"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tak Terjelaskan
"Kak, Alisya lapar?” rengek adiknya sambil memegang perut.
Rara menoleh ke seluruh penjuru rumah. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Alea sudah pergi bermain sejak tadi, sementara Rara masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum ada habisnya.
Ia mengintip ke balik tudung saji. Hanya tersisa nasi dingin di dalam bakul. Ibu tirinya sedang tidak di rumah, perempuan itu pergi memantau sawah. Rara menggeser kursi kayu di dekat meja makan, lalu meraih tas plastik yang tergantung di atas. Di dalamnya ada mangkuk kecil berisi sambal. Ia mengambil sedikit, secukupnya untuk Alisya, lalu merapikannya kembali agar tak menimbulkan kecurigaan.
Rara dan Alisya makan dengan lahap, namun terburu-buru. Takut jika sewaktu-waktu ada yang memergoki mereka.
Selesai makan, Rara segera mencuci dan merapikan peralatan dapur. Begitulah hari-harinya berjalan. Ayah semakin jarang berada di rumah. Pulang dua hari, lalu kembali pergi ke hutan.
Pagi itu, Alea terisak. Tangisnya pecah, tubuhnya mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu.
“Ada apa, Alea?” suara ibu tiri terdengar cukup keras.
“Uang aku hilang, Bu!” ucap Alea setengah berteriak. Matanya melirik tajam ke arah Rara dan Alisya.
“Jangan-jangan kamu yang ambil uangku?” tuduhnya tanpa ragu.
“Iya! Jangan-jangan mereka!” timpal Niko, saudara laki-laki Alea.
“Tidak, Bu. Rara dan Alisya bahkan tidak punya uang jajan,” Rara membela diri, suaranya bergetar.
“Sudah! Sudah!” potong perempuan itu.
“Kalau sampai ketahuan kamu yang ambil, awas ya!”
Rara dan Alisya hanya menunduk. Mereka sama sekali tidak tahu-menahu soal uang itu. Tak ada pembelaan lain yang bisa mereka ucapkan, karena sejak awal keputusan seolah sudah dijatuhkan.
Sejak hari itu, Rara menjadi jauh lebih berhati-hati. Ia belajar menakar setiap gerak dan kata, sadar bahwa kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal di mata Ibu sambung dan saudara tirinya.
Saat tak sengaja menengok ke samping, Rara mendapati Niko tersenyum angkuh. Senyum yang membuat dadanya menghangat oleh firasat tak enak, entah mengapa, Rara merasa anak laki-laki itu tahu lebih banyak tentang uang Alea yang hilang.
Ayam berkokok cukup keras keesokan paginya. Suara gemericik sisa air hujan yang jatuh dari atap membuat udara terasa semakin dingin. Rara terbangun oleh suara samar dari ruang depan.
Ayahnya telah pulang.
“Sudah pulang, Bang?” sapa ibu tiri dengan suara ramah. Ia sigap menyambut tas dari tangan ayah.
Wajah lelaki itu tampak lelah. Rara hanya melirik sekilas. Ayah terasa semakin jauh. Kehangatan terakhir yang ia ingat hanyalah saat mereka menonton pasar malam bersama, dan itu terasa seperti kenangan dari kehidupan lain.
“Rara, cepat bangun. Mandi sekalian bangunkan adikmu,” suara ibu tiri terdengar lembut. Terlalu lembut, karena ayah ada di sana.
“Iya, Bu,” jawab Rara pelan. Ia sengaja menunjukkan sikap takut di depan ayahnya. Namun lelaki itu tak menggubris. Ia hanya menyalakan rokok.
Tak mendapatkan simpati dari ayahnya, Rara melangkah menuju sumur. Dalam perjalanan tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya dari belakang.
“Sakit, Bu,” ucap Rara meringis.
“Apa maksudmu bersikap seperti tadi?” bisik perempuan itu dengan nada keras.
“Mau cari simpati di depan ayahmu?”
Rara menunduk, menggeleng kecil. Tak ada daya untuk melawan.
“Awas kamu. Jaga sikap di depan ayahmu,” bentaknya tertahan, lalu pergi begitu saja.
Alisya mendekat, menggenggam tangan kakaknya erat-erat. Tatapannya penuh iba.
Setelah mandi, Rara bersiap berangkat sekolah.
“Rara, Alisya, sarapan dulu sebelum berangkat,” tawar ibu tiri dengan senyum ramah. Sikap yang tak pernah muncul saat ayah tak ada.
Rara dan Alisya saling berpandangan, lalu menuruti.
Usai sarapan, perempuan itu mengeluarkan lembaran dua ribuan, masing-masing satu. Untuk pertama kalinya, Rara merasakan uang saku sejak memiliki ibu baru.
“Alea, berangkat bareng Rara dan Alisya, ya. Niko, jagain adik-adikmu,” ucapnya manis.
Rara menatap perempuan itu. Antara muak dan benci.
Ingin rasanya ia menceritakan semuanya pada ayah. Tentang tangan yang mencekal, ancaman yang berbisik, dan kepura-puraan yang menyesakkan. Namun Rara tahu, ia tak punya tempat untuk didengar. Di mata ayahnya, perempuan itu selalu menjadi malaikat tak bersayap.
Rara melangkahkan kaki menuju sekolah. Jika ayah bukan lagi tempatnya pulang, Alisya sekarang adalah alasan Rara untuk bertahan. Andai saja ibunya masih ada, sekalipun tidak sekolah hidupnya lebih baik dari sekarang.