Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam itu, ruang makan rumah Hendra terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan. Di atas meja makan yang biasanya hanya berisi sayur lodeh atau tempe goreng buatan Aisya, kini penuh dengan hidangan mewah. Ayam, beef steak dengan saus jamur yang kental, hingga tiramisu sebagai pencuci mulut.
Marni duduk di kursi dengan wajah berseri-seri, seolah ia baru saja memenangkan undian. Di samping Hendra, Rima duduk dengan gaun tidur tipis berwarna merah.
Sementara Aisya? Ia dipaksa duduk di kursi paling ujung, diabaikan seolah-olah ia hanyalah pajangan yang tak diinginkan.
"Mas Hendra, ayo coba ayamnya. Aku tadi untuk belanja ke pasar dan memasak ini khusus buat kamu," ucap Rima dengan nada manja. Ia memotong daging ayam itu dengan anggun, lalu menyodorkannya ke depan mulut Hendra.
Hendra sempat melirik Aisya dengan perasaan tidak enak yang masih tersisa, namun egonya yang sedang terluka akibat fitnah foto siang tadi membuatnya mengeraskan hati. Ia membuka mulutnya, menerima suapan dari Rima.
"Bagaimana, Mas? Enak kan? Resep rahasia keluargaku lho ini," dusta Rima tanpa berkedip. Padahal, semua makanan itu dibelinya dari restoran bintang lima melalui aplikasi daring dan ia pindahkan ke piring keramik sebelum Hendra pulang.
Hendra mengunyah pelan. Rasanya memang jauh lebih mewah daripada masakan rumahan Aisya. "Iya, enak sekali, Rima. Aku tidak menyangka wanita modern seperti kamu ternyata jago masak."
Marni tertawa renyah sambil mengunyah daging dengan lahap. "Itulah bedanya, Hendra! Rima ini bibit unggul. Sudah cantik, kaya, pintar masak pula. Tidak seperti orang yang cuma bisa masak kangkung tiap hari tapi hobinya kelayapan sama preman pasar!"
Aisya yang mendengar sindiran tajam itu hanya menunduk, tangannya meremas ujung daster di bawah meja. Ia tahu persis Rima berbohong. Ia melihat kantong plastik restoran mahal di tempat sampah dapur tadi sore.
Namun, Aisya memilih diam. Lidahnya terasa kelu. Untuk apa membongkar kebohongan kecil itu jika suaminya sendiri sudah membiarkan wanita lain menyuapinya di depan matanya sendiri?
"Kenapa diam saja, Aisya? Iri ya lihat Hendra disuapi Rima?" tanya Marni sengaja memancing keributan.
"Silakan dinikmati makanannya, Bu. Aku sudah kenyang hanya dengan melihat kemesraan ini," ucap Aisya mengabaikan Marni.
Hendra tersedak mendengar kalimat dingin Aisya. Ia menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu bicara begitu, Aisya? Kamu harusnya berterima kasih karena Rima sudah mau repot-repot memasak untuk keluarga kita!"
"Terima kasih, Mbak Rima," ucap Aisya, lalu ia berdiri dari kursinya. "Mas, Ibu, aku permisi ke kamar dulu. Kepalaku pusing."
"Lihat itu, Mas! Tidak sopan sekali!" seru Rima sambil merapatkan tubuhnya ke lengan Hendra. "Aku sudah masak capek-capek, dia malah pergi begitu saja. Kalau aku jadi istrimu, aku tidak akan pernah meninggalkan meja makan sebelum suamiku selesai."
"Sudahlah, Rima. Jangan pedulikan dia. Biarkan saja si pembawa sial itu mengurung diri," sahut Marni sambil menuangkan jus jeruk ke gelas Hendra. "Ayo makan yang banyak. Malam ini Rima menginap di kamar tamu, jadi kalian bisa ngobrol lebih banyak soal pekerjaan, kan?"
Aisya menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Suara tawa genit Rima dan gumaman manja suaminya masih terdengar menembus dinding kayu yang tipis. Ia bersandar di balik pintu, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga, namun kali ini bukan air mata keputusasaan. Itu adalah air mata pelepasan.
Ia berjalan menuju lemari, mengeluarkan sebuah tas kain kecil yang ia sembunyikan di bawah tumpukan baju. Di dalamnya ada sedikit uang tabungan hasil ia berjualan kue diam-diam dulu, dan ponselnya yang baru saja dikembalikan Kaisar.
"Mas Hendra... kamu benar-benar sudah memilih," bisik Aisya lirih.
Ia teringat betapa dulu ia memuja Hendra sebagai pelindungnya. Namun malam ini, ia sadar bahwa pria yang ia cintai hanyalah seorang pengecut yang mudah goyah oleh harta dan fitnah.
Hendra tidak hanya membiarkan Rima masuk ke rumah mereka, tapi juga membiarkan wanita itu menginjak-injak harga diri istrinya sendiri.
Aisya duduk di tepi ranjang, merenung di tengah gelapnya kamar. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan. Jika besok pagi surat cerai itu datang, ia tidak akan lagi memohon. Jika besok pagi Marni mengusirnya, ia tidak akan lagi bersujud di kaki mertuanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa pengirimnya.
[Jangan menangis terlalu lama. Berlian tidak pantas berada di dalam lumpur. Jika rumah itu sudah terasa seperti penjara, ingatlah ada pintu yang selalu terbuka untukmu]
Pesan itu dari Kaisar.
Aisya menghapus air matanya. Ada sebuah kekuatan baru yang muncul di dadanya. Ia tidak tahu apa rencana Kaisar, dan ia juga tidak tahu bagaimana nasibnya besok. Namun satu hal yang pasti, ia sudah muak menjalani hubungan tak sehat ini.
"Terima kasih sudah menenangkan ku, Mas,” ucap Aisya tanpa membalas pesan itu.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣