NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh

Pintu kamar itu tertutup pelan. Hana berdiri di dalamnya beberapa detik, punggungnya bersandar di daun pintu. Napasnya masih terasa berat, seolah keputusan yang baru saja ia ambil belum benar-benar bisa ia terima sepenuhnya.

“Ikut …,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. “Aku benar-benar ikut dengan pria asing itu .…”

Tangannya perlahan turun ke perutnya. Ada kehidupan kecil di sana. Dan mungkin—hanya mungkin—ini adalah pilihan terbaik yang bisa ia ambil saat ini. Meski bersama pria yang paling belum ia percaya.

Hana menghela napas panjang, lalu mulai bergerak. Ia membuka lemari sederhana di sudut kamar. Tidak banyak yang ia punya. Hanya beberapa potong pakaian, beberapa barang pribadi, dan kenangan yang sebenarnya ingin ia tinggalkan.

Ia melipat bajunya satu per satu dengan rapi. Tangannya sempat berhenti saat menyentuh salah satu pakaian yang pernah ia pakai saat masih bersama Farhan. Hatinya mencelos.

Cepat-cepat ia menyingkirkannya ke dalam tas tanpa berpikir lagi. “Udah nggak ada gunanya diingat,” bisiknya pelan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, semuanya selesai. Tidak banyak. Satu koper kecil dan satu tas.

Hana menatap sekeliling rumah itu. Rumah sederhana yang jadi tempatnya bersembunyi beberapa waktu terakhir. Dan sekarang harus ia tinggalkan.

Ia keluar, menutup pintu kamar, lalu melangkah ke luar rumah. Arsaka masih berdiri di dekat mobilnya. Pria itu tampak sama seperti tadi—tenang, dingin, dan seperti tidak tersentuh apa pun.

Hana tidak menatapnya lama. Ia justru berbelok ke rumah sebelah. “Bu Sari …,” panggilnya pelan.

Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam, wajahnya langsung berubah sedikit terkejut melihat Hana membawa koper.

“Lho, Hana? Mau ke mana, Nak?”

Hana tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.

“Saya … mau pergi sebentar, Bu. Ada urusan,” jawabnya pelan.

Bu Sari mengerutkan kening. “Pergi? Sama siapa itu?”

Hana sempat melirik ke arah mobil Arsaka. Lalu kembali ke Bu Sari.

“Kenalan dari kota,” jawabnya singkat.

Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Tidak sekarang. Hana lalu menyerahkan sebuah amplop ke tangan Bu Sari.

“Bu, ini titip rumah saya ya,” ucapnya. “Kalau ada apa-apa tolong dibantu.”

Bu Sari langsung menggeleng, mendorong tangan Hana pelan. “Lho, nggak usah pakai begini segala—”

“Bu … tolong,” potong Hana halus, tapi tegas. “Anggap aja buat ganti repot.”

Bu Sari akhirnya menerima, meski masih terlihat ragu. “Kamu hati-hati ya, Hana,” ucapnya lembut. “Kalau ada apa-apa pulang aja. Rumah ini tetap rumah kamu.”

Kalimat itu membuat dada Hana terasa hangat sekaligus perih. “Iya, Bu,” jawabnya pelan.

Hana tidak berlama-lama. Ia berbalik, menyeret koper kecilnya, lalu berjalan menuju mobil Arsaka.

Han langsung sigap membuka bagasi, membantu memasukkan barang-barangnya tanpa banyak bicara.

Hana membuka pintu mobil dan masuk. Duduk di kursi belakang. Arsaka sudah lebih dulu di dalam. Mobil itu pun melaju. Meninggalkan desa kecil itu perlahan.

Perjalanan terasa panjang. Tidak ada percakapan. Tidak ada suara selain deru mesin mobil dan sesekali suara kendaraan lain yang melintas.

Hana menatap keluar jendela. Sawah, pohon-pohon, rumah-rumah sederhana, semuanya perlahan menjauh, tergantikan oleh jalan raya yang semakin ramai.

Perasaannya campur aduk. Takut dan cemas. Ia melirik sekilas ke arah Arsaka yang duduk di sampingnya. Pria itu terlihat fokus ke depan, wajahnya datar seperti biasa.

Tidak ada usaha untuk membuka percakapan. Dan entah kenapa Hana merasa itu lebih baik. Karena kalau pria itu bicara sekarang, ia tidak yakin bisa menjawab dengan tenang.

Beberapa jam berlalu. Tubuh Hana mulai terasa lelah. Matanya berat. Ia mencoba bertahan, tapi akhirnya menyerah.

Perlahan, tanpa sadar, kepalanya miring. Dan bersandar tepat di bahu Arsaka. Pria itu sedikit menoleh.

Tatapannya turun ke arah Hana yang sudah tertidur pulas. Wajah wanita itu terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

Tanpa sadar, genggaman tangannya di perutnya sedikit mengendur. Arsaka tidak bergerak. Ia tidak mendorong. Tidak juga menjauh. Ia hanya diam membiarkan.

Matanya kembali lurus ke depan. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya sedikit berubah. Bukan lembut tapi tidak sekeras biasanya.

Beberapa waktu kemudian, mobil tetap melaju dalam keheningan yang aneh—tapi tidak sepenuhnya tidak nyaman.

Hana terbangun. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar. Dan saat itu juga tubuhnya terasa membeku. Ia menyadari sesuatu. Hana langsung menjauh dengan cepat, duduk tegak. Wajahnya langsung memerah.

“Maaf!” ucapnya spontan, sedikit panik. “Aku … aku nggak sengaja—”

Arsaka hanya melirik sekilas. “Tidurmu nyenyak,” ucapnya datar.

Hana langsung menunduk, merasa makin canggung. “Maaf …,” ulangnya lebih pelan.

Arsaka tidak menjawab lagi. Dan suasana kembali hening.

Beberapa jam kemudian, mobil akhirnya memasuki kawasan kota.

Gedung-gedung tinggi mulai terlihat. Jalanan lebih padat. Lampu-lampu kota mulai menyala, menandakan sore mulai berganti malam.

Mobil itu akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan elit. Dan berhenti di depan sebuah rumah besar. Sangat besar. Hana menatapnya dengan mata yang tak berkedip.

“Ini … rumahmu?” gumamnya tak percaya.

Bangunan itu lebih mirip istana kecil daripada rumah. Halamannya luas, dengan taman yang tertata rapi. Lampu-lampu taman menyala hangat, memberi kesan mewah tapi tetap tenang.

Arsaka keluar dari mobil tanpa menjawab. Han segera membuka pintu untuk Hana.

Hana turun perlahan, matanya masih menyapu sekeliling. Ia terlihat jelas tidak percaya.

“Masuk,” ucap Arsaka singkat. Hana mengikuti.

Begitu pintu terbuka, suasana dalam rumah langsung menyambut. Interiornya elegan, luas, dan sangat rapi. Lantai marmer mengilap, lampu gantung besar, dan aroma ruangan yang wangi.

Beberapa pelayan langsung berdiri rapi begitu mereka masuk. Arsaka berhenti di tengah ruangan. Tatapannya menyapu semua orang di sana.

“Mulai hari ini,” ucapnya tegas, suaranya rendah tapi jelas terdengar ke seluruh ruangan, “Ia tinggal di sini.”

Semua mata langsung tertuju pada Hana. Wanita itu jadi sedikit canggung.

“Apa pun yang dia butuhkan, penuhi,” lanjut Arsaka. “Tidak ada yang boleh membantah.”

Para pelayan langsung mengangguk serempak. “Baik, Pak.”

Arsaka melanjutkan, kali ini nadanya lebih dingin. “Perlakukan dia seperti kalian memperlakukan saya.”

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah. Lebih tegang dan serius.

“Kalau ada yang berani mengabaikan atau tidak menghormatinya .…” Arsaka berhenti sejenak. Tatapannya tajam. “Kalian tahu konsekuensinya.”

“Baik, Pak,” jawab mereka lagi, kali ini lebih tegas.

Hana menatap Arsaka. Sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pria itu akan mengatakan sejauh itu. Perasaannya kembali campur aduk. Di satu sisi, ia merasa aman. Di sisi lain justru semakin tidak mengerti.

Kenapa? Kenapa pria ini melakukan semua ini untuknya?

Arsaka lalu menoleh ke arah Hana.

“Kamarmu sudah disiapkan,” ucapnya singkat. Hana mengangguk pelan.

Seorang pelayan wanita mendekat dengan sopan. “Mari, Bu. Saya antar ke kamar.”

Hana sempat melirik Arsaka sekali lagi sebelum akhirnya mengikuti. Langkahnya pelan. Masih penuh tanda tanya.

Dan di dalam hatinya, satu hal terus berputar. Keputusannya mengikuti Arsaka apakah sudah benar dan yang terbaik?

1
Enny Suhartini
lanjut kak ditunggu 👍
Radya Arynda
semangaat hana,, semogah cepat nikah sama arsaka
🌷💚SITI.R💚🌷
benar ga benar hana..tp smg setekah ini ada status kejelasan buat kamu..kamu msh istriy farhan atau istriya arsaka..smg yg trbaik
Eka ELissa
bner Hana dia ayah dri ank mu...
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....
Sugiharti Rusli
entah lha ya laki" bisa sangat picik pikirannya seperti Farhan dan ibunya yang mengaanggap mereka Tuhan yang bisa menentukan segala sesuatu,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya urusan rahim itu adalah ranahnya Allah Sang Pemilik segalanya, bukan si Hana atau si Chika yah,,,
Sugiharti Rusli
dan si Farhan maupun ibunya percaya diri gitu kalo dia menikahi si Chika akan langsung dikaruniai anak🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
apa sebelum mendiang ayah Farhan wafat, dia terpaksa menerima Hana yah karena atas ijin mendiang suaminya si Farhan menikahi Hana🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bahkan ketika ada peringatan wafatnya sang suami, si bu Meri juga ga segan" mempermalukan menantunya di hadapan orang banyak kan,,,
Sugiharti Rusli
sedari awal ibu mertuanya memang tidak menerima si Hana sebagai menantu sepertinya sih,,,
Sugiharti Rusli
dan belum" sudah menyodorkan calon istri baru buat putranya tanpa memikirkan perasaan Hana nanti seperti apa,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Farhan juga belum pernah dicek kesuburannya selama ini kan, kenapa langsung vonis Hana yang bermasalah,,,
Sugiharti Rusli
kenapa yah vonis selalu datang dari ibu mertua ke menantu perempuan langsung,,
ken darsihk
Tenang Hana kamu aman ikut dngn Arsaka , ini juga untuk kebaikan baby mu 💪💪
guest1053527528
akhirx di pertemukan thor
Ida Nur Hidayati
keputusan Arsaka udah yang terbaik ikut saja Hana
vania larasati
lanjut kak
Vie
akhirnya lanjut juga.... makasih kak aku kira cerita ini bakalan gak lanjut lagi..... mudah2an ceritanya lanjut sampai tamat ya kak, jangan digantung, karena digantung itu sangatlah gak enak, ga ada kepastian... 🤭🤭👍👍
Vie: ok kak.. aku selalu menunggu..... ceritanya seru... makin penasaran nunggu lanjutnya... 👍👍👍👍👍
total 2 replies
Ilfa Yarni
pasti yg terbaik hana arsaka orang baik dan bertanggung jawab km ga usah ragu dan khawatir semua akan baik2 saja buat km dan calon ank kalian
yumna
han km kira"d hukum ga ya 🤣🤣🤣🤣🤣.....lasng bos mu yg trun tangan bjuk hana🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!