Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kesabaran
Raka sedang duduk di sofa, mencoba menenangkan dirinya setelah kejadian di balkon tadi. Dadanya masih terasa sesak, sesak karena rindu yang tidak tersalurkan, sesak karena penolakan Nadira yang polos tapi menyakitkan.
Ia menatap kosong ke arah televisi yang menyala dengan suara pelan, pikirannya melayang entah kemana.
Tiba-tiba...
"OM! OM RAKA!"
Suara Nadira berteriak dari dalam kamar mandi, suara yang panik dan keras.
Raka langsung terlonjak berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Ada apa? Kenapa Nadira teriak? Apa dia terpeleset? Apa dia terluka?
"DIRA!" teriaknya sambil berlari menuju kamar mandi.
Ia membuka pintu kamar mandi dengan cepat... dan langsung membeku di tempat.
Nadira berdiri di tengah kamar mandi, tidak memakai sehelai benang pun. Tubuhnya yang putih, lekuk tubuhnya yang sempurna, rambutnya yang basah sedikit karena percikan air, semuanya terekspos jelas di depan mata Raka.
Raka merasakan napasnya tertahan. Darahnya naik ke kepala. Tubuhnya menegang.
Ia langsung membuang muka, menatap ke arah lain, ke langit-langit, ke lantai, ke manapun asal tidak menatap tubuh istrinya.
"Dira! Kenapa kamu nggak pakai baju?" tanya Raka dengan suara bergetar, bergetar karena panik, karena shock, karena hasrat yang tiba-tiba menyerang.
"Nadira mau mandi tapi nggak tahu cara nyalain airnya!" jawab Nadira dengan polos, sangat polos, seolah tidak ada yang salah dengan kondisinya sekarang. "Om bantu nyalain dong!"
Raka menutup matanya erat. Tangannya mencengkeram pinggiran pintu dengan kuat, mencoba menahan dirinya, mencoba menahan hasrat yang sudah lebih dari setahun ia pendam.
Sejak Nadira kecelakaan, Raka tidak pernah menyentuh wanita lain. Tidak pernah. Ia menahan semua hasratnya, semua kebutuhannya, karena baginya hanya ada satu wanita... Nadira.
Dan sekarang, wanita itu ada di depannya. Telanjang. Tubuhnya yang sempurna, yang halal untuknya... karena mereka sudah menikah.
Tapi Nadira tidak ingat itu.
Bagi Nadira, Raka hanya "Om" asing. Dan kalau Raka menyentuhnya sekarang... itu bukan cinta. Itu pengkhianatan.
"Dira..." Raka mencoba bicara dengan suara yang dibuat se-tenang mungkin meski tubuhnya gemetar. "Kamu... kamu pakai handuk dulu. Tutupin badanmu."
"Kenapa? Nadira nggak punya handuk," jawab Nadira dengan nada bingung.
Raka mengerang frustasi. Ia meraih handuk yang tergantung di rak, masih dengan mata tertutup lalu melemparkannya ke arah Nadira.
"Pakai itu! Tutupin badanmu!" ucapnya dengan nada sedikit keras. Bukan karena marah pada Nadira, tapi karena marah pada dirinya sendiri yang hampir tidak bisa menahan diri.
"Oke..." Nadira mengambil handuk itu dan melilitkannya di tubuhnya dengan canggung, karena ia tidak tahu cara yang benar.
"Sudah?" tanya Raka dengan mata masih tertutup.
"Sudah!"
Raka membuka matanya perlahan, dan melihat Nadira sudah menutup tubuhnya dengan handuk besar, meski agak berantakan.
Ia menarik napas lega, setidaknya sedikit lebih aman sekarang.
"Om, nyalain airnya dong!" pinta Nadira lagi sambil menunjuk shower yang terpasang di dinding.
Raka melangkah masuk dengan hati-hati, menjaga jarak dari Nadira. Ia memutar keran air dengan cepat. Air langsung mengalir deras dari shower.
"Nah, udah nyala. Kamu mandi sendiri ya. Kalau ada apa-apa, panggil Om dari luar. Jangan teriak kayak tadi," ucap Raka cepat, lalu langsung berbalik dan keluar dari kamar mandi secepat yang ia bisa.
Ia menutup pintu dengan keras, lalu bersandar pada pintu dengan napas tersengal.
Kepalanya pusing. Tubuhnya panas. Hasratnya memuncak, hasrat yang sudah ia tahan terlalu lama.
Bayangan tubuh Nadira tadi masih melekat kuat di ingatannya, tubuh yang sempurna, tubuh yang halal untuknya, tapi tidak bisa ia sentuh.
"Ya Allah..." bisik Raka sambil mengusap wajahnya dengan frustasi. "Beri aku kekuatan..."
Ia berjalan cepat ke dapur, membuka kulkas, lalu mengambil botol air dingin. Ia minum langsung dari botol, minum dengan cepat, minum sampai habis, berharap air dingin itu bisa meredakan panas yang menyerang tubuhnya.
Tapi tidak cukup.
Ia mengambil botol kedua. Minum lagi. Habis.
Napasnya masih tersengal. Tubuhnya masih panas.
Raka duduk di lantai dapur, bersandar pada lemari bawah dengan kepala mendongak ke langit-langit.
"Ini ujian..." gumamnya pada dirinya sendiri. "Ini ujian kesabaran. Aku harus kuat. Aku harus..."
Suara air shower masih terdengar dari kamar mandi, suara yang mengingatkannya bahwa Nadira sedang mandi, sedang telanjang, sedang...
Raka menggelengkan kepalanya keras, mencoba mengusir pikiran itu.
"Jangan, Raka. Jangan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Dia istrimu. Tapi dia tidak ingat. Kalau kamu menyentuhnya sekarang, kamu sama saja dengan binatang."
Ia menutup matanya, mencoba menenangkan napasnya, mencoba menenangkan tubuhnya yang masih bergejolak.
---
Sepuluh menit kemudian, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka. Nadira keluar dengan mengenakan baju tidur sederhana yang Raka siapkan, kaos putih longgar dan celana pendek.
Rambutnya masih basah, menetes sedikit. Wajahnya segar setelah mandi.
"Om!" panggilnya dengan ceria sambil berjalan mendekat ke arah Raka yang masih duduk di lantai dapur.
Raka langsung berdiri, mencoba terlihat normal meski tubuhnya masih belum sepenuhnya tenang.
"Sudah selesai mandi?" tanya Raka sambil memaksakan senyuman.
Nadira mengangguk dengan girang. "Iya! Enak banget mandinya! Airnya hangat!"
Raka tersenyum tipis. "Bagus. Sekarang... mau makan malam?"
"Mau! Tapi..." Nadira berhenti, lalu menatap Raka dengan tatapan memohon. "Om, kepangin rambut Nadira dong!"
Raka mengerutkan dahi. "Kepang?"
"Iya! Nadira suka rambut dikepang. Ibu selalu kepangin rambut Nadira sebelum tidur," ucap Nadira dengan mata berbinar, mata yang penuh harap.
Raka terdiam sejenak.
Jujur, ia masih enggan berdekatan dengan Nadira sekarang. Bayangan tubuh telanjang Nadira tadi masih sangat jelas di ingatannya. Tubuhnya masih belum sepenuhnya tenang. Hasratnya masih bergejolak.
Kalau ia harus duduk dekat Nadira, menyentuh rambutnya, mencium aroma tubuhnya yang baru mandi... ia takut tidak bisa menahan diri.
Tapi melihat tatapan memohon Nadira, tatapan polos seorang anak kecil yang hanya ingin rambutnya dikepang... Raka tidak bisa menolak.
"Baik," ucapnya akhirnya dengan suara pelan. "Duduk di sofa. Om ambil sisir dulu."
Nadira langsung berlari ke sofa dengan girang, duduk dengan punggung menghadap sandaran sofa.
Raka berjalan ke kamar, mengambil sisir dan karet rambut dari meja rias Nadira, meja rias yang sudah lama tidak tersentuh. Ia menarik napas dalam sebelum keluar.
"Tenang, Raka. Kamu bisa. Ini hanya mengepang rambut. Tidak ada yang aneh," gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia kembali ke ruang tamu, lalu duduk di belakang Nadira dengan jarak yang ia jaga sedikit lebih jauh.
"Om, deket-deket dong. Nanti nggak keliatan rambutnya," protes Nadira sambil menoleh.
Raka menelan ludah. Ia mendekat, sedikit lebih dekat lalu mulai menyisir rambut Nadira dengan hati-hati.
Rambut Nadira panjang, hitam, lembut. Aroma shampo tercium jelas, aroma yang manis, yang familiar, yang membuat Raka semakin sulit bernapas dengan normal.
Ia mencoba fokus, fokus pada menyisir, fokus pada membagi rambut menjadi tiga bagian, fokus pada mengepang.
Tapi tangannya sedikit gemetar. Napasnya tidak stabil.
"Om, kenapa tangannya getar?" tanya Nadira tiba-tiba dengan nada polos.
Raka tersentak. "A-apa? Nggak kok. Nggak getar."
"Getar kok. Nadira ngerasa," ucap Nadira sambil menoleh sedikit.
"Mungkin Om capek," jawab Raka cepat sambil melanjutkan mengepang, berusaha membuat tangannya lebih stabil meski sulit.
Nadira mengangguk, percaya saja dengan jawaban itu. "Iya ya. Om kan jagain Nadira terus. Om pasti capek."
Raka tersenyum tipis, senyuman yang pahit. "Iya. Om capek."
Capek menahan diri. Capek menahan hasrat. Capek menahan cinta yang tidak bisa tersalurkan.
Ia menyelesaikan kepangan dengan susah payah, dua kepang di kanan dan kiri yang tidak terlalu rapi, tapi cukup bagus.
"Sudah," ucap Raka sambil langsung mundur, menjaga jarak.
Nadira langsung berdiri dan berlari ke kamar, melihat pantulan dirinya di cermin.
"Wah! Bagus! Terima kasih, Om!" teriaknya dengan girang dari dalam kamar.
Raka duduk di sofa dengan napas lega, karena akhirnya selesai. Ia mengusap wajahnya dengan lelah.
"Ya Allah... beri aku kesabaran lebih..." bisiknya pelan.
Nadira keluar dari kamar dengan senyuman lebar, lalu duduk di samping Raka, duduk terlalu dekat.
"Om, Nadira lapar," ucapnya sambil memegang perutnya.
Raka mengangguk. "Oke. Om pesan makanan ya. Nadira mau makan apa?"
"Nasi goreng! Nadira suka nasi goreng!"
Raka tersenyum yang sedikit lebih tulus kali ini. "Oke. Nasi goreng."
Ia mengambil ponselnya dan memesan makanan lewat aplikasi. Sementara menunggu, Nadira duduk di sampingnya, terlalu dekat sambil menonton televisi dengan girang.
Dan Raka duduk di sana, duduk dengan tubuh yang tegang, dengan hasrat yang masih bergejolak, dengan cinta yang tidak bisa ia tumpahkan.
Ini adalah ujian terberatnya.
Bukan kehilangan Nadira.
Bukan menunggu Nadira bangun.
Tapi hidup bersama Nadira... Nadira yang ada di sampingnya, Nadira yang halal untuknya, Nadira yang bisa ia sentuh secara hukum, tapi tidak bisa ia sentuh secara moral.
Karena Nadira tidak ingat siapa dia.
Dan Raka harus bersabar, bersabar dengan ujian yang mungkin lebih berat dari apapun yang pernah ia alami.
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk