NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 — Pagi yang Tidak Lagi Terlalu Sunyi

Airi terbangun oleh cahaya pagi yang menyelinap melalui celah tirai.

Matanya terbuka perlahan, bukan karena terkejut, tapi karena tubuhnya akhirnya mengizinkan dirinya sadar. Langit-langit di atasnya terasa asing. Bukan kamar rumahnya. Bukan pula kamar asrama.

Butuh beberapa detik sampai ingatannya menyatu.

Rumah Ren.

Ia bergeser sedikit, merasakan kasur di bawah tubuhnya. Sprai yang rapi. Bantal yang aromanya bukan miliknya. Airi menegakkan badan pelan, jantungnya berdegup sebentar sebelum ia mengingat sesuatu yang lain.

Semalam… ia tertidur di sofa.

Ia menoleh ke arah ruang tamu.

Ren ada di sana.

Tidur di sofa, tubuhnya miring sedikit, satu tangan menjuntai ke lantai. Rambutnya berantakan, napasnya teratur. Selimut tipis menutupi separuh badannya, jelas bukan posisi tidur yang nyaman.

Airi menelan ludah.

Berarti Ren yang memindahkannya ke kamar. Tanpa membangunkannya. Tanpa mengambil tempat tidur itu untuk dirinya sendiri.

Dadanya terasa hangat dengan cara yang tenang. Tidak membuatnya panik. Tidak membuatnya sesak.

Ia berdiri dari kasur, melangkah pelan keluar kamar. Kakinya nyaris tak bersuara saat mendekati sofa. Ia berhenti sejenak, memperhatikan wajah Ren dari jarak dekat.

Ren terlihat lelah.

Ada garis tipis di antara alisnya, seolah bahkan saat tidur pikirannya belum sepenuhnya beristirahat.

“Aku kebangetan ya,” gumam Airi pelan, hampir tak terdengar.

Ia berjongkok sedikit, ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh bahu Ren dengan ujung jarinya.

“Ren,” panggilnya lembut. “Ren… bangun.”

Ren mengerang pelan, lalu membuka mata perlahan. Butuh beberapa detik sampai fokusnya kembali.

“Airi?” suaranya serak. “Kamu… bangun?”

“Iya,” jawab Airi. “Maaf… aku mau pulang dulu. Mandi sama ganti baju.”

Ren langsung duduk setengah sadar. “Oh. Iya. Tunggu, aku—”

“Enggak apa-apa,” potong Airi cepat, lalu tersenyum kecil. “Matamu kelihatan capek.”

Ren menatapnya sejenak, memastikan sesuatu. “Kamu… nggak apa-apa?”

Airi mengangguk. “Lebih baik.”

Dan itu benar. Matanya memang tidak lagi sembab. Wajahnya masih pucat, tapi tidak lagi rapuh seperti kemarin.

Ren mengangguk pelan. “Aku anter sampai depan?”

“Enggak usah. Rumahku dekat.”

Ren masih duduk di sofa, merapikan rambutnya dengan satu tangan. “Nanti aku jemput. Kita ke studio bareng.”

Airi mengangguk. “Oke.”

Beberapa jam kemudian, Airi berdiri di depan rumahnya, mengenakan pakaian bersih dan rambut yang sudah kering. Saat Ren datang di depan rumahnya, ia sudah siap.

Perjalanan ke studio terasa berbeda.

Tidak banyak bicara, tapi tidak juga canggung. Angin pagi menyentuh wajah Airi, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa harus menahan napas setiap kali pikirannya melayang.

Sesampainya di studio sewaan itu, suasana sudah cukup ramai.

Yukito duduk di bangku depan, satu kaki disilangkan, tangan satunya memegang roti sandwich yang tinggal setengah. Pipi kirinya menggembung karena masih mengunyah.

“Pagi,” sapa Ren.

Yukito mengangkat tangan. “Pagi… maaf telat sarapan.”

Haruto tertawa kecil dari dalam ruangan. “Yang penting datang.”

Di sudut lain, Hinami dan Mei berdiri agak menjauh, berbicara dengan suara pelan. Airi menangkap sekilas raut wajah mereka. Serius. Hati-hati.

Saat Mei melirik ke arahnya, Airi sempat membeku sesaat.

Namun Mei hanya tersenyum kecil. Bukan senyum penuh tanya. Lebih seperti senyum yang berkata, aku di sini kalau kamu butuh.

Airi membalasnya, tipis.

Haruto sudah duduk dengan buku catatan Hinami di tangannya. Ia membalik beberapa halaman, matanya bergerak cepat.

“Ini rapi banget,” katanya. “Pembagian lagunya jelas. Transisi juga kepikiran.”

Hinami tersenyum kecil, sedikit malu. “Aku cuma nyoba nyusun biar nggak acak.”

“Justru ini bagus,” lanjut Haruto. “Kalau kita konsisten kayak gini sampai Halloween, kita bisa tampil solid.”

Latihan pun dimulai.

Nada-nada memenuhi ruangan. Drum Yukito stabil. Bass Haruto mengisi ruang dengan mantap. Keyboard Mei mengalir lembut. Gitar Ren menyatu dengan rapi.

Dan Airi… bernyanyi.

Suaranya masih menyimpan getar tipis, tapi tidak lagi goyah. Ia berdiri di depan mic dengan bahu sedikit tegang, namun matanya tidak kosong. Setiap bait ia lalui seperti langkah kecil menuju sesuatu yang ia coba yakini kembali.

Latihan berjalan hampir dua jam.

Saat mereka berhenti, napas terengah dan keringat mulai terasa, tidak ada yang langsung beranjak.

Mereka duduk di lantai. Minum. Mengatur napas.

Hening turun pelan.

Airi memegang botol minumnya, memutar tutupnya tanpa membuka. Jarinya sedikit gemetar.

“Ada yang mau aku bilang,” katanya akhirnya.

Semua kepala menoleh.

Airi menelan ludah. Ia berdiri, lalu membungkuk sedikit, refleks lama yang tidak sepenuhnya ia sadari.

“Maaf,” katanya. “Kalau… kalau aku jadi bikin latihan kemarin-kemarin nggak maksimal.”

Hinami langsung berdiri. “Airi, enggak—”

“Tunggu,” Airi tersenyum kecil. “Aku mau jujur.”

Ia menarik napas panjang.

“Sensei Takahashi… dia guru SMP-ku dulu.”

Ruangan itu sunyi.

“Dan… dia alasan kenapa aku punya trauma.”

Mei menutup mulutnya pelan. Yukito menegang. Haruto mengerutkan dahi.

Airi melanjutkan, suaranya pelan tapi tidak lagi ragu.

“Aku dulu nggak sadar. Aku pikir aku salah. Aku pikir perasaanku sendiri yang aneh. Tapi… itu manipulasi. Dan aku baru benar-benar ngerti sekarang.”

Ia menatap satu per satu wajah di depannya.

“Aku takut,” katanya jujur. “Takut cerita. Takut kalian mikir aku aneh. Tapi aku nggak mau sembunyi lagi.”

Hening bertahan beberapa detik.

Lalu Haruto berdiri.

“Kamu nggak salah,” katanya singkat tapi tegas.

Yukito mengangguk. “Dan kamu nggak sendirian.”

Mei mendekat, memegang tangan Airi tanpa memeluk. “Terima kasih sudah percaya sama kami.”

Hinami menatap Airi dengan mata berkaca-kaca. “Kita jaga bareng-bareng, ya.”

Airi menunduk, air mata jatuh, tapi kali ini tidak membuatnya runtuh.

Ren berdiri terakhir.

“Kita lanjut latihan,” katanya pelan. “Tapi mulai sekarang, kita juga jaga satu sama lain.”

Airi mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa suaranya berdiri sendiri di ruangan itu.

Dan meski bayangan masa lalu belum sepenuhnya pergi, pagi itu mengajarinya satu hal kecil tapi penting.

Ia tidak harus menghadapinya sendirian lagi.

POV Airi

Tiga hari latihan berjalan cepat, tapi rasanya panjang.

Setiap sore setelah kelas, kami datang ke studio kampus dan pulang ketika langit sudah gelap. Tubuhku lelah, suaraku sedikit serak, tapi aku tetap datang. Aku tidak ingin menghilang. Tidak ingin memberi kesan bahwa aku tidak sanggup.

Takahashi selalu hadir.

Kadang ia memberi arahan singkat. Kadang hanya mengamati. Tatapannya masih sering jatuh ke arahku, lebih sering dari yang seharusnya, tapi aku mulai belajar mengabaikannya. Aku menatap partitur. Menatap mikrofon. Menatap teman-temanku.

Mereka tahu.

Dan sikap mereka tidak berubah.

Yukito tetap bercanda kecil di sela latihan. Haruto fokus pada detail teknis. Mei mencatat hal-hal penting di bukunya. Ren, seperti biasa, menjaga jarak yang aman, tapi kehadirannya terasa jelas.

Ada satu sore ketika aku hampir kehilangan fokus.

Dadaku terasa sesak tiba-tiba, seperti napas tertahan tanpa alasan. Suaraku sempat goyah sepersekian detik. Aku panik.

Namun sebelum kepanikan itu membesar, aku melihat Ren dari sudut mata. Ia tidak menatapku langsung. Tidak melakukan apa pun yang mencolok. Ia hanya berdiri di sana, stabil, seperti jangkar kecil.

Aku menarik napas.

Dan melanjutkan.

Setelah latihan hari ketiga, aku duduk sendirian di studio yang sudah mulai sepi. Lampu masih menyala. Bau kabel dan kayu terasa familiar.

Aku menutup mata.

Aku tahu Takahashi masih menjadi bayangan yang mengganggu. Aku tahu ini belum selesai. Tapi ada satu hal yang berbeda sekarang.

Aku tidak lagi memikul ini sendirian.

Aku sudah jujur. Aku sudah bicara. Dan meski rasa tidak nyaman itu belum hilang, aku mulai percaya bahwa aku bisa menghadapinya.

Bukan karena aku tiba-tiba kuat.

Tapi karena aku tidak lagi diam.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!