Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13# Alya x Rayen
“Mbak Rhea ada di sini?” bisik Karin pada sang adik.
Alya menggeleng. “Kak Rhea lanjut spesialis, tapi tidak tahu di mana. Sumpah,”
Karin mengangguk paham, melihat pria yang tadi memanggil Alya sudah bisa Karin tebak bagaimana kakak kandung Rhea.
“Silahkan tunggu di sini!” Rayen membawa Alya dan Karin ke ruang khusus untuk tamu menunggu di dekat ruang sekertaris.
“Iya kak,” Alya dan Karin duduk di sofa, itu adalah kali pertama untuk Alya datang ke kantor Damian, begitu juga dengan Karin yang justru baru tahu tentang siapa Rhea yang sesungguhnya.
Kakak angkatnya yang sudah mereka anggap menjadi kakak sulung ternyata bukan orang sembarangan, Karin dan Alya bahkan belum tahu kalau perusahaan Darmawan sesungguhnya adalah milik Rhea dan Axel. Namun perusahaan Huan telah di rubah menjadi Darmawan oleh papa Andi dan mama Nirma, itulah salah satu yang membuat papa Andi merasa bersalah pada Rhea.
Alya dan Karin celingak celinguk di sana, Karin bahkan mengedarkan pandangannya menyeluruh ke segela sudut ruangan. Hingga dia menemukan beberapa photo terpanjang pada dinding yang sepertinya memang khusus untuk menaruh photo keluarga.
Karin tertarik dengan satu photo, sepertinya photo tersebut belum lama di pajang di sana. Karin juga yakin jika waktu pengambilan gambarnya baru-baru ini, dia berdiri dari duduknya. Karin mendekati photo yang terpasang cantik di dalam figura.
Dia mengusap photo tersebut, cairan bening meleleh begitu saja tanpa di minta. Tangannya terulur menyentuh bingkai photo tersebut. “Maafin aku, mbak. Aku kangen makan soto sama mie ayam sama mbak Rhea,” monolognya berbicara dengan photo Rhea yang sedang menggendong bayi cantik dan menggemaskan.
Karin kembali duduk di sofa saat OB masuk mengantarkan minuman untuknya dan Alya.
“Silahkan di minum, mbak!” OB meletakkan minuman di meja yang ada di hadapan mereka.
“Terimakasih,” jawab ke duanya kompak. “Oh ya, mas. Itu yang di photo bersama mbak Rhea siapa, ya?” Karin cukup penasaran dengan itu.
“Itu nona Aretha, mbak. Putri pak Axel dan bu Rena, kakaknya mbak Rhea. Baru di pajang satu minggu yang lalu,”
Ternyata bayi cantik yang di ada di dalam photo tersebut adalah keponakan Rhea, Karin lantas mengusap perutnya dan Alya menotice hal tersebut. Dia mengerutkan dahinya melihat tingkah sang kakak yang menurutnya agak aneh.
“Lagi baca mantra apaan mbak?”
Karin mencebik mendengar ledekan Alya. “Aku lagi ngenalin baby kiwi ke aunty cantiknya, Alya. Biar nanti dia langsung nemplok saat lihat mbak Rhea,”
"Haah! Baby Kiwi? Ada-ada saja panggilannya,"
Alya terkekeh mendengar kerandoman kakanya, dia menyentuh kening Karin dengan punggung tangan. “Tidak demam. Tapi kelakuan yang jadi agak aneh,” celetuk Alya.
Karin menyingkirkan tangan Alya dari keningnya. “Aku sehat, Alya. Aku hanya ingin nanti Kiwi langsung mengenali mbak Rhea di manapun mereka bertemu,” jawab Karin.
“Masalahnya dia belum paham dengan ucapanmu, mbak. Kamu ini ada saja,”
“Makanya ini aku kenalkan dari sekarang,” jawab Karin.
Alya hanya bisa menggeleng, dia merasa sang kakak akhir-akhir ini jadi aneh setelah dia mengandung. Bukan apa-apa, tapi Alya cukup khawatir dengan tingkah random kakaknya tersebut.
Tidak lama kemudian Rayen kembali ke ruangang di mana Alya dan Karin menunggu.
“Tuan Axel hanya punya waktu sepuluh menit dan hanya kamu yang boleh menemuinya. Kakakmu harus menunggu di sini!”
Alya hanya bsia melongo mendengar ucapan Rayen, dia menoleh pada Karin. Sang kakak mengangguk. “Aku tunggu di sini,” lirih Karin.
Kata kak Rhea dia baik, di pikir-pikir apanya yang baik dari si Rayen-Rayen ini. Galak bin ngeselin iya, mak lampir versi cowo ini sih.
“Ikut denganku!” tegas Rayen.
“Ck...mbak Rhea sepertinya butuh kaca mata pembesar, galak begini di bilang baik. Ganteng sih lumayan tapi galak,” gumam Alya, dia berjalan di belakang Rayen.
Rayen berhenti tiba-tiba, dia mebalik badan. “Kamu bilang apa ta...” ucapannya menggantung diudara.
Bruukk...
“Di...” lanjutnya, namun Alya sudah terlanjur menabrak tubuh Rayen.
“Aduh!” Alya terantuk dada bidang Rayen. “Kalau ngerem jangan dadakan kali pak. Ini kening bukan portal atau tembok yang bisa nahan dada pak Rayen yang keras itu, eh! Pak Rayen bukan tahu bulat yang di goreng dadakan,” ocehnya pada Rayen.
“Makanya kalau jalan pakai mata, Alya. Sudah tahu bo del malah nunduk,” tatap Rayen pada Alya.
Alya mendongak. “Jalan itu pakai kaki, pak. Kalau pakai mata berarti kepala harus di bawah dong? Kasih contoh dulu sih, baru nanti Alya ikutin. Satu lagi, aku ini bukan bo del ya pak! Hanya kurang tinggi dikit, soalnya dulu waktu pembagian tinggi badan aku lagi antri jajan cimol.”
Rayen sudah hampir tergelak mendengar ucapan Alya kalau saja dia tidak sedang menunjukkan wibawanya di sana.
Adik angkat mbak Rhea unik juga, tidak seperti perempuan pada umumnya.
Rayen justru lupa kalau dia tadi hendak bertanya pada Alya, gadis itu tadi bergumam apa tentang dirinya.
Rayen akhirnya malah menarik tangan Alya untuk bergegas masuk ke dalam ruangan Axel, Alya hanya melongo melihat Rayen menggenggam tangannya.
“Mau nyebrang pak? Pake gandeng tangan aku segala, nanti kesengsem princess ini lho! Sudah cantik, imut,baik hati. Hanya kurang tinggi, tapi masih oke lah ya. Soalnya kalau sama-sama tinggi nanti gak bisa di peluk,” celoteh Alya dengan random.
Rayen langsung berhenti, dia menoleh pada Alya. “Mbak Rhea dapat adik seperti kamu habis mungut dari mana? Beda banget sama dia,”
“Ck...begini-begini aku kesayangan dia lho! Aku aduin kak Rhea tahu rasa nanti pak Rayen,”
“Jangan panggil pak. Panggil Rayen saja!”
“Siap kak Rayen,” Alya terkekeh sendiri mendengar dia memanggil Rayen dengan sebutan kak. “Abangnya kak Rhea tidak galak kan, kak?”
“Cukup galak untuk ukuran bisa nelen kamu hidup-hidup,” jawab Rayen.
“Kan...kan...kan, tahu gitu aku paksa mbak Karin ikut tadi. Biar dia yang bicara sama abangnya kak Rhea,” gerutu Karin membuat Rayen terkekeh.
Tanpa Alya sadari, mereka sudah ada di depan pintu ruangan Axel. Rayen mengetuk pintu, ke duanya masuk setelah si pemilik ruangan mempersilahkan.
“Silahkan duduk, Alya!” pinta Axel yang diangguki Alya, mereka bertiga termasuk Rayen duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Axel. “Mau minum?” tawar Axel di gelengi Alya.
“Tadi sudah dibuatkan minum sama OB,”
Axel mengangguk, sementara Rayen menahan tawanya saat melihat ekspresi Alya yang terlihat takut pada Axel.
“Rhea bilang kamu mau menyerahkan sesuatu?” Axel tidak pernah basa-basi, dia langsung pada pointnya.
Alya mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya di meja, dia mendorongnya kearah Axel. “Aku tidak sengaja menemukan itu di rumahku, kak. Di sana cukup jelas tertera milik siapa, sepertinya hanya bisa di buka kak Rhea atau mungkin kak Axel.”
Axel mengangguk, dia mengambil kotak tersebut, dan mengamatinya. Memang dari kuncinya terlihat tidak akan mudah untuk langsung membukanya, namun Axel merasa familiar dengan bentuk kunci yang ada dalam kotak tersebut.
“Terimakasih, Alya. Rhea pasti senang punya adik sepertimu,”
“Apa aku boleh tahu di mana kakak?”
Axel menggeleng. “Belum saatnya. Untuk saat ini biarkan Rhea menenangkan diri dan melanjutkan hidupnya, jika saatnya tiba dia akan pulang dengan sendirinya. Rumahnya tetap di sini,”
Alya tersenyum lega, setidaknya dia tahu kalau kakak sulungnya tetap akan pulang. “Kalau begitu aku permisi, kak! Aku masih ada keperluan lain,” Alya berdiri dan pamit pada Axel juga Rayen.
Mereka berdua mengangguk, Rayen lantas kembali mengantar Alya ke ruangan di mana Karin menunggu. Alya menggerutu sepanjang perjalanan dari ruangan Axel menuju ruangan tersebut, hal itu di karenakan Rayen yang membohonginya dan berkata kalau Axel galak. Meskipun sebenarnya bukan lebih ke galak, tapi tegas dan juga dingin. Aroma-aroma seorang alpha man, dan Rayen terkekeh melihat itu.
Sepertinya gadis ini asik juga.