NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:353.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Tiga

Malam datang menjelang begitu cepat. Lampu-lampu mulai menyala hangat, memantulkan cahaya ke dinding marmer yang mengilap. Suasana rumah tetap tenang seperti biasanya, nyaris terlalu tenang sampai terkadang terasa dingin. Di meja makan, Hana duduk berhadapan dengan Arsaka.

Makan malam mereka berlangsung cukup hening. Hanya sesekali suara denting sendok dan garpu yang terdengar. Hana sebenarnya masih belum terbiasa dengan suasana seperti ini.

Berbeda dengan rumah kecilnya dulu, di mana suara televisi, obrolan tetangga, atau bahkan suara motor lewat selalu terdengar sampai malam. Namun anehnya, malam ini ia tidak terlalu canggung.

Sesekali ia mencuri pandang ke arah Arsaka yang makan dengan tenang. Pria itu memang sulit ditebak. Dingin, datar, dan lebih banyak diam. Tapi sejak pagi tadi, Hana merasa ada sedikit perubahan kecil.

Setidaknya pria itu tidak lagi sekeras pertama kali mereka bertemu.

“Vitamin dari dokter sudah diminum?” tanya Arsaka tiba-tiba tanpa mengangkat kepala.

Hana sedikit tersentak. “Sudah, Pak.”

“Bagus!" ucap Arsaka singkat. Lalu hening lagi.

Hana menunduk pelan sambil memainkan ujung sendoknya. Ia sebenarnya ingin bertanya sesuatu, tapi ragu. Tentang alasan Arsaka melakukan semua ini. Namun pada akhirnya, ia memilih diam.

Setelah makan malam selesai, Hana berdiri lebih dulu. “Kalau begitu … saya masuk ke kamar dulu.”

Arsaka hanya mengangguk tipis. “Istirahatlah.”

Hana melangkah pergi menuju kamarnya. Langkahnya pelan melewati lorong panjang rumah itu.

Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung menghela napas panjang. Tubuhnya rebah di atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar sambil satu tangannya mengusap perutnya perlahan. “Semoga semuanya benar-benar baik-baik saja …,” gumamnya pelan.

Sementara itu, di lantai bawah, Arsaka masih duduk di ruang makan beberapa saat. Tatapannya kosong menatap gelas kopi di depannya.

Lalu ia berkata singkat, “Panggil Han. Temui aku di ruang kerja.”

“Baik, Pak,” jawab salah satu pelayan. Setelah pelayan itu pergi, Arsaka berjalan menuju ruang kerjanya.

Tak lama kemudian, Han datang menuju ruang kerja Arsaka. Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Masuk.”

Han membuka pintu perlahan. “Bapak memanggil saya?”

Arsaka duduk di kursi kerjanya dengan tenang. Lampu ruangan yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin.

“Ada yang harus kau urus.”

Han langsung berdiri tegak. “Apa itu, Pak?”

Arsaka menyandarkan tubuhnya perlahan. “Surat cerai Hana dan Farhan.”

Mendengar itu Han sedikit terdiam. Ini pasti perintah yang sedikit sulit.

“Urus secepatnya.”

Han mengernyit tipis. “Tapi setahu saya prosesnya tidak mudah, Pak. Apalagi jika pihak laki-laki menolak.”

Tatapan Arsaka berubah tajam. “Siapa bilang aku peduli dia mau atau tidak?”

Han langsung diam. Ia tahu tak ada kata penolakan bagi Arsaka.

“Aku tidak suka sesuatu yang menggantung,” lanjut Arsaka datar. “Aku ingin semuanya selesai sebelum anak itu lahir.”

Han ragu sejenak sebelum berkata pelan, “Kalau Farhan tetap tidak mau menceraikan Bu Hana?”

Arsaka tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

“Cari cara.”

“Pak … maksud Anda?”

“Bagaimanapun caranya.”

Nada suaranya rendah. Tenang. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar mengintimidasi.

“Kalau perlu,” lanjut Arsaka, “Buat dia tidak punya pilihan lain selain menandatangani surat cerai itu.”

Han menelan ludah pelan. Ia sudah lama bekerja untuk Arsaka. Jadi ia tahu betul seperti apa pria itu. Kalau Arsaka sudah menginginkan sesuatu, maka biasanya tidak ada yang bisa menghalangi.

“Baik, Pak,” jawab Han akhirnya.

Arsaka kembali membuka beberapa dokumen di mejanya. Pertanda pembicaraan selesai.

“Kalau begitu saya permisi,” ucap Han.

“Hmm.”

Han pun keluar dari ruang kerja. Begitu pintu tertutup, Arsaka bersandar di kursinya perlahan. Tatapannya mengarah ke jendela besar di samping ruangan. Gelap malam memenuhi pandangannya.

Entah kenapa, pikirannya justru kembali pada wajah Hana tadi pagi. Wanita itu terlihat begitu bahagia hanya karena mendengar kandungannya baik-baik saja.

Tatapan mata itu terlalu tulus. Arsaka memejamkan mata sejenak.

“Aneh,” gumamnya lirih.

Keesokan paginya .…

Udara pagi terasa segar memenuhi halaman rumah besar itu. Langit masih sedikit pucat ketika Arsaka selesai olahraga pagi.

Kaos hitam yang ia kenakan sedikit basah oleh keringat. Napasnya masih teratur saat ia melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengusap lehernya dengan handuk kecil.

Namun langkahnya terhenti ketika mencium aroma sesuatu dari arah dapur. Harum bawang dan rempah-rempah mulai memenuhi udara.

Arsaka mengernyit kecil. Ia langsung berjalan ke dapur. Dan benar saja, Hana ada di sana.

Wanita itu sedang berdiri di depan meja dapur sambil memeriksa beberapa bahan makanan. Rambutnya diikat sederhana, membuat wajahnya terlihat lebih lembut pagi itu.

Hana yang menyadari kehadiran Arsaka langsung menoleh. “Oh … pagi, Pak.”

Arsaka bersandar santai di dekat pintu dapur. “Pagi.”

Hana tersenyum kecil. “Bapak mau dibuatkan sarapan apa pagi ini?”

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Tapi entah kenapa, Arsaka justru langsung menjawab cepat, seolah sudah memikirkannya sejak lama.

“Aku pengen soto Padang.”

Hana sedikit terkejut. “Soto Padang?”

“Iya,” jawab Arsaka singkat. “Tapi aku nggak tahu di mana yang enak.”

Hana terkekeh kecil mendengarnya. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, Arsaka melihat wanita itu tertawa kecil di depannya. Dan anehnya, ia suka melihatnya.

“Memangnya Bapak suka makanan begitu?” tanya Hana penasaran.

“Belakangan ini iya.”

Hana mengangguk pelan lalu mulai memeriksa isi kulkas dan rak bahan makanan.

“Kalau bahannya lengkap, saya bisa buat.”

Arsaka langsung menjawab tanpa berpikir panjang, “Kalau ada yang kurang, bilang saja.”

“Nanti Han yang beli,” lanjut Arsaka cepat.

Hana tersenyum kecil. “Baik, Pak.”

Beberapa menit kemudian, dapur mulai sibuk. Hana terlihat fokus menyiapkan bahan. Ia merebus daging, menghaluskan bumbu, lalu mulai menumis rempah-rempah sampai aroma harum memenuhi seluruh ruangan.

Arsaka tidak pergi. Ia justru tetap berdiri di sana memperhatikan Hana diam-diam.

Sesekali wanita itu meniup poni rambutnya yang jatuh mengganggu wajah. Sesekali juga mengaduk kuah sambil mencicipi rasanya pelan.

Gerakannya sederhana. Tapi entah kenapa terasa menenangkan.

“Pak,” panggil Hana tiba-tiba.

“Hm?”

“Kalau nggak suka terlalu pedas, nanti sambalnya dipisah ya.”

Arsaka menatapnya beberapa detik sebelum menjawab singkat, “Terserah kamu.”

Hana kembali tersenyum tipis. Dan lagi-lagi, Arsaka merasa ada sesuatu aneh dalam dirinya. Rumah yang biasanya terasa dingin kini perlahan terasa hidup sejak kehadiran wanita itu.

Beberapa saat kemudian, aroma kuah soto yang gurih mulai memenuhi rumah. Han yang baru datang dari luar bahkan langsung menciumi aroma yang lezat ini.

“Wah … harum banget.”

Hana tertawa kecil. “Sebentar lagi siap, Pak.”

Han tampak kagum. “Bu Hana bisa masak banyak ya.”

“Biasa saja,” jawab Hana merendah.

Namun Arsaka justru berkata datar, “Nggak biasa.”

Hana menoleh bingung. Arsaka mengambil segelas air minum di meja dapur sambil berkata santai, “Aku belum pernah mencium aroma masakan seenak ini di rumah.”

Han langsung melirik Hana sambil menahan senyum kecil. Sementara Hana malah salah tingkah sendiri. Beberapa menit kemudian, Arsaka kembali menatap Hana yang sibuk di depan kompor.

Lalu tanpa sadar, sebuah pikiran melintas di kepalanya. “Aku ini kenapa ya?”

Tatapannya masih tertuju pada wanita itu. “Akhir-akhir ini malah sering menginginkan makanan yang jarang aku santap…”

1
Yunita Sophi
orang tua Chica gak punya hati... sejelek nya anak dia darah daging nya... bukan nya di terima dan di beri nasehat yg baik ini malah di usir...
Yunita Sophi
Chika knp harus bunuh diri ? lebih baik kamu pergi aja yg jauh untuk membesarkan Chelsea... kamu kan di kasih uang Arsaka... kamu gunakan untuk modal atau apa pun untuk hidup kalian berdua... ini kok malah bunuh diri.
Yunita Sophi
semoga kamu Chika dan anak mu mendapat kebahagiaan...
Yunita Sophi
orang tua Chika terlalu jg teruma ayah nya... mereka tdk memikirkan nanti setelah mereka tua tdk ada yg mengurus nya...
Yunita Sophi
selusin deh sekalian 😉🤣🤣🤣
Yunita Sophi
kasian jg sih terutama anak nya... Chelsie tdk bersalan tp harus menanggung akibat kesalahan orang tua
Yunita Sophi
bahagia sll ya untuk Hana dan Arsaka sampai akhir nanti...
Yunita Sophi
marah itu pasti ada dan manusiawi klo qta di hina di rendah dan tdk di anggap... tp klo orang yg pernah menyakiti qta minta maaf dgn tulus otomatis qta akan memaafkan nya... itu pasti
Yunita Sophi
tentu aja Hana bahagia ibu Meri... Hana mendapat suami yg super baik dan sangat memanjakan nya... punya anak yg ganteng dan kehidupan nya baik... kurang apa lg coba gak ada tuh
Yunita Sophi
berubah lah jd baik Chika... klo kamu jahat kasian anak mu
Yunita Sophi
semoga Chika sadar dan tau diri dgn orang yg menolong nya... orang tua nya aja angkat tangan... ayo Chika kamu harus jd orang baik... balaslah orang baik dgn kebaikan jgn malah mengacau kan klo kamu mau hidup tenang..
Yunita Sophi
ada yah orang tua seperti itu... kasian bayi nya tdk tau masalah nya
Yunita Sophi
dulu waktu pertama datang dia bilang kerja di luar kota... dan orang tua nya jg orang berkecukupan... tau nya emang dia otang biasa
Ida Nur Hidayati
udah baca ini mama reni
Radya Arynda
walah tamat
ken darsihk
Tamat ya mam terimakasih mam buku ini sampai tamat
Ending yng bagus semua nya bahagia 😍😍
Enny Suhartini
terimakasih kakak 🙏
Patrick Khan
trimakasih ceritanya mam..😍😍
Vie
yang bulan madu siapa, yang ngasuh siapa 🤣🤣🤣🤣
Vie
ya kali Arsaka juga mau baby moon.. masa kamu pergi, bos nya gak ikutan juga, pasti iri lah Arsaka juga 😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!