NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Kini Joy, Alfian, Kayla, dan Jenny sudah berada dalam satu mobil. Alfian dan Kayla duduk di depan. Sedangkan Joy dan Jenny berada di belakang.

"Apakah punggungmu tidak sakit? Kulihat tadi kau terlihat sedang menahan rasa sakit yang begitu hebat. Kenapa setiap kali pulang kau selalu begini?" Jenny memberanikan diri bertanya. Pertanyaan yang selama ini hanya tertahan di tenggorokan, kini telah ia ucapkan.

Joy hanya melirik sekilas ke arah Jenny. Kemudian, dia menggertakkan giginya hingga berbunyi keras, rahangnya seketika mengeras. Ia tampak sangat emosi mendengar pertanyaan itu.

"Bukan urusanmu!" Jawabnya dingin dan tajam.

Nyali Jenny seketika menciut, ia langsung mengarahkan pandangan ke arah lain untuk menghilangkan rasa takut yang menjalar di dada.

Sedangkan Kayla dan Alfian memilih diam, bahkan mereka tidak berani melihat situasi di belakang menggunakan cermin yang ada di depan mereka. Mereka juga tidak ingin memperburuk suasana.

Mata Jenny seketika memanas, hatinya sangat sedih. Entah kenapa, melihat Joy yang marah membuatnya takut sekaligus sedih. Ia tak pernah dimarah seperti ini, hal tersebut membuatnya tidak terbiasa.

Terdengar suara tangisan, tubuhnya bergetar. Semakin lama suara tangisan itu semakin terdengar jelas.

Melihat hal itu, Joy merasa sangat bersalah. Ia tidak menyangka ucapannya akan membuat Jenny sedih. Joy seketika bingung harus berbuat apa? Apalagi saat ini emosinya belum sepenuhnya stabil.

Joy menyentuh pundak Jenny dengan lembut."Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini."

Jenny sama sekali tidak menengok, ia masih terus menangis. Bahkan saat ini suara tangisannya jauh lebih besar ketimbang yang tadi.

Joy kembali menepuk-nepuk pelan bahu Jenny, "Jen! Jenny! Jangan nangis dong, aku tahu aku salah. Tapi jangan seperti ini juga!"

Alfian tertawa gemas melihat adegan itu. Mereka adalah pasangan yang lucu dan bikin ketawa. Apalagi sikap Joy yang seketika berubah membuatnya tidak bisa menahan tawa.

"Udah kasih ciuman aja! Pasti ilang ngambeknya!" Teriaknya.

"Kamu ih!" Kayla memukul kepala Alfian sedikit keras.

Ayo Joy! Ikuti ucapannya Kak Alfian! Batin Jenny berteriak.

Jenny kembali menambah suara tangisannya, kini suaranya sudah sangat menggema di dalam mobil. Ia sengaja melakukan hal itu agar Joy semakin panik dan segera mengambil tindakan.

Emang beneran bisa? Apakah tindakan itu bisa menghentikan tangisnya?

Joy semakin bingung, ia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus melakukan apa yang diucapkan Alfian? Kalau itu beneran bisa membuat Jenny berhenti menangis, ia akan melakukannya.

 Tapi... Kalau Joy melakukannya, ia tidak tahu akan sanggup atau tidak. Setiap kali bersentuhan dengan Jenny dadanya selalu bergejolak hebat. Seakan-akan ada sesuatu yang ingin keluar dan butuh pelampiasan.

"Jenny apa kau suka ciuman?" Tanya Joy polos.

Kenapa pake ditanya sih! Udah! Langsung aja! Sengaja banget bikin aku malu!

Jenny terlihat sangat kesal dengan pertanyaan polos yang dilontarkan oleh Joy. Ia merasa Joy terlalu ribet.

Mungkin Kak Kay dan Kak Alfian sedang menertawakan ku! Menyebalkan!

Jenny berhenti sejenak, ia menghentak-hentakan kakinya dengan kuat, lalu menyenggol tubuh Joy dengan sikunya.

"Jenny... Menghadap lah kesini!" Perintah Joy dengan suara yang pelan dan tenang.

Cup!

Joy langsung mendaratkan ciuman di bibir Jenny. Namun, ciuman itu tidak berlangsung lama, Joy langsung menghentikannya.

"Maaf ya...Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja pertanyaannya sangat sensitif." Ucap Joy sambil memegangi kedua bahu Jenny.

Ia berharap Jenny paham dengan penjelasannya. Ia juga tidak bisa memberikan alasan yang sebenarnya. Karena itu adalah hal yang paling privat dan menyedihkan.

"Iya. Maaf kalau sudah menanyakan hal yang tidak kau sukai. Lain kali aku akan berhati-hati." Ucap Jenny seraya mengelap air mata yang tersisa.

Pip!

Alfian memencet klakson mobil secara tiba-tiba. Padahal di depan sana tidak ada orang, jalanan juga sepi dan terbilang lancar.

"Drama banget! Udah cocok jadi pemeran utama! Yang satu manja, yang satunya lagi sabar suka penurut!" Ledek Alfian seraya melirik mereka dari cermin mobil.

Alfian dan Kayla saling menatap seraya tersenyum, seolah-olah apa yang mereka pikirkan sekarang itu sama.

"Polos dan bodoh itu beda tipis kan?" Bisik Kayla kepada Alfian dengan suara pelan.

Alfian hanya tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Joy. Dia sangat mudah di bohongi, dia tidak tahu Jenny sedang memanipulasinya.

"Joy!"

Suara Jenny memecah keheningan. Joy yang tadinya sedang berkhayal dan melamun, seketika langsung tersadar. Ia segera memalingkan wajahnya ke samping, menatap Jenny.

"Ada apa?" Tanya Joy dengan suara lembut dan penuh hati-hati.

Joy takut kalau dia berbicara dingin Jenny pasti akan menangis seperti tadi. Kalau sampai hal itu terjadi lagi, di juga yang akan repot.

"Sakit banget ya? Nanti kalau kamu mau istirahat, kamu bisa istirahat disini." Ucap Jenny seraya menepuk-nepuk pahanya pelan, menawarkan tempat ternyaman.

Joy tak berkata apa-apa ia hanya diam dan mengangguk. Dengan cepat ia langsung membaringkan kepalanya ke pangkuan Jenny.

Di pangkuan Jenny, kedamaian dan kenyamanan yang ia rasakan. Seolah beban yang ia pikul berkurang sedikit. Berada di tempat yang nyaman membuat rasa kantuknya muncul. Ia pun segera tertidur dengan damai.

Joy baru pertama kali ini tidur senyaman ini. Ternyata berada di dekat orang yang ia sayang, bukan hal negatif saja yang ia dapat, melainkan hal positif.

Alfian membawa mobil dengan sangat pelan dan hati-hati, ia terlihat sangat waspada. Alfian sengaja melakukan hal itu, agar dirinya tidak menggangu Joy yang saat ini sedang beristirahat.

Jenny membelai kepala Joy dengan sangat lembut, dia menatap Joy dengan tatapan yang dalam. Hati Jenny menjadi sesak, seolah ia bisa merasakan penderitaan Joy.

Sebenarnya penderitaan apa yang kau rasakan? Sikapmu seperti ini pasti karena lingkunganmu, Kan? Andai... Aku bisa mengambil sedikit saja, bebanmu itu. Pasti aku akan melakukannya. Batin Jenny.

Jenny langsung menghapus air matanya yang hampir jatuh ke wajah Joy. Setelahnya Jenny mencium dahi Joy dengan sangat lembut.

Ciuman itu bukan ciuman nafsu, melainkan ciuman kasih sayang. Ia ingin memberikan kekuatan ke pada Joy. Walaupun dia tahu hal itu tidak terlalu membantu.

Sebenarnya perjalanan ke rumah dinas tidak terlalu jauh. Namun, karena tidak ingin membangunkan Joy, ia memilih jalur yang agak jauh. Mungkin perjalanannya bisa sampai 3 jam.

Mereka sangat menjaga Joy dengan sangat baik. Kerena bagi mereka... Joy bukan hanya sebatas teman setim, melainkan keluarga.

Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi mereka berusaha untuk memberikan tempat ternyaman buat Joy. Mereka berusaha menjaganya dengan sebaik mungkin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!