we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 cermin misterius
Pagi di distrik perdagangan Kota London. Cahaya dari toko-toko mulai meredup, membuat suasana terasa sunyi dan sedikit mencekam.
Di sebuah toko perhiasan sederhana, seorang pria berambut hitam sedang merapikan kalung dan cincin di balik etalase kaca.
We Lin hanyalah penjaga toko biasa yang ingin hidup tenang di tengah kota. Setiap hari ia bekerja membersihkan toko, menjaga perhiasan, dan melayani pelanggan.
“Akhirnya selesai juga…” gumamnya pelan sambil menutup kotak terakhir.
Toko pagi itu jauh lebih sepi dari biasanya. Hanya terdengar detak jam dinding dan suara dengkuran Tetua Morcant yang sedang tidur di sofa tua di pojok toko.
Saat membersihkan sudut etalase yang jarang disentuh, tangan We Lin tak sengaja menyentuh sesuatu.
“Hm?”
Ia mengeluarkan sebuah benda dari balik tumpukan kotak tua.
Sebuah cermin kecil berbingkai hitam keperakan.
Bingkainya dipenuhi retakan halus, seolah sudah berusia sangat lama.
“Aneh...”
We Lin memiringkan kepalanya.
“Sejak kapan ada benda seperti ini di toko?”
Ia membolak-balik cermin itu beberapa kali.
Tidak ada tanda pembuat.
Tidak ada ukiran khusus.
Tidak ada yang terlihat istimewa.
“Hm... barang lama?”
"Ini pasti pekerjaan sistem aneh itu?"gumam nya menyelidik.
Karena tidak menemukan jawaban, ia pun melihat pantulannya sendiri.
Awalnya normal.
Namun beberapa detik kemudian—
Buzz...
Permukaan cermin bergetar.
“Hm?”
Pantulan wajahnya perlahan menghilang.
Sebagai gantinya, muncul sebuah ruangan besar penuh layar hologram rusak dan lampu merah yang berkedip-kedip.
We Lin berkedip.
Lalu berkedip lagi.
“...”
Ia mengangkat cermin lebih dekat.
“Cermin zaman sekarang sudah secanggih ini?”
Di dalam cermin, suasana tampak kacau.
Suara ledakan terdengar di mana-mana.
Asap memenuhi udara.
Puluhan orang berjubah putih kebiruan terlihat sedang bertarung mati-matian.
Di jubah mereka terdapat lambang tujuh bintang yang tersusun membentuk lingkaran.
We Lin merasa lambang itu agak familiar.
Matanya melirik ke arah pojok toko.
Tetua Morcant masih tidur sambil mendengkur keras dipojokan.
"Goooookkkkkk...."
Di jubahnya juga terdapat lambang yang mirip.
“Hm...”
“Mungkin kebetulan.”
Ia tidak terlalu memikirkannya.
Perhatiannya kembali tertuju pada cermin.
Di tengah ruangan itu berdiri seorang pria bertopeng hitam.
Aura gelap berputar di sekeliling tubuhnya.
Meskipun terlihat mengerikan, bagi We Lin itu hanya tampak seperti efek visual yang cukup bagus.
“Film?”
gumamnya.
“Lumayan juga.”
Di dalam cermin, pria bertopeng itu tertawa dingin.
“Kalian masih mencoba melawan?”
Dengan satu gerakan tangan, beberapa anggota organisasi langsung terpental.
BOOM!
Dinding runtuh.
Jeritan terdengar di mana-mana.
“Kita tidak bisa menahannya!”
“Pertahanan utama telah hancur!”
“Lindungi inti sistem!”
Wajah para anggota organisasi dipenuhi keputusasaan.
Sementara pria bertopeng itu terus melangkah maju.
“Kalian terlalu lemah untuk menjaga warisan itu.”
We Lin menggaruk pipinya.
“Kasihan juga mereka.”
Meskipun mengira semua itu hanya rekaman atau tayangan aneh, melihat orang-orang dipukuli tetap membuatnya sedikit tidak nyaman.
Tanpa sadar ia menggenggam cermin lebih erat.
“Aku harap mereka baik-baik saja.”
Begitu kalimat itu terucap—
Buzz!
Cermin bergetar hebat.
“Hah?”
Sebelum We Lin sempat bereaksi—
WHOOOOOSH!!
Cahaya keemasan meledak dari dalam cermin.
“Apa lagi sekarang?!”
Di dalam dunia cermin, seluruh ruangan mendadak dipenuhi cahaya emas yang menyilaukan.
Semua orang membeku.
Bahkan pria bertopeng hitam ikut terdiam.
“Apa ini?!”
Suara gemetar keluar dari mulutnya.
Tekanan yang tidak terlihat turun dari langit.
Seolah ada keberadaan yang jauh lebih tinggi sedang memperhatikan mereka.
“Mustahil!”