NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 30. Bercerita di atas tempat tidur

Aku mengangguk samar. “Yang pertama, Yang Kuasa lebih sayang dia. Yaa, memang. Aku tau dia sakit dari awal juga, cuma aku terlanjur jauh sama dia pas masa kuliah. Aku takut dengan fakta tentang aku yang udah ternodai, terus nggak ada laki-laki yang mau sama aku. Memang dulu sedangkal itu pemikiranku."

Aku diwisuda dan aku menikah. Hanya berjarak satu Minggu saja.

“Dua puluh dua tahun berarti?" Ia membawaku merosot berbantal lengan kekarnya.

“Mas lupa kah, aku D1 loh," protesku dengan memandang matanya. Sembilan belas tahun aku sudah menikah.

Aku ingin ia menyentuhku seperti tadi. Aku harus dengan caranya memikatku.

“Oh, iya. Terus?"

Itu tandanya aku harus melanjutkan bercerita kah? Sejak awal kenal, memang aku tidak pernah bercerita tentang kehidupanku.

“Dia bukan sakit kronis atau bagaimana. Tapi awalnya itu dia kecelakaan parah yang meremukkan atau menghancurkan pembuluh darah utama, saraf, dan jaringan tangan secara permanen. Dilihat mata normal sih, Mas. Tangannya ini utuh, jemarinya pun masih bisa merespon. Kejadian itu, tiga bulan sebelum kita nikah. Pas dengar kabar dia kecelakaan pun, pikiranku cuma satu. Nanti kalau dia meninggal, gimana? Siapa yang bakal tanggung jawab dengan keadaanku? Sampai pernah terucap di dalam hatiku sendiri, nggak apa jadi janda juga, asal aku nggak dicap sebagai perempuan yang nggak bisa jaga mahkota,” ungkapku perlahan, dengan memainkan kancing kemejanya.

Aku bisa merasakan napasnya dan detak jantungnya.

"Jadi, dia meninggal gara-gara kecelakaan itu? Kan katanya kejadiannya sebelum nikah kecelakaan itu?” Ia tengah fokus pada ceritaku rupanya.

"Gangren atau apa sih namanya. Jadi karena dibiarkan aja tanpa tindakan, berapa waktu setelah kecelakaan itu. Cuma diurut-urut aja tuh, nggak dibawa ke rumah sakit. Jadi infeksi tuh, Mas. Kata dokter saat itu, infeksi bakteri yang udah fatal karena kerusakan jaringan akibat aliran darah yang terhenti. Jadi dia meninggalkan gara-gara itu, pembusukan dan kegagalan multi organ. Kurang lebih kek gitu yang dokter bilang selama aku tiga hari di rumah sakit nemenin dia tuh,” terangku dengan fokus membuka kancing kemejanya.

"Dia meninggal setelah kalian nikah berapa lama?” tanyanya kemudian.

"Belum genap dua bulan, Mas. Dari awal dia kecelakaan sampai meninggalnya tuh kurang lebih empat bulanan. Pas kita nikah, dia sebenarnya udah lagi parah-parahnya. Sehari setelah nikah juga, udah dibawa ke rumah sakit lagi. Tapi dia dan keluarganya tuh ngeyel, nggak mau diamputasi biar bakterinya nggak merajalela. Kalau misalnya cepet aja keputusan keluarganya tuh, keknya nggak bakal begitu ceritanya,” balasku dengan kembali membuka kancing kemeja selanjutnya.

Aku tidak tahu, tanganku bergerak sendiri.

"Terus pernikahan yang kedua?”

Inilah yang paling jijik untuk aku bahas. Bahkan aku ingin dia mati saja, aku sampai bolak-balik tes darah untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bersih.

“Nggak usah dibahas, Mas. Intinya tiga kali aku bercerai." Aku mengusap dadanya yang tidak tertutupi kemejanya.

Aku sukses membuka kancing kemejanya.

Keras sekali dadanya, aku amat mengagumi kegagahannya ini.

"Hei…" Ia terkekeh geli ketika menyadari aku sudah membuat dada bidangnya terekspos.

“Ceritakan dulu, De. Mas tetap tak akan mundur, setelah dengerin semua cerita kamu. Mas cuma pengen tau, kenapa kamu sampai gagal terus berumah tangga. Tapi yang jelas sama yang pertama itu cerai mati kan? Bukan cerai pisah.” Ia menahan tanganku di dadanya.

"Dia bi, Mas,” jawabku muak.

Aku tidak bisa membayangkan ketika ia tengah ****gauli pacar laki-lakinya di luar, lalu pulang padaku dan mengg***liku selayaknya suami istri.

"Bise**ual?” Matanya membelalak dengan tanganku yang ia tahan.

Aku mendongak memperhatikan wajahnya, aku memberi anggukan samar.

"Iya, udah jangan dibahas. Aku jijik, Mas. Aku periksa berulang kali, aku sampai datang ke laboratorium ternama di Jawa Tengah biar aku yakin kalau aku bersih. Aku takut menularkan penyakit ke keluargaku, lebih-lebih ke keturunanku.” Aku menepuk dadanya pelan.

Aku ingin menyudahi membahas ini, aku jadi mual membayangkan ex suamiku itu dengan pacarnya yang juga laki-laki. Ya memang separah itu, dia tertarik pada laki-laki dan ia bisa merespon perempuan dengan ketertarikan yang sama juga.

"Oke, oke. Berapa lama kamu sama dia berumah tangga?" tanya mas Barraq kembali.

Ia tengah mewawancaraiku rupanya.

“Nggak ada sebulan, Mas. Langsung ketahuan begitu aku ikut dia ke rumah miliknya sendiri. Tapi memang kita selama pernikahan itu pernah campur suami istri beberapa kali. Tapi karena persyaratan cerai harus menikah minimal enam bulan, jadi aku rampung ngurus cerai itu di delapan bulan setelah pernikahan.” Bayangkan saja, aku dua puluh tahun sudah menjadi janda dia kali.

Ya, dua kali.

Cerai mati dan cerai pisah.

“Terus yang permasalahan kemarin itu karena apa? Karena kehadiran Mas kah? Kamu tertarik sama Mas kah?" Ia membawaku ke dalam kungkungannya.

“Bentar." Aku mencari keberadaan ponselku.

Mas Barraq melepaskanku, kemudian aku segera bangkit untuk mengambil ponselku berada. Tas milikku ada di mobil, kami masuk ke dalam club malam hanya membawa ponsel. Tentu juga mas Barraq membawa dompetnya juga selain ponsel.

“Aku belum pernah hapus pesannya, Mas baca sendiri aja. Karena kami selalu ribut lewat chat," ujarku dengan menunjukkan room chatku dengan mas Galih.

Ia segera bangkit dan mengambil alih ponseku. Tidak lupa, ia membenahi kemejanya yang sudah tidak terkancing dengan benar itu agar tetap terpasang di tubuhnya.

"Dia mokondo?” Satu pertanyaan itu lolos tak lama setelah aku menyerahkan ponselku.

"Baca aja, Mas.” Aku tidak mau membuang tenaga untuk menceritakan laki-laki playing victim seperti mas Galih itu.

"Bentar, De.” Ia mengusap kepalaku, kemudian ia mengambil satu bantal untuk menjadi sandarannya di kepala ranjang.

Mata merahnya fokus sekali pada ponselku.

"Berarti, jarak pernikahan kamu itu berapa lama? Sampai kamu memutuskan untuk nikah lagi tuh,” tanyanya setelah ia merampas ponselku dan menaruhnya di nakas yang dekat dengan dirinya.

"Dari pernikahan pertama, aku nikah lagi di tahun yang sama. Di pernikahan ketiga, aku nikah lagi di tahun yang sama aku resmi menjanda. Jadi selama dua tahun tuh, aku hajatan tiga kali,” terangku dengan memeluk satu bantal guling.

Padahal lebih enak memeluk dirinya.

"Dua puluh empat tahun, janda tiga kali? Ini serius?” Ia mengangkat tiga jarinya dan tertawa lepas.

Sial, ia malah meledekku.

"Ya, aku udah empat tahun nikah sama yang terakhir ini," balasku dengan menarik kerah kemejanya.

Aku gemas padanya. Ia tidak segera menyerangku sejak tadi.

“Selama tiga tahun itu, kamu belum pernah hamil?" tanyanya kembali. Tubuhnya merosot, ia menyetarakan tinggi kepala kami.

“Sejak awal, aku berniat menunda. Di awal tahun pernikahanku juga, aku sempat sakit-sakitan." Bahkan saat itu orang tuaku berpikir bahwa ibu mertuaku mengirimiku santet.

Padahal karena aku tidak nyaman tinggal di rumah mertua saja itu kejadiannya.

“Terus setahun menikah, aku merantau. Di perantauan ini kan, aku udah dua tahun lebih," tambahku dengan mengusap pelipisnya.

Ia berkeringat, tapi ia seksi sekali. Di awal aku selalu memberontak, menolak pesonanya. Aku pun dengan sombongnya selalu mengatakan bahwa dirinya tidak sopan.

Tapi sekarang, aku malah terkesan gatal.

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!