kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Negeri Dermawan
Perjalanan melintasi perbatasan dan wilayah yang belum dipetakan berlangsung selama beberapa hari. Selama perjalanan, Panglima Delta terus memantau keadaan sekeliling. Segalanya tampak lancar; tidak ada gangguan dari binatang buas maupun serangan mendadak dari kelompok pemberontak mana pun. Alam seolah-olah tunduk pada aura kegelapan yang dibawa oleh pasukan Ratu Layla.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya mulai memasuki wilayah sebuah negeri yang jauh berbeda dari Atlas. Udara di sini terasa lebih bersih, dan pemandangan yang ada dipenuhi dengan ketenangan yang asing bagi para prajurit Delta. Negeri ini tidak memiliki tembok istana yang menjulang setinggi Atlas, juga tidak memiliki menara-menara pengawas yang dipenuhi oleh pemanah. Sebaliknya, wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan damai.
Ia melihat dari kejauhan bagaimana penduduknya beraktivitas dengan santai, tanpa menyadari bahwa maut sedang mengintai di balik cakrawala. Kerajaan kecil ini memang tidak besar, namun terlihat makmur dengan hasil bumi yang melimpah. Delta menghentikan pasukannya di sebuah bukit yang tersembunyi, memantau rute pelarian dan titik-titik pertahanan yang ada. Ia menyadari bahwa kerajaan ini tidak memiliki pasukan militer yang sebanding dengan Atlas; mereka hanya memiliki penjaga kota dengan perlengkapan sederhana yang lebih sering digunakan untuk membantu rakyat daripada untuk berperang.
"Mereka terlalu lemah untuk dunia ini," gumam Delta sambil mengamati seorang petani yang memberikan sebagian hasil panennya kepada seorang musafir di pinggir jalan. Ia memberikan tanda kepada para Minotaur untuk mulai menyiapkan senjata mereka dan kepada para Centaur untuk mengencangkan pelana.
Saat matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga di ufuk barat, kedamaian di negeri kecil itu hancur dalam sekejap. Tanpa ada peringatan atau pernyataan perang, Panglima Delta memberikan komando untuk menyerang. Pasukan Centaur meluncur turun dari bukit seperti gelombang pasang yang menghancurkan, derap kaki mereka terdengar seperti guntur yang membelah keheningan sore. Di belakang mereka, para Minotaur berlari dengan raungan mengerikan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa darah mereka membeku. Serangan ini dilakukan dengan kecepatan dan keganasan yang tidak menyisakan ruang bagi penduduk negeri itu untuk berpikir.
Penduduk kota yang sedang bersiap untuk beristirahat dikejutkan oleh kemunculan makhluk-makhluk mengerikan dari Atlas. Jeritan ketakutan pecah di setiap sudut jalan saat para Centaur mulai menghunuskan pedang panjang mereka, menebas apa pun yang menghalangi jalan. Para penjaga kota yang mencoba melawan dengan gagah berani langsung tersapu oleh kekuatan fisik Minotaur yang jauh di atas mereka. Rumah-rumah kayu yang indah mulai terbakar, bukan karena mantra sihir, melainkan karena obor-obor yang dilemparkan dengan sengaja untuk menciptakan kekacauan total. Panglima Delta memimpin serangan langsung menuju pusat pemerintahan, tempat sang raja dermawan berada.
Para Minotaur mulai merangsek masuk ke area pasar, menghancurkan lapak-lapak dagangan dan menyeret orang-orang keluar dari tempat persembunyian mereka, Dalam hitungan menit, kota yang tadinya tenang berubah menjadi medan pembantaian yang kacau. Asap hitam mulai membubung tinggi ke langit, menutupi cahaya bulan yang mulai muncul
Pertempuran sengit pun meletus di gerbang istana. Pasukan Centaur yang biasanya bisa menembus pertahanan dengan mudah kini terhambat oleh barikade darurat yang dibuat dari kereta kuda dan puing-puing bangunan. Rakyat jelata menggunakan alat pertanian mereka sebagai senjata, menyerang kaki-kaki Centaur dengan keberanian yang luar biasa.
Suara dentingan pedang dan kapak yang beradu dengan perisai memenuhi udara, bercampur dengan teriakan kemarahan dan rintihan kesakitan. Panglima Delta mulai merasa geram melihat bagaimana pasukan terbaiknya bisa ditahan oleh "kerumunan serangga" ini. Ia mengayunkan pedang besarnya, menebas setiap pejuang yang berani mendekatinya, namun untuk setiap satu orang yang jatuh, dua orang lainnya muncul untuk menggantikan.
Minotaur-minotaur yang mengamuk mulai menemui kesulitan saat para pejuang negeri itu menggunakan jebakan-jebakan sederhana namun mematikan. Beberapa Minotaur terjebak dalam lubang-lubang yang telah disamarkan, sementara yang lain dihujani oleh anak panah yang ujungnya telah diolesi minyak terbakar dari atas atap bangunan,
Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, sang Raja dermawan sempat berteriak, mencoba menghentikan pertumpahan darah ini. "Apa yang kalian inginkan dari kami? Kami tidak pernah mengusik kerajaan kalian!" Namun, Delta hanya membalas dengan tawa dingin. Baginya, alasan untuk menyerang tidaklah penting; yang penting adalah hasil akhir yang memuaskan Ratu Layla. Namun, saat ia melihat jumlah pasukannya mulai berkurang dan banyak Centaur yang terluka parah akibat serangan balik yang nekat, ia mulai menyadari bahwa ia telah meremehkan kekuatan dari sebuah persatuan yang didasari oleh cinta, bukan ketakutan.
Keadaan berbalik menjadi semakin sulit bagi pasukan Atlas, ketika sebuah serangan balik yang terencana dari para pejuang negeri tersebut berhasil menjebak satu unit elit Centaur. Di sebuah lorong sempit dekat alun-alun, para pejuang menjatuhkan jaring-jaring berat dari atas bangunan, mengunci pergerakan kuda-kuda setengah manusia tersebut. Sebelum mereka sempat membebaskan diri, para pejuang langsung mengepung dan menawan mereka. Melihat beberapa pasukan Centaur-nya tertangkap dan dijadikan sandera, kemarahan Panglima Delta mencapai puncaknya.
Ia melihat sekeliling; formasi pasukannya sudah mulai kacau, dan para Minotaur mulai terlihat kelelahan karena harus terus-menerus menghadapi gelombang manusia yang seolah tidak ada habisnya.
Dengan berat hati dan rasa malu yang membakar dadanya, Delta meniup terompet perunggu yang tergantung di pinggangnya, memberikan sinyal yang tidak pernah ia bayangkan akan ia berikan: perintah untuk mundur. Suara terompet itu bergema di seluruh medan pertempuran, mengejutkan baik kawan maupun lawan.
"Minotaur! Mundur ke perbatasan! Tinggalkan tempat ini sekarang!" teriak Delta sambil terus menangkis serangan dari para penjaga raja. Para Minotaur, meskipun enggan karena haus darah mereka belum terpuaskan, mulai mundur perlahan sambil tetap menjaga formasi pertahanan. Mereka membawa rekan-rekan mereka yang terluka, namun harus meninggalkan para Centaur yang sudah terlanjur tertangkap dalam jaring
Pasukan Atlas mundur ke dalam kegelapan hutan di luar kota, meninggalkan negeri kecil itu dalam kondisi hancur namun tetap tegak berdiri. Para pejuang negeri itu bersorak meskipun dengan air mata, merayakan keberhasilan mereka mengusir penjajah. Sementara itu, Delta menatap kembali ke arah kota yang masih menyala oleh api, matanya menyipit penuh dendam.
Setibanya di gerbang istana, ia tidak langsung menuju barak, melainkan melangkah mantap menuju ruang tahta, mengabaikan tatapan heran dari para penjaga Griffon yang melihat kondisi pasukannya yang compang-camping.
Ratu Layla sedang duduk di tahtanya, ditemani oleh Penyihir Petir yang tampaknya sudah menduga akan ada kabar buruk. Begitu Delta berlutut di hadapannya, aura dingin di ruangan itu semakin menusuk. Layla tidak langsung berbicara; ia memperhatikan setiap goresan di baju zirah Delta dengan tatapan yang bisa menghancurkan nyali siapa pun. "Di mana budak-budak baru yang kau janjikan, Delta?" tanya Layla dengan suara yang sangat pelan namun sarat akan ancaman. "Dan di mana sisa pasukan Centaur-mu?"
Delta menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ampun, Yang Mulia. Rakyat di negeri itu memiliki kegilaan yang tidak masuk akal. Mereka melawan seolah-olah nyawa mereka tidak ada harganya. Hamba terpaksa menarik mundur pasukan agar tidak kehilangan seluruh unit." Ratu Layla bangkit dari duduknya, amarah mulai membakar dadanya. Ia tidak ingin mendengar alasan; ia ingin kemenangan. "Kau bilang mereka hanya kerajaan kecil yang lemah!" teriaknya. Namun, sebelum ia meledak lebih jauh, Delta melanjutkan dengan nada penuh dendam, "Hamba butuh pasukan yang lebih besar, Yang Mulia. Berikan hamba seluruh pasukan Minotaur, lebih banyak Naga Api, dan dukungan penuh dari Penyihir Petir. Hamba berjanji akan membakar negeri itu hingga tidak ada satu batu pun yang tersisa."
Melihat api kebencian yang sama di mata panglimanya, kemarahan Layla berubah menjadi seringai kejam.Ia pun memberikan mandat penuh kepada Delta. Dalam waktu singkat, mobilisasi besar-besaran kembali dilakukan. Kali ini, langit Atlas dipenuhi oleh kepakan sayap naga-naga api raksasa. Pasukan Minotaur yang dikerahkan jumlahnya tiga kali lipat dari sebelumnya, lengkap dengan senjata-senjata berat yang dirancang untuk meruntuhkan benteng. Delta tidak menunggu lama; dengan pasukan yang jauh lebih masif, ia kembali menuju negeri kecil itu