NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pemberontakan Pertama

​Jumat sore. Pukul 16.00 WIB.

​Bagi pelajar ambisius se-Jakarta Selatan, ini adalah golden hour. Waktunya masuk ke dalam ruang-ruang ber-AC dingin di lembaga bimbingan belajar (bimbel) elit, mengerjakan ratusan soal try out, dan mempersiapkan masa depan yang cerah.

​Julian berdiri di depan gedung bimbel "Cendekia" di kawasan Fatmawati. Supir pribadinya, Pak Wahyu, baru saja menurunkannya.

​"Nanti Bapak jemput jam delapan malam ya, Den. Sesuai jadwal," kata Pak Wahyu sopan.

​"Iya, Pak. Hati-hati," jawab Julian.

​Mobil sedan hitam ayahnya melaju pergi. Julian berbalik menghadap pintu kaca gedung bimbel. Biasanya, kakinya akan melangkah masuk secara otomatis. Otaknya sudah disetel untuk mode: Belajar - Pulang - Tidur.

​Tapi hari ini, saku celananya bergetar.

​Alea:

SOS. Bang Jago (vendor sound) cuma bisa ketemu sekarang di PIM 2. Dia bawa bukti invoice asli yang dimark-up Rian. Gue nggak ngerti cara baca rincian pajaknya. Lo harus ikut.

​Julian menatap layar HP-nya. Jantungnya berdegup kencang.

​Di satu sisi, di dalam gedung itu, ada simulasi Olimpiade Fisika paket ke-3. Absensinya langsung dilaporkan ke orang tua via aplikasi. Jika dia bolos, ayahnya akan mendapat notifikasi: Siswa Julian Pradana TIDAK HADIR.

​Di sisi lain, bukti korupsi Rian ada di depan mata. Kunci kebebasannya. Dan Alea membutuhkannya.

​Julian menatap pintu bimbel, lalu menatap jalan raya yang macet.

​"Persetan," bisik Julian. Kata kasar pertama yang diucapkannya tahun ini.

​Julian mengetik balasan cepat.

​Julian:

Tunggu di lobi selatan PIM. Saya OTW.

​Lalu, Julian melakukan hal gila. Ia berjalan menuju pos satpam bimbel, menemui Mbak Resepsionis yang sudah kenal baik dengannya.

​"Mbak, maaf. ID card saya tertinggal di mobil. Tapi HP saya lowbat, aplikasi absen error," Julian berbohong dengan wajah datar andalannya—kemampuan acting yang makin terasah sejak jadi Phantom. "Bisa tolong absenkan manual? Saya mau beli minum dulu di minimarket sebentar."

​"Oh, Mas Julian. Boleh, Mas. Udah saya input hadir ya," kata Mbak Resepsionis tanpa curiga sedikit pun. Siapa yang bakal curiga sama Julian Pradana?

​"Terima kasih, Mbak."

​Julian keluar dari gedung, tapi bukannya ke minimarket, ia menyetop taksi Bluebird yang lewat.

​"Pondok Indah Mall, Pak. Lewat jalan tikus. Ngebut," perintah Julian.

​Di dalam taksi, Julian melepas dasinya dan melonggarkan kancing teratas kemejanya. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin AC, tapi karena adrenalin. Dia baru saja memalsukan absen bimbel seharga jutaan rupiah.

​Dia resmi menjadi pembangkang.

​Pondok Indah Mall (PIM) ramai seperti biasa. Anak-anak gaul Jakarta Selatan berseliweran dengan outfit kekinian.

​Julian turun di lobi selatan, celingukan. Ia merasa seperti alien. Masih pakai seragam sekolah (meski dasinya sudah masuk tas), sementara orang-orang di sini terlihat santai.

​"Woi! Junaedi!"

​Alea muncul dari balik pilar, mengenakan jaket denim kebesaran dan topi baseball terbalik. Dia menarik lengan Julian cepat-cepat.

​"Jangan bengong di tengah jalan. Nanti ada tetangga lo yang liat," bisik Alea.

​"Bang Jago di mana?" tanya Julian to the point.

​"Di food court. Lagi makan pempek. Ayo."

​Mereka naik eskalator. Julian terus-menerus melihat sekeliling, parno setengah mati.

​"Santai, Jul. Lo kayak buronan narkoba," ledek Alea.

​"Ini pertama kalinya saya bolos bimbel, Alea. Risikonya fatal. Kalau Ayah tau..."

​"Kalau kita berhasil jatuhin Rian, Ayah lo bakal maafin lo. Percaya sama gue," Alea mencoba menenangkan, menggenggam lengan baju Julian.

​Mereka sampai di meja Bang Jago. Pria bertato dengan tindik di alis itu sedang menyeruput cuko pempek.

​"Eh, Neng Alea. Ini temennya yang pinter itung-itungan?" sapa Bang Jago ramah.

​"Iya, Bang. Ini akuntan pribadi band kita," kata Alea asal.

​Bang Jago menyodorkan sebuah map cokelat. Julian membukanya. Di dalamnya ada dua lembar kertas.

​Kertas pertama: Invoice resmi dari vendor ke OSIS. Total: Rp 45.000.000.

Kertas kedua: Salinan Invoice yang diserahkan Rian ke sekolah (yang didapat Julian dari data cloud semalam). Total: Rp 65.000.000.

​Mata Julian menyipit. "Selisih 20 juta. Rian memalsukan stempel dan tanda tangan Anda, Bang."

​"Nah itu!" Bang Jago gebrak meja pelan. "Gue kagak terima, Bro. Gue dapetnya 45, pajaknya gue yang nanggung, eh dia enak-enakan ngambil 20 juta bersih. Mana dia minta cashback lagi 5 juta dari gue. Maruk bener tuh bocah."

​"Ini bukti kuat," gumam Julian, matanya berbinar. "Dengan ini, kita bisa buktikan penggelapan dana. Ini tindak pidana pemalsuan dokumen."

​"Boleh dibawa kan, Bang?" tanya Alea.

​"Bawa aja. Gue udah print rangkap. Asal jangan bawa nama gue pas ngelabrak, bilang aja nemu kececer," kata Bang Jago sambil mengedipkan mata.

​Julian memasukkan dokumen itu ke dalam tas ranselnya, menjaganya seolah itu adalah kode nuklir.

​"Makasih, Bang. Lo penyelamat," kata Alea.

​Setelah Bang Jago pergi, Julian dan Alea berdiri di tengah keramaian food court.

​"Misi sukses," kata Alea sambil tersenyum lebar. "Sekarang lo balik ke bimbel?"

​Julian melihat jam tangannya. 17.15.

​"Nggak bisa. Kalau saya balik sekarang, resepsionis bakal curiga kenapa saya 'beli minum' selama satu jam. Dan Pak Wahyu baru jemput jam 8 malam."

​"Terus?" Alea nyengir. "Lo gelandangan dong sampe jam 8?"

​Julian menghela napas. "Sepertinya begitu. Saya harus sembunyi. Kalau saya keluyuran di mal pake seragam, risiko ketemu kenalan Ayah terlalu besar."

​Alea berpikir sejenak, lalu matanya berbinar nakal.

​"Gue tau tempat sembunyi paling aman, gelap, dan nggak bakal ada yang nyariin lo."

​"Di mana? Gudang mal?"

​"Bukan. Bioskop."

​Lima belas menit kemudian, Julian duduk di kursi empuk bioskop XXI. Di tangannya ada popcorn karamel ukuran besar. Di sebelahnya, Alea sedang menyedot Coca-Cola.

​Film yang mereka tonton: Film horor Indonesia terbaru. Pilihan Alea, tentu saja. Julian benci film horor karena menurutnya tidak logis.

​"Kenapa harus horor?" bisik Julian protes saat lampu bioskop mulai padam. "Kenapa nggak film dokumenter alam?"

​"Biar seru! Lagian studio film horor biasanya sepi jam segini, jadi aman," alasan Alea.

​Film dimulai. Suara jumpscare menggelegar.

​Alea menonton dengan santai sambil mengunyah popcorn. Julian duduk tegak, menganalisis setiap adegan.

​"Itu hantunya cuma efek CGI murah," bisik Julian saat hantu pocong muncul. "Secara fisika, hantu tidak bisa menapak tanah karena massanya nol."

​"Sssst! Diem napa, Jul! Nikmatin aja kagetnya!" Alea menyumpal mulut Julian dengan segenggam popcorn.

​Julian mengunyah popcorn itu dengan terpaksa. Manis.

​Di pertengahan film, adegan semakin mencekam. Hantu utamanya merangkak keluar dari sumur.

​Alea, yang sok berani, ternyata kaget juga. Saat sound effect berbunyi JRENG! dengan volume maksimal, Alea refleks memegang lengan Julian erat-erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu cowok itu.

​Julian tersentak.

​Wangi sampo stroberi Alea kembali menyerang indra penciumannya. Bahu Alea yang gemetar menempel di lengannya.

​Julian menoleh pelan. Di kegelapan bioskop, dia bisa melihat profil wajah Alea yang ketakutan tapi penasaran mengintip lewat sela jari.

​Perlahan, Julian melepaskan ketegangannya. Dia tidak menepis Alea. Dia membiarkan gadis itu bersandar padanya.

​Tangan Julian yang bebas bergerak ragu-ragu di sandaran kursi Alea. Ingin merangkul, tapi takut. Akhirnya, tangannya hanya berhenti di sana, melindungi tanpa menyentuh.

​"Hantunya udah pergi belum?" bisik Alea.

​"Belum. Masih di pojok. Dia nungguin kamu buka mata," goda Julian.

​Alea mencubit lengan Julian. "Jahat!"

​Julian tertawa kecil.

​Di momen itu, di dalam kegelapan bioskop, Julian merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Kebebasan.

​Dia sedang membolos bimbel. Dia sedang berduaan dengan cewek yang disukainya. Dia sedang melanggar semua aturan yang dibuat ayahnya. Dan rasanya... luar biasa.

​"Alea," bisik Julian.

​"Apa?" Alea mendongak, wajah mereka sangat dekat.

​"Ternyata membolos itu... menyenangkan."

​Alea tersenyum di kegelapan. Mata cokelatnya bersinar memantulkan cahaya layar film.

​"Selamat datang di dunia remaja normal, Julian Pradana," bisik Alea.

​Mereka saling bertatapan. Layar film menampilkan adegan kilat menyambar, menerangi wajah mereka berdua sesaat. Jantung Julian berpacu lebih cepat dari adegan kejar-kejaran di film.

​Julian mencondongkan wajahnya sedikit. Alea tidak mundur.

​Tapi kemudian...

​DRRT DRRT.

​HP Julian di saku bergetar panjang. Alarm.

​Pukul 19.30. Persiapan Pulang.

​Momen magis itu pecah. Julian menarik diri, menghela napas panjang. Realita memanggil.

​"Sudah waktunya," kata Julian, suaranya terdengar kecewa. "Saya harus kembali ke lokasi penjemputan sebelum Pak Wahyu sampai."

​Alea mengangguk, juga terlihat sedikit kecewa. "Oke. Ayo, Cinderella. Kereta kencananya udah nunggu."

​Mereka keluar dari bioskop sebelum film benar-benar selesai.

​Di depan lobi bimbel Cendekia.

​Julian turun dari taksi, merapikan kembali dasinya, memasang wajah lelah seolah habis diperas otaknya selama 4 jam.

​Dua menit kemudian, mobil sedan hitam ayahnya datang. Pak Wahyu membuka kaca jendela.

​"Sudah selesai, Den?"

​"Sudah, Pak. Materinya berat sekali hari ini," jawab Julian lancar. Kebohongan itu meluncur mulus.

​Julian masuk ke mobil. AC mobil yang dingin menyambutnya. Di kursi belakang, ia memeluk tas ranselnya yang berisi bukti korupsi Rian.

​Saat mobil melaju, Julian melihat ke luar jendela.

​Di trotoar seberang jalan, Alea berdiri di samping motor matic-nya. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum miring.

​Julian membalas lambaian itu dengan gerakan jari kecil di kaca jendela.

​Malam ini, Julian pulang bukan sebagai anak penurut. Dia pulang sebagai pemberontak yang membawa senjata untuk menjatuhkan musuhnya. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak sabar menunggu hari esok.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!