NovelToon NovelToon
THE BLOGGER STORY

THE BLOGGER STORY

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Fantasi Timur / Wanita perkasa / Konflik etika / Fantasi Wanita / Transmigrasi
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!

Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.

Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.

Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.

Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.



Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Dengan gesit tanpa keluhan, Lin Song memberikan bumbu yang diminta kakak perempuannya. Ia juga sesekali turun membantu dalam mengaduk olahan dipanci.

Tubuh kecilnya berputar seperti gasing, mengundang gelak tawa Yao dan Shun.

Didapur kecil itu. aroma rempah jeroan babi rebus, wangi manis daging babi rebus, dan harum gurih kaldu tulang babi, bercampur menjadi satu.

Tepat setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Lin Yao teringat sesuatu yang lain.

"Kakak, bantu aku mengemas teh tadi kedalam tabung bambu untuk dijual besok. Dengan begitu, akan mempermudah pelanggan yang tidak membawa botol air sendiri."

Lin Shun mengangguk setuju "Itu ide bagus. Aku akan pergi lahan sebelah untuk memotong beberapa batang bambu."

Shun meletakkan pekerjaannya, yang langsung diambil alih oleh Yao dan Song.

Dengan membawa golok dan kampak. Shun pergi kekebun bambu yang tak jauh dari rumahnya.

Lin Yao terus mengawasi panci, sesekali mengangkat tutupnya untuk memeriksa daging babi rebus dan kaldu tulang.

Daging perut babi rebus yang dimasak diatas api kecil, telah berubah menjadi cokelat kemerahan mengkilap, aromanya bertambah harum.

Lin Yao menusuk permukaan daging dengan sumpit.

Sudah lunak, ujung sumpit menembus bagian daging perut babi. Itu pertanda jika sudah matang dengan baik.

Dengan hati-hati Yao membaliknya, sisi bagian kulit menghadap keatas, dan membiarkannya mendidih sedikit lebih lama agar kulitnya menyerap rasa dengan lebih baik.

Tiga puluh menit kemudian, Lin Shun kembali membawa seikat besar batang bambu.

Saat itu, jeroan babi rebus hampir siap.

Lin Yao membuka tutup panci, memisahkan kedalam tiga mangkuk untuk dimakan sendiri oleh mereka.

Kaldu tulang babi juga telah mendidih dan menjadi lebih kental. Lin Yao mematikan api, menuangkan kaldu kedalam panci sup berukuran besar.

Daging perut babi rebus kini sudah empuk dan lembut.

Lin Yao menyajikan hidangan, lalu memanggil Lin Shun dan Lin Song.

"Ayo makan dulu, kalian pasti lapar setelah seharian bekerja."

Lin Shun dan Lin Song bergegas kemeja. Air liur mereka langsung merembes dilidah melihat perut babi merah, jeroan rebus, dan kaldu tulang putih susu yang amat menggoda.

Mata Lin Song tertuju pada perut babi merah. Olahan seperti ini adalah kemewahan yang bahkan sebelumnya tidak mampu mereka beli untuk Tahun Baru.

Makanan mereka biasanya sebagian besar terdiri dari sayuran liar, untuk daging sesekali cuma ikan kecil dan udang yang ditangkap Lin Shun disungai.

Meskipun Lin Shun sering berburu, sebagian besar hasil tangkapannya harus dijual untuk mendapatkan uang dan biji kasar. Jadi mereka jarang memakan daging.

Lin Song meraih sumpitnya, mencapit sepotong perut babi merah "Lezat sekali, lebih enak dari pada buatan Nenek." gumamnya di sela-sela kunyahan.

Daging yang dibuat nenek mereka keras dan kering. Bumbu berharga mahal, jadi nenek Ye enggan menggunakannya. Sehingga daging yang dimasak hampir terasa hambar.

Selain itu, setiap kali selama Tahun Baru Imlek ketika mereka mengadakan pesta perayaan dengan daging babi. Kakek selalu memberikan potongan terbesar kepada anak tertua dari keluarga Lin.

Saat giliran ketiga saudara itu hanya tersisa beberapa potong daging kecil dan kering. Meskipun Lin Song masih muda, dia tahu bahwa kakek mereka pilih kasih.

Walau sang nenek selalu membela, namun semua kuasa keputusan ada ditangan sang kakek.

Jadi nenek Ye cuma bisa menangis dalam diam melihat ketiga cucunya diperlakukan tak adil.

Lin Shun memperhatikan adik-adiknya dengan tatapan nanar, ia tetiba merasakan kesedihan.

Lin Yao menatap wajah sendu Lin Shun dengan agak linglung "Kakak, kau juga harus makan lebih banyak. Kita akan makan daging disetiap waktu mulai sekarang."

"Oke..!"

Lin Shun mengambil sepotong jeroan babi rebus, mengunyah dengan semangat sembari memuji.

"Jeroan babi rebus ini masih sangat kaya akan rasa rempah."

Setelah mengatakan itu, Shun menyendok semangkuk sup tulang babi, menyesapnya, lalu menghela napas puas "Supnya juga sangat nikmat."

Tubuh Lin Yao asli saat ini sedang dalam masa pertumbuhan. Perut babi berlemak yang dulu tidak ia sukai, sekarang dimakan dengan lahap.

Disisi lain, Ling Song makan sampai mulut kecilnya belepotan minyak, mata kecilnya berkilau puas dengan semburat rona kepuasan terpancar.

Setelah makan malam, Lin Yao dan Lin Shun membersihkan meja.

Lin Song menawarkan diri untuk membantu, tubuh kecilnya bergerak energik didapur.

Setelah semuanya bersih, Lin Yao membawa dua ember besar teh perilla hawthorn yang sudah dingin serta teh perilla krisan kembali kedapur.

Sementara Lin Shun memindahkan batang bambu yang telah dipotongnya sore itu keluar untuk membuat tabung kemudian dibersihkan.

Lin Shun dengan terampil mengambil peralatannya, memotong bambu sesuai panjang yang dibutuhkan, lalu menggunakan pisau tajam untuk menghaluskan kedua ujung tabung.

Serangkaian gerakan remaja itu amat luwes.

Tertarik oleh suara bambu yang dipahat, Lin Song juga keluar lalu berjongkok disisi sang kakak, mengamati dengan seksama.

Bocah itu membantu menata tabung yang sudah jadi dengan rapi ditanah.

Lin Yao duduk untuk membantu menghaluskan tepi tabung bambu yang telah disiapkan Lin Shun.

 "Kakak, kita akan menjual minuman dengan gelas bambu ini seharga dua koin masing-masing. Bagi mereka yang membawa kantong air sendiri hanya akan dikenakan biaya satu koin per cangkir."

Lin Shun menegakkan tubuh, menggosok bahunya yang terasa pegal. "Baiklah, terserah kau saja. Aku ikut pengaturanmu."

1
Ai
kisahnya terkesan alami tanpa bantuan sistem bnr2 mengandalkan kemampuan diri dan alam sekitar👍
Zabarra
yo bisa yo tiga saudars 👏👏👏
Enah Siti
sama beladri biar tbah seru gtu 💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏thor
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
seharusnya tiga saudara memiliki ilmu bela diri
Murni Dewita
ko lin yao tidak memiliki ruang dimesi thor
Ari Peny
ayo2 lagi thor🤣🤣🤣
Zabarra
hadir thor 😍
Zabarra
karyamu yang gandre kuno gin bagus thor, bahanya rapi, dialognya cocok. keren 👏👏
Markuyappang
AYO PERJUANGKAN RESEP RESEP ITUU. KITA BERANTAS TIKUS LINTAH ITU GAKNADA KAPOK KAPOKNYA ISHHH KESEL BANGETT.
Sabrina
laris mansi tanjung kimpul 🤣🤣🤣
Sabrina
semangat untuk kalian 👏👏👏
Sabrina
selalu hadir untukmu thor, semangat 👐
Sabrina
Selalu keren, suka sama tata bahas dan dialog rapi, cocok sama tema cerita. Alurmya juga enggak ngebosenin..semangat thor 😍
Datu Zahra
Keren thor, tatanan bahasanya rapi, berkembang dan dialognya sangat pas demgan cerita. Karyamu emang top 👍
Datu Zahra
cakep 👏👏👏
Datu Zahra
thor, novelmu makin berkembang. bahasa kata²nya sangat cocok sama cerita. keren 🫰
Lala Kusumah
semangat Yao'er 👍👍👍💪💪💪
Murni Dewita
lanjut
Datu Zahra
punya niat jahat nih pasti Sun Dafu 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!