(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 21 - PEMIMPIN MONSTER
...Yang paling berbahaya bukanlah monster yang menyerang......
...…melainkan yang membuat segalanya tiba-tiba diam....
...⚙⚙⚙...
Arven menarik napas panjang, paru-parunya terasa panas oleh debu pertempuran yang menyesakkan. Di sampingnya, Liora berdiri dengan sikap waspada, jemarinya dengan cekatan memicu mekanisme Valkyra untuk kembali ke mode busur.
Di sekeliling mereka, sisa-sisa kawanan monster mulai menarik diri. Predator-predator bayangan itu mundur perlahan, seolah-olah keberanian mereka telah tercabut habis setelah menyaksikan kejatuhan Bonebreaker Brute.
Di atas menara pengawas yang retak, Rogan menurunkan busur mekanisnya, menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang masih gemetar. “Sepertinya mereka mulai mundur!“ serunya, suaranya pecah di tengah kesunyian malam.
Beberapa penjaga desa yang tersisa mengeluarkan sorakan lelah yang sarat akan kelegaan yang dipaksakan.
“Dorong mereka kembali ke kegelapan hutan.“ Seru Bram yang masih menggenggam tombak mekanisnya. “Jangan biarkan satu pun dari iblis itu kembali ke desa kita“
Seorang penambang muda tertawa lega, sebuah suara yang terdengar sangat asing di tengah ladang pembantaian ini. “Kita menang!“ teriaknya ke arah langit malam.
Monster-monster kecil seperti Nightclaw Stalker mulai melesat masuk ke dalam rimbunnya hutan utara. Namun, Arven menyadari sesuatu yang ganjil.
Makhluk-makhluk itu tidak sekadar mundur, mereka melarikan diri dengan panik yang liar. Itu bukan pelarian karena takut pada tombak manusia, melainkan seolah-olah ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sesuatu yang purba dan tak terelakkan, sedang menunggu di balik bayang-bayang pepohonan.
Di depan gerbang utama, Garrick menghantamkan palu tambang raksasanya ke tanah dengan dentuman berat yang menggetarkan fondasi bumi. Napasnya menderu berat, beberapa luka sayatan menghiasi lengan kekarnya, namun sepasang matanya tetap tajam. Ia menatap kawanan monster yang kini berhamburan meninggalkan desa.
Ia tidak tersenyum. Tatapannya justru mengeras. “Jangan kejar terlalu jauh,“ katanya pelan, tapi tegas. “Ada yang salah.“
Liora dibelakangnya mengerutkan kening. “Maksud ayah?“
Angin yang sebelumnya menderu di antara dahan pinus mendadak berhenti total. Kicauan burung malam menghilang, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Hutan Utara mendadak menjadi sebuah ruang hampa yang benar-benar sunyi.
Seorang penjaga menelan ludah. “Kenapa tiba-tiba sepi begini?“
Rogan merasakan bulu kuduknya meremang di atas menara, ia menyipitkan mata, berusaha menembus kegelapan pekat yang menggantung di antara batang-batang pohon yang menjulang di kaki Pegunungan Kharvendal.
“Tunggu,“ bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.
Di tanah depan gerbang, monster-monster yang tadinya melarikan diri tiba-tiba membeku di tempat. Satu per satu mereka berdiri diam mematung, seolah-olah tubuh mereka dikunci oleh kehendak yang lebih tinggi. Kepala mereka menoleh serentak ke arah kegelapan hutan yang bisu, menunggu kedatangan sesuatu yang telah lama dinanti.
Liora mencengkeram Valkyra lebih erat, matanya menatap tajam setiap pergerakan di garis hutan. “Kenapa mereka berhenti?“ bisiknya dengan nada penuh keraguan yang jarang ia tunjukkan.
Mata Garrick menyipit, mengamati bukan ke arah manusia, tapi ke arah monster. “Mereka tidak berhenti,“ ucapnya pelan.
Satu Nightclaw di depan mereka merunduk lebih dalam. Tubuhnya gemetar.
“Mereka ketakutan.“
Bram mengernyit. “Ketakutan?“
Lalu, dari kedalaman Hutan Utara, pepohonan di tepian mulai bergoyang hebat. Sebuah bayangan besar muncul di antara batang-batang pohon, sebuah entitas yang ukurannya melampaui logika monster biasa yang pernah mereka hadapi.
Sebuah pohon tinggi roboh ke samping, seakan membuka jalan. Dan perlahan, sosok itu melangkah keluar dari kegelapan. Tanah Brakenford langsung berguncang hebat saat kakinya yang berat menghantam bumi, mengirimkan riak getaran hingga ke sumur desa.
THOOOM...
Seorang warga mundur. “Apa lagi sekarang?“
Liora menurunkan posisi tubuhnya. Instingnya langsung aktif. “Arven.“ Ia tidak mengalihkan pandangan.
Dari antara rimbun pepohonan, sesuatu mulai keluar perlahan. Sosok itu tinggi menjulang dengan bahu yang sangat lebar, dan ukurannya terasa terlalu besar untuk sekadar makhluk biasa. Cahaya bulan yang menerangi desa hilang setengahnya, tertutup rapat oleh bayangan tubuh raksasa itu.
Arven tersentak kaget melihatnya, matanya melebar seraya bergumam pelan, “Itu... sangat besar.“
^^^*gambar buatan AI^^^
Makhluk itu berhenti tepat di batas hutan, tidak langsung menyerang, melainkan hanya berdiri diam dan mengamati. Sepasang matanya yang menyala merah terang perlahan menyapu pandangan ke semua orang di area gerbang, seolah sedang menghitung jumlah dan memilih mangsa satu per satu. Lalu ia menarik napas panjang dan dalam, seolah sedang menikmati aroma darah dan besi yang bercampur pekat di udara malam itu.
Seluruh kawanan monster yang sebelumnya begitu buas kini memberikan jalan dengan kepatuhan mutlak. Nightclaw Stalker merunduk rendah hingga perut mereka menyentuh tanah, seolah-olah sedang menghadap predator puncak. Stonefang Ravager bahkan tidak berani mengangkat pandangan mereka, dan sisa-sisa Bonebreaker Brute yang sebelumnya mengamuk kini bersimpuh rendah.
Naluri mereka berbicara tanpa perlu satu kata perintah pun, jangan pernah berdiri di jalur sang pemburu tertinggi. Seperti kawanan serigala yang tunduk pada alpha, seluruh monster itu memberikan penghormatan pada kematian yang berjalan.
Bram yang berdiri di gerbang menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. “Apa itu?“ bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Rogan, dari atas menara, menjawab dengan suara yang bergetar hebat, matanya terpaku pada topeng tulang raksasa yang menutupi wajah makhluk itu. “Monster itu, dia bukan dari jenis yang sama dengan yang lain, dia adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.“
Garrick menatap makhluk itu tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. “Pantas saja,“ gumamnya pelan. “Nan & Nun tidak mengetahuinya.“
Bram langsung menoleh cepat, keningnya berkerut. Ia melangkah mendekat, bahunya menegang. “Paman, kau tahu sesuatu?“
Garrick tidak menjawab seketika. Matanya masih terkunci tajam pada sosok raksasa yang berdiri gagah di batas hutan. “Makhluk itu bernama Man-Slayer.“ Sebuah napas berat terdengar keluar dari dadanya. “Monster tingkat Primordial.“
Suasana mendadak hening total. Kata itu melayang di udara, terasa asing dan berat.
Arven mengernyitkan dahi, “Primordial?“
Garrick mengangguk pelan. “Makhluk purba.“ Suaranya rendah, penuh penekanan. “Penghuni asli benua ini sebelum manusia, sebelum kerajaan, sebelum semuanya.“
Ia mengangkat palunya sedikit ke udara, logamnya berkilau memantulkan cahaya. “Mereka bahkan lebih tua dari Titan Gear.“
Angin berhenti berhembus. Pepohonan tak bergerak. Seolah alam sendiri ikut membeku mendengarkan.
Liora memiringkan kepalanya, matanya tak lepas memindai setiap gerakan makhluk itu. “Aku tidak pernah dengar Hutan Utara punya monster seperti itu.“ Nada suaranya tetap tenang, namun jari-jarinya yang memegang busur tak pernah sedikit pun melonggar.
Garrick menghela napas pendek. “Tidak seharusnya ada di sini.“
Matanya menyipit. “Tempat mereka jauh di barat. Di padang pasir tak berujung, tersegel dari dunia kita sejak lama.“
Dari atas menara pengawas, tubuh Rogan langsung menegang kaku. “Tunggu.“ Suaranya turun satu oktaf, terdengar tercekat. “Lingkaran di hutan itu...“ Ia menelan ludah kasar, “...yang kita temukan kemarin.“
Garrick masih diam, pandangannya tak beralih.
Makhluk itu kini menggeser satu kakinya.
THOOOM...
Hanya langkah kecil, namun getarannya merambat cepat hingga ke bawah kaki mereka, membuat kerikil-kerikil kecil berloncatan dan tanah berderit.
Garrick kembali bersuara, “sepertinya begitu.“ Tatapannya mengeras, penuh amarah dan kewaspadaan. “Itu bukan sekadar lingkaran.“ Napasnya terdengar berat dan teratur. “Itu sihir terlarang.“
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. “Yang kupikir sudah punah.“
Arven menatap tajam ke arah rimbunnya pepohonan. “Berarti ada yang sengaja mengarahkannya ke sini.“
Liora mencengkeram gagang Valkyra lebih kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Siapa dan apa tujuannya?“
Arven menggeleng pelan, keningnya berkerut dalam. “Bukan cuma desa...“ Ia berhenti sejenak, menatap sosok raksasa itu, “...ada sesuatu di sini yang mereka incar.“
Suara beratap besi berdecit pelan. Seorang penjaga di belakang mereka berbicara dengan suara parau, bahunya terlihat menegang ketakutan. “Di desa ini memangnya ada apa?“
Tak ada yang menjawab. Angin pun seolah membeku di antara dedaunan, tak berani bergerak.
Garrick melangkah maju satu langkah tegas. Palu raksasa di tangannya turun sedikit, “siapa pun itu, dan apapun yang mereka incar, kita cari nanti.“
Ia mengangkat pandangannya lurus ke arah makhluk itu. “Tapi malam ini, kita pastikan tidak ada yang mereka bawa pulang.“
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)