NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Fazaku

Karena terlalu fokus dengan Faza, hingga Dira tidak menyadari. Jika satpam serta dua orang petugas yang berjaga tengah menunggunya mendapatkan izin dari Miss Panda. Sebab, tanpa izin dari Miss Panda dirinya tidak diizinkan masuk. 

“Bagaimana, Dek? Sudah dapat izin atau belum?” tanya petugas keamanan. 

“Tanpa izin yang bersangkutan. Adik tidak boleh masuk. Apalagi membawa makanan.” 

“Baik, Pak. Saya coba menghubungi Miss Panda.” 

“Silahkan.” 

Dira langsung menghubungi Miss Panda melalui handphonenya. Namun, saat akan membuka layar handphone. 

Tanpa disadari oleh Dira jika ia lupa mengisi daya. Sehingga handphone miliknya mati karena kehabisan daya.

“Sepertinya nanti saja kalau ketemu Miss Panda aku memberikan kue ini,” lirih Dira sambil menunjukkan wajah sedih. 

“Bagaimana? Sudah mendapatkan izin?” tanya petugas keamanan memastikan.

“Handphone saya kehabisan daya, Pak,” jawab Dira sambil menunjukkan handphone miliknya mati. 

“Sepertinya saya tidak jadi bertamu di kediaman Miss Panda. Permisi, Pak. Assalamualaikum.” 

“Waalaikumussalam.” 

Karena gagal mengunjungi kediaman Miss Panda. Dira memutuskan untuk pulang ke rumah sambil membawa kue yang sudah dibeli. 

Ditinggal di pos penjagaan pun juga percuma. Karena tidak mendapatkan izin dari satpam maupun keamanan komplek. Ujung-ujungnya akan dibuang ditempat sampah. 

Sreet. 

Ayunan sepeda kembali terdengar menemani Dira pulang. Wajah sendu yang sebelumnya menghiasi wajahnya karena gagal memberikan kue ke Miss Panda. Langsung menghilangkan saat bayang-bayang sosok Nimas menyelimuti dirinya. 

“Sepertinya aku memang harus pulang cepat. Ada Ibu menunggu kedatanganku di rumah.” 

Ternyata kata-kata Dira untuk segera kembali pulang memang ada benarnya. Sejak kejadian kemarin malam saat kedatangan Wilona membuat keributan. 

Di malam itu juga Wilona mengirim orang suruhan untuk terus mengawasi Dira. Dan orang-orang itu kini sedang mengawasi Dira. 

“Kenapa aku merasa mobil itu membuntutiku?” gumam Dira sambil menengok ke belakang beberapa kali. 

Mobil Jeep warna hitam mulai mengikutinya sejak keluar dari komplek perumahan polisi tempat Miss Panda tinggal. Seperti seseorang yang dengan sengaja menunggunya. 

“Perasaanku saja atau memang benar?” gumam Dira sambil mengayuh sepedanya. 

“Sepertinya aku harus memastikan mobil itu hanya kebetulan jalan pelan atau memang sengaja membuntuti.” 

Dengan penuh tenaga Dira mengayuh sepedanya kencang masuk ke jalanan sempit pinggiran kota. Tujuannya jelas untuk memancing orang di dalam mobil keluar. Mengingat jalanan itu tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. 

“Sepertinya mereka sengaja membuntutiku,” guman Dira sambil terus mengayuh sepeda dan sesekali menengok ke belakang. 

Ternyata dugaan Dira memang benar. Jika mobil Jeep hitam yang sebelumnya jalan pelan benar-benar mengikutinya. 

Jadi, saat sepeda Dira masuk ke gang sempit. Beberapa laki-laki bertubuh kekar dengan wajah garang yang ada di dalam mobil langsung keluar. 

“Cepat menyebar cari dia!” 

Begitulah kata-kata yang sempat Dira dengar. Fokus Dira saat ini menjauh dari kejaran mereka. 

“Ya Allah, siapa mereka? Apakah mereka ada hubungannya dengan Tante Wilona maupun Sisil? Apakah kedatangan mereka mengawasiku karena Tante Wilona tidak terima atas penolakan serta tindakan kasar ibu semalam?” gumam Dira beruntun bertanya-tanya sambil terus mengayuh sepeda. 

“Aku harus mencari pusat keramaian. Ya, hanya cara itu aku akan merasa aman. Aku tidak mungkin pulang sambil memberikan jalan kepada mereka menuju tempat tinggalku.”

Pikiran Dira jelas tertuju pada Wilona maupun. Karena Bu Siti yang terkenal pelit sekaligus rese terhadap keluarganya. Tidak akan pernah ikhlas mengeluarkan uang sepeser pun hanya untuk memata-matainya. Lain halnya dengan Wilona maupun putrinya. 

“Tapi, aku tidak boleh menuduh orang tanpa bukti. Mungkin mereka hanya kebetulan saja.” 

Meskipun dugaannya tertuju pada Wilona maupun Sisil. Tapi, tetap saja menuduh tanpa bukti bukanlah hal bijak. 

“Kenapa tidak ada keramaian di gang ini? Pergi kemana orang-orang,” gerutu Dira sambil mengawasi sekitar. 

Mungkin karena waktu sudah menunjukkan siang. Serta matahari terik membuat gang tempat dilalui Dira terlihat sepi. Sehingga keberadaan Dira masih bisa dipantau dari jauh. 

“Apakah mereka masih mengikutiku? Semoga saja tidak,” ucap penuh harap Dira. 

Sambil menengok sesekali ke arah belakang. Akhirnya Dira menghentikan ayunan sepedanya saat dirasa keadaan sudah aman. 

Hurrff!

“Syukurlah, sepertinya mereka sudah tidak mengikutiku lagi,” ucap Dira sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya. 

“Tapi untuk memastikan semua aman, aku tidak boleh menunjukkan diri secara terang-terangan. Aku harus mencari tempat tersembunyi,” ucap Dira setelah tidak mendapati keberadaan laki-laki asing itu.

Mencari tempat yang dirasa aman jelas tidaklah mudah di lingkungan padat penduduk. Hal itu yang dirasakan oleh Dira. 

Karena kelelahan mendera, Dira memutuskan beristirahat untuk sekedar mengambil nafas. Sekaligus berpikir tentang orang-orang misterius itu. Mengingat tidak ada tempat yang bisa dijadikan tempat bersembunyi. 

“Sepertinya bersembunyi disini aman,” tutur Dira sambil duduk di samping sepedanya. 

“Kenapa pikiran buruk terhadap Tante Wilona maupun Sisil sulit aku hilangkan. Apakah benar Tante Wilona lah yang telah mengirim mereka karena penolakanku?” gumam Dira merasa yakin dengan pemikiran dirinya. 

“Apakah harus dengan cara seperti ini? Tapi, mengapa? Bukankah mereka berasal dari kalangan orang terhormat?” tanya Dira heran dengan pemikiran orang berkuasa. 

“Jika memang Tante Wilona sebagai pelaku utama. Benar-benar tindakan mereka sangat rendah sekali,” geram Dira. 

“Jika memang menginginkan untuk menjadi yang terbaik. Kenapa tidak berkompetisi jujur dengan meningkatkan prestasi? Kenapa harus menyingkirkan orang lain?” gerutu Dira sepanjang jalan. 

Dira tampaknya terlalu awam melihat kenyataan kehidupan. Jika orang akan melakukan apapun hanya untuk bisa mendapatkan keinginannya. Meskipun dengan cara rendah. 

Disaat pikiran Dira berkecamuk memikirkan Wilona beserta Sisil. Secara tiba-tiba Dira dikagetkan dengan botol air yang terulur dari tangan seseorang. Membuat Dira langsung mengarahkan pandangan matanya menatap sosok orang memberinya sebotol  air mineral. 

Mata Dira langsung tercengang tidak percaya. Jika pemilik tangan itu adalah laki-laki tidak asing yang baru beberapa hari dirinya kenal dan berhasil memenuhi pikirannya. 

“Faza,” gumam Dira tanpa mengedipkan matanya. 

“Minumlah! Haus, kan?” ucap Faza sambil menyodorkan sebotol air mineral. 

Bukannya langsung diambil oleh Dira. Justru Dira terus menatap ke arah Faza dengan kening mengkerut dalam. Tentu saja hal itu membuat Faza menghembuskan nafasnya. 

“Kebiasaan,” gerutu Faza. 

“Mau sampai kapan kamu terus menatap wajahku?” 

“Eh, siapa juga yang menatap wajahmu?” kilah Dira.

Seperti biasa wajah merah menahan rasa malu langsung terlihat jelas di kulit putih bersih Dira. Spontan Dira menunduk untuk menyembunyikannya. 

“Cepat ambil!” 

“Buat aku?” 

“Bukan, buat kucing liar.” 

Wajah cemberut langsung ditampilkan oleh Dira. Hingga Faza harus menggerakkan botol di tangannya berulang kali.

“Bukankah kamu haus? Minumlah!”

Ucapan jujur Faza yang terdengar menyebalkan. Membuat Dira mengambil sebotol air mineral dari tangan Faza. 

Meneguk air di dalam botol untuk membasahi tenggorokan hingga habis tanpa tersisa. Melihat hal itu Faza sedikit menyunggingkan senyumannya. 

“Haus banget, Neng?” goda Faza. 

“Sudah tahu aku haus. Kenapa pakai acara tanya segala? Niat ngasih gak?” gerutu Dira yang hanya ditanggapi senyuman saja oleh Faza. Semakin menambah rasa kesal Dira. 

Kesal karena harus lari dari orang-orang tidak dikenal, yang tengah mengikutinya di siang bolong saat matahari sedang panas-panasnya. Juga kesal karena rasa haus dan capeknya dibuat godaan oleh Faza. 

“Ayo cepat naik! Aku antar kamu pulang ke rumah sampai selamat.” 

“Naik sepedaku?” 

“Nggak, naik pesawat.” 

“Aku tanya serius nih.” 

“Aku pun jawabnya serius. Sudah tahu kamu naik sepeda. Masih tanya,” gerutu Faza. 

“Motor kamu kemana? Kamu datang seperti jelangkung,” potong Dira cepat. 

“Maksudnya?” 

“Datang tak diundang pulang tak diantar. Tiba-tiba sudah ada di depanku,” tutur Dira saat tidak melihat ataupun mendengar suara khas knalpot motor milik Faza. 

“Lagi di bengkel. Ayo cepetan naik!” 

“Iya, ih. Bawel banget kamu.” 

Dengan menggunakan sepeda milik Dira. Faza mengantar Dira pulang ke rumah. Membuat Dira merasa lebih aman. 

Rasa takut yang sebelumnya menggelayuti karena diikuti orang tak dikenal langsung hilang. Lagipula keberadaan orang-orang itu secara tiba-tiba menghilang. 

“Cepat pegangan!” 

“Gak mau, memangnya aku bocah. Bonceng sepeda saja jatuh.” 

“Nanti aku dimarahin sama Mbah kamu. Kalau cucu cantiknya jatuh dan luka.” 

Wajah Dira memerah lagi saat mendengar ucapan ngeselin sekaligus pujian dari Faza. Benar-benar menghilangkan rasa takut yang sebelumnya menggelayuti Dira. 

Kini Dira sudah tidak lagi fokus dengan orang yang mengikutinya. Karena di depannya ada sosok laki-laki misterius yang telah memenuhi pikirannya. 

“Nih, aku sudah pegangan,” ucap Dira sambil memegang bagian belakang boncengan. Benar-benar Dira terlihat sangat lucu. 

“Pintar,” puji Faza sambil mengusap kepala Dira yang tertutup hijab. 

“Ih, jangan pegang-pegang!” 

“Iya-iya, gak usah sensi seperti itu. Kan gak kena secara langsung. Masih terhalang kerudungmu.” 

Faza langsung mengayunkan sepeda untuk menuju ke rumah Dira. Interaksi yang terjadi oleh keduanya. Siapapun orang yang melihat. Akan menyangka jika mereka berdua sepasang kekasih yang tengah berantem.

Apalagi Faza selalu memancing Dira untuk tertawa sekaligus kesal secara bersamaan. Meskipun dengan cara garing. 

“Tadi kamu duduk di ujung gang benar-benar seperti kucing kecil.” 

“Enak saja.” 

“Tenang, kucing manis seperti Blue.” 

Rasa kesal lagi-lagi langsung menghilang. Mengingat Blue kucing kesayangan Anjana.

Interaksi yang terjadi antara Faza dan Dira yang bagi orang lain manis sekaligus romantis. Tapi, tidak untuk seseorang yang duduk di dalam mobil Jeep warna hitam. 

Tangannya terkepal kuat menahan kesal. Karena misinya untuk memberikan peringatan kepada Dira gagal total. 

Saat tiba-tiba beberapa bapak-bapak berbaju preman datang menghampirinya dan juga orang-orangnya. Membuyarkan rencana yang sudah tersusun rapi. 

“Awas kamu Dira! Mungkin saat ini kamu lolos karena tiba-tiba ada Fazaku,” ancam sosok perempuan itu.

“Tapi, tidak untuk lain waktu. Karena aku sendiri yang akan memastikan kehancuranmu,” geram sosok tersebut dengan wajah merah padam sambil tangan mengepal kuat. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!