Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
SELAMAT MEMBACA !!!
Desas-desus di Batalyon Kodam Jaya yang mengatakan akan ada atasan yang baru menggantikan atasannya yang tersandung kasus pelecehan kemarin.
"Semoga atasan kita kali ini, orang baik. Dan pengertian dengan bawahannya. Nggak seperti atasan yang kemarin sudah tegas, otoriter tapi dibalik sikapnya itu hanya buat menutupi sikapnya yang nggak punya hati nurani," ucap salah satu anggota di Batalyon.
"Amin amin ya robbal alamin," jawab semua anggota yang sedang berkumpul setelah olah raga pagi.
***********
Di rumah kediaman Freya sudah ramai sejak subuh tadi, kedua anak kecil itu sudah nggak sabar ingin mengambil hadiah yang didapatkannya kemarin.
"Bang! Nanti pulangnya jam berapa?" tanya Rena kepada Arya.
"Ya mungkin seperti biasanya, Dek. Paling sore ada apa nih?" tanya Arya menanggapi pertanyaannya Rena.
Rena terdiam setelah mendengar jawaban dari Arya, "Hmmm...aku sudah nggak sabar ingin mengambil hadiahnya, Bang," jawab Rena dengan tersenyum.
"Biar Abang saja yang mengambilnya, Sayang. Mau ikut Mommy ke Perusahaan nggak? Tapi bukan ke perusahaannya Abang. Nanti Mommy ajak juga ke Restoran milik Mommy, mau ikut nggak?" tanya Freya kepada dua bocil itu.
"Mau...mau aku ikut Mom!" seru Runa dengan semangat.
"Aku juga ikut, Mom. Aku mau lihat perusahaan Mommy, pasti besar sekali," jawab Rena dengan mata berbinarnya.
Freya terkekeh mendengar jawaban dari kedua bocil itu. Vindra juga sangat senang karena mereka sudah nggak takut lagi dan sudah bisa menunjukan expresi wajahnya.
Arya, Yana dan Luna berpamitan dengan kedua orang tuanya dan kedua bocil untuk pergi ke tempat kerjanya. Sedangkan Freya juga akan bersiap pergi ke Perusahaan milik Abraham, kemarin dia di telpon asistennya ada berkas penting yang harus segera di periksanya.
"Mom! Bolehkah aku juga memakai kerudung seperti Mom dan Kakak?" tanya Rena kepada Freya.
"Alhamdulillah, kalau Kak Rena sudah mau berhijab kayak Mommy dan Kakak. Nanti Mommy belikan baju di tempat Kak Yana ya, Sayang. Untuk hari ini Rena pakai baju biasa dulu yang penting bajunya panjang ya. Maksudnya Mommy pakai baju kaos panjang dan celana panjang atau rok panjang, Sayang!" perintah Freya tersenyum melihat anak angkatnya itu mau ikut memakai baju nutup auratnya dari kecil.
"Ya, Mom!" seru Rena, ia berjalan ke arah lift dengan menekan angka dua dimana kamarnya berada.
Freya berjalan ke arah dapur, "Mbak Nina bronisnya sudah dimasukan ke dalam tupperware?" tanya Freya kepada Artnya. Ya Mbak Nina mengabdi di keluarga Vindra sejak Freya menikah dengan suaminya. Sekarang suaminya juga ikut kerja sebagai tukang kebun. Mereka berangkat pagi dan pulang sore.
"Sudah, Dek! Itu aku taruh di atas meja makan dan tadi aku kasih bolu pelanginya juga takut mereka kelaparan," jawab Mbak Nina.
"Mom! Aku sudah siap," ucap Rena menyusul Freya ke dapur setelah diberi tahu Vindra.
"Ya sudah ayo berangkat, salim dulu dengan Budhe Nina, Sayang!" perintah Freya, dua bocil itu langsung berlari ke arah Nina mencium tangan semua orang yang berada di dapur.
Mereka keluar dari area dapur lalu pamit dengan Vindra. Freya kali ini menggunakan sopir untuk mengantarkan mereka pergi ke Perusahaan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di Batalyon Kodam Jaya, semua prajurit sudah bersiap untuk menyambut atasan mereka yang baru.
Nathan atau di Batalyon sering di panggil Kapten William berjalan ke arah mereka setelah memarkirkan mobilnya ke tempat parkir.
"Selamat pagi, Kapten William. Selamat datang di Batalyon Kodam Jaya, semoga betah mengabdikan dirinya di Kodam Jaya ini," seru Sertu Dimas sambil memberikan hormat secara militer kepada Kapten Wiliam.
Kapten William menegakkan badan, berbicara dengan nada tegas namun tetap ramah.
"Selamat pagi juga semuanya. Terima kasih atas penyambutan yang hangat ini. Insya Allah, semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya, saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kita semua dan keberhasilan setiap tugas yang diemban bersama," lanjutnya sambil mengangguk hormat ke arah barisan prajurit di hadapannya.
Kapten William menghampiri Jendral Agus.
"Siap, Melapor Jendral. Saya siap menjalankan tugas!" seru Kapten William dengan tegas memberikan hormat kepada Jendral Agus Prasetyo.
"Laporan diterima. Terima kasih sudah mau dipindah tugaskan dari Kodam IX/ Udayana ke Kodam Jaya," jawab Jendral juga nggak kalah tegas.
Acara penyambutan telah berakhir, kini mereka berkumpul di Aula Batalyon untuk mengobrol, untuk membicarakan masalah yang di hadapi oleh Kodam Jaya. Sebelum ke Batalyon, Nathan tadi menghubungi Tantenya untuk mengirimkan nasi box seratus box ke Batalyon Kodam Jaya.
Freya sangat kaget kalau keponakannya berada di Jakarta. Dia nanti malam berjanji akan ke rumah ayah angkatnya untuk bertemu dengan Nathan.
"Maaf sebelumnya, ada masalah apa di Kodam Jaya ini?" tanya Kapten William pura-pura tidak tau masalah yang sedang dihadapi Kodam ini.
Mereka saling tatap, "Maaf, Jendral! Izin menyampaikan kepada Kapten William, beliau harus mengetahui permasalahan ini, Jendral," ucap Sertu Dimas.
"Izin diterima, silahkan Sertu Dimas untuk memberitahukan masalah yang kita hadapi kepada Kapten William yang akan menjadi atasan kalian di sini," jawab Jendral Agus Prasetyo.
"Kapten William, kita mengalami masalah berat dengan masyarakat sekitar seakan sekarang tidak ada kepercayaan lagi dengan instalasi TNI kita."
Sertu Dimas menghela nafasnya dengan kasar, bukan dia nggak sopan tapi ini memang masalah serius.
"Sebelumnya atasan kami, tersandung kasus pelecehan terhadap gadis-gadis yang tidak bersalah dengan mengatasnamakan TNI dan selalu menindas korbannya dengan menggunakan pangkatnya," ucap Sertu Dimas sambil mengepalkan tangannya dia juga kena dampaknya.
Kapten William menganggukan kepalanya ternyata apa yang disampaikan Opanya sama yang di sampaikan Sertu Dimas. Sebelum Ia berbicara ada ketuk pintu dari luar.
"Masuk...!" ucap Kapten William.
"Maaf, Kapten William! Di luar ada yang mengantar nasi box katanya untuk Tuan Nathan!" serunya.
"Suruh mereka membawanya ke sini, ya tadi saya yang pesan di Cafe Tiga Saudara. Maaf ya saya kalau di keluarga dipanggilnya Nathan. Tadi saya lupa kasih tau Tante saya, kalau saya di Batalyon di panggil William," jawab Kapten William kepada prajurit yang bertugas dengan ramah.
Karyawan yang mengantarkan ternyata Lucas.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, lho kok Bang Lucas yang mengantarkan nasinya!" seru Kapten William kepada karyawan Cafe.
"Iya, Dek. Tadi Mbak Freya, telpon langsung ke Cafe. Karena Mbak Freya memberitahukan bahwa kamu yang pesan jadi aku yang ingin mengantarkan makanan sekalian bertemu dengan kamu. Tampannya kamu Nathan setelah lama nggak temu," jawab Lucas.
Semua prajurit yang berada di Aula heran, penasaran dan hanya menatapnya bingung, kenapa Kapten mereka kenal baik dengan Manager dan pemilik Cafe Tiga Saudara. Sedangkan Jendral Agus Prasetyo tersenyum bangga, ternyata jiwa kebaikan Tuan Abraham menurun ke cucunya.