NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Sugar Daddy KR

"Aku berjanji," kata Lingga, suaranya serak. "Aku bersumpah, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sekarang, kau boleh pergi."

Ayu mengangguk. Ia meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Lingga sendirian dengan penyesalan dan keinginan yang tak terkelola.

Saat Ayu kembali ke kamar tamu, ia menyentuh bibirnya. Rasa ciuman itu, meskipun singkat, masih membekas. Ia menyadari: Lingga Mahardika adalah ancaman terbesar bagi kontrak dan masa depannya, tetapi sekarang, ia juga tahu bahwa dirinya sendiri adalah ancaman bagi kendali Lingga.

Dan di tengah rasa takut itu, ada gejolak aneh yang samar-samar terasa seperti... antisipasi.

Lingga bergegas keluar dari perpustakaan, meninggalkan Ayu sendirian dengan mug cokelat panas, partitur musik melankolis, dan detak jantung yang masih berdenyut kencang karena keintiman yang tiba-tiba itu.

Ayu menyentuh bahunya, tempat tangan Lingga tadi mencengkeram. CEO itu baru saja memelukku.

Dan aku menyukainya.

Ayu segera menggelengkan kepala, keras. Tidak. Aku tidak menyukainya. Itu hanya terkejut. Itu hanya... kehangatan fisik yang belum pernah kuterima. Ia mencoba meyakinkan dirinya, tetapi sensasi ciuman itu jauh lebih sulit untuk diabaikan daripada kehangatan pelukan.

Ciuman itu adalah bom yang baru saja menghancurkan garis pertahanan antara akal dan perasaan.

Lingga, yang kini berdiri sendirian di tengah perpustakaan luas, perlahan-lahan menyentuh bibirnya sendiri. Rasa Ayu—campuran rasa cokelat, rasa murni dari kulitnya yang lembut, dan kejutan yang samar—masih ada.

Janji yang baru saja ia buat terasa seperti rantai besi yang mengikat dirinya sendiri. Ia berjanji untuk menjauh, tetapi setiap serat dalam dirinya berteriak untuk menarik Ayu kembali dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

Ia melihat mug cokelat panas Ayu yang mengepul di meja. Ia berjalan ke sana, mengambil mug itu, dan menyesap isinya. Rasa manis itu terasa hambar dibandingkan dengan rasa bibir Ayu.

Lingga mendengus, frustrasi. Ia mengambil keputusan cepat. Ayu membutuhkan uang tunai. Gadis cantik dan cerdas itu membutuhkan beasiswa. Lingga harus memastikan ia mendapatkan itu, bukan hanya sebagai penebusan atas ciuman yang dicuri, tetapi sebagai investasi pada aset yang kini ia tahu sangat ia inginkan. Ia akan menghukum dirinya sendiri, tetapi tidak dengan menghukum Ayu secara finansial.

Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan teks ke Ken.

Lingga:

[Batalkan pemotongan 100% gaji Ayu. Itu hukuman yang konyol]

Ken:

[Baik, Tuan. Jadi, kembali ke pemotongan 80% yang lama?]

Lingga mengetik lagi, cepat.

Lingga:

[Tidak. Batalkan pemotongan gajinya seluruhnya. Kembalikan gajinya ke 100%. Dia bekerja untukku, dan dia telah membuktikan dirinya jauh lebih berharga daripada gaji penuh Aleya. Ini bukan negosiasi. Lakukan sekarang.]

Lingga:

[Dan Ken, jangan pernah berani memberitahu Ayu tentang perubahan gaji ini. Biarkan dia berpikir pemotongan 100% itu masih berlaku. Ini adalah urusanku.]

Ken:

[Saya mengerti, Tuan. Kerahasiaan diutamakan. Saya juga sudah menyiapkan dokumen perjalanan Anda.]

Lingga:

[Bagus. Aku akan pergi ke London besok pagi untuk kunjungan bisnis mendadak selama 5 hari. Siapkan jadwal.]

Lingga harus melarikan diri. Melarikan diri dari Lantai 30, melarikan diri dari mata Ayu, dan melarikan diri dari pengkhianatan hasratnya sendiri. Ia membutuhkan jarak, sekeras apa pun janji yang ia buat. Dengan mengembalikan gaji penuh Ayu secara diam-diam, Lingga merasa ia telah membeli sedikit waktu untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Sementara itu, Ayu kembali ke kamar tamu. Ia duduk di tepi tempat tidur, menyentuh bibirnya. Rasa ciuman itu, meskipun singkat, masih membekas. Lingga telah menawarkan hukuman finansial terbesar, dan sebagai imbalannya, ia mendapat jaminan profesionalisme.

Ia memeriksa ponsel kerjanya. Tidak ada pesan dari Ken tentang pemotongan gaji. Hanya satu notifikasi penting.

[Nona Ayu, Tuan Lingga akan melakukan perjalanan bisnis mendadak ke London besok pagi untuk kunjungan 5 hari. Mohon siapkan jadwal dan pastikan semua dokumen yang relevan sudah siap sebelum pukul 05:00.]

Ayu mengangguk. Setidaknya, ia akan memiliki waktu lima hari tanpa kehadiran Lingga yang mengintimidasi. Ia harus fokus bekerja keras, membuktikan bahwa ia layak mendapatkan nol rupiah, dan memastikan Lingga menghormati janji ‘Jarak Profesional’ mereka.

Ia memenangkan janji itu. Gajinya mungkin hilang, tetapi batas dirinya telah diselamatkan. Untuk saat ini.

Lima hari berlalu dalam keheningan yang menyesakkan di Lantai 30. Ayu bekerja lebih keras dari biasanya, termotivasi oleh keyakinan bahwa ia bekerja tanpa gaji. Ia menyelesaikan semua laporan yang tertunda, mengatur kembali arsip digital Lingga, dan bahkan mulai mempelajari detail negosiasi Mahardika Group di London, menyiapkan briefing komprehensif untuk kepulangan Lingga. Ia menganggap ini adalah cara untuk membayar ‘utang’ profesionalismenya.

Sementara itu, di London, Lingga menjalankan bisnisnya dengan efisiensi yang brutal. Namun, malam-malamnya dipenuhi kegelisahan.

Jarak fisik tidak serta-merta menciptakan jarak emosional. Ia terus memikirkan tawa Ayu, kemudian ciuman yang dicuri itu, dan akhirnya, ultimatum berani yang dilontarkan Ayu.

Di sisi lain, Ken memproses gaji penuh Ayu (100%), memastikan dana itu masuk tepat waktu ke rekening bank Ayu, persis seperti yang diperintahkan Lingga. Ken mengamati Ayu dari jauh. Ken tahu, jika Ayu tahu Lingga telah membayar gajinya penuh sambil membiarkannya berpikir gajinya nol, itu adalah manuver kekuasaan yang kejam. Lingga sedang menguji integritas dan ambisi Ayu tanpa henti.

Pagi hari di hari keenam, Lingga tiba kembali di penthouse. Ia tampak lelah, tetapi ketenangan dinginnya telah kembali seperti baju besi yang sempurna. Begitu ia melangkah keluar dari lift pribadi, ia melihat Ayu sudah berdiri tegak di dekat pintu ruang kerja, siap dengan briefing di tangannya.

"Selamat datang kembali, Tuan Lingga," kata Ayu, nadanya datar dan profesional, tanpa kehangatan yang pernah ia tunjukkan pada malam cokelat panas itu. "Laporan ringkasan perjalanan London dan tindak lanjutnya ada di sini."

Lingga hanya mengangguk kecil, bahkan tanpa menoleh sepenuhnya. "Letakkan saja di mejaku," perintahnya, suaranya kembali menjadi bariton yang kaku dan tanpa emosi.

Ia berjalan melewati Ayu, menciptakan jarak fisik yang tegas, persis seperti yang Ayu minta. Dinding profesionalisme di sekitar Lingga kini setebal baja.

Lingga duduk di balik mejanya, mengambil napas dalam. "Selama lima hari kau bekerja tanpa gaji, Ayu. Apakah kau menyesal menolak tawaran tunjangan tambahan itu?" tantang Lingga, menatap lurus ke mata Ayu.

Ayu membalas tatapannya, punggungnya lurus. "Tidak, Tuan Lingga. Saya bekerja untuk pendidikan dan integritas saya. Gaji hanya kompensasi. Selama saya bisa belajar di sini, saya akan terus bekerja. Lagipula, saya yakin Anda tidak akan mempertaruhkan reputasi Mahardika Group hanya demi menghemat gaji saya selama satu bulan."

Lingga menyeringai kecil, menyembunyikan kekagumannya pada keteguhan gadis itu. Ia tidak menyebutkan bahwa ia telah membatalkan pemotongan gajinya. Ia akan menyimpan informasi itu sebagai kartu truf rahasia.

"Bagus," kata Lingga. "Sekarang, mulai bekerja. Aku sudah membuang banyak waktu di London. Batas kita sudah jelas, Ayu. Jangan pernah coba-coba melanggarnya lagi, dan aku juga tidak akan melanggarnya."

Ayu menarik napas dalam, bahunya tegak. Tatapannya dingin dan penuh keyakinan, sebuah tiruan sempurna dari sikap profesionalisme Lingga sendiri.

"Seperti yang Anda inginkan, Tuan," jawab Ayu, suaranya mantap dan tanpa getaran sedikit pun. Ia bahkan sedikit tersenyum—bukan senyum lembut, melainkan senyum puas yang tersembunyi.

"Saya yakin Anda tidak akan melanggarnya, karena seorang CEO Grup Mahardika pasti tahu persis di mana letak integritasnya."

Senyum Lingga seketika menghilang. Kepercayaan diri Ayu, yang seharusnya ia kagumi, kini menusuknya, seolah Ayu sedang mengembalikan ucapannya sendiri padanya. Gadis itu tidak tampak terluka, tidak tampak merana, sebaliknya, ia tampak lebih kuat dan lebih bertekad.

Lingga mendesis pelan. Ia telah kembali ke Jakarta dengan harapan melihat sedikit keraguan atau bahkan sedikit kerinduan di mata Ayu, tetapi yang ia temukan hanyalah dinding yang kini jauh lebih tebal dan kokoh—dinding yang dibangun dari harga diri Ayu sendiri.

Rasa kesal menyelimuti dirinya, kesal karena dia telah kehilangan kendali atas reaksi gadis itu.

"Kerjakan proposal Himpunan Bank milik Pak Santoso. Harus selesai sebelum makan siang," perintah Lingga tajam, mengalihkan pandangannya, tidak ingin Ayu melihat betapa terganggunya ia.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!