Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EIGHTEEN
Di dalam kamar utama kediaman Herlos, cahaya lampu kristal yang berpendar redup seolah merefleksikan suasana hati penghuninya. Jerry Herlos duduk di kursi kebesarannya, sebuah kursi berlapis beludru merah yang tampak terlalu besar untuk tubuh tuanya yang kian mengurus. Gurat-gurat kelelahan dan kecemasan terukir begitu dalam di wajahnya yang keriput. Sepasang tangannya yang gemetar menggenggam erat selembar kertas putih berlogo resmi Herlos Grup. Napasnya terdengar berat, sesekali terputus oleh helaan napas panjang yang sarat akan beban pikiran.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan yang mencekam. Tak lama kemudian, pintu jati itu terbuka perlahan. Zacky melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk, membawa aura profesionalisme yang biasa ia tunjukkan, meskipun raut wajahnya sendiri tidak bisa menyembunyikan ketegangan.
"Tuan Besar," panggil Zacky dengan suara rendah yang hati-hati. Ia berjalan mendekat dan berdiri dua langkah di depan meja Jerry. "Anda memanggil saya? Bagaimana kondisi Anda? Wajah Anda terlihat sangat pucat."
Jerry mendongak, matanya yang sayu menatap sekretaris kepercayaan cucunya itu. Ia mengangkat kertas di tangannya dengan lemah, lalu mengempaskannya ke atas meja marmer.
"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang, Zacky?" suara Jerry terdengar serak, bergetar oleh amarah yang bercampur dengan rasa tak berdaya. "Lihat ini. Surat tuntutan dari dewan komisaris. Mereka sudah tidak sabar untuk membuat keributan."
Zacky mengambil kertas tersebut, membaca baris demi baris kalimat formal yang tertulis di sana. Alisnya bertaut rapat. "Ini... tuntutan sidang pleno darurat?"
"Ya," Jerry bersandar pada kursi, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Kondisi perusahaan Herlos sedang berada di ujung tanduk, bukan karena masalah finansial, tapi karena mosi tidak percaya. Para komisaris dan pemegang saham mayoritas menuntut posisi Direktur Utama untuk segera digantikan. Mereka secara terang-terangan menyatakan bahwa Aksa dinilai tidak lagi mampu secara mental dan fungsional untuk memimpin Herlos Grup."
"Mereka memanfaatkan kondisi sakitnya Tuan muda, Tuan Besar?" tanya Zacky, suaranya menegang.
"Tentu saja! Bajingan-bajingan tua itu selalu mencari celah," Jerry memukul sandaran tangan kursinya. "Besok pagi. Besok jam sembilan pagi mereka akan mengadakan rapat besar di kantor pusat untuk membahas tentang pergantian posisi ini secara resmi. Jika kita tidak bisa memberikan pembuktian terbalik, mereka akan melakukan pemungutan suara untuk mendepak Aksa."
Zacky terdiam, otaknya berpikir keras memutar balik skenario. "Tuan Muda Dayaksa tidak mungkin bisa hadir besok, Tuan Besar. Pengaruh obat penenang dari Dokter Leon memang sudah berkurang, tetapi kondisi emosionalnya masih sangat tidak stabil. Jika mereka melihat Aksa kehilangan kendali bahkan hanya untuk satu detik di ruang rapat... maka habislah kita. Posisinya sebagai pewaris utama seluruh aset Herlos tidak hanya terancam, tapi akan hancur selamanya."
"Aku tahu!" Jerry memejamkan mata, napasnya menderu. "Itu yang paling aku takuti. Mereka sengaja memancing Aksa agar keluar dan kehilangan kendali di depan publik, sehingga mereka punya alasan hukum yang sah untuk menyatakannya tidak kompeten secara mental."
Zacky melangkah satu langkah lebih dekat, memberikan usulan dengan nada mendesak. "Jika demikian situasinya, saya menyarankan untuk Tuan Besar sementara waktu memegang kembali kendali penuh atas perusahaan. Ambil alih takhta Direktur Utama untuk sementara waktu. Dewan komisaris tidak akan berani mendebat Anda jika Anda sendiri yang turun tangan ke ruang rapat besok."
Jerry membuka matanya, menatap Zacky dengan pandangan mata yang dipenuhi kepedihan yang mendalam. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar hebat, bahkan untuk memegang pulpen pun tampaknya ia akan kesulitan.
"Kau pikir aku tidak ingin melakukannya, Zacky?" Jerry terkekeh getir. "Alasan kesehatanku tidak memungkinkan lagi bagi diriku untuk berlama-lama di kantor. Berdiri selama satu jam di depan dewan direksi saja bisa membuat jantungku berhenti berdetak. Fisikku sudah habis, Zacky. Aku tidak akan kuat menahan tekanan ruang rapat yang penuh dengan serigala-serigala itu."
Ruangan itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Zacky mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasa frustrasi karena untuk pertama kalinya, mereka kehabisan jalan keluar.
"Aku yang akan pergi besok."
Sebuah suara dingin, datar, namun penuh dengan otoritas mutlak tiba-tiba memecah keheningan dari arah pintu kamar yang ternyata tidak tertutup rapat.
Jerry dan Zacky tersentak, serempak menoleh ke arah ambang pintu. Di sana, Dayaksa Herlos berdiri dengan tegak. Ia telah mengganti pakaiannya dengan kemeja hitam bersih, meskipun perban tipis masih membalut buku-buku jarinya. Sepasang matanya yang gelap menatap lurus ke arah kakeknya, tidak ada lagi binar manja seperti saat bersama Della, yang ada hanyalah sosok penguasa yang kejam dan tak tersentuh.
Aksa ternyata sudah berdiri di luar dan mendengarkan seluruh percakapan mereka sejak tadi. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan ketenangan yang mengintimidasi. "Besok pagi, aku yang akan kembali ke kantor dan memimpin rapat itu."
"Tapi Aksa...!" Jerry langsung bangkit berdiri dengan bantuan tongkatnya, wajahnya dipenuhi rasa panik. "Kondisimu belum pulih benar! Obat penenang itu masih ada di dalam sistem tubuhmu, dan emosimu—"
"Tenang, Kakek," potong Aksa cepat. Ia berhenti di depan meja Jerry, menumpukan kedua tangannya yang berbalut perban di atas meja marmer, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan senyum miring yang penuh dengan aura bahaya. "Aksa sudah tahu apa yang harus dilakukan terhadap bajingan-bajingan tua itu. Mereka ingin melihatku gila? Maka aku akan menunjukkan kepada mereka, bagaimana cara seorang pria gila menguliti musuh-musuhnya di atas meja bisnis."
Sementara itu, di koridor lantai atas, Della berjalan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah kering. Ia melirik ke arah ranjang yang kini sudah kosong. Aksa tidak ada di sana. Rasa cemas kembali merayap di benak Della. Ia segera melangkah menuruni tangga dan menemukan Zacky yang baru saja keluar dari ruang kerja Tuan Jerry.
"Zacky," panggil Della cepat, membuat sekretaris itu menghentikan langkahnya. "Di mana Aksa? Aku baru bangun dan dia sudah tidak ada di kamar."
"Nyonya Muda," Zacky membungkuk hormat. "Tuan Muda saat ini berada di perpustakaan kecil di sayap barat mansion."
Della mengangguk sejenak, lalu melangkah dengan cepat menuju perpustakaan yang dimaksud. Begitu ia mendorong pintu kayu yang berat itu, keheningan ruangan langsung menyambutnya. Aroma kertas tua dan wangi kayu cendana menguar di udara. Di balik sebuah meja kerja kayu ek yang besar, Aksa duduk di bawah sorotan lampu meja yang temaram. Di sekelilingnya, puluhan map dokumen tebal bertumpuk, beberapa lembar kertas laporan keuangan tersebar di atas meja.
Della berjalan mendekat tanpa suara, namun Aksa tampaknya menyadari kehadirannya. Pria itu tidak mendongak, melainkan jemarinya tetap bergerak lincah membalik halaman dokumen dengan kecepatan yang luar biasa.
"Apa yang sedang kau lakukan, Aksa?" tanya Della lembut, ia berdiri di samping kursi suaminya.
"Mempelajari beberapa berkas penting perusahaan untuk rapat dewan direksi besok pagi," jawab Aksa pendek. Suaranya terdengar sangat fokus, matanya yang tajam membaca deretan angka dan grafik pertumbuhan saham Herlos Grup tanpa berkedip.
Della beralih menatap Zacky yang ternyata ikut masuk dan berdiri di dekat pintu perpustakaan. Della melayangkan pandangan penuh tanya dan kecemasan kepada sekretaris itu. "Zacky, apakah dia sudah dalam kondisi prima untuk melakukan ini? Apa Dokter sudah memastikan kondisi mentalnya baik-baik saja?"
Zacky menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat serius saat melangkah mendekati meja kerja. "Tidak ada pilihan lain, Nyonya Muda. Jika Tuan Muda tidak hadir besok pagi pukul sembilan, maka posisi Tuan Muda sebagai pewaris utama Herlos Grup akan terancam runtuh. Dewan komisaris sudah mengajukan mosi tidak percaya."
Zacky menjeda kalimatnya, melirik Aksa yang masih tenggelam dalam berkasnya. "Selama beberapa tahun ini, Tuan Jerry terus menggunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk menekan semua berita buruk tentang kondisi mental Tuan Muda agar tidak bocor ke publik. Namun kondisi kesehatan mental tuan muda dimanfaatkan oleh musuh dalam selimut untuk menyerang kita. Besok adalah penentuannya."
Della kembali memalingkan wajahnya menatap Aksa. Ia memperhatikan bagaimana suaminya itu dengan sangat serius mencoret beberapa poin di atas kertas dengan pulpen hitam, dahinya berkerut dalam, memperlihatkan konsentrasi tingkat tinggi seorang profesional.
Della memilih untuk diam dan tidak mengganggu. Ia melangkah mundur satu langkah, bersandar pada rak buku besar di belakangnya, membiarkan sepasang matanya mengagumi sosok di depannya. Di balik segala kekurangan mental dan trauma yang menyiksanya, Della tidak bisa menutupi rasa kagumnya bahwa suaminya merupakan seorang jenius bisnis yang langka. Cara Aksa menganalisis titik lemah laporan keuangan dalam hitungan menit adalah sesuatu yang luar biasa.
Jika mentalnya tidak terganggu sejak kecil, sudah dipastikan saat ini perusahaan Herlos akan berada di puncak tertinggi perekonomian benua ini tanpa ada satu pun orang yang berani mengusik, batin Della dalam hati, ada secercah rasa bangga sekaligus kepedihan yang ia rasakan untuk suaminya.
Matahari baru saja memancarkan sinar pertamanya menembus gorden kamar utama kediaman Herlos. Pagi-pagi sekali, suasana di dalam kamar sudah diselimuti oleh ketegangan yang sunyi.
Aksa sudah berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan setelan jas formal tiga potong berwarna hitam legam rancangan desainer Italia terbaik. Kemeja putihnya yang kaku kontras dengan warna kulitnya, sementara rambutnya yang hitam pekat sudah ditata rapi ke belakang dengan pomade, menampakkan dahi dan rahangnya yang tegas. Penampilannya pagi ini benar-benar memancarkan aura seorang CEO berdarah dingin, menutupi seluruh fakta bahwa beberapa jam yang lalu ia adalah pria yang merengek manja di pelukan istrinya.
Della melangkah mendekat dari arah belakang. Ia mengenakan gaun formal berwarna marun yang anggun. Dengan gerakan yang lembut dan terlatih, Della mengambil alih dasi sutra hitam yang ada di tangan Aksa.
"Biar aku pasangkan," bisik Della lembut.
Aksa menurunkan pandangannya, menatap wajah Della yang berada sangat dekat dengan dadanya. Ia berdiri diam seperti patung, membiarkan jemari lentik Della bergerak lincah melilitkan kain sutra itu di kerah kemejanya, membentuk simpul Windsor yang sempurna.
Setelah dasi terpasang rapi, Della tidak langsung melepaskan tangannya. Ia beralih mengambil sebuah cangkir kecil berisi air putih dan sebutir pil dari atas meja rias, obat penenang saraf yang baru dan aman yang diberikan oleh Dokter Leon tadi malam.
"Minum ini dulu, Aksa," ucap Della, menyodorkan obat itu ke depan bibir suaminya. "Agar kondisi mentalmu cukup terkendali di dalam sana nanti."
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua