Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 Mobil yang mogok
Pagi tadi di ruang lobby kantor, Dimas sudah berbincang dengan salah seorang temannya yang datang untuk menawarkan kerjasama pengadaan bahan baku untuk proyek barunya.
Dimas menyetujui kerjasama itu dan siang ini dia berencana untuk meninjau lokasi proyek baru yang akan di kerjakan.
"Permisi Pak, ini Americano dua shot pesanan pak Dimas," seorang office boy kantor masuk ke dalam ruangan Dimas sambil membawa paper glass yang berisi kopi yang di minta Dimas tadi.
"Ya. Taruh saja di meja sofa itu," ucap Dimas pada office boy itu.
"Saya permisi pak," baru saja office boy itu mau melangkah keluar dari ruangannya, mendadak Dimas memanggilnya kembali.
"Ndik, tolong bilang ke Bu Bella suruh ke ruangan saya sekarang," perintah Dimas pada Andik nama office boy itu.
"Baik pak," lalu office boy itu pun keluar dari ruangan Dimas.
Tak berapa lama kemudian seorang kepala HRD masuk ke dalam ruang kantor Dimas.
"Maaf pak, Bu Bella tadi mendadak ijin pulang karena anaknya sakit," ucap kepala HRD itu pada Dimas.
Dimas menatap kepala HRD itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Ya sudah," ucap Dimas kemudian.
"Baik pak, saya permisi," kepala HRD itu kemudian melangkah keluar dari ruang kantor Dimas.
Dimas terlihat merenung sesaat kemudian dia meraih ponselnya dan jarinya mulai mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Nanti siang kamu temani aku untuk melihat lokasi proyek yang baru. Aku menunjuk kamu karena Bu Bella tidak bisa menemani aku. Jangan menolak dan jangan katakan kalau kamu takut dengan Regan, ini perintah dari atasan kamu," pesan terkirim ke nomor Ratih.
Dimas sengaja membuat kata-kata yang tegas saat menunjuk Ratih sebagai pengganti Bu Bella. Dimas ingin tahu bagaimana reaksi Ratih nanti.
...----------------...
Mata Ratih terbelalak saat menatap layar ponselnya, dia membaca baris demi baris WhatsApp yang di kirimkan Dimas padanya barusan.
Ratih menghela nafas panjang setelah membaca WhatsApp itu dan meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja kerjanya.
"Kenapa Rat?" tanya Cindy pada Ratih sambil memicingkan matanya menoleh pada sahabatnya itu
"Gak apa-apa," ucap Ratih datar.
Cindy tidak percaya dengan jawaban Ratih. Karena dia tahu betul sifat sahabatnya itu, dengan sigap Cindy meraih ponsel Ratih yang masih tergeletak di meja.
Cindy membuka ponsel Ratih dan kebetulan di layar ponsel itu masih terlihat WhatsApp dari Dimas tadi. Cindy mulai membacanya dan dia baru mengerti.
"Jadi karena WhatsApp Pak Dimas ini?" Cindy mengangkat ponsel itu.
"Hmm." Jawab Ratih singkat.
"Kalau menurutku sih...Pak Dimas tidak sedang memanfaatkan Kamu, alasannya masuk akal karena Bu Bella gak bisa, jadi dia memilih kamu sebagai penggantinya, iya kan?" Cindy membenarkan pesan Dimas.
"Iya sih," jawab Ratih.
"Terus kenapa wajah kamu jadi masam tadi setelah baca WhatsApp Pak Dimas?"
"Aku takut Regan cemburu melihat aku cuma berdua dengan Dimas meninjau lokasi proyek baru itu."
"Rat, aku tahu Regan orangnya posesif banget ke kamu tapi aku percaya Pak Dimas, dia orang yang penuh tanggung jawab jadi kamu jangan khawatir tentang Regan karena Pak Dimas pasti bisa mengatasi," Cindy memberi support pada Ratih.
"Ya aku tahu," jawab Ratih.
"Ya sudah kamu jawab 'iya' aja ke Pak Dimas daripada dia nanti marah ya kan," Cindy mengompori Ratih.
Dengan agak malas Ratih mengambil ponselnya yang masih ada di tangan Cindy.
Kemudian Ratih mulai mengetik balasan ke Dimas dan mengirimkannya.
"Ya aku ikut, tapi gak usah susul aku di ruangan. Kamu tunggu aja di basement nanti," begitu bunyi balasan WhatsApp Ratih ke Dimas dan WhatsApp itu langsung terkirim.
Cindy tersenyum geli ketika Ratih sudah mengirimkan balasan ke Dimas, dia berhasil meyakinkan Ratih untuk menemani Dimas meninjau proyek baru.
Dimas yang sedari tadi menunggu jawaban dari Ratih terlihat tersenyum setelah membaca pesan singkat yang di kirim Ratih padanya.
...----------------...
Siang ini tepat pukul satu setelah jam makan siang usai, Ratih menepati janjinya untuk ikut Dimas meninjau lokasi proyek.
Ratih berdiri dari kursinya dan meraih tas kerjanya dan meletakkannya di pundak sebelah kanan.
"Mau berangkat Rat?" Cindy memperhatikan Ratih yang hendak beranjak dari ruangan kerja mereka.
"Iya," jawab Ratih.
"Semangat ya, aku titip Pak Dimas jangan kamu apa-apain loh," seloroh Cindy berusaha menghibur Ratih agar tidak tegang.
"Emangnya aku mau ngapain ke Dimas," nada suara Ratih terdengar kesal mendengar celotehan Cindy.
"Ya kali aja kamu khilaf nanti. Ah...sudah sana berangkat di tungguin Pak Dimas loh," Cindy mendorong pelan tubuh Ratih.
"Iya iya," Ratih melangkah keluar dari ruangan itu dan berjalan melewati koridor-koridor kantor menuju ke arah basement parkiran mobil.
Sepuluh menit yang lalu Dimas sudah sampai di basement dan sekarang dia lagi menunggu Ratih di dalam mobil dinas kantor.
Dari dalam mobilnya Dimas memperhatikan Ratih yang sedang berjalan menuju ke arahnya, Ratih sudah berada di samping mobil, tanpa basa-basi dia langsung membuka pintu mobil itu dan duduk di samping Dimas yang duduk di belakang kemudi.
"Kita berangkat?" Dimas menoleh pada Ratih yang tidak menyapanya dari tadi.
"Ya," jawab Ratih dingin.
Kemudian dengan perlahan Dimas melajukan mobilnya keluar dari area basement parkiran itu dan meluncur di jalan raya.
Sepanjang jalan di dalam mobil, suasana sangat kaku dan sunyi. Ratih bersikap dingin dan membuang muka ke jendela, sementara Dimas yang sudah tahu rahasia Ratih dari informasi Kenzo hanya diam sambil sesekali memperhatikan Ratih dengan tatapan iba dan rindu yang tertahan.
Saat melewati jalanan yang agak sepi, menanjak, dan dekat dengan lokasi proyek yang masih berupa lahan kosong, mesin mobil tiba-tiba batuk dan mati total. Dimas menepikan mobil.
Dimas turun dan berjalan ke arah kap mobil.
Saat kap mesin dibuka, ternyata ada masalah pada radiator atau mesin yang berasap efek mobil kantor yang jarang diservis.
Tiba-tiba Ratih keluar dari mobil dan menghampiri Dimas yang masih memegang kap mobil itu.
"Kenapa?" tanya Ratih pada Dimas.
"Ada sedikit masalah dengan mesinnya," Kepala Dimas masih menunduk memperhatikan mesin mobil yang mengeluarkan asap itu.
"Bagaimana ini, coba kamu hubungi bengkel terdekat di sekitar sini," ucap Ratih sedikit panik.
"Ya," kemudian Dimas mulai mencoba menghubungi beberapa teman bengkel nya yang pas berada di dekat lokasi proyek, tapi sayangnya tidak satu pun yang mengangkat panggilan telepon dari Dimas.
"Bagaimana Dim?" Ratih tidak bisa menyembunyikan kecemasan nya lagi.
"Kamu tenang ya Rat, aku akan usahakan mencari bantuan, tapi masalahnya di sini sangat sulit sinyal," ucap Dimas.
Ratih membuka ponselnya dan mencoba mengecek sinyal di handphonenya dan ternyata apa yang di katakan Dimas benar kalau di daerah itu tidak ada sinyal.
Tiba-tiba saja langit di atas mereka berdiri jadi menghitam sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Dan ternyata benar. Langit menumpahkan air hujan saat itu juga tidak perduli mereka yang sedang kesulitan mencari bantuan untuk mobil yang mogok.
"Kita berteduh di sana dulu Rat, hujannya semakin lebat," ucap Dimas menunjuk ke arah sebuah pondok proyek yang dekat dengan tempat mereka berdiri.
Ratih diam tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia mengikuti Dimas yang berjalan menuju ke arah pondok.
Mereka berdua pun akhirnya berteduh di pondok kecil kosong milik proyek. Hujan turun semakin deras sampai membuat cuaca makin dingin.
Ratih terlihat menggigil menahan dingin yang menyerang tubuhnya, Ratih mendekap kedua tangannya ke dada sambil mengigit bibirnya sendiri. Tapi dia tetap berusaha bersikap ketua pada Dimas, dia tidak mau terlihat lembek di mata Dimas.
Dimas yang melihat hal itu langsung membuka jaket kulit yang di kenakannya dan memakaikannya ke tubuh Ratih tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Ratih sempat menolak tapi dengan lembut Dimas menahannya. Perlakuan Dimas yang hangat membuat pertahanan Ratih sedikit runtuh.
"Kenapa kamu masih baik sama aku Dim? Kamu tidak dengar kata-kata kejamku kemaren di ruang fotokopi? Aku bilang aku risih dan jijik sama kamu!" Ratih memasang wajah ketusnya lagi pada Dimas.
Dimas tersenyum menatap Ratih dan berkata padanya," Aku kenal kamu bukan hanya sehari dua hari Rat. Jadi aku tahu kapan saat kamu bicara pakai hati dan kapan saat kamu bicara karena terpaksa. Kamu boleh bohongi seluruh dunia tapi tidak dengan aku Rat," tajam dan tepat sekali kata-kata Dimas membuat Ratih terdiam seketika.