Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silahkan tetangga
Hamka kembali ke kantornya dengan langkah santai. Suasana sudah mulai lengang, hanya tersisa beberapa karyawan yang masih berkutat dengan layar komputer. Ia meletakkan tasnya di kursi, membuka jas sebentar, lalu meraih laptop di mejanya.
Belum sempat ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan, suara Seno menyusul dari belakang.
“Lo pasti modus kan,” katanya sambil menyandarkan tubuh di sekat meja. “Bilangnya mau lanjut ketemu klien… padahal lo lagi janjian sama cewek, kan?”
Seno menyipitkan mata, senyumnya penuh selidik.
“Atau jangan-jangan…” ia mendekat sedikit, menurunkan suara, “lo beneran suka sama waiters kafe itu?”
Hamka hanya melirik sekilas, lalu tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia mengedikkan bahu seolah tak menganggap pertanyaan itu penting, kemudian kembali fokus pada mejanya.
“Kerja, Sen,” ucapnya singkat.
Namun saat layar laptop menyala dan jari-jarinya mulai mengetik, bayangan wajah Naura justru muncul di kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Hamka menyadari,beberapa hal tak bisa ia sembunyikan hanya dengan sikap acuh dan bahu yang terangkat ringan.
Percakapan singkat itu tak luput dari pendengaran Sarah. Perempuan yang sejak awal terang-terangan menaruh hati pada Hamka itu tengah berdiri tak jauh dari meja mereka, berpura-pura merapikan berkas. Namun telinganya justru menangkap setiap kata yang meluncur dari mulut Seno.
Alis Sarah mengernyit. Dadanya terasa menghangat oleh rasa tak suka yang tiba-tiba muncul. Jika selama ini Hamka dingin dan seolah tak tertarik pada siapa pun, mengapa kini ada pembicaraan tentang
seorang waiters?
Waiters kafe?
Rasa penasaran itu langsung menjelma menjadi kegelisahan. Sarah melirik ke arah Hamka yang sudah kembali fokus pada pekerjaannya..tenang, seolah percakapan barusan tak berarti apa-apa. Justru sikap acuh itulah yang membuat Sarah semakin yakin, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Siapa perempuan itu?
Dan kenapa Hamka...laki-laki yang sulit didekati itu bisa sampai membuat Seno berspekulasi seperti itu?
Tanpa ia sadari, sejak detik itu, rasa suka yang selama ini ia pendam mulai bercampur dengan kecemburuan yang pelan-pelan tumbuh.
Di lain tempat ..Naura baru menyadari ada sesuatu yang janggal ketika salah satu rekan kerjanya mendekat, menyelipkan sebatang cokelat ke tangannya.
“Ini dari tamu tadi,” ucapnya singkat, lalu berlalu begitu saja.
Naura menatap cokelat itu sejenak. Sil*erQ*een. Bungkusnya sedikit lembek, hangat, seolah baru saja dikeluarkan dari saku seseorang. Jantungnya berdetak tak beraturan bahkan sebelum matanya menangkap secarik kertas kecil yang menempel di sana.
Ia membukanya perlahan.
Semangat kerjanya. Sampai ketemu nanti.
Maaf kalau cokelatnya sedikit lumer…
tapi tenang aja, rasanya masih tetap sama.
Napas Naura tercekat.
Tangannya refleks menggenggam cokelat itu lebih erat, seolah takut benda kecil itu menguap begitu saja. Kalimat sederhana itu...ringan, nyaris bercanda,namun sukses menembus pertahanannya yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
“Masih tetap sama…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuh kafe.
Ia buru-buru melipat kembali kertas itu, menyelipkannya ke saku celemek. Wajahnya memanas, dadanya terasa aneh..bukan sepenuhnya bahagia, bukan pula sedih.
Naura menarik napas panjang, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.
Namun sejak cokelat itu berada di tangannya, ia tahu satu hal:
Hamka tidak hanya kembali dengan kehadiran..ia datang membawa rasa yang selama lima tahun tak pernah benar-benar pergi.
Naura membuka pelan bungkus cokelat itu, jemarinya sedikit bergetar. Aroma manis khas cokelat langsung menyeruak, membawa kenangan yang tak ia undang. Ia mematahkan sedikit ujungnya, lalu menggigit perlahan.
Cokelat itu meleleh di lidahnya, manisnya lembut, hangat...seperti dulu.
“Ya… rasanya masih sama,” gumamnya sangat pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.
Naura terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, sementara sudut bibirnya tanpa sadar melengkung tipis. Lima tahun berlalu, banyak hal berubah, namun rasa itu...baik dari cokelat di tangannya maupun perasaan di dadanya ternyata tetap sama.
***
Jam kerja akhirnya usai. Naura melepas celemek, merapikan rambut, lalu melangkah keluar dari kafe dengan tubuh lelah namun pikiran jauh lebih riuh. Udara malam menyambutnya pelan.
Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang sudah sangat ia kenal.
Hanif.
Laki-laki itu duduk santai di atas motornya, satu kaki menapak aspal, helm tergantung di setang. Senyumnya mengembang saat melihat Naura keluar. Tak perlu ditebak,Hanif pasti sengaja menjemputnya, seperti yang sering ia lakukan.
Dada Naura mengencang.
Hari ini… ia sudah berjanji pada seseorang.
Ia menghela napas pelan, berusaha merangkai kata-kata yang tepat. Ia tak ingin melukai Hanif, laki-laki yang selama ini selalu ada di sisinya, tanpa banyak tuntutan.
Baru saja ia melangkah beberapa langkah, ponselnya berdering.
Nama di layar membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Hamka.
Naura menekan tombol jawab. Belum sempat ia bicara, suara Hamka lebih dulu menyusup, rendah dan tegas.
“Aku di seberang.”
“Hem…” jawab Naura singkat, nyaris tak terdengar.
Di seberang jalan, Hamka berdiri di samping mobilnya. Tatapannya tajam, mengarah lurus ke depan kafe. Ia melihat jelas..terlalu jelas..sosok laki-laki yang duduk di atas motor itu.
Hamka mengingatnya.
Laki-laki yang sama.
Yang mengantar Naura tempo hari.
Rahangnya kembali mengeras.
Entah apa yang dibicarakan Naura dan laki-laki itu. Dari seberang jalan, Hamka hanya bisa menangkap gerak bibir mereka, senyum tipis yang sempat terlukis, dan gestur canggung yang membuat dadanya mengeras. Tatapannya semakin menajam, rahangnya mengatup kuat.
Hamka merogoh saku celananya, meraih ponsel, lalu menelpon kembali.
“Lima menit lagi,” ucapnya dingin dan tajam begitu sambungan terhubung. “Kalau nggak… aku ke sana.”
Tak ada nada bercanda. Itu peringatan.
Beberapa detik berlalu. Hamka kembali menatap ke arah kafe. Ia melihat laki-laki itu akhirnya mengenakan helm, mengangguk singkat pada Naura, lalu melajukan motornya menjauh.
Hamka menghembuskan napas pelan. Matanya tak lepas dari satu sosok.
Naura kini berdiri sendiri.
Lalu, dengan langkah ragu namun pasti, perempuan itu berjalan ke arahnya...menyebrangi jalan, mendekat ke tempat Hamka berdiri.
Dan di detik itu, Hamka tahu… pertemuan yang selama lima tahun ia tunggu akhirnya benar-benar dimulai.
Hamka mengulum senyum tipis saat melihat Naura akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Meski wajah perempuan itu tampak jutek, tanpa senyum sedikit pun, Hamka justru merasa dadanya menghangat karena Naura masih sama, dengan caranya sendiri.
“Silakan, tetangga,” ucap Hamka pelan, nada suaranya terdengar ringan namun sarat makna.
Ia melangkah lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Naura. Tangannya menahan pintu dengan sopan, tatapannya tetap lekat pada wajah yang selama ini hanya hadir dalam ingatan.
Malam itu terasa hening sesaat.
Di antara mereka, ada lima tahun jarak yang belum terucap dan sebuah perjalanan yang baru saja dimulai.