang CEO.
"Selamat pagi, Tuan Sulthan!" sapa Nurlia dengan suara yang terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya, wajahnya menunduk sopan namun matanya bersinar bahagia.
Sulthan yang sedang berjalan menuju ruangan VIP menoleh, dan saat melihat wajah Nurlia, wajahnya yang tadinya datar langsung mekar dengan senyum tipis yang sangat tampan.
"Pagi, Nurlia," jawab Sulthan lembut. Matanya menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh makna, seolah dia juga sudah sangat rindu ingin bertemu.
"Mari Tuan, saya antar ke ruangan VIP," tawar Nurlia sigap.
"Silakan, tolong catat pesananku ya," kata Sulthan sambil berjalan masuk diikuti Nurlia dari belakang.
Nurlia merasa sangat bahagia. Kesempatan emas sudah ada di depan mata. Dia melayani pria itu dengan sebaik mungkin.
••••
Beberapa menit kemudian, dengan nampan kayu berisi hidangan hangat di tangannya, Nurlia masuk kembali ke dalam ruangan VIP. Jantungnya berdegup kencang bukan main, seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dia meletakkan piring-piring berisi makanan lezat itu dengan hati-hati di atas meja, tepat di hadapan Sulthan yang sedang duduk santai menunggu.
"Silakan Tuan, makanannya sudah siap," ucap Nurlia pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Matanya melirik ke arah pria itu, lalu dia menunduk lagi karena malu. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. Di saku bajunya, surat balasan itu terasa begitu berat, seakan membakar kain seragamnya. Nurlia merasa sangat ragu dan gugup.
"Aku harus kasih sekarang... tapi takut banget... Gimana kalau dia malah berubah pikiran?" batinnya bertanya-tanya, tangannya meraba-raba saku baju dengan gelisah.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan ragu-ragu, Nurlia akhirnya mengeluarkan secarik kertas putih yang dilipat rapi itu. Dia mengulurkannya ke arah Sulthan dengan tangan yang gemetar hebat.
"Ini... Tuan..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Sulthan yang sedang siap mengambil sendok dan garpu, menoleh ke arah tangan Nurlia. Tanpa berkata sepatah kata pun, dengan gerakan santai namun tegas, dia langsung mengambil surat kecil itu dari tangan gadis itu.
Nurlia menahan napas. Matanya terpejam sedikit, menunggu reaksi sang CEO.
Sulthan membuka lipatan kertas itu dengan tenang. Matanya membaca baris demi baris tulisan tangan Nurlia yang halus dan rapi. Wajahnya tampak datar, sulit ditebak apa yang sedang dia rasakan atau pikirkan. Dia membacanya dalam hati, pelan namun pasti.
"Untuk Tuan Sulthan yang baik hati... Terima kasih banyak atas surat dan perhatiannya. Jujur saja, saya juga memiliki perasaan yang sama. Saya sangat menyukai Tuan. Saya tunggu kabar baiknya. Hormat saya, Nurlia."
Setiap kalimat yang dibaca Sulthan membuat jantung Nurlia semakin mencelos. Dia menunggu, menunggu senyum atau kata-kata manis, tapi Sulthan tetap diam.
Setelah selesai membaca, Sulthan melipat kembali surat itu dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku celana bahan yang dia pakai. Masih tanpa ekspresi, wajahnya tetap serius dan dingin.
Nurlia semakin cemas. "Aduh... kenapa dia diam saja? Apa tulisanku kurang sopan? Atau dia malah jadi ilfeel karena aku berani menyatakan suka duluan?"
Hati Nurlia mulai was-was, siap menerima kenyataan pahit kalau-kalau pria itu ternyata hanya bercanda semalam.
Namun, dugaan Nurlia melesat jauh. Sulthan menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang tajam, teliti, dan sangat dalam. Matanya menembus langsung ke dalam jiwa Nurlia, membuat gadis itu tak berani berkedip.
Suasana di ruangan itu menjadi hening total, hanya terdengar suara detak jantung mereka berdua yang saling berpacu.
Tiba-tiba...
Dengan suara yang rendah, tegas, namun terdengar sangat hangat dan berwibawa, Sulthan mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya selamanya.
"Mulai sekarang... kamu adalah kekasih saya."
JEEDDERR!
Seakan-akan disambar petir di siang bolong, tubuh Nurlia seakan kaku membatu di tempatnya.
Matanya membelalak lebar tak percaya, mulutnya terbuka sedikit namun tak bisa mengeluarkan suara apa pun. Otaknya seakan berhenti bekerja sejenak untuk memproses kalimat singkat namun dahsyat itu.
"Kekasih...?"
"Aku jadi pacar Bos Besar??"
Dunia seakan berputar cepat di kepalanya. Nurlia merasa kaki nya lemas tak bertulang. Rasanya campur aduk antara kaget, malu, bahagia, dan tak percaya yang meledak-ledak secara bersamaan.
Dia tidak menyangka ungkapan itu akan diucapkan secara langsung, secepat itu, dan se-tegas itu. Dia pikir mereka masih akan berbalas surat atau pendekatan lama, tapi Sulthan adalah tipe pria yang langsung bertindak dan mengklaim apa yang menjadi miliknya.
"Tu... Tuan...?" Nurlia akhirnya bisa bersuara meski sangat pelan dan terbata-bata. Wajahnya merah padam, panas sekali rasanya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sulthan tersenyum tipis melihat reaksi gadis itu yang terlihat sangat polos dan menggemaskan dengan keadaan syok bahagia.
"Ya... mulai sekarang, statusmu berubah. Kamu bukan lagi sekedar pelayan yang aku kenal, tapi kamu adalah wanita yang aku cintai," ulang Sulthan lembut namun pasti.
Nurlia menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. Air mata bahagia mulai menggenang. Dia tidak tahu harus melakukan apa selain berdiri terpaku di sana, merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di seluruh dunia saat itu juga.