"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18. Lelaki paling berbahaya
Sepanjang perjalanan membelah aspal menuju kantor, kabin mobil SUV milik Imam terasa begitu pengap, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu paling rendah. Napas Imam masih memburu, berat dan tidak beraturan. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Setiap kali lampu lalu lintas berganti warna merah, Imam memanfaatkan momen itu untuk melepaskan satu tangannya dari kemudi.
Brak! Brak!
Imam memukul keningnya sendiri berkali-kali dengan telapak tangan, meluapkan rasa frustasi dan kemarahan yang luar biasa pada dirinya sendiri.
"Bodoh! Kamu benar-benar sudah gila, Imam!" makinya parau pada bayangan dirinya sendiri di spion tengah.
Imam kembali memukul kepalanya dengan kepalan tangan, mencoba mengusir sisa-sisa kehangatan kulit Habibah dan aroma wangi khimar wanita itu yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Rasa bersalah yang teramat sangat kini menghantam dadanya dengan telak, membuat hatinya terasa diremas perih.
Bagaimana bisa ia hampir sekhilaf itu? Bagaimana bisa ia nyaris menuruti ego gelapnya di rumah kontrakan yang justru disewa oleh anak-anak mereka dengan niat suci?
Setiap pukulan yang mendarat di kepalanya adalah bentuk hukuman atas kelalaiannya sebagai seorang ayah. Wajah riang Ameera yang sedang mencocokkan baju pengantin dan tatapan penuh rasa hormat dari Rayhan semalam saat menyerahkan mangkuk sup kembali berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Mereka menghormatimu, Imam. Rayhan memercayakan ibunya kepadamu karena dia menganggapmu pria yang bijaksana. Tapi apa yang hampir kamu lakukan?" bisik Imam dengan suara yang bergetar menahan tangis. Air mata penyesalan perlahan luruh di sela-sela kerutan di sudut matanya.
Jika saja ponselnya tidak berdering tadi, Imam tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hubungan keluarga ini. Ia hampir saja merusak pernikahan anak perempuan semata wayangnya yang sudah di depan mata, demi keegoisan masa lalu yang belum usai.
Mobilnya kembali melaju saat lampu berubah hijau, namun fokus Imam sudah buyar sepenuhnya. Ia kembali memukul setir dan pelipisnya bergantian. Di satu sisi, ia mengutuk kekhilafannya. Namun disisi lain, yang membuat Imam semakin membenci dirinya sendiri adalah... sebagian kecil dari hatinya ternyata sempat mendamba dan menikmati detik-detik saat wajah Habibah merapat pasrah di hadapannya.
Kenyataan bahwa ia masih sangat menginginkan Habibah, bahkan setelah mereka sama-sama beruban, membuat Imam merasa menjadi pria paling berbahaya bagi ketenangan hidup Habibah sekarang.
"Aku harus menjauh... Aku harus mengontrol diri," rapal Imam berulang kali sepanjang sisa perjalanan, suaranya serak dan habis.
Begitu mobilnya memasuki area parkir gedung kantor, Imam tidak langsung turun. Ia bersandar pada kemudi, memejamkan mata erat-erat dengan kepala yang terasa berdenyut nyeri akibat pukulan dan tekanan emosi yang teramat dahsyat. Pagi ini, Imam sadar bahwa rumah kontrakan itu bukan lagi sekadar tempat singgah sementara, melainkan medan perang paling berdarah bagi kewarasan dan imannya.
*
*
Jam pulang kantor yang biasanya menjadi waktu paling dinanti oleh semua pekerja, justru menjelma menjadi momok yang menakutkan bagi Imam hari ini. Saat rekan-rekan kerjanya bergegas mengemas barang dan berpamitan pulang, Imam hanya duduk mematung di balik meja kebesarannya, menatap kunci mobilnya dengan pandangan kosong.
Ada rasa enggan, atau lebih tepatnya ketakutan yang luar biasa, untuk melangkahkan kaki kembali ke rumah kontrakan itu. Ia takut melihat wajah Habibah. Ia takut bayangan kekhilafan pagi tadi kembali menyergapnya begitu ia melewati pintu depan.
Akhirnya, Imam memilih melajukan mobilnya tanpa arah, membiarkan kendaraan itu membelah kemacetan kota yang mulai merayap sore itu. Hingga tepat saat kumandang azan Magrib bergema memecah langit senja, netra Imam menangkap siluet kubah sebuah masjid besar di pinggir jalan protokol.
Tanpa ragu, ia membelokkan kemudinya masuk ke pelataran parkir. Di sinilah ia ingin bersembunyi.
Setelah mengambil air wudhu yang dingin menyegarkan kulitnya, Imam melangkah masuk ke dalam ruang shalat utama yang berkarpet hijau tebal. Ia mengambil posisi di barisan tengah, tenggelam di antara jemaah lain yang berpakaian serupa dengannya. Para pekerja kantoran yang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota.
Saat takbiratul ihram dikumandangkan oleh imam masjid, seluruh ego dunia runtuh seketika.
Pada sujud terakhirnya di rakaat ketiga, Imam tidak langsung bangkit. Ia bertahan dalam posisi sujud itu lebih lama dari jemaah lainnya. Di atas sajadah masjid yang sunyi, air mata pria paruh baya itu akhirnya tumpah tak terbendung. Dadanya berguncang hebat, menahan isak tangis agar tidak mengganggu kekhusyukan orang di sebelahnya.
“Ya Allah... Ampuni hamba. Hamba hampir saja melampaui batas yang Engkau haramkan. Jaga iman hamba, ya Allah... Jaga kehormatan wanita yang hamba cintai,” jerit Imam dalam hatinya, meratap memohon ampun atas kekhilafannya pagi tadi.
Setelah salam, jemaah satu per satu mulai membubarkan diri, menyisakan ruang masjid yang kembali lengang. Namun, Imam memilih untuk tetap duduk bersila di atas karpet. Ia menggeser tubuhnya menyandarkan punggung pada salah satu tiang marmer besar yang kokoh di sudut ruangan.
Ia membiarkan ponselnya bergetar di dalam saku celana, mungkin dari Ameera atau Rayhan. Namun Imam sengaja mengabaikannya. Ia belum siap kembali menjadi topeng yang sempurna.
Dari waktu Magrib menuju Isya, Imam menghabiskan waktu dengan memutar butiran tasbih digital di jarinya. Mulutnya tak berhenti merapalkan istighfar, mencoba membersihkan sisa-sisa nafsu egois yang pagi tadi sempat menguasai akal sehatnya. Ia memandangi arsitektur masjid, lalu menatap langit-langit kubah yang tinggi, merasa dirinya begitu kecil dan tak berdaya.
Malam itu, di dalam rumah Allah, Imam melakukan refleksi besar-besaran. Ia sadar, mencintai Habibah selama tiga puluh tahun ini bukanlah sebuah dosa, namun membiarkan cinta itu merusak kebahagiaan anak-anak mereka adalah sebuah kejahatan.
Begitu adzan Isya kembali berkumandang sekitar pukul setengah delapan malam, Imam bangkit berdiri untuk menunaikan salat berjamaah dengan hati yang jauh lebih tenang dan kokoh. Setidaknya, waktu yang ia habiskan di masjid telah mengembalikan kewarasannya sebagai seorang ayah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, begitu ia melangkah keluar dari pintu masjid ini nanti, ia akan mengunci rapat-rapat keegoisannya dan kembali menjadi benteng yang menjaga pernikahan Ameera dan Rayhan tetap suci.
*
*
Suasana di ruang tengah rumah kontrakan malam itu terasa begitu mencekam, kontras dengan hangatnya lampu gantung yang menerangi meja makan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun kursi kepala keluarga masih kosong melompong.
Di atas meja, hidangan makan malam sudah tersaji rapi, namun tak ada satupun dari ketiga orang di rumah itu yang menyentuhnya.
Ameera berjalan mondar-mandir di dekat jendela ruang tamu, menempelkan ponselnya ke telinga dengan wajah yang tampak sangat panik. Garis-garis kecemasan tercetak jelas di dahinya.
"Ih, Papa kemana sih? Kok dari tadi ditelepon nggak diangkat-angkat, cuma nada sambung aja," gerutu Ameera, suaranya naik satu oktaf karena frustasi. Ia menurunkan ponselnya, lalu menatap layarnya yang menampilkan belasan panggilan tak terjawab kepada Imam.
Rayhan yang sedang duduk di kursi meja makan mencoba menenangkan calon istrinya. "Tenang dulu, Meer. Mungkin Om Imam masih di jalan, kejebak macet parah. Kan jam pulang kantor memang selalu begini, apalagi ini jalur ganjil-genap."
"Tapi nggak biasanya Papa kayak gini, Yang. Papa itu tipe orang yang selalu berkabar kalau telat pulang, minimal chat di WhatsApp. Ini dibaca aja enggak," sahut Ameera, kembali mencoba mendial nomor ayahnya dengan jari yang mulai gemetar.
Sementara anak-anak sibuk memikirkan alasan logis di balik keterlambatan Imam, Habibah duduk mematung di salah satu kursi meja makan. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, meremas ujung khimar panjangnya dengan amat erat untuk menyembunyikan getaran hebat di jemarinya.
Jantung Habibah berdegup begitu kencang, berpacu liar di antara dua rasa yang saling bertubrukan: rasa cemas yang mendalam dan kilasan memori pagi tadi yang terus berputar di kepalanya.
Setiap kali Ameera menyebut kata "Papa", ingatan Habibah langsung ditarik paksa pada detik-detik menegangkan di meja makan itu beberapa jam lalu. Wajah Imam yang merapat, embusan napas hangat pria itu yang menyapu kulitnya, dan sentuhan ibu jari Imam di pipinya... semua itu terasa begitu nyata, seolah baru saja terjadi satu menit yang lalu. Sentuhan terlarang itu menyisakan debaran lemas yang membuat dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah.
“Mas Imam... kamu kemana?” batin Habibah menjerit, matanya menatap kosong ke arah mangkuk lauk di depannya.
Ada ketakutan besar yang menyergap hatinya. Apakah Imam sengaja tidak pulang karena menyesali kekhilafan mereka? Atau apakah pria itu merasa muak pada dirinya sendiri hingga memilih menghindar? Habibah merasa bersalah karena telah membiarkan benteng pertahanannya runtuh pagi tadi, dan kini, ketidakhadiran Imam seolah menjadi hukuman yang menyiksa batinnya.
"Ibu... Ibu beneran sudah sehat? Kok wajah Ibu kelihatan pucat lagi?" suara Rayhan mendadak membuyarkan lamunan Habibah. Rayhan menatap ibunya dengan pandangan menyelidik yang cemas.
Habibah tersentak, buru-buru memaksakan senyum tipis di bibirnya yang kering. "Eh... iya, Ray. Ibu nggak apa-apa. Cuma agak lapar saja mungkin, makanya agak lemas."
"Ya sudah, kalau begitu kita makan duluan saja yuk, Bu? Nggak usah nunggu Om Imam, takutnya Ibu drop lagi kalau telat makan," ajak Rayhan sambil bersiap mengambil piring.
"Jangan!" potong Habibah sedikit terlalu cepat, membuat Rayhan dan Ameera spontan menoleh menatapnya dengan heran.
Habibah menelan ludah, mencoba menata kembali suaranya agar terdengar kasual. "M-maksud Ibu... tidak sopan kalau kita makan duluan. Om Imam kan sudah menjaga Ibu seharian kemarin. Kita tunggu sebentar lagi ya? Mungkin sebentar lagi Papamu sampai, Meer."
Ameera menghembuskan napas berat, lalu berjalan lunglai ikut duduk di sebelah Rayhan. "Iya deh, kita tunggu lima belas menit lagi. Kalau Papa belum datang juga, aku telepon Om Hendra teman kantor Papa."
Di bawah temaram lampu ruang tengah, ketiganya kembali terdiam dalam keheningan yang menyiksa. Di sudut kamar sebelah kanan, sebuah rahasia besar malam itu tersimpan rapat, sementara di luar sana, deru mesin mobil yang dinanti belum juga memecah kesunyian halaman rumah.
*****