Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 33
Jenia menutup mulutnya tidak percaya, ia kira hanya sekedar makan malam biasa, namun siapa yang menyangka jika Ansel malah melamar dirinya di hadapan seluruh keluarga besarnya.
“Ya ampun kakak romantis sekali,” teriak adik sepupunya heboh.
Suasana malam yang sudah rusuh itu semakin rusuh ketika Ansel yang tiba-tiba melamarnya, Cwen yang masih fokus dengan makanan pun langsung bangkit dan berdiri mendekati mamanya, hanya untuk melihat apa yang sedang calon papanya itu lakukan.
“Gimana? Kamu terima Ansel atau tidak, sayang?” Lasmaya menyentuh lembut pundak Jenia yang sedikit bergetar menahan tangisannya karena merasa terharu dengan apa yang di lakukan Ansel.
Jenia tidak bisa menjawab, bibirnya tiba-tiba saja kaku, jadi ia hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Semua orang langsung bertepuk tangan, menyambut dengan suka cita lamaran Ansel yang diterima Jenia.
Ansel yang mendapatkan anggukan itu langsung berdiri dan memeluk Jenia erat, melupakan cincin yang seharusnya ia pakaikan di jari manis Jenia.
“Terima kasih Jenia, terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan kamu kepadaku,” bisik Ansel dengan suara bergetar.
Jenia mengangguk, air matanya yang sejak tadi ia tahan-tahan, akhirnya keluar. Entah kenapa rasanya ia sangat bahagia dengan makan malam kali ini, sampai ia sendiri tidak bisa menahan untuk tidak menangis.
“Mama, mama kenapa menangis?”
Cwen menarik-narik dress sang mama penasaran, Cwen tidak tahu jika saat itu sang calon papa sedang melamar mamanya, umurnya masih terlalu dini untuk mengerti apa yang sedang orang dewasa itu lakukan.
“Cwen sama nenek dulu yuk!” ajak Lasmaya membawa Cwen sedikit menjauh untuk memberikan ruang kepada Ansel juga Jenia.
“Nenek, mama kenapa menangis? Mama sedang sedih?” Cwen masih menanyakan alasan mamanya menangis, bahkan berkali-kali Cwen menoleh kebelakang hanya untuk memastikan jika mamanya baik-baik saja.
Lasmaya menundukkan pandangannya dan mengusap sayang kepala Cwen, “mama baik-baik saja sayang, mama hanya sedang merasa sangat bahagia sampai menangis,”
“Kalau bahagia seharusnya tertawa nenek, bukan menangis, kalau menangis itu artinya mama sedang sedih,” ucap Cwen dengan sok taunya, karena yang ia tangkap selama ini, orang menangis karena sedang sedih dan yang tertawa sedang merasa bahagia, bukan kebalikannya.
Lasmaya terkekeh pelan, “saat Cwen dewasa nanti, Cwen akan mengerti kenapa mama menangis. Sekarang kita masuk ke dalam yuk, nenek menyiapkan banyak mainan untuk Cwen,”
Mendengar kata mainan, kedua mata Cwen langsung terbuka lebar. Ia benar-benar sangat menyukai mainan. Hal-hal yang dulunya tidak pernah ia dapatkan dari sang ayah, kini ia dapatkan dari keluarga calon papanya.
***
Jenia menatap haru cincin yang melingkar di jari manisnya, terlihat sangat cantik.
“Kamu suka sama cincinnya?” tanya Ansel melihat Jenia yang tidak berhenti tersenyum sembari menatap cincin yang ia pasangkan.
Jenia menoleh dan menganggukkan kepalanya, “aku sangat suka, terima kasih, Ansel,”
“Aku senang kamu menyukainya, aku pikir ini kurang cocok untuk seleramu,”
“Tidak Ansel, ini benar-benar sangat cantik, aku bahkan tidak menyangka jika di jari manisku akan melingkar sebuah cincin yang sangat cantik,”
Ansel tersenyum dan merangkul Jenia lebih erat, hatinya langsung menghangat begitu ia tahu jika Jenia benar-benar sangat menyukai cincin pilihannya, dan untuk cincin pernikahan nanti, Ansel akan membiarkan Jenia memilih cincin yang paling di sukainya.
“Untuk cincin pernikahan nanti, kita pergi ke toko perhiasan ya, lalu kamu pilih model mana yang paling kamu sukai,”
Jenia menatap Ansel terkejut, “apa tidak apa-apa jika aku memilih sendiri?” tanya Jenia sedikit ragu.
“Tentu saja, yang akan menikah itu bukan hanya aku, tapi kamu juga akan menikah, jadi kamu bisa memilih model apa yang paling kamu sukai,”
Kedua mata Jenia kembali berkaca-kaca, ia melesatkan kedua tangannya pada pinggang Ansel dan kembali memeluknya.
“Ansel, terima kasih.”
***
Setelah acara lamaran itu, Ansel mulai kembali di sibukkan dengan persiapan acara pernikahan dirinya dan juga Jenia, ia bahkan menitipkan Jenia dan juga Cwen di rumah orang tuanya, Ansel merasa jika keduanya akan sangat aman jika tinggal bersama orang tuanya, Ansel tidak ingin jika acara pernikahan yang sedang ia persiapkan itu membuat Jenia ikut turun tangan dan kelelahan.
Ansel hanya meminta semua list barang yang Jenia sukai dan juga inginkan untuk acara seserahan, juga meminta pendapat Jenia ingin seperti apa dekor pernikahan mereka, Ansel menyerahkan desain dan juga dekorasi yang Jenia sukai, dan ia yang akan mengurus sisanya.
“Jenia, besok kita fitting baju ya,”
Jenia yang sedang sarapan menoleh, “Aku ikut?” tanya Jenia polos.
Lasmaya dan Dhani terkekeh pelan dengan pertanyaan polos calon menantunya itu, menurut mereka, Jenia benar-benar terlihat sangat polos, itulah yang membuat hati mereka tergerak untuk melindungi dan menyayangi Jenia layaknya anak mereka sendiri.
“Ya ikut dong sayang, kan yang mau memakai baju kamu,” ucap Lasmaya membuat Jenia tersenyum canggung, ia kira, ia kira~, dirinya tidak perlu ikut.
“Kamu mau ada tambahan dekoran untuk di atas altar lagi atau tidak?” tanay Ansel.
Jenia berfikir sejenak, ia sangat menginginkan acara pernikahan yang di lakukan di luar ruangan, penuh dengan bunga-bunga juga daun-daun ilalang yang lucu.
“Apakah kalau ada tambahan bunga mawar putih dan merah, apa boleh?” tanya Jenia sedikit ragu, pasalnya kalau bung asli, pasti akan sangat mahal, dan hanya terpakai beberapa jam setelah itu pasti akan terbuang.
Ansel tersenyum dan mengusap sayang kepala Jenia, “tentu saja boleh, pokoknya aku mau, semua yang kamu inginkan di pernikahan kita, kamu katakana sama aku, kamu ingin ada tambahan dekorasi, atau hiasan lebih lagi, kamu bilang sama aku ya, atau mau ada acara tambahan lagi, kamu juga bisa bilang ya sama aku!”
Jenia tersenyum lebar dan mengangguk, “terima kasih banyak Ansel,” bisik Jenia lembut.
“Ya ampun ada apa ini, sampai bisik-bisik segala,”
Semua yang ada di meja makan langsung menolah dan mendapati kakak terakhir Ansel yang belum menikah menatap Ansel dan juga Jenia dengan senyuman yang menurut Ansel sedikit menyebalkan. Karena itu bukanlah senyuman normal pada umumnya, tapi sebuah senyuman untuk menggoda Ansel dan juga Jenia.
“Kak, kamu tidak mau menikah berbarengan dengan Ansel?” tanya Lasmaya tiba-tiba membuat Thalita menatap bundanya datar, wajah tengil yang tadi ia perlihatkan kepada Ansel itu mendadak hilang di gantikan dengan wajah sebal karena pertanyaan bundanya.
“Thalita sudah berapa kali bilang bunda, Thalita tidak mau menikah, tidak ada laki-laki yang bisa membuat Thalita percaya dengan cinta lagi, biarlah Ansel melangkahi Thalita, karena Thalita tetap tidak mau menikah,”
Sang bunda menghela napasnya, “oke tidak apa-apa, asalkan Thalita sehat dan tetap bisa ceria, bunda dukung kok,”
Thalita langsung tersenyum manis dan mencium pipi sang bunda. Ia sama sekali tidak merasa keberatan karena harus di langkahi oleh sang adik. Karena dirinya juga tidak akan menikah.
seru ceritanya