NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

...~Pertempuran Memilah Cincin~...

Arka baru saja menyesap teh yang disuguhkan oleh Ibu Naira di ruang tengah, sebelum akhirnya hampir tersedak melihat pemandangan pagi yang seketika menyegarkan matanya.

Naira berdiri di ambang pintu penghubung ruang dapur dan kamar mandi. Gadis itu masih mengenakan pakaian tidurnya semalam, dengan rambut acak-acakan hingga beberapa anak rambut mencuat ke sana kemari. Wajahnya tampak sedikit basah, jelas baru saja dicuci. Dan satu poin menarik yang menangkap perhatian Arka; sudut bibir gadis itu masih meninggalkan bekas putih samar dari pasta gigi.

"Lho, Mas Arka kok ada di sini?" tanya gadis itu pelan sembari mengucek matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaran.

"Ada urusan sama kamu," jawab Arka tenang sambil meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan.

Gadis itu berjalan pelan mendekat ke arah Arka. "Apa, Mas?"

Aroma pasta gigi mint yang segar spontan tercium samar oleh hidung Arka saat jarak mereka mengikis. "Mau ajak kamu beli cincin."

Naira melirik ke arah jam dinding yang melekat di tembok ruang tengah. Jarumnya masih menunjukkan sekitar pukul tujuh pagi. "Jam segini?"

"Memang belum buka?" tanya Arka polos. Otak militernya yang biasa memulai hari sebelum subuh mendadak tidak sinkron dengan jam operasional pasar.

"Belumlah, Mas. Masih nanti jam delapan paling cepat. Kalau telat, ya, jam sepuluh," sahut Naira.

Arka buru-buru mengalihkan pandangannya sesaat, mencoba menyembunyikan rasa kikuk sekaligus gemas yang bergejolak di dadanya. "Kalau begitu kamu sudah sarapan? Kita makan di luar saja."

"Naira belum mandi, Mas," cicit gadis itu, menunduk malu menyadari penampilannya yang masih acak-acakan.

Arka hampir saja kelepasan tertawa melihat respons jujur dan wajah pasrah gadis di hadapannya itu.

"Mandi sana. Aku tunggu."

Naira buru-buru ke kamarnya sesaat sebelum akhirnya melenggang masuk ke kamar mandi membawa pakaian ganti. Perlu beberapa menit untuk gadis itu bersiap

"Nak Arka." Suara Pak Doyok terdengar mendekat.

Arka lebih dulu mencium tangan ayah Naira. "Mau pergi sama Naira, Pak."

"Kemana?"

Arka diam sesaat. "Beli cincin."

"Oalah, ya udah. Kalau begitu Bapak pergi dulu ke sawah."

Setelah kepergian Ayah Naira, di ambang pintu penghubung yang tengah. Naira berdiri dengan dress floral selutut. Langkah gadis itu melewati Arka hingga tercium samar aroma citrus sabun.

"Wangi kamu."

Naira menoleh. "Aku aja belum pake minyak wangi."

"Sabun kamu."

...----------------...

Suasana pasar dekat kecamatan di hari libur nasional cukup padat dan ramai. Aroma bumbu makanan dan sayuran segar saling berpadu di udara. Belum lagi lorong-lorong sempit yang baru saja Naira dan Arka lalui demi membeli soto kesukaan Naira untuk sarapan mereka.

"Enak gak, Mas?" tanya Naira ketika mereka akhirnya berhasil keluar dari lorong panjang yang penuh sesak oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya.

"Enak," jawab Arka singkat namun tulus.

Naira tersenyum lebar, tampak bangga. "Itu soto favoritku sejak kecil."

Arka menganggukkan kepalanya, diam-diam mencatat dalam ingatan bahwa warung soto di sudut pasar kecamatan adalah tempat wajib yang akan dikunjunginya setiap pulang kampung.

"Di mana tokonya, Nai?" tanya Arka kemudian.

Naira kembali tersenyum lebar, lalu menunjuk pada deretan kios di area muka pasar. "Itu, Mas. Aku sering diajak Ibu buat beli perhiasan di sana."

Jemari gadis itu terarah pada satu kios dengan nama yang diambil dari tokoh pewayangan. Tempat itu terlihat cukup ramai oleh pembeli.

"Ayo, Mas," ajak Naira.

Langkah keduanya berjalan beriringan. Beberapa kali tangan Arka bergerak sigap merengkuh tanpa menyentuh pundak Naira, melindunginya dari senggolan pria-pria lain yang berpapasan di tengah ramainya pasar. Menyadari perlakuan protektif itu, Naira menerbitkan seulas senyum tipis di bibirnya.

Hingga akhirnya, mereka sampai di toko emas yang dimaksud.

Aroma khas logam bersatu dengan wewangian samar di dalam ruangan. Deretan emas di balik etalase kaca berkilau di bawah sorotan kap lampu yang dipasang rendah. Langkah Arka terus mengekor di belakang Naira yang mulai mendekat ke salah satu sisi etalase.

Sebelumnya, Arka pikir membeli perhiasan perempuan akan jauh lebih mudah daripada menghafal strategi taktis. Namun sekarang, ia akhirnya paham betul mengapa sang ayah bersikeras memintanya untuk mengajak Naira langsung.

Di balik kaca itu, deretan pola, jenis, karat, dan ukuran berjajar rapi. Bentuknya bervariasi dari yang bermata kecil hingga besar, dari yang berdesain paling sederhana sampai yang terlihat begitu mewah. Otak taktis Arka mendadak lumpuh melihat semua pilihan itu.

"Mas, ini bagus gak?" tanya Naira lebih dulu. Satu cincin sudah tersemat di jari manisnya.

Untuk sesaat, Arka melihatnya dengan saksama. Ukuran mata permata dan warna merahnya yang mencolok terasa terlalu kontras di kulit Naira. "Kurasa ini bukannya gak bagus. Cuma kurang cocok buat acara kita."

Naira mematut tangannya beberapa kali di depan kaca etalase. "Benar juga."

Gadis itu kembali memilih, beberapa kali menunjuk pada cincin-cincin dari balik etalase. Pramusaji di sana dengan sigap mengambilkan beberapa pilihan Naira, sementara Arka memperhatikan bagaimana gadis itu tampak cukup antusias memilih cincin untuk mereka.

Beberapa kali Naira mencobanya di jari manis. Ada yang kebesaran, ada juga yang menurutnya tidak pas sama sekali.

"Mas punya pilihan gak?" Akhirnya gadis itu menyerah, menatap Arka meminta bantuan.

Arka menarik sudut bibirnya tipis. Ia mulai mengedarkan pandangan, meneliti deretan perhiasan itu—sesuatu yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya. Ini jelas bukan senapan bersejarah seperti yang pernah dipertunjukkan padanya, atau jenis senapan serbu baru dalam etalase kaca di kantor komandannya.

Ini terasa lebih mirip ujung tombak pertempuran untuk Arka. Naira baru saja menyuruhnya memilih, sedangkan Arka tak pernah tahu seleranya sendiri. Perhatian Arka mulai menilai satu per satu, hingga matanya tertuju pada satu cincin emas putih dengan kilauan satu mata berlian yang sederhana.

"Mbak, yang itu. Nomor tiga dari kanan, baris keempat."

Pramusaji itu segera mengambilkan apa yang dimaksud oleh Arka.

Naira menatap cincin itu lebih lama. Sederhana, hanya ada satu mata tanpa ukiran yang berlebihan. Polos, namun terlihat jauh lebih anggun saat dikenakan. Gadis itu segera mencobanya di jari manis. Pas. Bahkan sangat pas.

Arka tersenyum bangga dalam hati. Pertempuran kali ini berhasil dia menangkan.

"Bagaimana, Nai?"

"Bagus."

"Kamu suka?"

"I-iya."

"Mbak, yang ini satu," ucap Arka mantap pada pramusaji.

"Lho!" Naira menyela cepat, menahan tangan Arka.

"Kenapa?" Arka bingung.

"Mas Arka gak beli?"

"Harus?" Arka mengerjap.

Gadis itu mengernyit lembut, merasa gemas dengan kepolosan calon suaminya. Ia lalu menoleh pada pramusaji toko. "Mbak, coba carikan yang modelnya serasi sama cincin ini untuk prianya, ya."

Seketika itu juga Arka terdiam. Kepuasan menangnya menguap begitu saja saat deretan cincin polos khusus pria diletakkan di atas etalase oleh sang pramusaji.

Arka menelan ludah samar. Ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Netra gelap Arka memperhatikan satu per satu cincin pria di hadapannya yang terlihat sama saja.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!