Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Malam di rumah megah keluarga Haikal begitu hening. Jam dinding antik di ruang tamu berdetak pelan, jarumnya menunjukkan pukul sebelas lebih sedikit. Di luar, hujan gerimis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang samar masuk lewat jendela besar yang tak tertutup rapat.
Lampu gantung kristal di ruang tamu menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan yang jatuh lembut ke permukaan sofa kulit hitam. Di atas sofa itulah Haikal duduk, bersandar lemah. Jas kerjanya sudah terlepas, kemejanya sedikit kusut, dua kancing atas terbuka. Rambutnya berantakan, jemarinya menekan pelipis.
Kepalanya penuh dengan suara Sagita. Pertengkaran barusan masih berputar-putar seperti duri yang menusuk relung hatinya.
"Kenapa Mas nggak bisa kayak laki-laki lain? Untuk apa aku jadi istri kalau aku nggak pernah merasa jadi perempuan seutuhnya? Mas cuma bisa kerja, cuma bisa pamer harta. Tapi di rumah? Mas bukan siapa-siapa! Tadi kata Mas bangun, apa nya yang bangun, letoy kayak siput gitu."
Haikal mengerang pelan, kepalanya tertunduk semakin dalam. Tangannya mengepal di paha. Rasa sakit, marah, sekaligus rendah diri menyatu jadi satu, menghantam harga dirinya yang selama ini ia jaga.
Ia merasa kosong.
Saat itu, suara langkah pelan terdengar dari arah dapur. Haikal menoleh cepat, matanya sedikit terbelalak. Sosok Laura muncul. Gadis muda itu berjalan ringan dengan nampan kecil di tangannya. Ia hanya mengenakan pakaian tidur tipis dari satin berwarna krem pucat, begitu tipis hingga cahaya lampu membuat lekuk tubuhnya terlihat samar. Rambut hitam nya di cepol asal, membuat leher putih mulusnya terekpos sempurna.
Dan yang paling membuat Haikal tercekat—kain tipis itu tidak menyembunyikan apapun. Dan bisa Haikal lihat jelas jika Laura tidak memakai Dal laman.
Jantung Haikal berdegup keras. Matanya seketika menunduk, mencoba mengalihkan pandangan, namun justru pandangannya terjatuh pada belahan dada Laura yang tampak jelas dari kain satin yang longgar.
Laura tersenyum samar, menatapnya dengan mata teduh namun menyimpan kilat nakal.
“Pak Haikal belum tidur?” suaranya lembut, nyaris berbisik, tapi entah bagaimana justru menggema di ruangan sepi itu.
Haikal terdiam sejenak, tenggorokannya terasa kering. “Saya lagi… banyak pikiran,” jawabnya lirih, suaranya parau.
Laura mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi kecil di lantai marmer. Aroma wangi tubuhnya, campuran sabun, parfum bunga, dan kehangatan alami,menyusup ke indra penciuman Haikal. Membuat kepalanya berputar.
“Kalau begitu…” Laura meletakkan secangkir coklat panas di meja kaca di depan Haikal. Ia sengaja membungkuk rendah, memperlihatkan jelas lekuk dadanya yang menggoda.
“Minum ini, Pak. Coklat panas bisa menghilangkan stres.”
Haikal menelan ludah kasar. Ia bisa merasakan tubuhnya bereaksi, dadanya naik turun lebih cepat. Laura menatapnya sejenak, lalu meluruskan tubuhnya kembali. Senyum samar masih menggantung di bibirnya.
“Saya tahu Bapak lagi ada masalah. Kalau butuh teman bicara… saya siap kok pak jadi teman curhat bapak.”
Ia kemudian berbalik, berjalan perlahan menuju lorong kamar. Gerakan pinggulnya terayun halus, baju tipisnya bergoyang mengikuti langkah. Haikal menatapnya, tak berkedip.
Sesaat sebelum pintu kamarnya menutup, Laura menoleh. Tatapan matanya begitu dalam, seperti undangan tak terucap. Ia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum singkat… lalu pintu tertutup pelan.
Haikal terduduk, tubuhnya tegang. Coklat di hadapannya masih mengepulkan asap, tapi ia tak sanggup menyentuhnya.
"Ya Tuhan… apa yang kulihat barusan? Kenapa tubuhku bereaksi begini? Kenapa hanya dengan dia aku bisa merasa hidup?"
Ia memejamkan mata, namun bayangan tubuh Laura dengan pakaian tipis tadi justru semakin jelas dalam kepalanya. Senyumnya, lirikan matanya, aroma tubuhnya. Darahnya berdesir. Tangannya mengepal, berusaha menahan diri.
"Jangan, Haikal. Kau punya istri. Kau laki-laki yang terhormat. Jangan jatuh ke jurang ini."
Namun ada suara lain, lebih keras, lebih menggoda. “Istrimu bahkan tidak peduli. Ia meninggalkanmu malam ini, entah dengan siapa. Kau tahu, Gita sudah memilih pria lain. Lalu kenapa kau harus bertahan?” bisikan itu terdengar jelas.
Haikal menggertakkan gigi. Keringat dingin muncul di keningnya.
Di kamarnya, Laura duduk di tepi ranjang, pipinya sedikit merona. Ia baru saja melepas jepit rambut, membiarkan helai hitam panjangnya jatuh bebas.
Senyum puas menghiasi wajahnya. Ia bisa merasakan tatapan Haikal tadi—tatapan yang lapar, tatapan yang tak bisa disembunyikan.
“Dia sudah goyah,” bisiknya pelan. “Sedikit lagi… dia akan datang kepadaku.”
Ia merebahkan tubuhnya, lengan kirinya menutupi mata, membiarkan debaran jantungnya menari. Bukan karena gugup, tapi karena kemenangan terasa begitu dekat.
Haikal bangkit berdiri. Langkahnya goyah, dadanya sesak. Ia berjalan mondar-mandir, kepalanya tertunduk. Juniornya masih berdiri tegak paripurna. Ia sudah lama menginginkan hal itu.
Matanya melirik ke arah lorong kamar. Pintu kayu berwarna putih itu terasa seperti magnet.
Tangannya bergetar ketika menyentuh gelas coklat panas nya. Ia meneguk sekali, berharap manisnya coklat bisa mengusir godaan. Tapi justru semakin manis rasanya di lidah, semakin panas tubuhnya bergejolak.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Bayangan wajah Sagita muncul. Senyum di hari pernikahan mereka, saat ia berkata “ya” dengan penuh cinta.
Namun segera bayangan itu berubah. Sagita yang memandangnya dingin, Sagita yang menghina impotensinya, Sagita yang keluar rumah malam ini untuk menemui selingkuhannya.
Haikal menutup mata rapat-rapat. Air matanya hampir menetes.
“Kenapa aku harus setia… kalau dia sendiri sudah mengkhianati ku?” gumamnya, nyaris tak terdengar. Ya... Haikal sudah tau jika selama ini Istrinya mendapatkan kepuasan dengan laki-laki lain, dengan Alasan Haikal tak bisa memberikan nya.
Kakinya melangkah pelan ke arah lorong. Setiap langkah seperti beban seribu kilogram. Jantungnya berdegup keras, tangannya berkeringat. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu kamar Laura.
Tangannya terangkat, gemetar di atas gagang pintu. Ia menahan napas. Dunia seolah berhenti berputar.
Di dalam kamar, Laura mendengar suara langkah mendekat. Bibirnya melengkung. Ia bangkit dari ranjang, berdiri menghadap pintu. Napasnya teratur, penuh percaya diri.
“Ya, Pak Haikal,” bisiknya lirih, “datanglah padaku. Malam ini, kau milikku.”
Di luar, Haikal berdiri kaku. Tangannya menyentuh gagang pintu.
Ia bisa masuk… atau berbalik.
Detik itu akan menentukan segalanya: apakah ia jatuh ke dalam pelukan terlarang, atau menahan diri dengan sisa-sisa kesetiaan yang hampir hancur. Saat ia akan membuka pintu kamar Laura tiba-tiba saja ia tersadar jika yang dilakukan nya salah. Ia pun segera berjalan cepat menuju kamar mandi dan melakukan Solo sembari membayangkan tubuh Laura.
"Ahhh...nik mat sekali..Oh....yaaah...Laura...kamu memang meng goda.., Aah...." racau Haikan dan mendapatkan pelepasan setelah sekian lama walaupun hanya dilakukan solo.
Tanpa sepengetahuan Haikal, Laura menyaksikan semua itu secara diam-diam. Dan betapa kagetnya Laura saat melihat Jojo Haikal sangat besar dan keras.
Glek...
"Gila!!! gede banget. Gue jadi pengen coba." lirihnya penuh damba.